
Di rumah sakit.
Yasmin sudah mendapatkan penangan Dokter dan sekarang dirinya harus dirawat sementara untuk memilihkan kondisi tubuhnya.
Gibran duduk di samping ranjang rumah sakit yang ditiduri oleh Yasmin. Dia menatap Yasmin sambil terus menggenggam tangannya.
"Mas, aku gak betah di sini dan apa ini?" ucap Yasmin sembari memegang selang infus yang terpasang di tangannya.
"Sebentar lagi kita pulang tadi Dokter bilang katanya kamu tidak harus menginap di sini, kamu hanya perlu istirahat beberapa jam di sini sambil menunggu cairan infus ini habis dan setelah itu kita bisa langsung pulang," jelas Gibran.
"Kamu sudah mengabari Ibuku tentang aku?"
"Aku sudah mengabari keluargamu dan juga keluargaku. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba di sini."
"Kenapa harus kesini, katanya aku gak perlu dirawat inap?"
"Sama seperti aku yang khawatir sama kamu, mereka juga khawatir sama kamu dan ingin cepat-cepat menemui mu."
"Aku sudah sangat merepotkan kalian kan, maafkan aku ya."
Gibran tersenyum lalu meraih pucuk kepala Yasmin, dielus nya rambut Yasmin dengan membuat dan penuh kasih sayang!
"Untuk orang yang dicintai tidak pernah ada kata repot ataupun malas, semua untuk orang tersayang pasti yang terbaiklah yang akan dilakukan."
"Yasmin," ucap Dalina sembari menghampiri Yasmin yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Ibu," lirih Yasmin.
Dalina memeluk Yasmin, air mata bahagia mengalir deras dari pelupuk nya.
Zaina dan Shaima berjalan mendekati Yasmin!
"Nenek, bibik terimakasih sudah datang menjenguk aku" ucap Yasmin.
Zaina menatap Yasmin dengan tatapan sendu lalu menggenggam tangan Yasmin dengan lembut.
"Yasmin, maafkan nenek ya," ucap Zaina.
"Maafkan bibi juga Yasmin," sambung Shaima.
"Ada apa ini? Kenapa kalian meminta maaf padaku? Seharusnya aku yang meminta maaf pada nenek dan bibi karena aku sudah merepotkan kalian."
"Tidak Nak, kamilah yang harus meminta maaf padamu karena kami sudah bersalah padamu."
"Ibu, Shaima jangan bahas masa lalu. Yasmin sudah memaafkan kalian bahkan Yasmin sudah memaafkan kalian dari dulu," ucap Dalina.
__ADS_1
Tak lama setelah keluarga Yasmin tiba di ruangan itu, Darwin dan Maria juga tiba di sana. Dibelakang mereka ada Sinta, Sonny dan Galih yang juga ingin menemui dan melihat keadaan Yasmin saat ini.
"Sayang." Maria langsung memeluk Yasmin dengan penuh kasih sayang.
"Yasmin, kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Darwin.
Yasmin menggelengkan kepalanya pelan, "tidak apa-apa Pa, alhamdulillah aku baik-baik saja."
"Yasmin, akhirnya kamu ditemukan juga. Aku khawatir sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Sinta.
"Aku baik-baik saja kalian tidak usah khawatir, maafkan aku karena aku sudah membuat kalian cemas dan mungkin capek karena mencari ku kemana-mana."
"Semua lelah yang kamu rasakan saat mencari mu langsung hilang setelah kami tahu kamu sudah kembali dengan keadaan selamat," ucap Shaima.
"Yasmin, boleh aku bertanya?" ucap Galih yang dari tadi hanya diam saja.
"Boleh, mau tanya apa?" ucap Yasmin.
"Tapi kamu harus menjawab pertanyaan aku dengan jujur."
"InsyaAllah aku jujur."
"Kamu tahu siapa yang menyekap mu?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Awalnya tidak tapi setelah hari itu, aku tahu siapa orang yang menyuruh dua laki-laki itu untuk menyekap aku di dalam gudang mengerikan itu."
"Apa orang itu adalah aku?"
Yasmin menatap Galih dengan tatapan aneh.
Yasmin yang tidak tahu dengan apa yang terjadi pada mereka saat dirinya tidak ada, hanya bisa terdiam terpaku.
"Yasmin," ucap Galih lagi karena melihat Yasmin yang tiba-tiba terdiam termenung.
"Tentu saja bukan. Tidak mungkin kamu melakukan kejahatan seperti itu."
"Dengar kak Gibran, bukan aku yang menculik istri kamu," ucap Galih pada Gibran
"Maaf, waktu itu aku tidak bisa berpikir karena takut kehilangan Yasmin." Merasa bersalah, Gibran pun tak malu untuk meminta maaf kepada Galih.
Meski Galih adalah adik kandungnya sendiri tapi salah tetaplah salah, dirinya harus tetap meminta maaf kepada adiknya itu.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi saat aku tidak bersama kalian?"
__ADS_1
Yasmin yang tidak tahu apa-apa, merasa penasaran terhadap apa yang terjadi saat dirinya tak bersama mereka.
"Aku sudah menuduh Galih yang menculik kamu dari rumah," jelas Gibran.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu pada adikmu sendiri Mas?"
"Aku tahu Galih mencintai kamu jadi aku berpikir Galih lah yang menculik kamu karena dia ingin memiliki kamu."
"Kak sepertinya lo lupa dengan janji kita saat kecil dulu. Dulu kita berjanji akan mengikhlaskan apapun yang kita sayangi demi kebahagiaan gue atau lo. Gue memang cinta sama Yasmin tapi gue tahu lo adalah yang pertama mencintai Yasmin dan lo juga yang pertama dicintai oleh Yasmin jadi gue harus mengikhlaskan kalian bahagia. Gue yakin gue juga akan bahagia bersama wanita lain."
"Maafkan gue, gue benar-benar bodoh karena telah menuduh lo yang sebenarnya tidak mungkin lo lakuin."
"Yang penting sekarang, Yasmin selamat," ucap Zaina.
Mereka bersyukur karena Yasmin masih selamat dan memberikan mereka maaf.
Shaima memeluk Yasmin dengan erat, senyum mengembang dari bibirnya.
"Mulai sekarang, bibi akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan kamu Yasmin. Bibi harap kamu dapat memaafkan Bibi dan Nenek ya."
"Aku sudah memaafkan kalian lagipula aku rasa kalian tidak pernah berbuat salah padaku."
"Yasmin, dihadapan keluargamu dan dihadapan keluargaku, aku ingin bertanya padamu," ucap Gibran.
"Tanya saja Mas, InsyaAllah aku akan menjawabnya."
"Pernikahan kita terjadi hanya sebatas kontrak saja, aku menikahi kamu hanya karena aku ingin menghindari perjodohan yang orang tuaku lakukan tapi sering berjalannya waktu, perlahan rasa nyaman tumbuh dalam diriku lalu aku mulai mencintaimu. Yasmin maukah kamu menjadi istri aku untuk selamanya? Aku ingin membatalkan kontrak pernikahan yang sudah aku dan Ayahmu buat."
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam sambil menatap Yasmin dan Gibran, termasuk Dokter yang akan mengecek kondisi Yasmin pun ikut menyaksikan kejadian itu.
Yasmin tersenyum tapi tak mengucapkan sesuatu apa pun, dia hanya diam sambil terus menatap Gibran.
"Yasmin, ayo jawab," ucap Sinta yang tak sabar menunggu jawaban dari Yasmin.
"Tidak harus dibawa, aku rasa Mas Gibran sudah tahu jawabanku."
"Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu. Apa kamu mau menjadi istri aku?"
"Bismilahirahmanirahiim. Aku bersedia menjadi istrimu untuk kini dan nanti."
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.
Dokter yang dari tadi hanya berdiri diantara mereka, kini berjalan menghampiri Yasmin!
"Selamat untuk kalian berdua," ucap Dokter itu dengan raut wajahnya yang bahagia.
__ADS_1
Meski Dokter itu tidak mengenal mereka tapi dirinya ikut bahagia dengan bersatunya Yasmin dan Gibran.
Bersambung