
Setibanya di rumahnya, Gibran dan Yasmin melihat Wati dan Arti yang sedang duduk di teras rumahnya.
Yasmin segera keluar dari mobil setelah Gibran menghentikan laju mobilnya.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Yasmin.
"Mbak Yasmin, ini Mbak kita disuruh Ibu ke sini," sahut Wati.
"Ya ampun, dari kapan kalian di sini?"
"Udah dua jam Mbak," ucap Arti.
"Dua jam?" Yasmin menatap Wati lalu menatap Arti. "Kenapa kalian gak telpon aku atau Mas Gibran?"
"Kita takut mengganggu Mbak dan Mas."
"Kalian kayak gak kenal kita aja, ayo masuk dulu. Kalian pasti capek," ucap Gibran sembari membuka pintu rumahnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan bersama-sama!
"Duduk Mak Arti, Mbak Wati." Yasmin mengajak dua asisten rumah tangga Maria itu di kursi ruang keluarga.
"Kalian kalau mau minum ambil sendiri aja ya, dapurnya ada di sebelah sana," ucap Gibran sembari mengarahkan jari telunjuknya ke satu ruangan.
"Iya Mas, terimakasih."
Gibran hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Wati lalu dia segera berjalan menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.
"Ada perlu apa kalian ke sini?" tanya Yasmin.
"Kita di suruh mengerjakan pekerjaan rumah di sini selama Mbak Yasmin masih sakit."
"Sakit apa? Aku baik-baik saja."
"Kemarin kan Mbak baru aja mengalami musibah, mungkin Ibu pikir Mbak masih sakit atau lemah," ucap Wati.
"Sebenarnya kita juga berpikir seperti itu, kami pikir Mbak masih sakit," sambung Arti.
"Nggak, aku baik-baik saja kok. Karena kalian udah di sini dan sekarang juga waktunya udah sore jadi kalian menginap saja di sini."
"Ibu memang menyuruh kami untuk menginap Mbak."
"Ayo aku antar kalian ke kamar. Kalian mau pisah kamar atau mau satu kamar berdua?"
__ADS_1
"Kita satu kamar berdua aja Mbak."
"Ya udah, ikut aku."
Yasmin bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dari ruangan itu!
"Nah yang ini kamarnya lebih luas jadi cocok untuk berdua."
"Mbak apa gakpapa kita tidur di kamar ini?"
"Ya nggak lah, kenapa memangnya?"
"Ini kemewahan untuk ditempati oleh pembantu."
"Kamu bicara apa Mbak, antara aku dan kalian gak ada bedanya."
Wati dan Arti tersenyum lebar, mereka merasa beruntung karena memiliki majikan yang baik seperti keluarga Maria ditambah lagi dengan Yasmin yang juga baik yang menjadi menantu di rumah itu.
*******
"Stop-stop, rumah aku di sini," ucap Kania pada Galih.
"Yang mana?" tanya Galih sembari menghentikan mobilnya.
Galih menatap rumah itu dan terlihat ada dua orang yang sedang berdiri di teras rumah sambil menatap ke arahnya.
"Siapa mereka?" tanya Galih.
"Ayo turun nanti aku kenalkan pada mereka."
Galih dan Kania pun segera turun dari mobil lalu berjalan menuju rumah Kania.
"Assalamu'alaikum," ucap Kania dan Galih bersamaan.
"Waalaikumsalam. Dari mana kamu jam segini baru pulang?" ucap seorang laki-laki pada Kania.
"Ayah, Ibu, maaf aku telat pulang. Tadi aku terjebak macet di jalan," ucap Kania pada kedua orang tuanya.
Ya, Ayah dan Ibunya Kania lah yang berdiri di teras rumah itu untuk menunggu kepulangan putrinya.
"Maaf Om, Tante, saya yang salah karena saya telat mengantarkan Kania pulang," ucap Galih.
Orang tuanya Kania tidak langsung menjawab perkataan Galih, u untuk sesaat keduanya hanya diam dengan tatapan yang terus tertuju pada Kania.
__ADS_1
"Dia Galih, Yah, Bu teman aku."
Galih tersenyum ramah pada kedua orang tuanya Kania.
"Kamu tahu Kania, tidak baik anak perempuan pulang malam seperti ini," ucap Ayahnya Kania.
"Dan kamu, kalau kamu mau mengajak anak orang pergi, jemput dia ke rumahnya agar orang tuanya tahu anaknya pergi kemana dan sama siapa. Kamu tahu tidak, kami khawatir pada Kania karena biasanya dia tidak pernah pulang lewat maghrib seperti ini," sambungnya.
"Maaf Om, Tante, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Ayah, tadi aku gak sengaja ketemu dia dan akhirnya kami ngobrol. Untunglah dia mau nganterin aku pulang kalau tidak, sampai sekarang aku pasti belum sampai di rumah."
"Udah-udah, jangan bertengkar di sini," ucap Ibunya Kania.
"Nak maaf ya, mungkin Ayahnya Kania terlalu khawatir," sambung Ibunya Kania lagi.
"Tidak apa-apa Bu, saya tahu apa yang dirasakan oleh seorang orang tua saat anaknya pulang terlambat. Saya salah karena asyiknya mengobrol sama Kania, saya jadi lupa mengantarkannya pulang tepat waktu."
"Nggak-nggak, ini bukan salah kamu Galih. Kamu gak melakukan kesalahan apa pun," ucap Kania.
"Om, Tante maafkan saya ya, jika Om dan Tante gak keberatan saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi dengan Kania."
"Maksud kamu apa? Beberapa usiamu?"
"Saya ingin lebih dekat lagi dengan Kania, saat ini usia saya memang baru dua puluh tahun tapi Om jangan khawatir, aku serius kok sama Kania."
"Galih, kamu apaan sih. Jangan ngaco deh."
"Selesaikan kuliah mu dulu setelah itu kamu cari kerjaan dan setelah berhasil baru kamu datang lagi ke sini untuk memperjelas niat dan tujuan kamu."
"Tapi Om, nanti Kania–"
"Jika Kania mencintai kamu dan menang kalian ditakdirkan berjodoh maka dia akan menunggu kedatangan kamu ke sini."
Galih tersenyum lalu mengangguk.
"Saya akan buktikan kalau saya memang serius sama Kania. Tunggu saja, tidak lama lagi saya akan datang untuk melamar Kania tentunya setelah saya mempunyai cukup bekal untuk dunia dan akhiratnya Kania. Saya permisi Om, Tante," ucap Galih.
"Kania, tunggu aku ya."
Galih langsung pergi meninggalkan rumah orang tuanya Kania!
"Galih! Galih!" Kania mencoba mencegah Galih pergi namun Galih tak menghiraukan teriakannya.
__ADS_1
Bersambung