Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 8


__ADS_3

Gibran dan Yasmin kini berada di satu tempat perbelanjaan, rencananya mereka akan membeli beberapa pakaian untuk Yasmin.


Yasmin yang hanya terlahir dari seorang kuli cuci tentu tidak memiliki pakaian bagus untuk digunakannya selama menjadi istri kontraknya Gibran.


"Gibran, beli bajunya yang biasa saja, jangan yang mahal-mahal ya," ucap Yasmin sambil berjalan di samping Gibran.


"Kenapa memangnya?" tanya Gibran.


"Aku gak mau bikin kamu rugi besar, Ayahku sudah terlalu banyak meminta uangmu."


"Tidak masalah. Uang yang Ayahmu terima dariku, itu adalah pembayaran kontrak kita selama satu tahun sedangkan uang yang aku keluarkan untuk semua kebutuhanmu itu adalah uang yang memang seharusnya menjadi hak kamu sebagai istri aku. Satu bulan aku kasih kamu sepuluh juta. Cukup gak?"


"Tidak usah. Itu sangat banyak, aku tidak ingin membuatmu kerepotan dengan hadirnya aku."


"Yasmin, aku gak repot kok. Bagiku yang penting aku tidak dijodohkan dengan Ayesha."


"Kenapa? Dia cantik kok."


"Kamu gak tahu siapa dia, cantik bukan sesuatu yang diharuskan dalam memilih pasangan. Bagiku cukup dia baik, jujur dan apa adanya udah cukup."


"Gibran kamu gak takut kalau suatu saat nanti orang tuamu tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi?"


"Takut, pasti tapi aku akan berusaha untuk membuat mereka tidak tahu. Kita udah sampai di toko pakaiannya, cepat kamu pilih yang kamu suka."


"Kamu aja yang pulihkan. Aku tidak tahu hari beli baju yang seperti apa."


Gibran tersenyum tipis lalu memilih pakaian wanita yang menggantung di toko itu.


Yasmin hanya diam sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko itu. Bagian semua pakaian di toko itu sangat cantik dan dia juga menyukai pakaian yang ada di sana sayangnya harganya tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya.


"Yasmin, kamu coba yang ini deh." Gibran memberikan tumpukan baju di tangannya kepada Yasmin.


"Sebanyak ini?" Yasmin menatap Gibran dengan tatapan tak percaya.


"Iya, ada masalah?"


"Kita mau sampai kapan di sini kalau aku harus mencoba baju sebanyak ini?"


"Sampai besok juga yang punya toko gak akan nolak," ucap Gibran dengan entengnya.


Yasmin pun mengerucutkan bibirnya beberapa centi lalu dia mulai melangkah menuju ruang ganti!


*******


"Udah jam berapa nih? Gue pulang duluan ya," ucap Galih pada teman-temannya.

__ADS_1


"Gue juga mau pulang," sahut Sonny.


"Sin, ayo gue anterin lo pulang," ucap Sonny lagi pada Sinta.


"Boleh deh. Mayan ngirit ongkos."


Mereka pun meninggalkan tempat tongkrongannya dan pulang ke rumah masing-masing.


*******


"Ma, kapan Mama kasih pelajaran sama istrinya di Gibran itu?" ucap Ayesha.


"Sayang, nanti dulu dong. Mereka baru menikah. Kita tunggu waktu yang tepat dulu, jangan sampai kita salah melangkah," sahut Maya.


"Tapi aku gak rela Ma, lihat mereka berduaan."


"Ayesha, kamu sabar dong. Pernikahan Gibran dan perempuan itu sangat cepat. Mereka tidak memberi waktu untuk Mama berpikir jadi kita singkirkan Yasmin nanti saja setelah ada kesempatan bagus."


"Aku cinta sama Gibran Ma."


"Mama tahu, Mama juga ingin Gibran menjadi menantu Mama."


*******


"Gibran, lihat. Cocok gak?" tanya Yasmin setelah memakai baju yang dipilihkan oleh Gibran.


Gibran menatap Yasmin tanpa adanya sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.


"Gibran, gimana? Kamu kok malah diam sih."


Gibran terenyuh dari tatapannya, "ah ya, kamu cantik," ucap Gibran.


"Kok cantik? Ini bajunya cocok gak buat aku?"


"Iya, maksud aku. Kamu cantik pakai gaun itu."


"Jadi beli yang ini?"


"Iya. Coba lagi yang lain ya."


"Katanya cocok kok coba yang lain lagi?"


"Masa cuma beli satu, berapa kek Yas, jangan bikin malu deh. Masa aku ambilin baju sebanyak itu kamu cuma beli satu."


Yasmin tersenyum lebar, "lagian kamu ngambil baju sebanyak itu. Buat apa coba?"

__ADS_1


"Ya buat dipakai lah masa di buang."


"Bener juga sih kamu." Yasmin pun kembali masuk ke ruangan itu untuk mencoba pakaian yang lainnya!


Gibran menatap punggung Yasmin lalu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


*******


Di kediaman Zafran.


Dalina sedang memasak untuk mereka makan malam sedangkan tokonya dia titipkan pada adik iparnya.


Shaima menang selalu menjaga toko milik Zafran saat Dalina sedang menyiapkan makanan atau sedang mengurus rumahnya dengan imbalan uang gaji seratus ribu setiap jamnya. Itu berarti jika Dalina meninggalkan tokonya selama tiga jam Shaima akan mendapatkan gaji sebesar tiga ratus ribu.


"Ya Allah, aku rindu sekali pada Yasmin," gumam Dalina sambil mengaduk sayur yang dia masak.


Padahal baru beberapa hari Yasmin tidak tinggal bersamanya tapi Dalina sudah merasa sangat rindu pada putri satu-satunya itu.


"Semoga kamu baik-baik saja bersama suamimu, Nak."


Tak terasa Dalina meneteskan air matanya, dia tak kuasa menahan rindu pada sang putri.


*******


Di toko milik Zafran.


"Duh, Mbak Dalina lama banget sih. Tadi katanya cuma sebentar," gumam Shaima.


"Mbak beli telur satu kilo ya," ucap seorang pembeli.


"Sebentar ya Bu." Shaima pun langsung menyiapkan telur untuk pembelinya!


"Dari tadi, pembelinya banyak banget. Aku jadi gak bisa istirahat." Shaima terus menggerutu sendiri.


Setelah menghitung dan memberikan belanjaan milik pelanggannya. Shaima tidak memasukkan uang itu ke laci tempat uang tapi dia memasukkan uang itu ke dalam saku celananya!


"Lumayan, buat uang tambahan." Shaima tersenyum licik.


Tak lama Dalina datang dan Shaima pun langsung pergi.


"Mbak lihat nih, aku ambil dua ratus ribu ya karena Mbak perginya dua jam," ucap Shaima.


"Iya, terimakasih ya Shaima," sahut Dalina.


Shaima terus berjalan tanpa menjawab perkataan Dalina dan dengan tanpa menatap ke belakang. Bibirnya tersenyum lebar karena selain mendapat upah dari Dalina, dirinya juga mendapat uang hasil dari melipat uang dari pelanggan tadi.

__ADS_1


"Kenapa baru kepikiran hari ini? Kalau setiap hari aku ngambil sedikit uang dari toko Mbak Dalina, aku bisa beli baju baru setiap hari," ucap Shaima didalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2