
semua orang panik dengan keadaan Delina, termasuk Raditya dan Rea..
ketika sampai di ruang tindakan semua diminta untuk menunggu di luar.
Untungnya Rea membawa identitas kedokteran dari kampusnya.
"dok, ijinkan saya ikut memeriksa keadaan sahabat saya, dia korban penculikan, jadi saya harus memastikan keadaannya, kalau sampai terjadi hal hal yang tidak diinginkan semisal pelecehan ,pelaku bisa dijerat pasal berlapis, saya mahasiswa kedokteran semester 7 ..." ucap Rea dengan tegas.
dan dokter pun mengijinkan Rea mengikuti pemeriksaan terhadap Delina.
Di luar ruangan, Raditya semakin hancur apalagi membayangkan apabila benar Delina sudah dilecehkan.
Dia menangis tersungkur disamping kursi.
Hendra dan Aldo tidak tega melihat keadaan Raditya seperti itu.
"dit, lo yang sabar ya..." ucap hendra sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"iya dit... Delina pasti baik baik saja" ucap Aldo.
"do, elo tungguin radit di sini ya, gua mau jemput bu risma, ibunya Delina harus tau semua..." ucap Hendra. Aldo mengangguk dan Hendra pun berlalu pergi menjemput ibunya Delina di warungnya.
Raditya masih terpukul dengan semua ini, dia tak henti hentinya memukul mukul tembok dan menjambak rambutnya dengan frustasi.
"dit udah dit, udah semua baik baik saja..." ucap Aldo sambil memeluk Raditya.
"gue gak bisa jaga Delina do, gua yang salah..." ucap Raditya seraya menangis di pundak Aldo.
"enggak dit, lo gak salah ..penjahat yang sebenarnya sudah dibawa ke kantor polisi sama bang Ray, sekarang bang Ray sedang dalam perjalanan kemari.." ucap Aldo menenangkan Raditya.
__ADS_1
benar saja tak lama kemudian bang Ray dan anak buahnya pun sampai di rumah sakit..
"do gimana Delina.."
"dokter sama timnya sedang memeriksa delina bang, Rea juga ada di sana memastikan Delina baik baik saja dan tidak terjadi pelecehan terhadap delina.." ucap Aldo.
"dit, elo yang sabar dit, tenangkan dirimu..." ucap bang Ray seraya menepuk bahu Raditya yang lemas dan tak berdaya tersungkur penuh kepedihan di kursi.
'' bu risma sudah tau do..."
"iya bang sekarang hendra lagi menjemput nya di warungnya "
"oke.."
semua panik dan tidak tenang menunggu hasil pemeriksaan Delina.
beberapa saat kemudian pintu ruangan UGD terbuka, dan sesosok gadis cantik muncul dengan muka menunduk dan deraian air mata...
"katakan Rea.."
Rea tak menjawab namun malah menangis menjadi njadi dan menutup mukanya dengan kedua tangannya dan tersungkur di sudut ruangan tersebut.
Semua orang menatap ke arah dokter,suster dan terakhir Delina yang menatap dengan tatapan kosong.
bang Ray masuk dan mencengkram kedua pundak dokter yang menangani adiknya itu..
'' katakan dokter...!!!!??"
" menurut hasil pemeriksaan, delina bersih tidak ada tindak kekerasan seksual, tapi ...tapi mentalnya sedikit terguncang....menurut Rea masa lalu atau masa kecilnya dia sering menyaksikan peristiwa peristiwa mengerikan seperti kekerasan dan tindakan pelecehan..yang membuatnya trauma, dan saat ini karena kejadian itu terualang kembali bahkan kepada dirinya sendiri membuat dia tidak bisa mengontrol rasa takutnya, sehingga membuatnya seperti ini..." ucap dokter itu.
__ADS_1
" del, dengarkan aku del aku Radit del, bicaralah..." ucap Raditya sambil menggenggam hangat tangan Delina.
Bu Risma yang datang tiba tiba tersungkur dan pingsan mendengar semua penjelasan dokter barusan.. untungnya hendra yang berada di belakangnya segera menyambar tubuh bu Risma..
"bu bu sadarlah bu..." ucap Hendra dengan panik.
"tolong dok..."
dokter pun segera memberikan pengobatan kepada bu Risma.
Delina yang hanya diam terbaring di ranjangnya, sesekali dia meneteskan air matanya dan Raditya yang setia menemaninya selalu sigap menyekanya.
"Del, bicaralah del, kamu mau memukulku kan karena waktu itu aku mencuri cium pipimu..ayo Del pukullah del..." Raditya menangis dan menggenggam tangan Delina.
semua orang yang berada di sana semakin sedih melihatnya.
Bang Ray yang biasanya garang dan menakutkan, saat ini menjadi lemah dan menangis melihat adik kesayangannya seperti ini... Rea pun sangat terpukul dan tak henti hentinya menangis di pundak Hendra..pundak hendra yang kokoh menjadi basah karena air mata Rea yang terus berderai deras tanpa jeda.
Semua menjadi hening dan hanya suara isakan yang terdengar... Raditya yang sangat terpukul terlihat lusuh dan tak pernah beranjak sedikitpun dari samping dipan Delina..
Raditya tetap menggenggam hangat tangan Delina..
sedangkan Delina yang hanya diam seperti merespon tapi tak bisa dia bicara...
Matanya terbuka namun jiwanya terkunci di sudut ruangan hatinya yang trauma.
entahlah, sungguh memprihatinkan dan sangat sulit dijelaskan bagaimana perasaan orang orang yang sangat menyayanginya.
beberapa saat kemudian ada 2 polisi yang menemui hendak melakukan pemeriksaan, tapi melihat kondisi Delina yang seperti itu, kayaknya tidak memungkinkan dilakukan pemeriksaan.
__ADS_1
pak polisi pun meminta keterangan kepada bang Ray..
dan laporan untuk menjebloskan tersangka dengan pasal berlapis telah berjalan..