
"Ibu, assalamu'alaikum," ucap Yasmin setelah tiba di toko milik ibunya.
"Waalaikumsalam." Dalina menatap ke arah suara dan senyum pun langsung mengembangkan dari bibirnya saat melihat Yasmin berada di hadapannya.
"Yasmin, Nak kamu kesini?"
"Bu, kata Mamanya Gibran kemarin Ayah ke rumah Gibran," jelas Yasmin.
"Untuk apa Ayahmu ke sana?"
"Katanya ibu merindukan aku, makanya aku pulang untuk menemui ibu."
"Nak, apa kamu bahagia bersama Gibran? Apa keluarganya memperlakukan kamu dengan baik?" ucap Dalina sembari menatap Yasmin dengan tatapan sendu.
"Aku bahagia bersama dia Bu. Bagaimanapun aku harus menjalani hidup ini dengan ikhlas dan lagi orang tuanya Gibran sangat baik padaku. Mereka menerimaku dengan baik."
"Maafkan Ibu, Nak. Kalau saja Ibu tidak menikah lagi dengan Ayahmu mungkin kami tidak harus berkorban untuk melunasi semua hutang Ayahmu."
"Jangan bicara seperti itu Bu, aku ikhlas kok menjalani semua ini. Asalkan Ibu bahagia, aku ikut bahagia."
Dalina meneteskan air matanya sambil memeluk putri satu-satunya itu, betapa dia beruntung memiliki anak seperti Yasmin.
Bagaimana tidak, sejak dirinya menikah dengan Zafran, Yasmin selalu ikut merasakan penderitaan nya. Zafran yang hobinya berjudi dan mabuk-mabukan tak jarang memukul Yasmin saat sedang kalah dalam judi.
Bukan hanya itu saja, setelah menginjak usia remaja, Yasmin juga harus bekerja sebagai tukang kuli cuci gosok seperti yang dilakukan oleh Ibunya. Tak seperti anak seusianya yang lain yang menghabiskan waktu untuk bermain dan bersenang-senang sementara Yasmin, dia hanya bisa menyimpan keinginannya didalam hatinya karena tak bisa seperti mereka.
Meski begitu Yasmin tak begitu sedih dengan apa yang dia jalani sehari-hari. Menurutnya membuat orang tuanya bahagia lebih penting dari segalanya terutama ibunya, dia sangat menyayangi ibunya.
*******
Di kampus.
"Sinta, kamu bujuk aja Kak Yasmin biar dia mau kulit," ucap Galih yang baru selesai mengikuti kelas hari itu.
Mereka berjalan menuju mobil Galih diparkirkan!
"Gak bisa, Yasmin itu orangnya keras kepala. Kalau dia maunya begitu ya itulah yang akan dia jalankan," sahut Sinta.
"Aku mau dia kuliah lagi agar dia memiliki pengalaman hidup sebagai seorang mahasiswa."
"Galih, lo kan adik dari suaminya Yasmin, kenapa lo gak ngomong aja sama kakak lo itu. Siapa tahu kalau suaminya yang minta, akan dituruti oleh Yasmin. Setahu gue, Yasmin itu orangnya berbakti pada orang tuanya dan aku yakin sama suaminya juga pasti nurut."
"Lo benar, gue harus ngomong sama kak Gibran."
*******
Waktu terus berjalan dan sekarang sudah mulai memasuki sore hari.
Yasmin sedang menunggu taksi online yang sudah dia pesan sebelumnya.
Yasmin berdiri di pinggir jalan sembari terus menatap layar ponselnya.
Dari kejauhan, nampak mobil berwarna hitam melaju di jalanan itu.
__ADS_1
"Kayak Yasmin," gumam Ayesha yang sedang mengemudikan mobilnya.
Setelah melihat orang yang berdiri di pinggir jalan itu dengan benar dan sudah memastikan bahwa orang itu benar-benar Yasmin, pikiran jahat pun mulai menghampiri Ayesha.
Gadis itu berpikir untuk menyingkirkan Yasmin.
Ayesha menambah kecepatan mobilnya untuk melancarkan aksinya.
Sementara itu, Yasmin tak menyadari adanya mobil yang melaju kencang ke arahnya. Dia tetap pada posisinya sambil terus menatap ponselnya, entah apa yang dia lihat di ponselnya sehingga dia begitu fokus pada layar ponselnya sampai dia melupakan keadaan sekitarnya.
Setelah beberapa detik.
Bruk!
Setelah dihantam oleh mobil itu Yasmin terlempar lumayan jauh dari tempat awal dia berdiri.
Yasmin berguling di atas aspal hingga dia membentur trotoar barulah tubuhnya berhenti berguling.
Ayesha tersenyum melihat Yasmin yang tergeletak di atas aspal dengan tubuh penuh luka dan berceceran darah di sekujur tubuhnya.
Seolah tak terjadi apa-apa, Ayesha kembali melakukan mobilnya dan meninggalkan Yasmin dalam keadaan tak sadarkan diri!
*******
Prang!
Saat berjalan untuk keluar dari ruangannya, Gibran menabrak meja dan menyebabkan pot kecil yang terletak di atas meja itu terjatuh hingga pot itu pecah berkeping-keping.
"Apa yang terjadi? Biasanya aku tidak seperti ini. Itu pot kesayanganku karena itu pemberian dari Wanda," ucap Gibran didalam hatinya.
Selagi petugas kebersihan itu membersihkan pecahan kaca itu, Gibran terus berdiri sambil memperhatikannya.
Tak lama, ponsel Gibran berdering. Ada telpon masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Gibran pun langsung menerima telpon itu.
[Halo.]
[Halo. Apa benar Anda dengan suaminya Yasmin?] tanya seseorang dari sebrang telpon.
[Yasmin? I_iya saya suami dari Yasmin Yuniar.]
[Saya dari rumah sakit xxx ingin memberitahukan bahwa saat ini istri Anda berada di rumah sakit kami dan sekarang sedang mendapatkan penanganan dokter. Istri Anda menjadi korban tabrak lari, diharapkan Anda segera datang agar dokter dapat melakukan tindakan lebih lanjut.] jelas wanita itu.
[Apa! Baik, saya segera ke sana. Sekarang.]
Gibran langsung mematikan sambungan telponnya lalu segera pergi dari tempat itu.
"Mas, jangan buang pecahan kacanya. Taruh saja di atas meja kerja saya," ucap Gibran pada petugas kebersihan itu sebelum pergi dari sana.
Petugas itu hanya mengangguk paham lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
*******
__ADS_1
Di rumah sakit.
Yasmin sudah mendapatkan penanganan dokter, kini dia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan kepala yang terlilit perban dan selang infus di tangannya.
Yasmin kritis karena kehabisan banyak darah.
"Yasmin! Yasmin," ucap Gibran setelah tiba di rumah sakit itu.
"Suster dimana istri saya?" tanya Gibran kepada petugas pendaftaran.
"Siapa namanya dan apa penyakitnya? Agar saya bisa mengeceknya."
"Namanya Yasmin Yuniar dia korban kecelakaan tepatnya korban tabrak lari."
"Sebentar ya Pak, akan saya cari."
Gibran berdiri dengan penuh kecemasan, dia tidak bisa tenang sebelum tahu keadaan Yasmin.
Meski Yasmin hanyalah istri kontrak tapi entah kenapa dirinya begitu khawatir.
"Ibu Yasmin dirawat di kamar nomor 112 Pak," ucap petugas itu setelah mengecek nya.
"Baik, terimakasih."
Gibran langsung berlari agar dirinya cepat sampai di ruangan rawat Yasmin!
Setelah tiba di depan pintu ruangan yang dia cari. Gibran melihat Yasmin dari kaca yang ada pada pintu ruangan itu, dia tidak bisa berkata-kata saat melihat Yasmin yang terbaring lemah.
Kakinya mengayun pelan untuk sampai pada Yasmin. Tak terasa air mata menetes dari pelupuk nya, dia teringat dengan Wanda yang juga mengalami kecelakaan hingga kehilangan nyawanya.
"Yasmin," ucap Gibran dengan suara lirih dan sedikit bergetar.
Gibran mengelus pucuk kepala Yasmin dengan sangat pelan dan tak lama seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gibran.
"Keadaannya sangat parah. Sekarang dia kritis," jelas Dokter itu.
"Apa dia bisa selamat?"
"Kita berdoa saja yang terbaik untuknya. Kami sudah melakukan yang terbaik namun kami tidak bisa memastikan pasien selamat karena takdir, hanya Tuhan yang tahu." Dokter itu terus memeriksa kondisi Yasmin dan terus mengecek perkembangannya setiap satu jam sekali.
"Permisi Pak." Dokter itu segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Gibran hanya terdiam sembari terus menatap Yasmin dengan tatapan pilu.
"Yasmin, aku mohon sadarlah."
"Siapa yang sudah tega melakukan ini padamu? Bertahanlah Yasmin, aku janji aku akan mencari pelakunya sampai ketemu. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu."
Gibran menggenggam tangan Yasmin sambil mengusapnya lembut, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Bersambung
__ADS_1