Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 9


__ADS_3

"Kalian udah pulang," ucap Maria saat melihat Yasmin dan Gibran berjalan berdampingan memasuki rumahnya.


"Iya, Ma. Maaf ya Ma, kita kelamaan di luar," ucap Yasmin.


"Maksud kamu apa? Kamu di luar kan sama suami kamu, mau seharian full pun tidak jadi masalah."


"Yasmin emang gitu Ma, kerjaannya minta maaf mulu," ucap Gibran.


"Oh ya, Yas tadi ada ayahmu datang kesini," jelas Maria.


"Ayah?" Yasmin menatap Gibran lalu menatap Maria lagi.


"Mau apa katanya, Ma?" tanya Yasmin.


"Gak tahu, tadi ayahmu cuma bilang katanya ibu kamu kangen sama kamu. Dia minta kamu pulang untuk menemui ibumu."


"Kalau gitu sekarang kita pulang ke rumah kamu aja Yas, kita nginap di sana," ucap Gibran.


"Mas, kamu capek. Aku gak mau kamu terlalu lelah karena tidak baik untuk kesehatanmu, kita ke rumah ibu besok saja. Kalau kamu mau kerja, aku ke sana sendiri saja."


"Yasmin benar, Gibran. Kalian ke sana besok saja."


Galih berjanji melewati mereka namun matanya tidak melihat jalan yang sedang dia lewati, pemuda usia dua puluh tahun itu terus menatap Yasmin yang sedang berdiri di samping Gibran dengan senyumannya yang manis.


"Aww!" Karena tidak fokus pada jalan, Galih menendang kaki meja yang berada di dekat mereka.


"Kenapa lo?" tanya Gibran sambil menatap Galih.


"Kesandung," sahut Galih sembari memegangi kakinya yang terasa sakit.


"Makannya kalau jalan pakaian mata."


"Yaampun, berdarah tuh." Yasmin terlihat panik melihat darah yang keluar dari ujung jari kaki Galih.


"Astaga Galih, kenapa sampai berdarah?" Maria langsung berjalan ke dekat meja yang terdapat di samping televisi untuk mengambil kota p3k!


"Ini obati dulu."


Yasmin langsung meraih kota p3k itu dari tangan Maria lalu mulai membersihkan luka itu.


"Yas, biar Mama aja."


"Gak apa-apa Ma, aku bisa kok." Yasmin terus mengeringkan darah yang keluar dari luka itu dengan tissue setelah itu dia meneteskan obat merah.


Gibran terus memperhatikan setiap gerakan Yasmin yang cekatan dalam mengurus luka di kaki Galih.


Dari awal sampai selesai, Galih terus memperhatikan wajah Yasmin. Entah kenapa dia merasa seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat menatap Yasmin.


"Sudah selesai. Galih, lain kali kalau jalan hati-hati. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," ucap Yasmin pada Gibran.


"Iya kak. Terimakasih ya sudah mengobati lukaku padahal luka nya juga gak seberapa."


"Sekecil apapun luka itu, kalau dibiarin bisa menyebabkan rasa sakit."


"Lain kali kalau mau kesandung di tempat lain aja jangan dekat Yasmin, jadi repot kan dia harus ngobatin luka lo," celetuk Gibran.


"Siapa yang mau kayak gini. Kalau boleh nawar aku gak mau kesandung sampai luka gini, sakit tahu."


"Kalian kenapa sih ribut terus?" ucap Maria.


Yasmin tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka di ruangan itu!


"Ma, aku permisi ya."


"Iya sayang, terimakasih ya udah ngobatin Galih."

__ADS_1


"Iya Ma, gakpapa kok."


Yasmin pun langsung berjalan menuju kamarnya dengan membawa belanjaan miliknya!


Gibran pun langsung menyusul Yasmin ke kamarnya!


"Ma, kak Gibran nemu dimana sih mahluk seperti Yasmin?" tanya Galih setelah Gibran pergi.


"Maksud kamu?" Maria menatap Galih dengan tatapan penuh tanya.


"Nggak kok, aku salah ngomong tadi."


"Awas ya kalau macam-macam, dia itu istrinya kakakmu."


"Iya Ma, aku tahu."


"Udah ah, Mama mau telpon Papa dulu." Maria bangkit dari duduknya lalu meraih ponselnya dari atas meja.


Di kamar Gibran.


"Lain kali jangan terlalu perhatian sama Galih," ucap Gibran.


"Kenapa? Dia itu adikmu."


"Bukan apa-apa, aku takut nanti dia suka sama kamu."


"Gak mungkin. Dia kan tahu kalau aku ini istri kamu."


"Kalian itu seumuran, bisa saja kalian saling jatuh cinta."


"Usia bukan jaminan untuk seseorang menaruh hatinya."


"Aku hanya takut."


"Berapa usiamu?"


"Kenapa mau menikahi aku yang baru berusia dua puluh. Meski kontrak tetap saja nikah kan."


"Tidak ada pilihan lain. Cuma kamu yang aku tahu. Aku pikir kamu biasa melakukan itu."


"Itu apa?"


"Nikah kontrak."


"Nggak lah. Kalau bukan karena ayah tiri ku, aku gak mau melakukan pernikahan kontrak ini. Kesannya kayak mempermainkan janji cinta."


"Aku juga gak mau melakukan ini kalau bukan karena terpaksa. Daripada aku dijodohkan, lebih baik seperti ini."


"Sudahlah jangan bahas apa pun lagi. Aku mau mandi."


"Mandi bareng?"


"Gak ya, gak ada mandi bareng."


Yasmin berjalan memasuki kamar mandi dengan tanpa menatap Gibran yang duduk dibelakangnya!


–––– ––––


"Kalian pergi dari mana saja sampai seharian gitu?" tanya Galih yang merasa penasaran.


"Pengen tahu aja urusan orang," ketus Gibran.


"Kami dari makamnya Wanda, wanita baik dan cantik yang pernah kakakmu cintai," sahut Yasmin.


"Apa? Kenapa kamu membawa Yasmin ke sana Gibran?" tanya Darwin.

__ADS_1


Gibran menatap Yasmin sekilas, dalam pikirnya seharusnya Yasmin tidak mengatakan itu pada keluarganya.


Yasmin hanya tersenyum tipis menanggapi tatapan Gibran yang misterius itu, sebenarnya dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Gibran.


"Pa, Mas Gibran mengenalkan gadis itu padaku. Makanya aku diajak ke sana," ucap Yasmin pada Ayah mertuanya.


"Tapi kamu bisa terluka. Maksud Papa, Gibran akan menyakiti perasaanmu."


"Sama sekali tidak, justru aku senang karena Mas Gibran dapat terbuka sama aku. Aku tidak cemburu ataupun sakit hati, aku beruntung karena bisa menjadi istri dari laki-laki yang tidak pernah menyembunyikan apa pun dari istrinya."


"Yasmin, Mama dengar kalian tidak lama berpacaran. Apa yang membuatmu bersedia menikah dengan Gibran?" tanya Maria.


"Mam, kok tanya yang gituan? Apa gak ada topik lain untuk dibicarakan?" ucap Gibran.


"Mama pengen tahu aja."


"Aku juga," sambung Galih.


"Tidak ada alasan untuk menolaknya justru aku yang harus bertanya seperti itu pada Mas Gibran. Apa yang membuat Mas Gibran ingin menikahi aku? Seperti yang kalian tahu aku ini hanya gadis bisa yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan bisa dibilang keluargaku termasuk orang miskin."


"Aku tidak melihat orang dari kekayaannya, aku melihat orang dari cara dia menjalani hidupnya sehari-hari. Untuk apa yang kaya jika dia tidak bisa menghormati suami dan orang tuanya. Kamu cantik, baik dan juga shalehah. Gak ada alasan untuk aku tidak menikahi dirimu," ucap Gibran.


"Waw kalian cukup sempurna untuk menjadi sepasang suami istri," ucap Darwin.


"Kak Yas, berapa usiamu?"


"Dua puluh. Kenapa?"


"Wah, seumuran tuh sama aku. Kakak gak kuliah?"


"Sudah aku bilang tadi, kalau aku terlahir dari keluarga biasa saja. Orang tuaku tidak mampu membiayai kuliah ku."


"Kalau kamu mau kuliah, kuliah aja. Nanti Mama yang akan daftarin kamu di kampusnya Galih."


"Tidak usah Ma, aku tidak berniat untuk kuliah setelah aku menikah. Sekarang tempat belajar ku bukan di kampus tapi di dapur dan sekitaran rumah. Aku harus belajar mengurus suami dan rumah untuk menjadi istri yang baik."


"Kamu sudah menjadi yang terbaik untuk aku, Yas."


Yasmin tersenyum mendengar perkataan Gibran, entah kenapa dia mesa bahagia padahal dirinya tahu perkataan itu hanyalah untuk menyempurnakan akting mereka saja.


"Mbak Wati, tolong bereskan ini ya," ucap Maria kepada asisten rumah tangganya.


Asyik mengobrol mereka baru sadar kalau mereka mengobrol di meja makan. Setelah makan mereka memang tak langsung meninggalkan tempat duduknya, mereka malah asyik ngobrol dalam waktu yang lama.


"Baik, Nyonya."


Setelah mereka semua pergi dari ruang makan, dua asisten rumah tangga di rumah itu pun langsung membersihkan meja makan lalu mencuci piring kotor bekas majikannya makan.


"Mbak, aku bantu ya," ucap Yasmin yang masih ada di tempat itu.


"Tidak usah, Mbak Yasmin. Kami saja yang mengerjakannya," sahut Arti.


"Gak apa-apa, aku bisa kok."


"Jangan Mbak, lihatlah Tuan Muda menunggumu." Wati mengarahkan pandangannya ke arah Gibran yang sedang berdiri di samping meja makan.


Yasmin berbalik badan dan ternyata benar, Gibran ada di sana!


"Kamu pasti capek, ayo istirahat saja. Pekerjaan di dapur biar mereka yang membereskannya." Gibran berucap dengan nada lembut.


Yasmin mengangguk pelan lalu dia mulai berjalan menghampiri Gibran.


"Mbak maaf ya, aku gak jadi bantuin kalian," ucap Yasmin sebelum dia meninggalkan dapur.


Mereka pun berjalan berdampingan menuju kamarnya!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2