
"Mbak Yasmin, makan dulu ya," ucap Wati sembari membawa nampan berisi makanan untuk Yasmin.
"Mbak, aku makan di bawah aja. Bareng sama Mama dan Papa," ucap Yasmin.
"Mereka yang meminta saya untuk mengantarkan makanan ini ke sini. Mereka bilang, Mbak Yasmin jangan banyak bergerak dulu biar cepat pulih."
"Aku sudah sembuh kok."
"Mbak Wati, taruh saja makanannya di atas meja dan tolong ambilkan makan saya juga. Bilang sama Mama dan Papa kalau aku mau makan di sini bersama Yasmin," ucap Gibran.
"Oh ya baiklah." Wati segera keluar dari kamar itu untuk mengerjakan perintah dari Gibran!
"Gibran, kita makan di bawah aja. Gak enak sama Mama dan Papa."
"Kamu tuh ya, kerjaannya gak enak dan minta maaf, oh ya kamu juga sering berterimakasih. Yasmin mereka adalah kelurga aku itu berarti keluargamu juga."
"Iya, tapi itu hanya sementara kan."
"Kenapa sih kamu selalu mengingat ke arah sana. Lupakan kontrak pernikahan kita dan bersikaplah seperti istri sungguhan."
"Aku memang selalu bersikap seperti istri sungguhan kan."
*******
Di kamar Galih.
Galih sedang memasang kartu perdana yang ia beli saat di jalan menuju pulang. Dia sengaja membelinya karena penasaran dengan postingan yang dilihatnya di sosial media Facebook.
Setelah selesai, Galih pun langsung mengirim pesan whatsapp ke nomor yang sudah dia simpan tadi.
Pertama Galih mengirim bukti screenshot ke nomor itu lalu dia mulai bertanya.
[Apa postingan ini serius? Saya ingin meng_kontak gadis ini.] >kirim.
Tak lama pesan yang dia kirim sudah bercentang warna biru.
Galih pun tak sabar menunggu balasan dari orang tersebut.
Tak lama Galih menerima pesan dari nomor tersebut.
Dia pun langsung membaca isi pesan tersebut.
[Ya, tapi sekarang dia sudah dikontrak oleh orang lain. Kalau mau nanti saja setelah selesai kontrak dengan yang sekarang.]
__ADS_1
"Apa, jadi postingan itu benar. Berarti Yasmin dan kak Gibran hanya menikah kontrak," ucap Galih didalam hatinya.
Galih kembali mengirim pesan pada orang tak dikenal itu.
[Berapa harga untuk meng_kontrak gadis itu?]
[Tergantung waktunya, jika hanya sebentar bayarannya pun tidak terlalu mahal tapi dalam waktu yang lama, bisa mencapai puluhan juta.]
[Berapa lama kontrak yang sekarang sedang dijalani gadis itu? Siapa nama gadis itu?]
[Satu tahun. Dia bernama Yasmin.]
[Bagaimana saya bisa percaya? Anda siapanya gadis itu?]
[Saya Ayahnya Yasmin. Bagaimana, Anda bersedia menunggu? Yasmin baru pertama melakukan kontrak pernikahan, dijamin dia masih bisa melayani Anda dengan baik.]
Galih tak membalas pesan itu lagi, dia terlihat sedang berpikir sesuatu.
"Berarti ini pertama kalinya Yasmin melakukan pekerjaan itu. Berarti masih ada kesempatan untuk gue mendapatkan Yasmin. Setelah satu tahun mereka akan berpisah dan aku akan menikahi Yasmin dan tak akan pernah melepaskannya lagi," gumam Galih.
Tok!
Tok!
"Iya, tunggu sebentar." Galih langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu segera bergegas pergi.
*******
Di kamar Gibran.
"Yasmin, makan dulu. Dari tadi kamu diam saja." Gibran menyodorkan sendok berisi nasi ke depan mulut Yasmin.
"Aku bisa makan sendiri. Kamu makan aja makananmu," ucap Yasmin.
"Kenapa? Kamu gak suka diperlakukan seperti ini?"
"Gibran, jika sedang berdua kita bersikap seperti biasa saja. Jangan seperti ini, cukup didepan orang tua kamu saja kita berlagak sok mesra."
"Kenapa?"
"Aku belum siap kecewa."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Gini ya, biar aku jelaskan. Seorang wanita eh tepatnya gadis, aku kan masih gadis. Kalau dia mendapat perhatian lebih dari seorang laki-laki biasanya mereka akan memiliki rasa yang lebih terhadap laki-laki itu. Aku takut aku salah mengartikan perhatian kamu terhadap aku, aku takut aku jatuh cinta dan akhirnya aku sakit sendiri."
"Kamu kok bisa berpikir seperti itu? Jika seorang wanita bisa jatuh cinta setelah mendapat perhatian lebih, apa kamu pikir laki-laki juga tidak akan jatuh cinta jika setiap hari bersama dengan wanita dan setiap hari mendapatkan perhatian yang begitu banyak darinya."
"Mau dibawa kemana pernikahan kita ini? Apa kamu siap melupakan Wanda? Aku rasa tidak, jadi kita batasi saling memperhatikan saat sedang berdua."
"Kamu jangan egois Yasmin. Kamu lupa, aku sudah membayar dirimu kepada Ayahmu."
Yasmin tak berucap lagi, dia meneguk ludahnya kasar dan tanpa terasa air matanya jatuh dari pelupuk nya.
"Y_Yasmin, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu." Gibran merasa bersalah atas ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Tidak masalah. Kamu memang benar. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku ikhlas. Perkataan kamu barusan berhasil membuat aku tersadar bahwa sebenarnya kamu berhak atas diriku."
"Yasmin, sungguh aku tidak berniat seperti itu. Maafkan aku."
"Kebaikan kamu membuat aku lupa dengan posisi aku di dalam kehidupan kamu. Jujur aku tidak merasa hubungan kita ini hanya sebatas kontrak semata, aku merasa kita ini seperti sudah kenal lama."
"Lupakan semua yang kita bahas barusan, ayo makan dan jangan berpikir terlalu keras. Kamu baru saja sembuh dan kamu harus fokus dalam memulihkan kondisi tubuh kamu. Makan sendiri saja, aku juga mau makan."
Yasmin mulai menyentuh makanannya yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga di rumah itu.
*******
Setelah selesai makan, Galih langsung meninggalkan meja makan. Dia berjalan menuju teras rumahnya!
Galih duduk di kursi yang ada di sana. Ada rasa bahagia saat mengetahui bahwa Gibran dan Yasmin ternyata hanya menikah kontrak. Dirinya memiliki kesempatan lebih banyak setelah Gibran menceraikan Yasmin meski waktu itu terbilang masih lama karena mereka baru menjalani pernikahan mereka selama satu bulan.
"Kalau gue pikirin, kok Ayahnya Yasmin tega banget membiarkan anaknya melakukan pernikahan kontrak. Ayah macam apa itu, bisa-bisanya dia memasang iklan seperti itu di sosial media."
Galih mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu melihat lagi postingan yang menampakkan foto Yasmin yang begitu cantik.
"Sebenarnya kamu baik Yas, tapi kenapa kamu mau melakukan ini? Tidak bisa kah kamu bekerja yang lain saja," gumam Galih sembari terus menatap foto Yasmin.
Tanpa disadari, jari Galih bergerak dan menyimpan foto itu dalam ponselnya. Entah kenapa dirinya ingin menyimpan foto yang seharusnya tidak disimpannya.
Biar bagaimana pun juga, saat ini Yasmin masih istrinya Gibran. Dirinya tak berhak memiliki rasa yang lebih terhadap Yasmin.
"Susah banget ngelupain Yasmin, apalagi sekarang gue tahu sebenarnya mereka hanya menikah kontrak, gue jadi lebih sulit untuk melupakan dia," gumam Galih.
Galih menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya lalu memejamkan matanya. Mengingat senyuman Yasmin membuat Galih lupa segalanya.
Bersambung
__ADS_1