
Pagi itu Akan dan Maya sudah bertamu ke rumah keluarga Darwin.
Baru Darwin mau berangkat bekerja, dia melihat temannya itu berdiri didepan pintu rumahnya.
"Akan, Maya kalian di sini?" tanya Darwin.
"Maaf Darwin, jika kedatangan kami mengganggu dirimu tapi kami harus bicara denganmu," ucap Alan.
"Kami baru bisa datang karena kemarin Alan harus dirawat di rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh lagi," jelas Maya.
"Kenapa bicara di luar? Ayo masuk," ucap Maria.
Mereka pun masuk ke dalam rumah secara bersama-sama!
"Duduk dulu, aku ambilkan minum untuk kalian. Kalian mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot kami kesini hanya untuk minta maaf saja," ucap Alan.
"Gak apa-apa, Ma buatkan saja minuman apa saja yang ada ya," ucap Darwin pada Maria.
Maria pun menganggukkan kepalanya dan langsung pergi ke dapur!
"Darwin, aku gak tahu harus berkata apa padamu? Aku malu padamu."
"Maksud kamu apa Alan? Apa yang sedang kamu bicarakan padaku? Aku tidak mengerti." Darwin menatap Alan dengan penuh tanya.
"Tentang Ayesha yang sudah menculik menantimu. Aku tidak tahu dan tidak mengerti kenapa Ayesha melakukan itu, aku mohon maafkan aku dan anakku." Alan berbicara sambil menundukkan kepalanya, begitu besarnya rasa malu yang dia rasakan sehingga dirinya tidak berani menatap wajah teman baiknya itu.
Maria kembali dengan membawa minum untuk mereka semua!
"Minum dulu," ucap Maria setelah menata minuman itu di atas meja.
"Gak ada kata maaf untuk Ayesha. Kak Gibran sudah melaporkan Ayesha ke polisi dan kak Gibran juga akan tetap memenjarakan Ayesha," ucap Galih yang baru akan berangkat kuliah.
Semua orang yang sedang duduk di kursi ruang tamu itu pun menatap Galih yang masih berdiri di tangga.
"Galih, jaga bicaramu. Om Alan ini teman Papa."
"Kenyataannya seperti itu Pa, mereka harus tahu dengan apa yang akan kak Gibran lakukan pada Ayesha. Perbuatan Ayesha pada kak Gibran tidak bisa dimaafkan Pa. Pertama dia membunuh kak Wanda hingga kak Gibran kehilangan semangat hidupnya dan sekarang setelah kak Gibran mulai melupakan Wanda, wanita berhati iblis itu malah menculik Yasmin dan berniat menjauhkan Yasmin dari kak Gibran."
"Darwin, Maria, maafkan aku ya. Aku benar-benar sudah gagal dalam mendidik anakku," ucap Alan.
Alan terus saja meminta maaf pada Darwin dan keluarganya sementara Maya hanya diam dalam hati yang dipenuhi kebencian terhadap keluarga Darwin dan Maria.
Sedikit pun Maya tidak berniat untuk meminta maaf pada mereka dirinya merasa dalam hal ini Gibran lah yang salah bukannya Ayesha.
__ADS_1
Menurutnya Gibran lah yang menyakiti Ayesha dengan tidak menghiraukan perasaan Ayesha padanya sehingga Ayesha melakukan apa pun untuk mendapatkan cinta Gibran.
"Alan aku sudah memaafkan kamu tapi Gibran ... aku sendiri tidak tahu dengan apa yang akan dia lakukan pada putrimu."
"Kak Gibran akan tetap memenjarakan Ayesha, Om dan Tante tidak boleh mencegahnya karena kalau kak Gibran sudah marah, dia akan berbuat nekat."
Galih langsung pergi meninggalkan mereka di sana, pemuda itu nampak tidak suka dengan kedatangan Alan dan Maya ke rumahnya!
"Mas Alan, Maya, kami sudah memaafkan kalian dan juga Ayesha tapi untuk Gibran, kami tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Ayesha atau tidak," ucap Maria.
"Seharusnya kalian sebagai orang tua, kalian bisa minta Gibran untuk memaafkan Ayesha kan? Kalian tahu tidak, sekarang Ayesha pergi dari rumah dan kami pun tidak tahu sekarang dia dimana," ucap Maya.
Saat itu Maya seolah memaksa Darwin dan Maria untuk memaafkan Ayesha, sepertinya Maya mulai takut. Takut Gibran benar-benar membiarkan Ayesha mendekam di penjara.
"Maaf Maya, Gibran itu sudah dewasa. Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan dan tidak dia lakukan kami sebagai orang tuanya hanya bisa memberi sedikit masukan. Kalau dia turuti kami akan merasa bahagia dan jika tidak, kami tidak akan sakit hati karena kami tahu, Gibran pasti memilih yang terbaik untuk dirinya," ucap Maria.
*******
"Mas cepat berangkat kerja sana, kamu mau nunggu apa lagi?" tanya Yasmin.
"Lima menit lagi aja ya. Aku belum bosan menatap kamu Yasmin."
"Kamu ini gimana sih, gak puas apa hampir semalaman penuh kamu gangguin aku. Masa masih mau menatap aku, gak bosen apa?"
"Gak ada kata bosan untuk memandang keindahan yang kamu miliki."
"Gak gombal Yasmin, aku serius."
"Mas Gibran, lima menitnya sudah habis. Maaf ya, bukannya saya ikut campur tapi barusan Ibu menelpon saya katanya Mas harus segera ke kantor karena Bapak akan ke kantor siang," ucap Arti.
"Kenapa gak nelpon aku?" ucap Gibran.
"Katanya udah beberapa kali di telpon tapu gak dijawab."
"Dimana ponsel kamu Mas?" tanya Yasmin.
"Ada kok, tadi udah aku masukin ke tas," ucap Gibran sembari mencari ponselnya di dalam tasnya.
Yasmin hanya diam sambil terus menatap Gibran yang sedang sibuk.
"Kok gak ada, dimana ponselku ya?" gumam Gibran.
"Pasti di kamar, sebentar aku cariin di kamar." Yasmin beranjak dari duduknya lalu segera pergi ke kamarnya.
"Kalian mau pulang kapan?" tanya Gibran pada Wati dan Arti.
__ADS_1
"Sebentar lagi kami pulang, kami hanya diizinkan menginap satu malam saja di sini sama Ibu."
"Sebenarnya kalau Ibu tahu Mbak Yasmin udah sehat, pasti kami gak dibolehin menginap di sini."
"Kalian gak bisa apa menginap satu hari lagi di sini buat nemenin Yasmin?"
"Gak bisa Mas, bukannya kami gak mau tapi Ibu meminta kami pulang hari ini."
"Ya udah deh ini uang buat ongkos kalian ya." Gibran memberikan dua amplop yang sudah dia isi dengan uang pada Wati dan Arti.
"Terimakasih Mas, padahal Ibu udah kasih kami ongkos."
"Gak apa-apa, kalian bisa simpan uang itu."
"Terimakasih Mas."
Gibran hanya tersenyum menanggapi perkataan Wati padanya, tak lama Yasmin datang dengan ponsel Gibran di tangannya.
"Ini ponselmu Mas, cepat berangkat ke kantor sana sebelum kamu dipecat nanti sama Papa kamu."
Gibran tersenyum lalu segera bangkit dari duduknya.
"Kalau gitu aku berangkat sekarang ya."
Yasmin mencium punggung tangan Gibran lalu menyuguhkan senyum terbaiknya pada Gibran
Gibran membalas senyuman sang istri lalu mencium kening Yasmin.
"Assalamu'alaikum, sayang," ucapnya.
"Waalaikumsalam, cintaku," sahut Yasmin.
Wati dan Arti tersenyum lebar melihat kemesraan yang dipamerkan oleh Gibran dan Yasmin pagi itu.
*******
"Galih, aku mau bicara sama kamu," ucap Kania saat melihat Galih di area kampusnya.
"Bicara apa?" tanya Galih.
"Jangan di sini, kita bicara di tempat lain."
"Lo mau bicarain apa sih sampai gue gak boleh dengar?" ucap Sinta.
"Nanti juga lo tahu," ucap Kania.
__ADS_1
"Ya udah kita bicara di sana aja." Galih menggenggam tangan Kania lalu membawanya ke sebuah tempat yang agak sepi dari mahasiswa lainnya!
Bersambung