
"Ayo kita pulang sayang," ucap Gibran mencoba membujuk Yasmin.
Saat itu perempuan yang tadi bersama Yasmin sudah pergi setelah tahu mereka adalah pasangan suami istri.
Yasmin menggeleng pelan, dirinya belum siap untuk bertemu dengan Galih dan juga keluarganya. Dia takut Galih sudah mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tua mereka, dirinya takut Maria dan Darwin akan memandangnya jelek karena bagaimana pun juga apa yang dilakukannya adalah suatu pekerjaan yang hina baginya.
"Yasmin, jangan dengarkan semua perkataan Galih, aku rasa dia hanya merasakan cinta sesaat padamu. Ayo kita pulang."
"Aku gak mau, orang tua kamu pasti membenci aku."
"Tidak akan, Galih tidak akan berani mengatakan semua yang dia tahu pada Mama dan Papa."
"Aku juga tidak siap untuk bertemu dengan Galih. Aku tidak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan kamu dengan Galih, lebih baik kita hidup sendiri-sendiri saja."
"Gak bisa Yasmin, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu."
"Tapi Gibran."
"Yasudah, kalau kamu tidak mau pulang ke rumah, kita ke hotel saja. Besok kita cari rumah untuk kita tinggal bersama di dalamnya," ucap Gibran.
"Benarkah? Kamu serius?"
"Aku serius, aku tidak sedang bercanda. Yasmin apa kamu mau menjadi istri sungguhan? Aku mau kita menjalani pernikahan kita selamanya sampai maut yang memisahkan kita."
"Tapi Ayahku ...."
"Tidak usah pikiran dia. Aku akan memberimu padanya setelah itu dia tidak berhak lagi atas dirimu, setelah itu kamu hanya akan menjadi milikku."
Yasmin menangis, dia merasa serba salah saat itu. Bagaimana tidak saat ini dia dihadapkan dalam masalah besar yang dirinya sendiri tidak yakin bisa melewati masalah itu.
"Jangan nangis Yasmin, aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu."
"Mas Gibran, bagaimana dengan Galih? Aku takut dia nanti jadi membenci dirimu, aku gak mau kalian bermusuhan hanya karena aku."
"Jangan pikiran itu, sekarang ayo kita pergi dari sini. Kita menginap di hotel saja dulu, besok baru kita cari rumah untuk kita."
Yasmin tersenyum tipis meski air matanya masih membasahi pipinya lalu dia bangkit dari duduknya dan akan segera meninggalkan masjid itu.
"Pelan-pelan saja, aku tahu kamu pasti lelah."
*******
Ayesha terbangun dari tidurnya lalu langsung duduk di atas tempat tidur itu.
__ADS_1
"Astaga, aku ketiduran lagi," gumam Ayesha.
Ayesha menatap jam di dinding kamar itu sudah menunjukkan pukul sembilan belas lewat tiga puluh menit, itu artinya dia sudah satu jam lebih tertidur di sana.
Dia segera keluar dari kamar itu lalu berjalan menghampiri Darwin dan Maria yang sedang menonton televisi!
"Om, Tante. Maaf ya aku tadi ketiduran di kamar," ucap Ayesha.
"Gak apa-apa Sha, lagian kami tidak keberatan meski kamu menginap di sini," ucap Darwin.
"Kak Ayesha, kapan kakak datang?" tanya Galih yang memang tidak tahu kapan gadis itu datang ke rumah mereka.
"Udah dari tadi. Gibran mana?" tanyanya.
"Kak Gibran lagi di rumah orang tua istrinya, mungkin mereka akan pulang malam atau mungkin juga menginap di sana."
"Mengintip? Kok kakakmu itu gak izin sama Papa atau Mama? ucap Darwin.
"Pagi, Yasmin pulang ke rumahnya Pa, katanya Ibunya sakit. Mungkin Gibran mau menemani Yasmin di sana. Mereka gak punya mobil, mungkin saja mereka butuh kendaraan untuk membawa Ibunya Yasmin ke rumah sakit," jelas Maria.
"Mama tahu kalau Yasmin pulang ke rumah orang tuanya?"
"Tahu, karena tadi dia sempat berpamitan dan minta izin sama Mama."
"Mereka perhatian banget sama keluarga Yasmin? Lihat saja lo Yasmin, gue akan buat hidup lo menderita," ucap Ayesha didalam hatinya.
"Maafkan aku Pa, Ma. Karena aku Yasmin jadi pergi dari rumah ini," ucap Galih didalam hatinya.
"Kalau gitu kita makan sekarang saja. Mungkin Gibran dan Yasmin akan makan malam di sana," ucap Darwin.
"Yasudah, ayo Ayesha. Kamu juga ikut makan bersama kami," ucap Maria.
"Tidak Tante, aku mau langsung pulang aja."
"Makan dulu Sha, setelah itu baru kamu pulang kalau menang kamu tidak mau menginap di sini."
Ayesha tak bisa menolak permintaan Darwin, akhirnya dia makan malam bersama keluarga Darwin.
*******
Sesampainya di hotel terdekat dari masjid tersebut, Gibran langsung memesan satu kamar untuk mereka berdua.
"Kamu jangan banyak berpikir Yas, nanti kamu sakit," ucap Gibran sembari berjalan menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Aku hanya takut," sahut Yasmin dengan nada lirih.
"Kenapa? Apa yang kamu takutkan?"
"Banyak, kamu gak akan pernah mengerti dengan semua kehidupan yang aku alami."
"Nanti kamu cerita sama aku ya, aku akan membantu kamu sebisa mungkin." Gibran dan Yasmin langsung masuk ke kamarnya setelah membuka pintu itu.
Yasmin duduk di tepi ranjang dan Gibran masih berdiri di samping Yasmin.
"Dengar, aku sudah siap dengan semua kemungkinan terburuk yang akan menerpa kita. Aku akan tetap mempertahankan kamu dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebut kamu dari aku meski orang itu adalah Ayah kamu atau pun Galih."
"Bagaimana dengan Wanda?"
"Aku tidak bisa melupakan dia karena dia adalah wanita pertama yang pernah ada dalam kehidupan aku. Aku akan terus menyimpannya dalam kenangan masa laluku. Apa kamu keberatan untuk itu? Jujur serem hidup bersama denganmu ternyata kamu memiliki banyak kesamaan dengan Wanda, ada satu yang membedakan kalian yaitu agama yang kalian peluk. Kamu beragama Islam sedangkan Wanda bukan."
"Aku tidak keberatan jika kamu tidak bisa melupakan Wanda tapi aku tidak mau kamu melihat Wanda dalam diriku, karena aku bukan Wanda dan aku tidak mau dicintai karena adanya sosok orang lain dalam diriku."
"Tidak seperti itu Yasmin, kamu menang memiliki banyak kesamaan dengan Wanda tapi tidak semuanya sama. Aku tidak bisa menyatakan semuanya padamu tapi yang pasti cinta aku ke kamu lebih besar dari cinta aku ke Wanda."
Yasmin terdiam dan hanya menanggapi perkataan Gibran dengan senyuman.
"Apa kamu mencintai aku? Apa kamu juga sudah jatuh cinta padaku? Aku tidak akan memaksa jika kamu memang tidak ingin bersamaku. Melihat kamu bahagia aku juga pasti bahagia, meski bahagiamu bukan bersamaku."
"Aku belum tahu banyak tentang cinta. Aku tidak mengerti dengan apa itu cinta, yang aku tahu cinta itu adalah dua orang yang saling menjaga satu sama lain baik itu fisik maupun batin. Ada rasa yang berbeda saat aku bersama kamu. Disini." Yasmin meletakkan telapak tangannya di dadanya.
"Ada rasa yang berbeda saat aku dekat dengan laki-laki lain, aku rasa aku jatuh cinta padamu tapi aku sendiri tidak yakin apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak. Aku butuh waktu untuk mengertikan perasaan aku ini," sambung Yasmin.
Gibran tersenyum lalu duduk di samping Yasmin dan meraih lalu menggenggam tangan Yasmin.
"Aku akan menunggu sampai kamu yakin dengan perasaan kamu itu. Sementara itu aku akan terus berusaha membuatmu cinta padaku. Aku yakin aku pasti bisa membuat kamu jatuh cinta padaku."
"Kamu terlalu percaya diri." Yasmin terbawa kecil sembari menatap Gibran.
"Kalau tidak percaya diri itu artinya tidak yakin pada kekuatan cinta."
"Terserah kamu. Aku mau istirahat, apa boleh?"
"Ya, tentu saja. Istirahatlah dengan nyaman, aku mau mandi dulu."
Gibran pun langsung pergi memasuki kamar mandi!
Yasmin menatap punggung Gibran dengan senyuman yang terus membingkai di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung