Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 32


__ADS_3

"Kemana gue harus cari rumah Gibran dan Yasmin. Awas aja kamu ya Yasmin, lo mau pergi kemana pun gue gak akan tinggal diam, gue gak mau merelakan Gibran gitu aja. Gue udah bunuh Wanda dan lo adalah yang selanjutnya." Ayesha terus berucap didalam hatinya sembari menunggu taksi online yang sudah dia pesan.


Tak lama taksi yang dia order pun sudah tiba, Ayesha langsung masuk ke dalam mobil itu dan mobil itu pun langsung melaju dengan kecepatan maksimum.


Di kamar Galih.


Galih berjalan bolak-balik sambil terus memikirkan tentang perasaannya pada Yasmin!


"Duuh! Gara-gara Yasmin nih, gue jadi gak fokus dalam segala hal," ucap Galih didalam hatinya.


Galih menatap fotonya yang sedang berdua dengan Gibran.


"Kak lo harusnya mau mengalah demi gue, lagian lo juga kan nikah cuma sebatas kontrak. Kenapa lo malah bawa Yasmin pergi dari rumah ini."


"Lo itu kakak gue tapi kenapa lo gak mau memberikan apa yang gue inginkan. Gue suka sama Yasmin."


Galih terus menatap foto itu hingga sampai beberapa menit.


*******


"Nih makanannya sudah sampai, ayo kita makan," ucap Gibran.


"Aku ambil piringnya dulu ya Mas." Yasmin pun segera mengambil piring dan tak lupa minumnya juga.


Dengan telaten, Yasmin meletakkan makanan itu di atas piring yang baru dia ambil dari dapur.


"Waw wanginya enak nih," ucap Yasmin.


"Enak lah, orang tinggal makan aja gak perlu masak dulu."


Gibran tersenyum sambil terus memegang sendoknya.


"Ini buat kamu dan ini aku."


Mereka berdua pun langsung melahap makan itu.


*******


Di kediaman Alan.


"Ma, Gibran udah gak tinggal sama Tante Maria lagi, mereka udah pindah dari sana," ucap Ayesha pada Maya.


"Terus Mama harus apa buat bantu kamu?" sahut Maya yang sedang asyik membaca majalah.

__ADS_1


"Mama cari tahu dimana rumah Gibran yang baru biar aku bisa mengerjai Yasmin saat Gibran gak ada di rumahnya."


"Kamu tadi habis dari rumah Tante Maria kan, kenapa gak tanya sekalian sama Tante Maria?"


"Mama, Mama bisa mikir gak sih? Kalau aku tanya terus Tante Maria memberitahu ku dan setelah itu terjadi sesuatu pada Yasmin, otomatis mereka akan mencurigai aku karena belum ada orang lain yang tahu dimana rumah Gibran dan Yasmin."


"Kamu tuh kalau mikir suka kepanjangan tahu gak Sha, gak mungkin mereka menuduh kamu, kamu kan udah dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka dan lagi Gibran itu orang kaya banyak orang yang menginginkannya mundur dari bisnisnya bisa saja mereka mengira orang yang melukai Yasmin adalah musuh mereka."


"Aku gak mau ambil resiko besar Ma, pokoknya aku mau Mama cari tahu dimana rumah Gibran tapi Mama jangan coba-coba bertanya pada Tante Maria atau pun sama Om Fahmi.


" Iya-iya, itu hal mudah bagi Mama. Kamu tenang aja, Mama butuh waktu untuk mencari tahu dimana rumah baru mereka."


"Jangan lama-lama ya Ma."


"Iya, kamu tenang aja, kayak gak kenal sama Mama aja."


"Aku tunggu ya Ma."


"Iya. Istirahat sana, kamu marah-marah mulu sama Mama."


*******


"Sinta kenapa sih gak menganggap gue serius padahal gue serius suka sama dia," gumam Sonny yang kini sedang duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


Sonny memang sering berpacaran tapi kisah cintanya selalu kandas ditengah jalan.


"Sinta, semoga lo bisa mengertikan gue, mengertikan tentang perasaan gue ke lo."


"Sonny! Sonny!" seru Ibunya Sonny dari dalam dunia.


"Iya Bu, ada apa?" sahut Sonny.


"Udah mau maghrib. Kamu gak mau masuk rumah?"


"Iya Ma, lagian maghrib nya juga belum kan."


"Ya kamu siap-siap dulu untuk shalat di masjid.


"Iya, aku masuk." Sonny segera masuk ke dalam rumah dan langsung mengambil pecinya lalu langsung ke masjid yang ada didekat rumahnya.


*******


"Mas, aku minta kamu jangan bilang dulu sama Ayahku kalau kita mau melanjutkan hubungan pernikahan ini tanpa adanya perjanjian kontrak tertulis," ucap Yasmin.

__ADS_1


"Kenapa? Kalau kita jujur mungkin Ayahmu akan menghapus semua postingannya yang seolah-olah menjual kamu."


"Aku belum siap dengan berapa banyak uang yang akan dia minta padamu."


"Boleh aku bertanya?"


"Apa?"


"Sudah berapa lama, Ayahmu menikah dengan Ibumu?"


"Sejak aku kecil."


"Apa dia pernah mengkhawatirkan kamu?"


"Dia selalu mengkhawatirkan aku sejak aku berusia tujuh belas tahun, dia selalu takut aku terluka apalagi dibagian wajah."


"Lalu sebelum kamu berusia tujuh belas tahun?"


Yasmin menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada rasa sayang seorang Ayah pada anaknya yang aku dapatkan dari dia. Hanya ada omelan dan hinaan yang selalu terlontar dari mulutnya. Sejak usiaku tujuh belas tahun, batu Ayah menyayangiku tapi sayang nya dia ke aku karena ada inginnya saja."


"Apa yang dia inginkan darimu?"


"Ini. Ini yang sedang aku jalani sekarang. Dia menjadikan aku sebagai wanita yang bisa disewa untuk satu atau dua hari atau juga pertahun. Jika saja ada yang ingin membeli Ibuku mungkin dia juga sudah menjual Ibuku."


"Yasmin, tolong jujur sama aku. Kamu sudah pernah menerima laki-laki lain selain aku?"


Yasmin menggelengkan kepalanya lagi. "Dulu pernah tapi gak jadi karena aku kabur lalu aku tertabrak mobil dan sakit selama beberapa bulan. Sejak saat itu Ayahku tidak pernah memaksaku lagi, baru sama kamu ini dia memaksaku lagi sampai-sampai dia mengancam akan menyakiti Ibuku jika aku menolak menikah dengan kamu."


"Maaf ya, jika aku terlalu banyak bertanya."


"Tidak, kamu harus tahu semua tentangku agar kamu tidak menyesal karena sudah mencintai aku. Sekarang kita belum melakukan apa-apa, sebelum terlambat kamu harus tahu aku lebih banyak lagi."


"Tidak akan ada penyesalan untuk cinta. Aku mencintaimu tulus karena aku memang benar-benar cinta sama kamu. Meski kamu pernah menikah dengan orang lain, tidak akan bisa menghilangkan rasa cintaku untukmu."


"Kamu bisa bicara seperti itu sekarang tapi kita tidak tahu bagaimana dengan nanti. Kamu sudah dewasa Mas, sedangkan aku ... aku perlu banyak belajar dalam semua hal. Aku tidak tahu bagaimana cara mencintai dan aku tidak tahu apa-apa tentang cinta, aku tidak yakin bisa menjadi istri yang seperti kamu harapkan."


"Yas, cinta tidak perlu dipelajari, cinta hanya butuh dijalani. Dijalani dengan kepercayaan dan juga kehormatan. Saling percaya dan saling menghormati akan membuat cinta terikat kuat. Meski ada badai besar yang menerpa cinta akan tetap menyatu dalam diri kita."


Yasmin terdiam dan menundukkan kepalanya.


Gibran menoyor dagu Yasmin dengan empat jari tangannya agar dia mendongak menatapnya.


"Kamu mencintai aku?" tanya Gibran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2