Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 29


__ADS_3

"Yas, kamu mau rumah yang kayak gimana? Biar kita gampang carinya," ucap Gibran pada Yasmin.


"Terserah kamu aja. Aku ikut aja bagaimana pun pilihan kamu."


"Jangan gitu dong, kan nanti kamu yang tinggal di rumah seharian penuh."


"Kan kamu juga tiap hari pulang ke rumah, memangnya kamu mau pulang ke mana? Ke tempat yang muda ya?" Yasmin tertawa kecil sambil menatap Gibran.


"Kamu aja belum tua masa udah cari yang muda. Gak mungkin juga kan aku sama anak SMP."


Yasmin dan Gibran tertawa bersama, mereka memang tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya, mereka lebih terlihat seperti adik dan kakak ataupun seperti teman saja. Tak pernah ada kemesraan yang mereka perlihatkan hanya ada candaan dan kadang kekonyolan masing-masing.


"Ya udah kalau gitu aku mau rumah yang biasa aja, gak terlalu mewah dan juga tidak terlalu luas," ucap Yasmin.


"Boleh, tapi kalau boleh tahu kenapa kamu mau rumah yang seperti itu?"


"Ya aku nyamannya di rumah yang tidak terlalu luas dan mewah alasannya karena aku gak mau ribet ngurusin rumah yang luas dan juga mewah."


"Kita kan bisa cari asisten rumah tangga."


"Aku mau belajar menjadi istri yang baik, aku mau ngurus rumah dan suami aku sendiri saja. Mungkin nanti kalau aku dikasih umur panjang dan mempunyai anak, baru kita cari asisten rumah tangga."


"Oke, sekarang aku terserah kamu aja yang penting kamu jangan pergi dari aku."


Yasmin tersenyum sambil terus berjalan berdampingan dengan Gibran.


*******


Di kediaman Zafran.


"Zafran! Zafran!" teriak Zaina sambil terus berjalan memasuki rumah itu.


"Ada apa Bu?" tanya Zafran yang kala itu sedang asyik nonton televisi.


"Ibu minta uang, Ibu pengen beli baju kayak tetangga Ibu, masa mereka beli baju baru sementara Ibu tidak."


"Memangnya Ibu butuh berapa?"


"Harga bajunya gak mahal kok, cuma tiga ratus lima puluh ribu aja."


"Apa! Cuma tiga ratus lima puluh ribu? Segitu Ibu bilang cuma, Bu itu bisa buat beli bajuku sebanyak tiga bahkan empat potong," ucap Dalina.


"Kamu, ikut-ikutan aja. Ibu lagi ngomong sama Zafran bukan sama kamu," ucap Zaina dengan nada judes.


"Ya udah besok aku transfer uangnya Bu," ucap Zafran.


"Bang, gak bisa dong. Baru tadi siang aku kasih Ibu uang."


"Emang kamu kasih Ibu berapa?"


"Aku kasih Ibu dua ratus ribu dan Shaima seratus ribu kalau besok kamu ambil uang dari toko lagi, bisa habis modal kita nanti."

__ADS_1


"Gak apa-apa, gak tiap hari juga kan Ibu minta beli baju," ucap Zafran dengan gampangnya.


Selama ini Zafran tidak pernah merasakan sulitnya mencari uang, selama ini dirinya hanya mengandalkan Dalina dan Yasmin saja untuk mencukupi kebutuhan rumah dan juga untuk mencukupi modal buat melakukan hobinya berjudi.


"Gak tiap hari gimana Bang, setiap hari Ibumu ini selalu mengambil kebutuhan pokok dari toko kita. Kalau Ibu harus minta uang untuk beli baju nanti aku tidak bisa belanja lagi dan pada akhirnya warung kita bangkrut."


"Heh Dalina kalian ini kan tidak punya anak kecil. Mau dihabiskan apa uang kalian dari hasil membuka toko itu," ucap Zaina pada Dalina.


Zaina memang jarang sekali bersikap baik pada menantunya itu. Dia mengira Zafran lah yang sudah membiayai semua kebutuhan Dalina dan juga Yasmin.


Dalina sendiri tidak pernah mengatakan bahwa suaminya itu tidak pernah bekerja dimana pun dan sebagai apa pun. Selama ini Zafran hanya menumpang hidup pada Dalina yang sehari-harinya adalah tukang kuli cuci gosok di rumah tetangganya dan juga di lingkungannya tinggal.


Dalina hanya diam dalam hati yang pilu, ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya tapi dia tak ingin membuat harga diri suaminya jatuh dihadapan Ibunya sendiri.


*******


Di kediaman Darwin.


"Ma, kak Gibran belum pulang ya?" tanya Galih yang baru tiba di rumahnya.


"Belum. Kenapa, kamu kangen sama kakakmu?" tanya Maria.


Galih tersenyum tipis. "Nggak, biasa aja. Aku cuma tanya Ma, emang gak boleh?"


"Jangankan bertanya, kangen juga boleh. Dia kan kakakmu."


"Aku memang lagi kangen tapi bukan sama kakak, aku kangen sama Yasmin," ucap Galih didalam hatinya.


"Kasihan, kalau Gibran punya rumah sendiri, Galih jadi gak ada teman berantem," gumam Maria.


"Permisi Bu, hari ini kita masak apa ya buat makan malam nanti?" tanya Arti.


Setiap hari, sebelum memasak Arti atau pun Wati memang selalu menanyakan menu apa yang diinginkan oleh majikannya itu.


"Kayaknya malam ini ayam bumbu padang deh," sahut Maria.


"Sayurnya?"


"Apa aja yang penting ada sayur."


"Oke kalau gitu Bu, saya permisi dulu."


Arti pun langsung kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya!


Di dapur.


Wati sedang memotong sayuran yang akan dimasaknya hari itu.


"Gak ada Mbak Yasmin jadi gak ada yang bantuin kita masak ya Ti," ucap Wati pada Arti yang sedang membersihkan ayam.


"Iya, mau bagaimana lagi. Mungkin Mbak Yasmin sengaja pengen keluar dari rumah ini karena Ingin menghindari Mas Galih yang sudah terlanjur jatuh cinta sama Mbak Yasmin."

__ADS_1


"Iya, mungkin begitu. Aku harap Mbak Yasmin bahagia di rumah barunya."


"Memang mereka udah dapat rumah barunya?"


"Ya nggak tahu lah. Kita tunggu aja kabar dari Mas Gibran."


*******


Galih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya! Dia terlentang dengan tangan yang asyik menggulir layar ponselnya.


"Kenapa mereka belum pulang juga ya?" gumam Galih.


Galih terus memperhatikan foto Yasmin pada layar ponselnya kenapa dirinya tidak bisa mengalah pada Gibran padahal dirinya sadar dengan apa yang dia rasakan sekarang ini tidaklah baik dan tidak mungkin dibenarkan oleh pihak mana pun.


"Kenapa rasa ingin memiliki kamu semakin besar? Kenapa aku tidak bisa melupakan senyum kamu waktu itu."


Di usianya yang sudah beranjak dewasa, Galih belum pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta, dia malah menyukai wanita yang sudah bersuami yang lebih parahnya lagi, wanita itu adalah kakak iparnya sendiri, istri dari kakak kandungnya.


*******


"Silahkan lihat-lihat saja dulu. Kalau cocok bisa hubungi saya," ucap seorang laki-laki tua pada Yasmin dan Gibran.


Yasmin mengangguk sementara Gibran asyik melihat-lihat ruangan itu.


"Kalau gitu saya tunggu di luar semoga kalian cocok ya."


"Iya Pak, kami keliling dulu ya Pak. Semoga saja istri saya ini suka," ucap Gibran.


Bapak itu menunggu mereka berdua di teras rumah itu sambil memberi makan yang ada dalam akuarium di sana.


Didalam rumah tersenyum, Yasmin dan Gibran mengunjungi setiap ruangan dan tak lupa mereka melihat kamar mandinya!


"Rumahnya gak luas, cuma ada empat kamar saja meski bangunannya berlantai dua," ucap Gibran.


"Iya, bagus sih. Aku suka."


"Kalau kamu suka, kita beli rumah ini saja."


"Gak harus dibeli juga Mas, kita cari aja lagi yang kira-kira kamu suka dan kamu nyaman."


"Aku suka dan mungkin juga bisa nyaman. Kebetulan jarak dari sini ke kantor tidak terlalu jauh."


"Jadi gimana? Mau tinggal di sini?"


"Kamu mau gak?"


"Kalau kamu mau, aku pasti mau."


"Kalau gitu ayo kita temui pemilik rumah ini."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2