
"Kalian kalau dia gak mau makan, ya dipaksa dong. Jangan sampai dia mati," ucap Ayesha.
"Udah Mbak, tapi tetap gak mau."
"Buka pintunya, saya mau bicara dengannya."
Laki-laki itu pun membuka pintu yang terkunci rapat itu dan Ayesha memasuki gudang itu dengan langkah santai.
Yasmin yang sedang meringkuk, menatap ke arah wajah si pemilik kaki mulus yang dia lihat depannya.
"Ayesha," ucap Yasmin lirih.
Ayesha tersenyum sinis lalu berjongkok didepan Yasmin.
"Lo mau keluar dari sini gak?" tanya Ayesha.
"Tolong bawa aku pergi dari sini," ucap Yasmin.
"Lo suruh Gibran untuk nikahin gue, setelah itu lo minta cerai dari dia, baru gue akan melepaskan lo dari sini."
"Ayesha, kamu tidak sedang bercanda kan."
"Tentu saja tidak Yasmin, selama Gibran belum menikahi gue, Gue gak akan ngelepasin lo dari sini."
"Berarti kamu yang sudah dengan sengaja menyuruh orang untuk menculik aku agar Gibran menikahi kamu?"
"Iya. Kalau lo mau selamat, lo harus melepaskan Gibran untuk gue asal lo tahu aja dulu gue pernah membunuh kekasihnya Gibran saat hari pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi."
Yasmin terkejut mendengar perkataan Yasmin ingin sekali dirinya lari dari sana karena tak ingin bernasib sama dengan Wanda tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya lemas tak berdaya jangankan berlari, untuk berjalan saja rasanya dirinya tidak bisa.
"Ayesha, kenapa kamu seperti ini, kenapa kamu jahat sekali?"
"Karena gak boleh ada yang memiliki Gibran selain gue. Gue cinta sama Gibran sejak dulu, dari kami kecil kami sudah berteman dan selalu bersama dan sekarang pun bahkan sampai nanti, Gibran akan tetap menjadi milik gue."
"Tolong jangan sakiti aku."
"Lo tinggal ikuti perintah gue tadi kalau lo masih mau hidup. Ini ponsel gue." Ayesha memberikan ponselnya pada Yasmin.
"Telpon Gibran, minta cerai dari dia dan suruh dia menikahi gue secepatnya," sambung Yasmin.
"Gak akan, itu gak akan terjadi. Aku cinta sama Mas Gibran."
"Oh jadi lo memilih mati."
"Jangan Ayesha, kamu sudah berdosa karena menghilangkan nyawa Wanda. Jangan tambah dosamu lagi."
"Jangan bicara tentang dosa denganku karena gue gak takut."
*******
Gibran berjalan bolak-balik sambil terus memutar otak untuk mencari cara bagaimana dia bisa menyelamatkan Yasmin.
"Aku gak mungkin menikahi Ayesha, aku gak suka sama gadis itu," Gumam Gibran.
__ADS_1
"Kak, aku menemukan lokasi Ayesha berada sekarang," ucap Galih yang baru tiba di rumah Gibran.
"Apa, dimana?"
"Sekarang dia ada di pergudangan yang sudah lama tidak dipakai."
"Di mana?"
"Gudang milik Om Alan yang terletak di belakang pabrik semen milik Om Alan."
"Pabrik itu sudah lama tidak beroperasi."
"Aku tahu,orang suruhan ku mengatakan bahwa sekarang Ayesha ada di sana bersama dengan dua orang laki-laki yang terlihat seperti preman. Feeling ku mengatakan bahwa Yasmin ada di sana."
"Kalau gitu kita ke sana sekarang." Gibran sangat bersemangat untuk mendatangi tempat itu.
"Tidak, jangan dulu. Tunggu orang ku memberi info selanjutnya, aku menyuruhnya untuk mencari Yasmin di sana, jika benar Yasmin di sana berarti kita harus menyusun rencana untuk membawa Yasmin pergi dari sana."
"Aku takut Ayesha berbuat nekat, dia mengancam kakak akan membunuh Yasmin jika hari ini kakak tidak bersedia menikahi Ayesha."
"Tenang dulu kak. Dia gak mungkin mencelakai Yasmin sebelum mendapatkan apa yang dia mau. Dia tahu kakak sangat mencintai Yasmin jadi selama kakak belum memberikan apa yang dia minta aku rasa Yasmin akan baik-baik saja di sana."
"Semoga aja begitu."
*******
Di kediaman Zaina.
"Dalina, jangan pikirkan Zafran biarkan dia hidup bersama perempuan itu," ucap Zaina pada Dalina.
"Iya Bu," sahut Shaima.
"Kak Dalina duduk saja dulu, biar aku yang membersihkannya kamar untuk kakak."
Zaina dan Shaima terus berbicara padanya tapi Dalina hanya diam dengan tatapan matanya yang kosong. Pikirannya terus tertuju pada Yasmin yang sampai saat ini belum ditemukan.
Sekarang dirinya tak lagi memikirkan Zafran yang ternyata tidak mencintainya sepenuhnya, sekarang hanya ada Yasmin dalam pikirannya.
"Kak, kamarnya sudah selesai. Kakak istirahat di kamar aja ya," ucap Shaima pada Dalina yang dari tadi hanya diam.
"Kakak mau cari Yasmin lagi."
"Jangan, biar polisi yang mencari Yasmin." Zaina melarang Dalina pergi. Bukan tanpa alasan, saat ini Dalina tidak bisa fokus dalam melakukan apapun, Zaina khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan terhadap Dalina.
"Tapi aku gak bisa berdiam diri saja sementara anakku ... tidak tahu apa yang dia alami di sana."
"Yasmin akan baik-baik saja. Kakak harus yakin, selama ini kalian selalu berbuat baik jadi pasti ada orang yang berbuat baik pada kalian bukankah kakak sendiri yang selalu bilang padaku kalau orang baik akan selalu ada dalam perlindungan Allah. Yakinlah bahwa Yasmin akan selamat dan akan baik-baik saja," ucap Shaima.
*******
"Sin, lo mau kemana?" tanya Sonny sembari berjalan cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Sinta.
"Gue mau ketemu sama Galih," sahut Sinta.
__ADS_1
"Ngapain? Kakak ipar Galih udah ditemukan?"
"Tidak tahu. Ini gue mau menanyakan Yasmin pada Galih."
"Gue ikut ya."
"Boleh."
*******
"Yasmin ada di sana. Kakak telpon Ayesha dan katakan bahwa kakak bersedia menikahi Ayesha," ucap Galih.
"Gila kamu. Gak mau, itu gak mungkin terjadi," protes Gibran.
"Gak beneran kak, kakak cuma pura-pura saja, cuma untuk mengalihkan fokus Ayesha. Saat Ayesha pergi dari tempat itu, aku akan membawa Yasmin pergi dari sana."
"Bagaimana kalau gagal, bagaimana kalau aku sampai menikah dengan Ayesha?"
"Itu tidak akan terjadi, kakak percaya kan sama gue."
"Tapi Galih,"
"Tidak ada cara lain kak. Kita harus melakukan ini."
"Assalamu'alaikum," ucap Sinta dan Sonny.
Galih dan Gibran menoleh ke arah suara dan mereka langsung melihat Sinta dan Sonny.
"Kalian, mau apa kalian ke sini?" tanya Galih.
"Gue mau menanyakan tentang Yasmin. Gue khawatir sama dia," ucap Sinta.
"Yasmin sudah ditemukan, tinggal kita cari cara untuk membawa Yasmin dari tempat penyekapannya."
"Kalau gitu kenapa tidak lapor polisi?" ucap Sonny.
"Tidak bisa, lo gak tahu siapa yang menculik Yasmin."
"Siapa memangnya?"
"Nanti juga lo tahu sendiri. Maaf ya, bukannya kita mau ngusir kalian tapi kita harus pergi untuk menjemput Yasmin di tempat penyekapan itu," ucap Galih.
"Gue ikut," ucap Sonny penuh semangat.
"Pergilah, semoga berhasil. Aku cuma bisa bantu doa karena aku hanya wanita dan tidak bisa apa-apa," ucap Sinta.
Mereka pun segera bergegas untuk mengerjakan tugas masing-masing.
"Kak, gue tahu lo benci sama Ayesha tapi untuk saat ini lo harus bersikap seolah lo suka dan dengan senang hati lo nikah sama dia," jelas Galih.
"Gue akan berusaha, gue percaya sama lo. Tolong bawa Yasmin buat gue ya."
"Pasti, lo jangan khawatir, gue pasti bawa Yasmin buat lo."
__ADS_1
Bersambung