
Pagi itu, Gibran sudah siap untuk berangkat bekerja. Yasmin mengantar Gibran sampai depan rumahnya!
Mereka terlihat lebih mesra dibanding sebelumnya, mereka sudah sama-sama mengakui perasaannya dan akhirnya mereka sepakat untuk membatalkan kontrak pernikahan yang mereka buat sebelum pernikahan mereka terjadi itu.
"Aku kerja dulu ya, kamu hati-hati di rumah," ucap Gibran.
"Iya, kamu juga hati-hati ya jangan lupa makan siang dan jangan lupa kalau pulang terlambat kabari aku," ucap Yasmin dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Aku gak akan pulang terlambat justru hari ini aku akan pulang cepat khusus untuk kamu."
"Kenapa begitu? Kenapa harus spesial untuk aku?"
"Kamu sudah janji kan nanti malam kita mau bertempur." Gibran menatap Yasmin dengan tatapan matanya yang genit, senyumnya menawan dan diakhir tatapannya dia mengedipkan sebelah matanya.
Yasmin tertunduk malu, ada perasaan yang tak dapat dijelaskan saat Gibran menatapnya seperti itu.
*******
Di sebrang jalan yang ada didepan rumah Gibran.
Seorang laki-laki sedang memperhatikan Gibran dan Yasmin, sesekali laki-laki itu memotret mereka dengan menggunakan kamera ponselnya.
Setelah merasa sudah cukup dengan apa yang ingin dia ketahui, laki-laki itu pun segera pergi dari tempat itu sebelum dicurigai oleh orang-orang di sekitar sana.
*******
"Aku pergi sekarang ya," ucap Gibran yang masih berdiri didepan mobilnya.
"Iya," sahut Yasmin dengan senyum di bibirnya.
"Pergi ya."
"Iya Mas, pergi saja." Yasmin sedikit melebarkan senyumannya.
"Beneran nih? Pergi nih."
Yasmin tertawa kecil sembari mendorong Gibran agar masuk ke dalam mobilnya!
"Dari tadi bicara terus, kapan perginya?" Yasmin membukakan pintu mobil itu untuk sang suami.
"Aku jadi males kerja, pengennya mandangin kamu terus."
__ADS_1
"Udah deh, pergi kerja sana kalau gak kerja nanti aku mau makan apa? Aku gak mau ya cuma makan cinta karena cinta gak bisa bikin perutku kenyang."
"Ya udah deh aku berangkat kerja sekarang ya." Gibran terus menatap Yasmin meski kini dirinya sudah berada di dalam mobilnya.
Yasmin berdiri di samping mobil Gibran yang pintunya masih terbuka lebar itu.
"Tunggu apa lagi? Cepat nyalakan mesinnya."
"Iya, maksa banget nyuruh suami kerja."
Cuup! Yasmin mencium pipi Gibran dengan sedikit menekannya lebih keras.
Gibran menatap Yasmin dengan tangannya yang memegangi pipinya yang barusan dicium mesra oleh sang istri.
"Kenapa menatapku seperti itu? Belum mau pergi juga?"
"Yasmin, aku berangkat sekarang ya. Dari tadi kek kamu ngerti kalau aku nungguin itu."
"Dih kamu nya gak bilang. Mana aku tahu."
"Ciuman mu nikmat banget Yas, nanti lagi ya."
"Gak janji ya."
Yasmin melambaikan tangannya pada Gibran hingga sampai mobil itu sudah tak terlihat lagi, Yasmin baru masuk je dalam rumahnya.
*******
Di sebuah kafe, Maya duduk menunggu seseorang yang mengajaknya bertemu di sana.
Berkali-kali Maya melihat jam di tangannya, dirinya sudah menunggu cukup lama namun orang yang ditunggunya tidak kunjung tiba di sana.
"Mana sih dia? Lama banget."
Maya mengedarkan pandangannya ke semua arah namun dirinya tak juga melihat sosok yang dia tunggu.
Tak lama orang itu datang dan langsung menghampiri Maya!
"Lama banget kamu? Kamu tahu gak, saya tidak punya banyak waktu untuk menemui kamu," ucap Maya datar.
"Maaf Bu, tadi saat dalam perjalanan menuju ke sini, ban motor saya pecah jadi harus ganti ban dulu," jelas orang itu.
__ADS_1
"Terus, apa yang kamu dapat hari ini?"
"Ini orangnya kan?" Laki-laki itu memperlihatkan foto Gibran dan Yasmin yang berhasil dia dapatkan dengan menggunakan kamera ponselnya.
"Dimana mereka tinggal?"
"Berapa bayaran yang akan saya dapat?"
"Kamu jangan meremehkan saya ya. Berapapun yang kamu minta, akan saya berikan."
Laki-laki itu tersenyum sumringah sambil menatap Maya yang juga menatapnya.
*******
Di kediaman Darwin.
"Gak ada Mbak Yasmin, rumah ini sepi ya," ucap Wati.
"Iya. Waktu Mbak Yasmin di sini kita selalu ada tempat buat berbagi cerita dan pengetahuan," sahut Arti.
"Kalau kalian kangen sama Yasmin, kalian boleh sesekali main ke rumahnya Yasmin," ucap Maria.
Wati dan Arti menoleh menatap Maria yang ternyata mendengar percakapan mereka.
"Ibu, nggak kok Bu. Kami hanya kehilangan Mbak Yasmin saja mungkin nanti juga akan terbiasa tanpa Mbak Yasmin, toh dulu juga gak ada dia di rumah ini."
"Yasmin memang anak yang baik, beberapa bulan di sini dia sudah berhasil membuat semua orang di rumah ini nyaman sama dia."
"Termasuk aku Ma, aku merasa nyaman bahkan sangat nyaman sama Yasmin," ucap Galih didalam hatinya.
"Ma, emangnya Kak Gibran pindah ke mana? Rumah mereka di daerah mana?" tanya Galih.
Galih memang tidak mengetahui kemana Gibran membawa Yasmin pindah dan di mana rumah mereka sekarang."
"Di daerah xxx nanti kita ke sana sama-sama ya biar kita semua tahu ke rumah kakakmu."
"Ide bagus tuh Ma."
*******
"Bagus. Pekerjaan kamu selesai dan terima ini sebagai upahmu." Maya meletakkan satu gepok uang rupiah di atas meja lalu langsung beranjak dari duduknya untuk seger pergi dan mengakhiri pertemuan mereka.
__ADS_1
"Terimakasih Bu. Saya jamin, rahasia ini aman bersama saya."
Bersambung