Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 19


__ADS_3

Setelah mengetahui, Yasmin hanya menikah kontrak dengan kakaknya, Galih tak hentinya memikirkan dan membayangkan saat-saat dirinya memiliki Yasmin seutuhnya.


Ingin sekali dirinya mengatakan yang sebenarnya dia rasakan pada Yasmin namun dirinya merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat mengingat Yasmin yang masih belum sembuh sepenuhnya.


Disela kesibukannya, Galih tak pernah sekalipun melupakan senyum indah Yasmin saat pertama kali dirinya bertemu dengan Yasmin di rumahnya.


Saat ini Galih sedang termenung di halaman kampusnya. Hari ini dia sudah selesai dengan semua kegiatannya tapi dirinya sengaja tidak langsung pulang karena tak ingin melihat Gibran dan Yasmin yang terus menebar kemesraan didepannya dan juga kedua orang tuanya.


"Hei, lagi mikirin apa?" tanya Kania ~ teman kampus Galih.


Galih terperanjat, lamunannya buyar begitu saja sesaat setelah mendengar suara Kania.


"Eh, Kania. Ada apa?"


"Apa sih yang sedang kamu pikirkan? Akhir-akhir ini kamu sering bengong seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada masalah apa?"


"Gak ada, aku hanya sedang bosan dengan rutinitas seperti ini, aku ingin bekerja dan menghasilkan uang," ucap Galih berbohong.


"Boleh aku duduk?"


"Ya, tentu saja. Silahkan!" Galih bergeser sedikit untuk memberi tempat duduk untuk Kania.


Kania duduk di samping Galih! "Terimakasih."


Galih hanya tersenyum ke arah Kania tanpa berucap sedikitpun.


"Galih, kita makan bareng yuk!" ajak Kania.


Kania menang suka sama Galih sejak lama namun, Galih tak pernah menyadari perasaan Kania terhadapnya.


"Maaf Kania, bukannya aku tidak mau tapi aku lagi gak pengen makan."


Kania tersenyum lalu menarik nafasnya kasar. "Yasudah, kalau memang kamu gak mau. Kalau gitu aku pergi duluan ya, aku mau ajak yang lain saja."


"Iya, maaf ya Kania. Aku janji lain kali aku akan meluangkan waktu untuk makan bersama kamu."


"Tidak apa, kenapa harus minta maaf? Kamu gak salah kok." Kania bangkit dari duduknya lalu segera melangkahkan kakinya.


Sementara itu Galih hanya diam dengan tanpa menatap Kania sedikit pun.


*******


"Mbak Yasmin ngapain ke dapur? Mbak Yasmin kan masih sakit," ucap Wati yang melihat Yasmin tiba-tiba ada di sampingnya.


"Aku bosan sendirian di kamar. Mbak Wati dan Mbak Arti masih sibuk ya?"


"Nggak kok Mbak, pekerjaan kami sudah selesai tinggal nyuci piring aja tapi itu akan dikerjakan oleh Wati," ucap Arti.

__ADS_1


"Iya gak Wat?" tanya Arti pada Wati.


"Iya, Mbak. Mbak Yasmin istirahat saja di kamar."


"Aku mau ke halaman depan, aku mau menghirup udara segar di sana dan sekalian juga aku pengen lihat apakah bunga yang aku tanam sudah tumbuh subur di sana."


"Ya udah Mbak, ayo saya temani," ucap Arti.


Yasmin tersenyum lebar. "Ya udah Mbak, ayo kita ke sana sekarang.'


Arti pun mendekati Yasmin lalu mulai membantu Yasmin untuk berjalan!


"Mbak Wati, nanti kamu ke sana juga ya! Kamu juga pasti bosan kan terus diam di dapur," ucap Yasmin.


"Iya Mbak, saya pasti menyusul," sahut Wati.


Yasmin dan Arti pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area dapur!


Setibanya di ruang tamu dan Yasmin sudah akan membuka pintu keluar rumah itu.


"Yasmin! Kamu mau kemana?" tanya Maria yang sedang berdiri di dekat tangga.


Yasmin berbalik, Arti juga mengubah posisi berdirinya!


"Aku mau ke teras rumah Ma," sahut Yasmin.


"Aku bosan di rumah Ma, jadi aku ajak Mbak Arti untuk menemani aku di halaman agar kalau aku butuh bantuan aku bisa minta tolong padanya."


"Kalau gitu, Mama juga ikut."


"Ya, kalau Mama mau. Boleh-boleh aja."


Mereka bertiga pun langsung keluar rumah itu!


Di halaman rumah orang tuanya Gibran memang ada lahan kosong dan mereka menggunakan lahan itu untuk menanam beberapa jenis bunga.


Diantara bunga-bunga itu ada satu jenis bunga yang tak pernah hilang dan tidak ada yang berani menyentuhnya tanpa seizin Gibran.


Bunga mawar hitam, bunga yang tumbuh di tengah lahan itu adalah bunga kesukaan Wanda dan bunga itu milik Wanda, Wanda sendiri yang menanam bunga itu di sana.


Dari sejak bunga itu ditanam hingga saat ini, bunga itu tumbuh subur dan sangat terjaga keberadaannya.


Gibran selalu merawat dan menyiram bunga itu sendiri tanpa adanya campur tangan Wati dan Arti.


Setelah meninggalnya Wanda, Gibran tak membiarkan siapa pun menyentuh bunga itu, hanya dirinya saja lah yang boleh menyentuh dan merawat bunga itu.


Yasmin berjalan menghampiri bunga mawar hitam itu dengan penuh semangat! Dirinya tak menyangka bunga yang disukanya ternyata tumbuh di sana juga.

__ADS_1


"Jangan disentuh, Yasmin!" ucap Maria dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Yasmin yang sudah hampir menyentuh bunga itu pun menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh ke arah Maria dan Arti.


"Kenapa Ma? Aku suka dengan bunga ini," ucap Yasmin.


"Jangan sentuh bunga itu apalagi sampai memetiknya."


Yasmin tak berucap apa pun lagi, dia membalikkan badannya pada bunga itu! Yasmin hanya berdiri mematung sambil terus menatap bunga mawar hitam itu.


Dari belakang Maria dan Arti, Gibran datang dan berjalan menghampiri Yasmin!


Maria mencoba menghentikan langkah Gibran dengan cara memegangi tangannya.


Gibran menatap Maria dengan tatapan misterius, Maria menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Gibran tak memarahi Yasmin.


Gibran melepaskan tangan Maria dari lengannya tanpa mengucapkan sesuatu apa pun lalu dia melanjutkan langkahnya lagi.


Maria dan Arti menatap Gibran dengan mata yang tak berkedip satu kali pun. Ada ketakutan tersendiri dalam diri Maria, pasalnya Gibran selalu marah besar saat ada orang yang mendekati bunga itu.


"Bu, Mas Gibran ...." Arti khawatir Gibran akan memarahi Yasmin saat itu.


"Mbak, apa yang harus kita lakukan? Gibran pasti marah besar," ucap Maria dengan tatapan yang terus tertuju pada Gibran yang semakin dekat pada Yasmin.


Tanpa aba-aba, Gibran memetik satu dari beberapa bunga yang tumbuh di sana lalu memberikannya pada Yasmin.


"Kamu suka ini?" tanya Gibran sembari menyodorkan bunga itu dihadapan Yasmin.


Yasmin terkejut karena tiba-tiba Gibran memetik bunga itu padahal sebelumnya ibu mertuanya melarangnya menyentuh apalagi sampai memetik bunga itu.


Maria dan Arti terkejut saat melihat Gibran yang ternyata memetik bunga itu.


Mereka tak berani berkata-kata, hanya tatapan mereka saja yang tak lepas dari Gibran dan Yasmin.


"A_aku memang suka bunga ini tapi tadi Mama melarang aku untuk menyentuh bunga ini," ucap Yasmin dengan sedikit ketakutan.


"Semua yang ada di sini adalah milikmu termasuk bunga ini." Gibran memberikan bunga itu kepada Yasmin.


Yasmin tersenyum lalu langsung mencium aroma wangi bunga itu.


"Terimakasih," ucap Yasmin.


"Bunga ini adalah bunga milik Wanda. Dia menyukai bunga ini dan dia menanamnya di sini," jelas Gibran.


Yasmin yang sedang mencium bunga itu dengan senyuman lebar, tiba-tiba senyumnya hilang dan Yasmin pun menghentikan dirinya untuk terus mencium aroma wangi bunga itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2