
Delina mendengus lemah dan tak terasa bulir air mata meluncur begitu saja...
Raditya yang mendengarkannya hanya bisa terdiam dan merasa trenyuh, terasa begitu sakit.
" ternyata seberat itu kah ujian yang dihadapi gadisku yang malang..." ucap nya dalam hati.
Tanpa peduli dengan sekelilingnya Delina tetap saja bercerita dan menangis.Dia keluarkan semua yang ada di dalam hatinya yang menekan batinnya, luka yang selama ini ditutupinya ..derita hidup ,himpitan ekonomi dan berbagai tekanan dari ayah tirinya.
" gue gak tau Re, gua bisa atau nggak...semua ini begitu berat...hicks hicks....." Delina tetap menangis dan Rea pun menenangkan Nya dalam pelukannya.
" est....sudah Del, kamu harus kuat, gue yakin lo pasti kuat..." ucap Rea sambil memeluk dan mengelus rambut Delina.
Begitu rapuhnya sebenarnya seorang Delina, betapa lemahnya hati dan perasaan nya..namun dia tutupi rapi dengan semua tingkah lakunya yang keras kepala dan galak.
Radit yang tetap berada di samping tong sampah pun semakin lemas dan merasa kasihan kepada Delina.
Dan saat dia hendak menghampiri mereka ternyata Delina dan Rea sudah naik ke angkot..Raditya segera mencari taxi dan meminta nya untuk mengejar angkot tersebut karena tak mungkin dia mengendarai motornya pasti mereka tahu kalau sedang diikuti.
Setelah angkot tersebut berhenti di sebuah rumah yang ada kedai di depannya, mereka turun dan masuk ke dalam rumah.
tok tokkk
" Paman ,ini Rea...." ucap Rea.
"masuklah nak..." ucap paman usman dengan ramah.
" ini Rea bawa teman paman, paman kan sedang butuh orang untuk menjaga di kedai yang ada di bundaran depan, dia bisa kok paman nanti sama Rea yang bantuin.."ucap Rea.
Setelah paman menanyainya, mereka pun di bolehkan menjaga kedau es yang ada di bunderan..
mereka segera menuju lokasi dan mulai berjualan.
Raditya yang tetap berada di taxi masih mengikutinya, setelah di rasa aman dan dia sudah mengetahui tempat Delina jualan ,radit pun pulang.
Delina dan Rea sungguh senang es cincau mereka jual hingga habis dan itu membuat pamsn senang.
" wao..luar biasa kalian sungguh hebat..ini gaji untuk kalian..." ucap paman dan memberikan sejumlah uang kepada Rea dan Delina, yang membuat mereka senang dan bahagia.
**
Hari hari berikutnya mereka semakin laris jualan dan membuat Delina dan Rea senang..
Seperti matahari yang muncul dengan indahnya di pagi hari, begitulah hati Delina, memiliki harapan lagi..
Dengan penuh semangat mereka selalu datang tepat waktu sepulang dari kampus.
__ADS_1
Pada saat Delina sedang sibuk menyiapkan es untuk beberapa pelanggan..tak sengaja dia menabrak seseorang dan membuat es yang ada dibtangannya tertumpah mengenai baju orang tersebut.
Dan betapa kagetnya ternyata orang tersebut adalah Raditya yang mengenakan kaos oblong, celana pendek selutut dan topi serta handuk kecil di lehernya..
" eh... maaf mas.." ucap Delina.
Radit tak menjawab hanya memandanginya..
" eh elo....ngapain lo di sini..." ucap Delina saat sadar kalau orang tersebut adalah Raditya.
"ini tisu untuk bersihin baju lo..." ucap Delina sambil memberikan beberapa potong tisu kepada Radit.
" eh... yang numpahin es kan elo..ya elo bantuin bersihin dong.." ucap Raditya sambil tersenyum licik.
"apa..gue..." ucap Delina kaget.
"ya iyalah siapa lagi..." jawab Raditya.
"udah del ,lo bantuin Raditya bersihin bajunya, kasihan kan...lagi pula pelanggan adalah raja..kalau dia berulah kita yang rugi ..." ucap Rea.
" tuh... .kan teman lo aja paham..." ucap Raditya.
Delina pun melangkah mendekati Raditya,semakin dekat hingga jarak mereka hanya beberapa centimeter...
" jantung gue kayau mau copot , gila ... " ucap Raditya dari dalam hatinya juga.
untuk sejenak mereka saling menatap menyusuri ruang kosong dalam netra masing masing..
Delina tersentak dan segera mulai mengelap kaos Raditya yang ketumpahan es cincao..
Raditya yang terus menatap Delina membuat dia semakin kelicutan..dan disaat Delina serius membersihkannya tanpa sadar Raditya memegang pinggang Delina dan membawanya ke pelukannya..
Delina pun kaget, Radit segera mendekatkan wajahnya ke arah Delina dan hampir saja mencium bibir Delina..
Delina yang meronta ronta segera menimpuk kepala Radit denga nampan yang terletak di meja sebelahnya berdiri..
" aduh.....sialan nih bocah pake kekerasan lagi..." ucap Raditya sambil nyengir menahan sakit di kepalanya.
"lama lama di sini bisa bisa gue gagar otak..." tambahnya.
" heh ..sana pergi, cowok modus..." ucap Delina dengan marah.
" sialan ..." ucapnya sambil mendengus kesal.
Rea yang menyaksikannya hanya tersenyum, untungnya saat itu tidak banyak pelanggan..
__ADS_1
Dan seorang pelanggan pun mengomentarinya..
" pacarnya ya mbak, ganteng banget...itu bukanya pemuda yang sering bantu jualan pak herman ya.." ucap seorang pelanggan itu.
" eh...bukan mbak, itu teman saya, memang anaknya resek..." ucap Delina.
Delina pun melihat ke luar kios dan benar saja ternyata Raditya sedang melayani pembeli roti yang antri dan kebanyakan kaum hawa..
" wah rame banget sih rotinya pak Herman..." gumam Delina..
Tapi Delina tak pusingkan masalah itu, dan kembali ke dalam kios untuk membatu Rea melayani pelanggan.
" Del,...Raditya itu kelihatannya suka deh sama lo.." ucap Rea.
"ih....masak sih, gue gak mikir ke situ, gue gak akan tertipu sama cowok kayak dia, lagian semua cowok itu hanya bikin kita sengsara..." ketud Delina.
" ya gak semua cowok kali del, kelihatannya Raditya anaknya baik....dan lo sadar gak sih dia itu selalu ada di mana kau berada..." ucap Rea sambil tersenyum.
"eh iya mas makasih ya..." ucap Delina dengan ramah dengan pelanggannya.
" lo denger gak sih del..." ucap Rea kesal dengan sahabatnya itu.
'' iya gue dengar...tapi gue tetap gak akan biarin Raditya menipu gue dengan segala macam rayuannya..." ucap Delina.
Rea mendengus sambil tersenyum.
"terserah del, suatu saat lo bakal menyadari betapa kau butuh cinta dari seseorang, yang baik dan tulus seperti Raditya...karena aku dapat melihat betapa besar cinta Raditya dari sorot matanya saat memandangmu..." gumam Rea.
mereka pun dengan gembira tetap melayani pelanggan es cincau sampai benar benar habis dan membuat mereka senang ,begitu juga dengan paman yang semakin senang dibantu oleh mereka.
" oya, del, lo sudah siapkan kuota untuk membuka internet, nanti gue bantu ya kerjain tugas elo..." ucap Rea dengan tersenyum.
" ehem..." jawah Delina sambil membersihkan sisa sisa jualan dan merapikan kios sebelum di tutup.
" karena hari ini kita tutupnya lebih awal , mending kita kerjain tugas nya di sini saja Del.." ucap Rea.
" iya....bentar gue ambil tas dulu, kayaknya masih ada yang kurang deh Re,.." ucap Delina.
" bentar ya gue ke apotek dulu , kita harus beli beberapa sampel obat dan beberapa alat medis lainnya.." ucap Delina sambil mengambil dompetnya.
" uang lo cukup, ini gue tambahin pake uangku .." ucap Rea sambil menyodorkan sejumlah uang kepada Delina.
"enggak Re, kayaknya ini juga udah cukup... makasih ya lo dah baik sama gue " ucap Delina sambil tersenyum.
Rea paham keadaan temannya meskipun susah tidak semudah itu dia mau menerima pemberian dari orang lain.
__ADS_1