Cinta Dan Trauma

Cinta Dan Trauma
Haruskah aku menyerah 2


__ADS_3

seperti biasa sepulang dari kampus Delina selalu datang ke kios untuk jualan es cincau.


Raditya muncul dari parkiran motor dengan gagahnya ala anak motor, tapi gak jago berantem....wkwkwk


Dia samperin Delina dan Rea yang tengah duduk nunggu angkot di jalan depan gerbang sekolah.


" hai del , gue antar ya...hari ini gue gak bantuin pak Herman, mami gue kasih gue tugas jagain ponakan di rumah..." ucap Raditya.


Delina hanya melotot.


"emang apa urusannya dengan gua.." jawab Delina dengan senyumnya yang mematikan.


"ya elah Del, salah lagi ya gue ngomong nya, ok ok gue ngaku salah deh gue minta maaf...ayo lah gue anter lo ke kios ,dan Rea dianter hendra..." ucap Raditya.


Dan tak lama kemudian Hendra pun datang..


Spontan Rea yang sudah paham dengan keadaa langsung mendekat dan tak basa basi waktu hendra menawarinya dianter.


" gue duluan ya Del, da..." ucap Rea sambil melambai dan hendra melajukan motornya dengan Rea yang duduk di belakangnya.


Delina mendengus kesal..


Raditya tak menyia-nyiakan kesempatan, segera mendekat dan memasang senyum manis nya kepada Delina.


"ayo lah bu dokterku yang cantik"


"eh ....gila lo..." ucapnya sambil mendekati motor Raditya dan naik di belakangnya.


Dengan senyum kemenangan Raditya melajukan motornya, dan tak sengaja Raditya melihat dari spion Delina yang juga tersenyum.


" ayolah Del, ijinkan aku membatumu sembuh dari rasa traumamu kau harus bisa melupakan kepedihan dalam hidupmu..senyum itu akan terus ada...aku akan selalu di sampingmu sayang" ucap Raditya dari dalam hati.


"gila ,gila ,gila gue gila, gak gak ini gak mungkin terjadi, mengapa dadaku selalu berdebar seperti genderang setiap kali Raditya ada di dekatku..gue gak boleh terlena, semua laki laki itu jahat hanya mau memanfaatkan wanita saja, gue gak akan jatuh cinta sama dia...." gumamnya dalam hati.


cekikkkk


"sudah sampai sayang turunlah atau lo mau ikut ke rumah gue dan gue kanalin ke mama dan papa setelah itu mereka datang.."


plak....


pukulan kecil di kepalanya membuatnya berhenti ngoceh gak jelas.


"aduhh....sakit tau..." ucap Raditya sambil meringis kesakitan.


Delina pun turun dari motornya dan hendak melepas helmnya tapi susah


Raditya pun turun dan mendekati Delina dan melepaskan tali pengait helm yang dipakai Delina.


Saat itu mereka sangatlah dekat, sampai sampai deruan nafas Raditya yang hangat dapat Delina rasakan, aroma tubuh macho Raditya dan parfum mahal dengan aroma khas cowok maskulin juga sang kuat dia hirup.


Raditya dan Delina sama sama berdebar ,mereka sangatlah dekat sampai nyaris mereka saling berciuman.


Mereka saling menatap, lekat dan begitu dalam..


Raditya berhasil melepas tali pengait helm yang delina kenakan , dan tanpa sadar satu kecupan hangat di pipi Delina..


Delina pun sontak terkejut dan melongo dibuatnya...


" hoh......kau...." ucap Delina geram sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Raditya.

__ADS_1


Raditya hanya tersenyum dan buru buru melajukan motornya.


Delina pun tak habis pikir dengan keadaan itu.


Rea yang melihatnya pun hanya tersenyum.


Begitu juga dengan hendra.


"Ayo ndra cepetan atau habis kita dihajar sama Delina.." teriak Raditya sambil melajukan motornya sedikit kencang.


Hendra hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu..


"Re, aku pulang dulu ya, hati hati ya jaga diri baik baik ,kalau dah habis jualannya langsung pulang..'' ucap hendra kemudian melajukan motornya menyusul Raditya.


"eh...ngomong apa sih dia, dasar aneh..." gumam Rea kemudian mula merapikan tempat kerjanya.


"huh huhhhh....dasar awas aja kalau ketemu ue habisin lo dit..." gumam Delina sambil mendengus kesal.


"ada apa sih Del" tanya Rea pura pura tidak tau..


" Raditya tadi em ...e...e..."


"iya radit kenapa .."


" itu itu....e ..aduh gimana njelasinnya...aduhh"


" iya kenapa, Del..."


" Raditya nyium pipi gue..." ucap Delina dengan pipi merah merona karena malu.


sontak Rea tertawa lepas..


" sialan tu anak, kalau ketemu lagi akan gue hajar...." gumamnya sambil menatap ke Rea dengan sangat tajam dan benar benar marah.


"ok ok ok Delina, sabar ini gue bukan Raditya..." ucap Rea dengan terus nahan tawa.


"emang lo gak ada perasaan sama sekali ke Radit...sedikit saja, lo lihat kan dia selalu ngedeketin lo, lo sadar gak sih di mana mana lo ada dia juga mesti ada..." ucap Rea.


"iya juga sih ..tapi gue takut Re...gue gak percaya sama laki laki, mereka semua jahat suka menyakiti hati juga menyiksa wanita.." ucap Delina sambil menyiapkan dagangannya.


"ya gak semua kayak gitu Delina, tidak semua laki laki itu jahat, contohnya ayahku dia laki laki yang baik dan menyayangi ibuku juga aku dan adikku.. kamu harus mulai membuka hatimu Del, biarkan Raditya masuk dan membantumu menyembuhkan luka hatimu..." ucap Rea dengan mengelus pundak sahabatnya itu.


"entah leh Re....gue masih belum bisa.." ucap Delina.


tiba tiba segerombolan pria preman datang dan mulai rusuh membuat Rea dan Delina panik.


"kau yang namanya Delina, ayo ikut ..." ucap seorang preman itu


Delina pun maju..


"iya..ada apa memangnya kalian siapa, kalau mau berkelahi ayo di luar , jangan di sini ini lapak orang.." ucap Delina sambil berjalan menuju halaman kios.


Dan bruks braks...merekapun berkelahi, Delina yang jago berkelahi tak terkalahkan mereke membantai semua preman .


"heh....ayo bangun maju lagi..." ucap Delina.


tiba tiba terdengar suara Rea berteriak..


"Del, tolong gue del..." teriak Rea sambil menangis.

__ADS_1


Delina pun kaget ternyata seorang preman menyadera Rea dengan sebilah pisau..


"sialan kalian...lepaskan Rea..." teriak Delina dengan sangat marah.


"hehhh....asal lo mau ikut kami dan lo nyerah kasih tangan lo buat di ikat, kita lepasin teman lo...atau lo mau..." ucap dalah satu preman itu sambil menekan kedua pipi Rea.


"tidak... Del..tidak lo jangan nyerahi diri lo...jangan, biarkan aku yang...hikcs hikcs....." ucap Rea.


Delina lemas pasrah dia tak mungkin membiarkan sahabatnya dalam bahaya...


Delina diam saja ketika seorang preman itu mengikat kedua tangannya ,menjambak rambutnya dan mendorongnya masuk ke mobil yang terparkir di depan kios ..


kemudian mereka melepaskan Rea dan mendorongnya hingga tersungkur..


Dan untungnya Rea buru buru keluar kios dan madih sempat melihat mobil yang melaju membawa Delina dan mengingat plat nomornya kemudian mencatatnya.


Rea sangat panik ,dia tak tahu harus minta bantuan siapa..


"Raditya...ya gue harus telp Raditya..." ucapnya sambil mencari cari ponsel nya..


" dan gue kayaknya udah gak bisa jualan es cincau ini lagi gue gak tenang sebelum Delina ditemukan..gur telp paman saja, paman dan bibi pasti mengerti.." gumamnya.


setelah ditepon paman dan bibi Rea pun datang dan menenangkan Rea yang panik.


"ya udah Rea kamu pulang saja biar paman yang jaga kiosnya ..." ucap pamannya .


Rea pun mengangguk dan tak lama kemudian Raditya,hendra dan aldo pun tiba.


"Rea Rea gimana kejadiannya, aduh...jawab Rea gimana...dan siapa mereka..." tanya Raditya dengan panik sambil mengacak ngacak rambutnya karena frustasi.


"tenang tenang dit, tenangkan diri lo dulu....kita tidak akan bisa berpikir kalau lo panik..." ucap hendra sambil memegangi pundak Raditya.


"iya dit, lo mesti tenang dulu baru kita bisa berpikir..." tambah Aldo.


Rea yang takut hanya bisa menangis.


Mendengar suara tangisan Rea Raditya menjadi semakin panik dan emosi.


"lo bisa diam gak sih..." bentak Raditya.


Rea yang kaget karena dibentak Raditya langsung lemas dan jatuh ke dekapan hendra .


" dit..lo jangan gitu dong, lihat nih Rea jadi takut.." ucap hendra sambil mendekap kepala Rea dan membenamkannya di dadanya agar Rea lebih tenang.


",iya lo tahu ciri ciri mobilnya gak re.." ucap Raditya...


Rea yang tersentak lalu mengambil kertas disaku baju nya .


"ini gue sempat nyatet nomot platnya.." ucap Rea sambil menyodorksn kertas itu kepada Raditya.


"bagus Re..." ucap Raditya.


"maafin gue ya sudah bentak lo..."


Rea hanya mengangguk.


"ya udah guys kita langsung mencari ini nomer plat milik siapa..tapi kita beritahu bang Ray dulu...bang Ray pasti siapa yang bisa membantu kita..." ucap Raditya.


kemudian mereka pun melajukan motornya menuju markas bang Ray.

__ADS_1


__ADS_2