
Ray membawa mobilnya menuju kantor dengan Starla di sampingnya.
" bang, ini mau ke mana sih...ini kan bukan jalan ke kantor...." ucap Starla.
Ray tidak menjawab dia masih fokus dengan jalanan di depannya.
Starla mendengus kesal " aku tahu bang kau pasti akan melakukan sesuatu dengan cindy..."
mobil pun berhenti di depan sebuah gudang.. Ray tanpa memperdulikan Starla turun dan berjalan menuju pintu masuk gudang...
Starla pun turun dan berjalan mengikuti Ray dari belakang...
Di dalam gudang dia melihat seorang gadis yang diikat tangannya pada sebuah bangku kayu dengan mulut diplester ..
Starla kaget dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya..
Ray tampak ganas dia menatap cindy dengan begitu buas, dia membuka sabuk yang dia kenakan kemudian mencambukkam ke badan Cindy beberapa kali...
tidak ada teriak karena mulutnya tidak di buka namun buliran air mata yang mengalir deras.
setelah puas dengan mencambuknya Ray mendekati Cindy dan menendangnya beberapa kali..
Cindy tampak begitu lemas, darah segar mengalir di hidungnya...
Ray pun menarik plester nya dan Cindy langsung memuntahkan darah segar juga...
sungguh mengenaskan.
" cukup bang... hentikan, dia bisa mati..." teriak Starla.
Ray menoleh kesal...dan mendengus serta membuang muka.
"bang , sudah bang cukup...dia bisa mati..." ucap Starla sambil menggenggam tangan Ray.
" biarkan dia mati aku gak perduli..buang saja mayatnya di tengah hutan..." teriak Ray kasar dan tersungkur dibawah tembok sambil meremas rambutnya.
__ADS_1
" tidak..aku tidak akan biarkan kau berbuat dosa ...apa lagi sampai masuk penjara, tidak bang ....aku tidak mau itu terjadi...." ucap Starla.
Starla mendekati Cindy yang lemas dengan menahan sakit di seluruh tubuhnya..
" hei..cindy ...aku sudah pernah memperingatkanmu kenapa kau tak dengar...apa kau ingin mencobanya...tidak Cindy, kau sungguh bodoh, bagaimana mungkin hanya demi pria yang tidak mencintai mu kau korbankan masa depanmu ..bahkan pekerjaan orang tuamu...karena kebodohanmu yang membuat Delina hilang sampai sekarang, orang tuamu kehilangan pekerjaannya di kantor dan semua aset keluarga mu telah dibekukan...ini buktinya.." ucap Starla seraya melempar berkas ke arahnya..
Cindy tak percaya.... dengan sisa tenaga dia mengambil berkas berkas itu dan membacanya satu per satu...
" oh tuhan apa yang telah kulakukan, separah inikah pembalasannya.." gumam Cindy yang semakin hancur .
" kau tahu siapa dia..." ucap Starla sambil menunjuk ke arah Ray yang duduk di pojok dengan senyum mematikannya..
cindy pun melihat nya heran dan bertanya
" siapa dia kenapa membawa dampak sampai sebesar ini " ucap cindy heran.
" dia adalah CEO dua perusahaan besar Waluyo group dan Atmaja group... Raymond sigit waluyo cucu dari bapak sigit waluyo dan menantu dari Bayu alfa Atmaja....dan tempat ayahmu bekerja adalah salah satu anak perusahaan yang berada di bawah Atmaja group...itu berarti dia lah big bos nya..." ucap Starla sambil menunjuk lagi ke arah Ray.
cindy pun kaget...
" bang , sudah dia tidak akan berani macam macam, sudah lepaskan saja dia, ayahnya juga sudah kamu pecat kan dia juga sudah kamu skor dari kampus, apa lagi coba ...sudah sekarang biarkan dia pergi Dan kita ada meeting penting kan...ayo.."
Starla menggenggam tangan Ray dan menyeretnya masuk ke mobilnya dan menuju tempat pertemuan.
sedangkan cindy masih terpaku, setelah anak buah Ray melepaskan dan melempar nya di tepi jalan..
dia hanya terdiam, ada penyesalan tapi semua sudah terlambat, semua sudah terjadi..
Dan seperti itulah hukum alam, pembalasan akan jauh lebih manyakitkan.
** di desa tempat Delina tinggal sekarang adalah desa terpencil di pinggiran hutan yang hanya bisa terhubung dengan kecamatan melalui satu jembatan saja...
warga yang tinggal di desa tersebut sebagian besar adalah petani, mereka hidup damai , rukun dan saling menolong...
Namun ada satu orang warga yang sangat tidak disukai di sana, namanya pak Broto, dia pedagang sayuran, kaya , dan punya sawah beberapa petak, mobil dan beberapa anak buah...tapi karena kesombongannya dia dibenci oleh para warga .
__ADS_1
"bu, gimana hari ini badan ibu masih sakit semua atau sudah mendingan..." tanya Delina..
" wah badan ibu jauh lebih baik nak, bahkan sudah tidak merasakan pusing lagi..." jawab bu ijah sambil tersenyum dan memotong sayuran.
begitu juga dengan Sari dan Dika yang juga tersenyum bahagia.
" bu, kak Delina hebat ya bu...kalau sudah besar nanti Dika ingin menjadi dokter hebat seperti kak Delina dan membuka klinik di desa ini, tapi sebelum itu , Dika ingin membangun jembatan yang besar agar tidak mudah roboh dan truk pengangkut hasil panen bisa masuk ke desa kita ini bu.... pokoknya Dika ingin membuat desa ini menjadi maju...." ucap Dika dengan tawa polosnya..
" iya.. pasti bisa ,Dika akan menjadi dokter hebat sekaligus kontraktor handal dan apa lagi iya menjadi aparatur pemerintah yang adil dan memakmurkan semua warga di desa..." ucap Delina sambil tersenyum.
" terus tugas Dika apa saja kak..."
" ya..ehm...yang pertama dokter , tugasnya menolong orang orang yang sakit, terus kontraktor ya membangun jembatan dan rumah rumah yang bagus sedangkan aparatur negara Dika akan membangun desa, membuat irigasi, mengatur keluar masuknya barang dari desa ke desa lain dan memajukan desa bisa juga dengan membangun sekolah sekolah yang bagus ... Dika paham kan..." ucap Delina.
" ehm..tugasnya banyak sekali ya kak..trus waktunya Dika bermain kapan...??" tanya Dika dengan polosnya dan membuat semua tertawa geli...
"waktunya main ya sekarang, dah sana main di luar .." ucap sari sambil mencubit gemas pipi anaknya itu.
Delina senang bisa membuat mereka tertawa di tengah derita kemiskinan...
"Sar, bagaimana ya saya bisa keluar dari desa ini untuk membeli obat obatan di kota..." tanya Delina.
" Del, kota dari sini sangatlah jauh tapi toko obat di kecamatan ada, tapi ya masak iya harus jalan kaki, aku kan gak punya kendaraan sendiri..." ucap sari berpikir kemudian dia ingat sesuatu.
"oiya Del, aku punya teman ya dia temanya mas Dio sih tapi dia baik...dia punya motor mungkin bisa mengantarkan mu ke kecamatan...nanti aku bilang ya ke mas Anton.."
Delina tersenyum dan mengangguk..
mereka pun melanjutkan kegiatan masak , ya lauk seadanya.
"nak Delina hari ini kita masak sayur daun singkong ya, tapi tidak pakai nasi.... karena berasnya sudah habis dan tidak ada uang untuk beli beras.." ucap bu ijah.
Delina hanya tersenyum dan mengangguk, namun dalam batinnya dia menangis....
" oh Tuhan, kuatkan lah mereka yang sedang kau uji dengan kemiskinan..." gumam Delina yang sesekali menyeka air matanya.
__ADS_1