Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 36


__ADS_3

Zaina menggelengkan kepalanya karena tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Monik.


"Kenapa Bu? Ibu tidak percaya bahwa ini adalah anaknya Mas Zafran? Saya bisa membuktikannya dan saya tidak takut jika harus melakukan tes DNA," ucap Monik.


"Bagaimana bisa, aku tidak pernah disentuh lagi olehnya sedangkan kamu bisa sampai hamil seperti ini."


"Itu karena Mas Zafran hanya memanfaatkan kamu saja Dalina. Dia tidak mau bekerja kerasa dan akhirnya dia menikahi kamu yang sejatinya dulu kamu punya usaha walaupun kecil dan sekarang kamu memiliki anak gadis yang cantik yang bisa dia perjual belikan pada laki-laki sepertinya, laki-laki yang sukanya mabuk, berjudi dan main perempuan."


"Stop! Cukup kamu menjelek-jelekkan kakak saya!" seru Shaima.


"Itu fakta, kalau kamu tidak percaya tanyakan pada wanita bernama Dalina ini. Apa Zafran pernah bekerja, apa Zafran pernah mencintainya dengan tulus, apa Zafran pernah menyayangi Yasmin? Tidak, semua itu tidak pernah Zafran lakukan karena memang dia hanya ingin memanfaatkan mereka. Zafran mencintai aku dan aku juga mencintai dia tapi aku sadar bahwa sebenarnya dia juga hanya menginginkan tubuhku saja. Sekarang kalau dia tidak mau bertanggungjawab, aku akan melaporkan Zafran ke polisi dan setelah anak ini lahir, aku akan membunuhnya sebelum bayi ini membuat aku repot."


"Astaghfirullah. Apa yang kamu katakan itu singgah tidak baik, Bang Zafran akan bertanggungjawab, aku pastikan dia akan bertanggungjawab. Sekarang kamu pulanglah dari sini besok Bang Zafran akan menemui dirimu di rumahmu."


"Oke, aku tunggu besok sampai jam delapan malam, kalau tidak ada juga, Polisi yang akan datang menjemputnya." Monik pun langsung pergi dari rumah Zaina dengan tanpa berpamitan sebelumnya.


Zaina duduk di kursi yang sudah usang dimakan zaman itu. Dia hanya bisa menangis dan tak dapat berkata apa pun saat itu.


Betapa dirinya merasa malu kepada Dalina yang selama ini selalu dibencinya.


Selama ini dirinya berpikir Dalina hanyalah beban untuk anaknya yang saat menikah dengan Dalina masih pemuda dan memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan besar. Namun semua perkiraannya salah, ternyata Dalina lah yang menghidupi putranya bahkan sampai harus merelakan putrinya dijual oleh Zafran.


"Dalina, maafkan Ibu. Ibu benar-benar tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Zaina dengan penuh penyesalan.


"Kak, maafkan aku juga ya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Kak Zafran sejahat itu pada kalian," ucap Shaima.


Dalina hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Dari awal pernikahannya dengan Zafran, baru kali ini Ibunya Zafran menantu memohon maaf padanya dan saat ini juga adalah yang pertandingan kakinya keluarga suaminya itu berkata baik dan sopan padanya.


*******


"Mas, kamu gak mau tidur di sini?" ucap Yasmin sembari mengusap kasur di sebelahnya yang masih kosong.


Gibran yang masih duduk di sofa itu pun mengembangkan senyuman di bibirnya. "Apa boleh?"


"Boleh dong, kenapa enggak. Kita kan udah menikah."


"Kenapa baru sekarang kamu menawarkan ini?"

__ADS_1


"Sini Mas, tidur di samping aku."


Dengan semangat, Gibran menghampiri Yasmin yang kini masih tersenyum manis padanya!


Gibran langsung duduk di atas tempat tidurnya.


"Tapi ada syaratnya."


"Apa? Mau tidur aja harus pakai syarat."


"Karena kamu masih terluka jadi tangan kamu gak boleh nakal."


Gibran tertawa kecil lalu mengangkat sebelah tangannya sampai batas dadanya. Dipandangnya tangan itu lalu berkata.


"Hey tangan kamu dengar kan apa kata bidadari itu. Jangan nakal ya, kalau kamu nakal nanti aku timpuk pakai bantal lagi."


Yasmin tertawa melihat tingkah suaminya yang konyol itu.


"Ayo tidur. Aku sudah mengantuk," ucap Yasmin sembari merebahkan tubuhnya.


"Baiklah, aku juga mengantuk." Gibran juga meresahkan tubuhnya.


"Aku memang sudah menyukaimu sesaat setelah aku melihat foto kamu yang Ayahmu posting, aku tidak berniat menikahi kamu untuk selamanya tapi ternyata aku kalah, aku jatuh cinta padamu dalam waktu yang secepat ini. Saat bersamamu dengan mudahnya aku melupakan Wanda yang selama ini tidak pernah hilang dari hati dan ingatanku," ucap Gibran didalam hatinya.


Gibran menurut matanya dan mencoba untuk tidur, menyusul Yasmin ke alam mimpi.


Setelah hampir satu jam Gibran mencoba untuk terpejam, dia tak kunjung berhasil. Hawa yang dingin dengan diiringi suara gemercik hujan membuat pikiran Gibran bertualang ke mana-mana.


Ada rasa yang tak biasa yang dia, rasakan saat itu. Gibran mencoba melupakan rasa itu dengan kembali menutup matanya namun sepertinya tangan nakalnya itu sudah merayap meraba perut Yasmin yang rata.


Yasmin membuka matanya dan langsung melihat Gibran yang ternyata sedang menatapnya.


"Mas," ucap Yasmin sembari memegang tangan Gibran.


"Kamu belum tidur?"


"Aku sudah tidur tapi kebangun gara-gara ada yang merayap dan meraba perutku bahkan sesuatu yang merayap itu sudah sampai di gunung kembar milikku."

__ADS_1


Gibran tersenyum. "Maaf, aku kedinginan dan sedang mencari kehangatan dari suatu tempat."


Yasmin tak berucap lagi, dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Gibran hingga tubuh mereka bersatu tanpa adanya penghalang sedikitpun.


Yasmin meletakkan tangannya di atas pinggang Gibran dan membenamkan kepalanya diceruk leher sang suami.


"Gimana, sudah merasa hangat?" tanya Yasmin dengan tanpa mengubah posisinya.


"I_iya, tapi sekarang aku tegang."


"Maksudnya?"


"Sesuatu milikku menjadi tegang dan ingin mencari sarangnya."


Yasmin mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap wajah sang suami.


"Tadi kamu kedinginan, aku sudah berusaha membuatmu hangat dan sekarang ada yang lain lagi yang kamu rasakan. Kalau begini kapan tidurnya?"


Gibran memeluk Yasmin dengan sangat erat sambil meraba punggung Yasmin dengan sebelah tangannya.


"Yasmin," ucap Gibran dengan suara yang hampir mendesah.


"Mas ... apa yang kamu lakukan?" Yasmin tak bisa menolak saat suaminya meremas salah satu gunung kembarnya.


Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dirinya menikmati setiap perlakuan Gibran padanya.


Gibran semakin tak bisa menahan tangannya yang sudah terlanjur merayap menyusuri setiap lekuk tubuh Yasmin. Meski dirinya tak melihat bentuknya seperti apa tapi tangannya dapat merasakan setiap bagian yang dijamah nya.


*******


Galih tak bisa tidur pulas, baru beberapa hari tak bertemu dengan Yasmin, dirinya merasakan rindu yang mengalam. Dirinya tahu bahwa perasaannya itu salah tapi sedikitpun dirinya tidak bisa menghentikan rasa cinta yang sudah tumbuh dalam dirinya.


"Aargh!" Galih memukul tembok dengan tangannya yang terkepal kuat.


"Kenapa aku tidak bisa melupakan Yasmin? Kenapa aku terus saja teringat dengannya? Apa aku salah jika mencintai orang yang sudah menikah, apa aku berdosa karena mencintai dia? Aku harus apa Tuhan, agar aku bisa melupakan dia yang sudah menjadi milik kakakku? Aku tahu mereka hanya menikah kontrak tapi aku juga tahu sekarang mereka sudah saling mencintai. Bayangan Yasmin begitu sulit untuk dilupakan, senyumnya, caranya berbicara, gaya berjalannya, tingkah lakunya, semua tidak bisa aku lupakan." Galih terus bicara di dalam hatinya.


Dia berusaha mengutarakan semua perasaannya pada Tuhannya.

__ADS_1


Karena menghantam tembok yang keras, tanpa disadari tangannya bercucuran darah. Galih sendiri tak menghiraukan rasa sakit pada tangannya itu. Fokusnya terus tertuju pada Yasmin, Yasmin dan Yasmin.


Bersambung


__ADS_2