
Di tempat yang jauh dari kota tempat dirinya tinggal. Ayesha bersembunyi di sebuah penginapan yang ada di kota kecil itu.
Dirinya sadar bahwa saat ini dirinya tengah menjadi buronan keluarganya Gibran bahkan mungkin saja dirinya juga masuk dalam daftar pencarian orang karena pastinya Gibran sudah melaporkan dirinya ke polisi.
"Duh kalau udah gini gue harus apa? Gue gak mungkin menelpon Mama sekarang karena sekarang Mama pasti sedang bersama Papa," gumam Ayesha.
Ayesha duduk di balkon kamarnya sembari memandang pepohonan yang tumbuh di sekitar penginapan itu.
"Sekarang jangankan mendapatkan Gibran, menemuinya saja gue gak bisa. Semua gara-gara si Yasmin sialan itu. Sampai kapan pun gue gak akan maafin wanita itu, wanita itu harus menyingkir dari kehidupan Gibran, kalau gue gak bisa mendapatkan Gibran makan Yasmin atau siapa pun itu juga gak boleh mendapatkan atau memiliki Gibran."
*******
Di kediaman Gibran.
"Sudah malam, cepat tidurlah," ucap Gibran pada Yasmin.
"Aku belum ngantuk Mas," sahut Yasmin sembari menatap Gibran sekilas.
"Kamu harus banyak istirahat karena kemarin kamu kurang beristirahat."
"Seharian aku gak ngapa-ngapain Mas, udah cukup istirahatnya."
"Belum. Kamu harus lebih banyak istirahat lagi biar cepat pulih."
"Mas, aku jadi keinget sama Wanda." Tiba-tiba Yasmin teringat dengan mantan kekasih Gibran yang lama sudah tiada.
"Hmm, kenapa tiba-tiba kamu ingat dia? Aku saja kekasihnya tidak ingat."
"Mas kasihan Wanda, dia pasti sedih."
"Yasmin, jangan pikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Wanda sudah bahagia di sana."
"Tapi Mas kalau saja Ayesha tidak melakukan kejahatan itu, pastinya sekarang Wanda sudah bahagia bersama kamu."
Gibran tersenyum lalu berbaring dengan posisi miring menghadap sang istri.
"Kalau dia masih ada, mungkin mungkin kita tidak akan pernah bertemu, mungkin sekarang aku sudah punya anak dengan Wanda."
"Kamu mencintai Wanda?"
Yasmin mendongak untuk bisa menatap wajah sang suami.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu, memangnya gak boleh?" ucap Yasmin sembari memainkan dagu Gibran dengan jari jempol nya.
"Kalau aku bilang aku masih mencintainya, apa kamu akan marah?"
"Kenapa harus marah? Wanda kan orang pertama yang kamu cintai sedangkan aku, aku baru aja kenal sama kamu itu pun karena tidak sengaja."
Gibran meraih pipi Yasmin lalu membelainya lembut. "Aku hanya mencintai kamu. Saat ini hanya ada kamu seorang, Wanda adalah masa laluku yang tak pernah hilang jadi aku tidak bisa melupakannya sepenuhnya."
"Hmm, besok kita ziarah ke makan Wanda ya Mas."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Aku mau izin sama dia dan mendoakan dia."
"Izin untuk apa?"
"Aku ingin memiliki kamu seutuhnya dan aku tidak ingin pisah dari kamu. Dengan mendoakan dia, semoga dia mengikhlaskan kamu untuk aku. Biar bagaimana pun juga, Wanda pernah ada dalam hidup kamu bahkan dia akan menjadi istri kamu."
"Iya, besok aku akan mengantar kamu ke makam Wanda asalkan sekarang kamu tidur."
"Terimakasih Mas, selamat malam."
Yasmin tersenyum lalu mencium dagu Gibran dan setelah itu segera menutup matanya dan mulai pergi ke alam bawah sadarnya.
*******
"Udah malam, kenapa kamu belum tidur?" tanya Maria pada Galih yang saat itu masih duduk di bangku yang ada di depan rumahnya.
Galih menoleh ke arah suara dan melihat sosok wanita yang sangat dia sayangi dan dia hormati.
"Eh Mama, Mama sendiri kenapa belum tidur?"
"Mama gak bisa tidur karena dari tadi kamu hanya diam sembari menatap gelapnya malam. Ada apa hmm? Cerita sama Mama."
"Gak ada apa-apa kok Ma, aku cuma keinget sama istri orang."
"Ih kamu ya, jangan macam-macam sama milik orang." Maria memukul lengan Galih perlahan.
Galih tertawa sembari menatap wajah Mamanya.
"Awas kamu ya kalau macam-macam."
"Nggak, janji deh. Ma, sebenarnya aku tuh lagi bingung."
"Bingung kenapa? Kayak orang banyak hutang saja."
"Nggak jadi deh, lagian kalau pun aku cerita, Mama gak akan ngerti."
"Gitu ya, kan Mama juga pernah muda mungkin aja Mama ngerti."
"Iya juga, tapi aku gak mau cerita. Aku mau merahasiakan ini sendiri aja."
"Kamu kok gitu, oke-oke kalau gak mau cerita gak apa-apa tapi ingat jangan melakukan kesalahan ya."
"Ma, semua orang pasti melakukan kesalahan. Aku juga pasti melakukan kesalahan tapi aku janji aku gak akan melakukan kesalahan yang sama, baik itu pada kak Gibran atau pada orang lain. Aku sadar mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain itu sangat menyesatkan." Seolah tahu kekhawatiran apa yang ada dalam diri Maria, tanpa ditanya atau diingatkan, Galih sudah mengatakan apa yang mungkin ingin Maria dengar dan Maria ketahui.
Maria tersenyum lalu mengusap punggung Galih. "Mama yakin suatu saat kamu pasti mendapatkan wanita seperti yang kamu inginkan jika sosok Yasmin yang kamu kagumi, maka suatu saat akan ada wanita yang seperti Yasmin yang sama persis seperti yang kamu inginkan."
Galih tak berucap lagi, dia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Maria.
"Sudah malam, Mama mau istirahat ya," ucap Maria sembari bangkit dari duduknya.
"Iya Ma, good night."
__ADS_1
"Good night sayang." Maria segera masuk ke dalam rumah sedangkan Galih masih asyik berdiam diri di sana.
*******
"Kak Dalina, kenapa melamun terus? Yasmin kan sudah ketemu," ucap Shaima.
"Kakak gak bisa tidur," sahut Dalina.
"Kenapa? Kak Zafran ya? Sudah lah kak jangan pikirkan dia."
"Bukan begitu Shaima, bukan kakak kamu yang kakak pikirkan."
"Lalu apa?"
"Sudahlah jangan dibahas. Kamu tidak akan mengerti karena kamu belum mengalaminya."
"Ya sudah kalau tidak mau cerita tapi kalau kakak mau cerita, kapanpun aku akan menjadi pendengar yang baik untuk kakak."
"Terimakasih ya Shaima."
"Jangan berterimakasih. Aku hanya sedang berusaha menebus kesalahan yang pernah aku lakukan pada Kakak dan juga Yasmin."
"Malam-malam gini lagi pada ngobrolin apa?" tanya Zaina yang terbangun karena ingin buang air kecil.
"Nggak ada Bu, kami hanya sedang membahas masalah anak muda, Ibu tidak akan mengerti," ucap Shaima.
"Hah, terserah kalian saja mau bagaimana. Mentang-mentang Ibu udah tua kalian sampai gak mau kasih tahu Ibu," ucap Zaina sembari berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di dapur rumahnya.
"Kamu itu, sama orang tua bercanda mulu," ucap Dalina.
"Hihi, maaf kak."
"Tidur sana bukannya besok kamu harus kerja."
"Besok minggu kak, waktunya libur."
"Oh gitu ya, sampai lupa kalau ternyata besok hari minggu."
"Mentang-mentang gak punya gaji sampai lupa sama hari."
"Itulah orang pengangguran, sama hari saja bisa lupa."
"Pengangguran tapi selalu sibuk ya."
"Hey kalian ini, sudah malam masih saja bergurau. Cepat tidur sana, jangan ganggu orang tua lagi istirahat," ucap Zaina yang baru kembali dari kamar mandi.
*******
Gibran menatap Yasmin yang kini sudah tertidur, entah kenapa perkataan yang dulu dia ucapkan pada Wanda bisa dilupakannya dengan begitu mudahnya saat bersama dengan Yasmin.
Dirinya pernah membuka hati untuk wanita lain tapi tidak pernah bisa melupakan masa-masa indah bersama Wanda dan dirinya juga tidak pernah bisa melupakan janjinya pada Wanda untuk hidup bersama selamanya.
Semua itu berbeda saat dirinya bersama dengan Yasmin, meski dirinya belum lama mengenal Yasmin tapi dirinya sudah bisa melupakan kenangan bersama Wanda meski tak sepenuhnya dirinya melupakan masa lalu bersama Wanda tapi dirinya merasa nyaman bersama dengan Yasmin.
__ADS_1
"Mungkin kamulah wanita yang tepat untuk aku, mungkin Wanda juga menyetujui kamu denganku karena itulah dia pergi dari ingatanku saat aku bersamamu. Kamu adalah gadis yang baik yang pernah aku miliki setelah Wanda, kamu memiliki pemikiran yang dewasa meski sebenarnya usia kamu belum terlalu dewasa. Semoga kamulah wanita terakhir yang akan menemani hidup aku sampai ajal menjemput ku," ucap Gibran didalam hatinya sebelum akhirnya dia juga tidur menyusul Yasmin ke alam mimpi.
Bersambung