
"Duduk Ka," ucap Galih pada Kania.
Kania pun duduk di samping Galih dengan tanpa melepaskan buku yang dipegangnya.
"Kamu mau bicara apa?"
"Tentang perkataan kamu ke orang tuaku semalam," sahut Kania.
"Maaf ya kalau aku lancang bicara pada orang tua kamu tapi semua yang aku katakan pada orang tua kamu semalam itu adalah benar. Aku serius sama kamu."
"Galih, aku ini sudah dewasa. Kamu jangan bermain-main dengan perasaan cinta."
"Aku serius Kania. Kamu mau kan jadi pacar aku?"
"Ini terlalu cepat Galih, bahkan aku sendiri tidak tahu dan tidak mengerti dengan perkataan kamu semalam."
"Bukannya selama ini kamu menyukaiku?" tanya Galih sembari menatap Kania dengan tatapan dalam.
Kania menundukkan kepalanya, dirinya merasa malu jika harus berkata ya pada Galih.
"Sebenarnya aku juga suka sama kamu tapi aku takut untuk mengungkapkannya padamu," sambung Galih.
"Yang aku tahu kamu menyukai gadis yang bernama Yasmin."
"Kania, sebelum aku ketemu sama Yasmin, aku sudah menyukai kamu bahkan aku suka sama kamu sejak kita SMA."
"Lalu Yasmin?"
"Yasmin adalah istri kakakku, tanpa sengaja aku memang pernah suka sama dia tapi seiring berjalannya waktu aku sadar kalau perasaan aku ke Yasmin itu salah dan ternyata memang benar perasaan aku ke Yasmin memang salah karena nyatanya aku tetap mencintai kamu."
"Kenapa kamu gak pernah bilang ke aku kalau kamu suka sama aku?"
"Karena aku takut kamu sudah punya pacar, yang aku lihat kamu sering jalan sama anak motor itu."
"Johan maksud kamu?"
Johan adalah salah satu mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi itu dan memang Kania sering jalan bareng dengan Johan tapi mereka tidak memiliki hubungan yang istimewa selain dari berteman.
Johan adalah anak tetangganya Kania yang kebetulan kuliah di sana juga jadi gak heran kalau mereka terlihat dekat karena memang mereka biasa bertemu di kawasan tempat tinggal mereka.
"Iya. Kamu sering jalan berdua kan sama dia?"
"Dia itu anak tetanggaku, wajar saja kalau kami sering berangkat kuliah bareng dan pulang bareng."
"Serius kamu gak pacaran sama dia?"
"Ya. Terus kamu kenapa gak nyatain cinta kamu ke aku kalau kamu tahu bahwa aku suka sama kamu?"
"Aku baru tahu beberapa hari yang lalu dari Sinta tapi sebenarnya walaupun Sinta gak ngasih tahu aku, aku udah tahu sih hanya saja aku tidak berani karena terhalang oleh si Johan itu."
Kania tertawa renyah ternyata ada kesalahpahaman diantara mereka yang membuat mereka sulit bersatu.
"Jadi gimana?" tanya Galih.
__ADS_1
Sontak Kania menghentikan tawanya lalu menatap Galih.
"Gimana apanya?" tanya Kania.
"Kamu mau gak jadi pacar aku?"
"Harus dijawab sekarang ni? Sekarang banget ya?"
"Gak dijawab sekarang juga gak apa-apa biar nanti aku datang ke rumah kamu aja sama orang tua aku sekalian bawa mahar untuk kamu."
"Hah, belum apa-apa udah gombal. Udah yuk bentar lagi kelas dimulai."
Kania bangkit dari duduknya lalu melangkah berjalan lebih dahulu!
"Aku akan datang, kamu tunggu saja," ucap Galih.
Kania menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang untuk menatap Galih, sebuah senyuman pun terukir di bibirnya.
Setelah melempar senyum terbaiknya, Kania kembali berjalan.
*********
Tok!
Tok!
Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar penginapan Ayesha.
"Siapa sih ganggu aja," ucap Ayesha yang masih tertidur.
Ayesha berjalan menuju pintu itu dan langsung membuka pintunya.
"Siapa ya?" tanyanya setelah membuka pintu itu dan melihat ada dua orang laki-laki yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Dengan Mbak Ayesha?" tanya salah satu dari dua orang itu.
"Iya."
"Kami dari kepolisian Jakarta, kami ditugaskan untuk membawa Anda ke kantor polisi. Ini surat perintah penangkapannya."
"Nggak, saya gak mau dipenjara."
Ayesha lari keluar dari kamarnya karena tak ingin ditangkap polisi dan dipenjarakan! Dua polisi itu mengejar Ayesha yang berlari ke arah jalan raya itu!
*******
"Assalamu'alaikum," ucap Wati, Arti dan Yasmin.
Hari itu Yasmin memutuskan untuk ikut dengan Wati dan Arti ke rumah mertuanya.
Rencananya hari itu Yasmin ingin makan siang bersama di restoran dengan Maria dan semua keluarganya karena itulah dirinya sengaja ke rumah Maria untuk mengajaknya makan bersama.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut Maria dari dalam rumah.
Maria segera membuka pintu rumahnya dan senyum bahagia langsung terukir di bibirnya saat melihat Yasmin di sana.
"Yasmin, kamu kesini? Ayo masuk sayang."
Yasmin tersenyum lalu mencium punggung tangan Maria.
"Ma, apa kabar? Mama baik-baik aja kan."
"Harusnya Mama yang bertanya seperti itu sama kamu. Mama baik-baik aja, gimana dengan kamu sayang, kok kamu udah jalan-jalan?"
"Dari kemarin aku udah gak apa-apa Ma, rencananya hari ini Mas Gibran mau ngajak kita makan siang di luar. Mama mau ya makan bersama kami."
"Iya sayang, Mama gak akan menolak."
*******
Di kediaman Zaina.
Monik dan Zafran datang ke rumah itu untuk bertemu dengan Dalina.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Zaina.
"Bu, aku mau minta maaf sama Ibu dan juga Dalina. Apa Dalina ada di rumah?" ucap Zafran.
"Dalina sedang di tokonya."
"Bu tolonglah, tadi kami sudah ke tokonya tapi dia gak ada," ucap Monik.
"Siapa Bu?" tanya Dalina yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Kalian," ucap Dalina saat melihat Zafran dan Monik di sana.
"Dalina, aku dan Mas Zafran datang untuk meminta maaf padamu. Aku tahu aku salah sudah masuk ke dalam kehidupan kamu dan Mas Zafran," ucap Monik.
"Dalina aku mohon maafkan aku. Aku menyesal sudah menyakiti kamu seperti ini," ucap Zafran.
Dalina hanya diam dengan air mata yang mulai meluncur bebas di pipinya.
Luka yang lama dia coba sembuhkan kini teringat lagi dengan datangnya Zafran dan Monik ke rumah itu.
"Dalina sedang tidak enak badan. Kalian pergi saja dari sini, bicaranya nanti saja," ucap Zaina.
"Tapi Bu, aku mohon aku ingin bicara dengan Dalina."
"Gak bisa Zafran, kamu pergi saja dari sini."
"Bu tolong, aku sedang hamil aku harus mendapatkan maaf dari Dalina, aku menyesal sudah berbuat salah padanya."
"Tidak. Sekali tidak ya tidak."
"Bu, biarkan mereka. Aku juga ingin tahu apa yang membuat mereka menyadari kesalahannya dan sudi untuk meminta maaf padaku," ucap Dalina.
__ADS_1
Bersambung