
Setibanya di depan rumah, Gibran merasa heran karena pintu rumahnya terbuka lebar. Dia segera menghentikannya laku mobilnya dan segera turun dari mobilnya.
"Pintunya rusak, kenapa bisa rusak?" gumam Gibran.
"Assalamualaikum! Yasmin!" Gibran terus berjalan memasuki rumahnya!
Gibran mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumahnya yang terlihat berantakan.
"Yasmin? Ada apa ini, apa yang terjadi?" Gibran berjalan cepat memasuki kamarnya untuk melihat Yasmin di sana!
"Yasmin! Yasmin!"
Setibanya di dalam kamar, Gibran tak menemukan Yasmin, dia berlari ke dapur dan kesemua ruangan yang ada di rumahnya sembari berteriak memanggil nama Yasmin.
Tak menemukan Yasmin di sekeliling rumahnya, Gibran mulai panik. Dengan keadaan rumahnya yang berantakan bak kapal pecah, membuat Gibran merasa penasaran dan sangat khawatir terhadap istrinya itu.
"Astaga, jangan-jangan Yasmin ...." Gibran tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya, dirinya terlalu takut untuk berprasangka buruk tentang istrinya itu.
Dengan cepat, Gibran mengambil ponselnya lalu segera menelpon Yasmin!
Setelah beberapa kali menelponnya namun tak ada jawaban dari Yasmin, hal itu membuka dirinya semakin khawatir.
Dalam keadaan panik, Gibran tak bisa berpikir jernih. Dalam pikirannya, dia mengira bahwa ada orang yang sengaja membawa Yasmin pergi dengan paksa tapi dia sendiri tidak tahu siapa orang yang sudah membawa Yasmin pergi dari rumahnya.
"Kemana aku harus mencari Yasmin?" gumam Gibran dengan raut wajahnya yang lesu.
Tiba-tiba dalam pikirannya muncul tentang Galih yang mencintai Yasmin, dia langsung menyimpulkan bahwa Yasmin diculik oleh Galih.
Gibran berlari ke mobilnya! Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke rumah orang tuanya!
*******
Hari semakin sore, terangnya siang hati sudah mulai hilang dan berganti dengan kegelapan.
Di dalam gudang itu, Yasmin sendirian. Dia sudah berteriak-teriak meminta tolong sampai suaranya serak, namun tak ada yang mendengar teriakannya.
Yasmin semakin takut karena malam sebentar lagi menyapanya, sendirian di dalam gudang sempit dan kotor ditambah lagi lampu yang menerangi ruangan itu sepertinya sudah lama tidak diganti karena sering nyala dan mati sendiri.
"YaAllah, tolonglah aku. Aku takut di sini."
"Mas tolong aku, Mas Gibran tolong aku."
Yasmin menangis di sudut ruangan itu sambil memeluk kakinya, kepalanya dia benamkan diantara dua lututnya.
*******
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, Gibran tiba di rumah orang tuanya. Dia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan langsung turun dari mobilnya.
Laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih itu berjalan dengan tergesa-gesa memasuki rumah itu!
__ADS_1
"Galih! Galih!" ucapnya sembari terus berjalan memasuki rumah itu.
Gibran terus berjalan menuju kamar Galih yang letaknya ada di lantai dua rumahnya itu.
"Ada apa dengan Gibran, kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" gumam Maria sembari keluar dari kamarnya hendak melihatmu apa yang terjadi dengan putranya itu.
Tanpa basa-basi, Gibran mencengkram kerah baju Galih lalu menyeretnya keluar dari kamarnya!
"Dimana Yasmin? Lo bawa kemana dia?"
"Kak, lo kenapa? Gue gak ngerti dengan apa yang lo katakan," ucap Galih.
Darwin yang baru pulang bekerja, merasa penasaran dengan apa yang terjadi di rumahnya.
Keributan apa yang sedang terjadi di rumahnya?
Dia berjalan menghampiri sumber suara Galih dan Gibran yang sedang berdebat.
"Ada apa Ma, kenapa Gibran berteriak-teriak seperti itu?" tanya Darwin pada Maria.
"Gak tahu Pa, ini Mama juga mau melihat dan menanyakan kenapa Gibran sampai marah besar seperti itu."
Maria dan Darwin pun melanjutkan langkah mereka, dipijak nya satu persatu anak tangga itu agar bisa sampai ke lantai dua rumahnya!
"Yasmin tidak ada di rumah. Gue tahu lo yang menculiknya."
"Yasmin hilang. Kak Gibran gak ada hak untuk menuduh gue, gue gak tahu apa-apa."
"Gibran, kenapa kamu menuduh adikmu seperti itu? Galih tidak mungkin mencelakai kakak iparnya sendiri."
"Galih memang tidak mungkin mencelakai Yasmin tapi Galih bisa saja menculik Yasmin untuk dimilikinya sendiri."
"Apa maksud kamu?" tanya Maria.
"Gue gak mungkin melakukan hal senekat itu."
"Kenapa tidak. Gue tahu lo mencintai Yasmin. Karena cinta gila lo itu, lo pasti melakukan apa pun demi mendapatkan Yasmin."
"Gibran! Berhenti membentak adikmu dan kenapa tuduhan-tuduhan itu kamu layangkan pada dia."
"Karena dari awal kami menikah Galih sudah menyukai Yasmin, dia mencintai Yasmin. Karena itulah aku membawa Yasmin keluar dari rumah ini, karena aku tidak mau Galih menjadi perusak rumah tangga aku dengan Yasmin."
Darwin dan Maria tidak berucap lagi, mereka hanya berdiri mematung sambil menatap Galih dan Gibran.
"Ya, gue akui gue memang masih mencintai Yasmin tapi gue gak mungkin sampai merebut dia dari lo kak. Gue gak akan pernah melakukan itu."
"Alasan. Cepat katakan dimana lo sembunyiin Yasmin?"
Gibran hendak memukul Galih namun tangannya dicekal oleh Darwin.
__ADS_1
"Jangan Gibran, Papa rasa adikmu sedang tidak berbohong. Daripada kamu terus menyudutkan adikmu seperti itu, lebih baik cepat kita cari Yasmin," ucap Darwin.
Galih melepaskan sebelah tangan Gibran yang masih memegang kerah bajunya.
"Dengar ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama Yasmin. Jangan harap lo bisa membawanya pulang ke rumah lo. Lo tuh jadi suami gak becus tahu gak gue gak akan ngebiarin lo hidup sama Yasmin lagi," ucap Galih lalu dia masuk ke dalam kamarnya.
"Gibran, kenapa Yasmin bisa hilang dan kenapa kamu menyimpulkan bahwa ada yang menculiknya?"
"Pintu rumah rusak dan keadaan rumah begitu kacau, aku tahu ada yang memaksa Yasmin keluar dari rumah."
"Ayo kita cari Yasmin bersama-sama. Kamu sudah lapor polisi?"
Gibran menggelengkan kepalanya pelan, baru dia akan berucap, Galih keluar dari kamarnya dan dengan sengaja menabrak Gibran.
"Galih, kamu mau kemana?" tanya Maria yang melihat Galih menggenggam kunci mobilnya dan sudah berpakaian rapi.
"Mau cari Yasmin, kalau aku yang menemukan Yasmin dan aku yang menyelamatkannya, itu berati Yasmin menjadi milikku," sahut Galih dengan tanpa menghentikan langkahnya.
"Kurangajar." Gibran berlari mengejar Galih yang sudah keluar dari rumahnya.
"Ada apa ini Ma? Kenapa mereka seperti itu?" ucap Darwin sembari menatap ke arah pintu keluar.
"Mama tidak tahu Pa, kita akan dapat jawabannya nanti setelah Yasmin ditemukan."
"Ma, Papa mau cari Yasmin dulu ya."
"Mama ikut."
Darwin dan Maria pun segera bergegas untuk mencari Yasmin yang hilang dari rumahnya.
*******
Ayesha tersenyum sinis sambil memegang gelas berisi minimal beralkohol.
Saat ini dua sedang merayakan kemenangan yang sudah berhasil menjauhkan Yasmin dari Gibran.
"Hebat, hebat lo Sha," ucap Rika.
"Terus selanjutnya lo mau apain tuh anak?" tanya Chaca.
"Biarin aja dia di gudang itu sampai mati karena kelaparan."
"Lo gila, dia punya mulut kalau dia berteriak minta tolong gimana?"
"Gak akan ada yang mendengar suara dia mau dia berteriak sekeras apa pun juga karena tempat itu tempat mati yang sudah ditinggalkan oleh manusia."
"Lo emang pemberani Sha, gue salut sama lo."
Bersambung
__ADS_1