Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 20


__ADS_3

Maria semakin terlihat tegang saat Gibran mengatakan bahwa bunga mawar yang sedang dicium oleh Yasmin adalah bunga milik Wanda. Dia melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Astaga, Bu sepertinya akan ada perang dunia," ucap Wati yang baru tiba di sana dan langsung mendengar perkataan Gibran.


Arti memukul tangan Wati pelan lalu berucap. "Hus, kamu ini. Bicara jangan sembarangan."


Maria dan dua asisten rumah tangganya berdiri sambil terus menatap Yasmin dan Gibran.


Yasmin tersenyum sambil menatap Gibran dan dengan tangannya yang masih menggenggam bunga mawar hitam itu.


"Kalau bunga ini milik Wanda, kenapa kamu memetiknya dan memberikannya padaku?" tanya Yasmin dengan begitu tenangnya.


Tak ada sedikit pun kemarahan terlihat di wajah Yasmin, dia masih bisa tersenyum meski sebenarnya perkataan Gibran sangat menyakitkan bagi istri pada umumnya.


"Wanda akan bahagia jika bunga miliknya dirawat oleh orang yang tepat. Aku rasa aku bukan lagi orang yang tepat untuk menjaga bunga ini, aku merasa kamu lah pemilik baru dari bunga ini," ucap Gibran.


"Siapa aku? Aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk menerima ini semua. Aku tidak bisa merawat bunga ini."


"Tapi sepertinya bunga ini sudah memilih siapa pemilik barunya."


Yasmin terdiam, dirinya memang menyukai bunga itu tapi apakah dirinya pantas untuk menggantikan posisi Wanda dalam hidup Gibran.


Maria dan dua asisten rumah tangganya itu tersenyum lega, ternyata Gibran tak memarahi Yasmin malahan Gibran meminta Yasmin untuk merawat bunga itu.


"Ayo kita ke kamar! Kamu sedang apa di luar seperti ini? Kamu belum sembuh," ucap Gibran.


"Aku merasa bosan di dalam kamar terus akhirnya aku mengajak Mbak Arti untuk menemaniku ke sini dan setibanya di sini aku melihat bunga ini dan kebetulan bunga ini adalah bunga kesukaan aku."


"Melihat bunga nya cukup sampai di sini saja. Kita istirahat di dalam." Gibran memangku tubuh Yasmin lalu mulai membawanya masuk ke dalam rumah!


"Gibran turunkan aku, aku bisa jalan sendiri kok," ucap Yasmin sembari terus meronta.


Selain dirinya malu terhdap Maria, Yasmin juga merasa malu terhadap Wati dan Arti.


Setibanya di rumahnya, Galih langsung di sambut oleh kemesraan Gibran dan Yasmin.


Melihat Gibran yang tengah memangku Yasmin dan terlihat Yasmin yang mengalungkan tangannya di leher Gibran membuat Galih merasa seperti ada yang membakarnya.


Ingin sekali Galih mengatakan tentang hubungan Gibran dan Yasmin yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya tapi dirinya takut hal itu justru membuatnya lebih sulit untuk mendapatkan Yasmin.


*******


"Sha, lo belum bertindak apa-apa terhadap Yasmin?" tanya Rika.


"Belum," sahut Ayesha.


"Kenapa? Lo bergerak terlalu lambat."

__ADS_1


"Gue belum punya kesempatan untuk melakukan apa-apa terhadap Yasmin karena kan sekarang ini mungkin Yasmin belum sembuh total dan Gibran dan orang tuanya tidak akan membiarkan dia keluar rumah."


"Iya juga ya, mending sekarang kita pikiran lagi cara yang bagus buat menyingkirkan dia."


"Harus lah. Gue gak mau Gibran selamanya sama dia, Gibran itu ditakdirkan untuk gue dan hanya gue yang bolehin memiliki Gibran."


"Kalian berdua semangat banget untuk ngerjain istrinya Gibran. Kalian gak takut kalau nanti Gibran dan keluarganya melaporkan kalian ke polisi?" ucap Chaca.


"Lo udah gak mau bantuin gue lagi Cha?" tanya Ayesha.


"Bukan gitu, Sha. Gue cuma takut aja kalau suatu saat kita ketahuan terus akhirnya kita dijebloskan ke penjara."


"Lo gak tahu aja Yasmin sebenarnya kayak gimana? Cuma diancam sedikit doang dia tuh udah ketakutan."


"Masa sih, emang lo tahu itu dari mana?"


"Gue udah pernah ketemu sama dia satu kali di rumahnya Gibran dan ... ya udahlah jangan bahas itu, gue malas mending kita pulang. Udah sore juga nih."


*******


"Yasmin, bunga ini cantik kan?" ucap Gibran sembari mengelus kelopak bunga itu dengan jari telunjuknya.


"Ya, cantik sekali karena itulah aku suka dengan bunga ini."


"Kalau seandainya aku tidak ingin menyudahi kontrak pernikahan kita, apakah kamu keberatan?"


"Maksud kamu?"


"Aku ... aku ingin kita selamanya menjadi pasangan suami istri. Punya beberapa anak dan punya cucu setelah kita tua nanti. Aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku yang sesungguhnya."


"Bagaimana dengan Wanda? Aku tahu kamu begitu mencintainya."


"Lupakan Wanda, sekarang ada kamu dalam hidupku meski sebenarnya aku belum bisa melupakan Wanda seutuhnya tapi aku sering lupa dengan dia saat aku bersamamu."


"Ayahku pasti meminta bayaran yang lebih untuk itu. Aku tidak mau kamu mengalami kerugian hanya karena ingin memiliki aku selamanya."


"Kalau kita bicarakan, mungkin Ayahmu akan mengerti."


"Kamu gak tahu dia Gibran. Jika saja ada yang mau membeli Ibuku mungkin Ayahku itu akan menjualnya juga. Uang adalah yang utama bagi Ayah."


"Aku akan membayar berapapun yang Ayahmu minta demi memiliki dirimu."


"Jangan terburu-buru, kita baru berapa bulan menikah. Pikirkan lagi satu kali saja agar tidak ada penyesalan."


"Aku tidak perlu berpikir. Kita bersama sudah hampir tiga bulan dan aku sudah tahu banyak tentang kamu. Aku tidak perlu mengenali kamu lebih dalam lagi, selama ini aku cukup tahu bahwa kamu adalah wanita yang baik dan sabar."


"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Usiaku baru dua puluh tahun dan diusia segitu biasanya sedang nakal-nakalnya."

__ADS_1


"Nakal yang bagaimana? Selama kamu mencintai aku dan tidak mengkhianati aku, aku oke-oke saja."


Yasmin tersenyum sambil terus menatap Gibran.


"Susah ya ngomong sama orang yang hampir tua. Kamu keras kepala."


Gibran meraih rambut Yasmin lalu menyatukan kepala mereka berdua hingga deburan nafas mereka saling beradu.


"Aku memang sudah dewasa usia kita jauh berbeda tapi aku masih memiliki gairah yang tinggi, kamu jangan khawatir tentang itu, aku akan membuatmu ketagihan dengan keperkasaan ku," ucap Gibran dengan sedikit berbisik.


Yasmin melepas tangan Gibran yang menahan kepalanya lalu dia menggeser duduknya untuk sedikit menjauh dari Gibran!


"Apa yang sedang kamu bicarakan? Kenapa mengarah ke sana?"


"Kamu bilang aku sudah hampir tua tapi kamu harus tahu untuk laki-laki diusia segini, laki-laki itu sedang nakal-nakalnya pas di atas ranjang."


"Gibran! Kamu membuat aku takut."


"Jangan takut, aku tidak menggigit dan ular ku tidak berbisa. Kamu tidak akan kenapa-kenapa jika suatu saat bertemu dengan ular tak bersisik ini."


"Makin lama makin ngawur deh kamu. Udah ah, aku mau mandi." Yasmin pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi!


Saat Yasmin akan menutup pintu kamar mandi, Gibran menghalangi pintu itu dengan kakinya dan membuat pintu itu tidak bisa tertutup rapat.


"Gibran tolong menyingkir lah dari sini," ucap Yasmin.


"Tidak mau." Gibran menatap Yasmin dengan tatapan aneh.


"Gibran ini sudah mau maghrib."


Gibran memaksa masuk ke dalam kamar mandi lalu memepetkan Yasmin ke tembok lalu menguncinya dengan kakinya agar Yasmin tak pergi!


"G_gibran kamu mau apa?"


"Aku mau buka baju kamu," ucap Gibran sembari tersenyum jahil.


"A_apa. Jangan dong."


"Dalam kontrak yang sudah ditandatangani kita. Tidak ada larangan untuk aku melihat apa yang ada dalam dirimu. Aku mau melihatnya dan aku mau menikmatinya."


Yasmin semakin ketakutan, karena Gibran terus membicarakan hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"J_jangan, a_aku belum siap. Nanti aja Gibran."


"Tapi aku maunya sekarang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2