
"bang bang ..lihat deh ponsel Delina sudah bisa dihubungi berdering bang..." ucap Starla sambil berlari ke arah Ray.
" o ya , tersambung gak .." tanya Ray penasaran..
" hallo Del, kenapa hp lo mati Del.."
[ o iya Starla tadi sinyal nya susah ini aja kadang bisa kadang juga enggak..sorry ya pasti semua khawatir..]
"iya pasti dong Del semua mencemaskan mu''
[ iya sorry]
" nanti malem rencana aku dan bang Ray akan ke sana , kami kawatir sama kamu terutama abang yang dari tadi gak tenang mikirin kamu Del.."
[ ih...jangan jangan , gak usah nyusul , Delina udah gede Starla, bilang ke abang, malu maluin aja...]
Suara Delina yang di lodspeker membuat Ray tersentak geram membalikkan badan dan merebut ponsel di tangan Starla..
" heh bocah emang kamu malu punya abang ganteng kayak gue ...enak aja malu maluin , yang ada tu lo yang malu maluin udah kasar suka berkelahi , dasar bocah gak mau kalah maunya menang sendiri suka ngadu lagi ke nenek..."
[ ya udah...gak usah nyariin gue...] tut tut...diluar jaringan.
Starla hanya tersenyum..
"bang jangan ngomong gitu ah, bagaimanapun Abang sayang kan ke Delina.. walaupun bukan sedarah tapi kalian memiliki ikatan batin yang kuat.. Starla bisa merasakannya.." ucapnya dengan lembut.
Ray tersenyum.." kamu benar sayang, dia segala nya buatku..ya kalau aku bisa membuang perasaan sayangku sebagai kakak mungkin sekarang aku sudah menikahinya..dia tumbuh besar dalam kasih sayangku hanya aku yang bisa menenangkan tangisannya ..dan melewati pahitnya masa anak anak...karena itu aku gak bisa hidup tenang sebelum memastikan dia bahagia bersama orang yang tepat.."
Starla tersenyum dan mengangguk ," ok bang mari kita siap siap nyusul ke sana, Starla tau kok tempatnya..."
" enggak usah sayang biarkan mereka menikmatinya .. sekarang kita nikmati kebersamaan kita saja...kamu sudah sholat isya' kan.." ucap Ray.
" iya bang sudah.." jawab Starla dengan senyum manisnya.
mereka pun ngobrol di ruang keluarga, tak lama kemudian nenek dan bu Risma ikut gabung dan mereka ngobrol bersama menceritakan masa masa kecil mereka dengan canda dan tawa.
berbeda dengan Starla yang masih tidak tenang karena takut cindy berbuat macam macam dengan Delina.
" tapi ah sudahlah ada Raditya bersamanya pasti Raditya bisa menjaganya.." ucapnya dalam hati.
*** hari pertama di tempat camping...**
__ADS_1
" Del,ayo dong bantuin pegang ini .." ucap Rea sambil memegang tenda..
Delina pun berdiri dan membantu Rea, mereka bercanda dan tertawa bersama.
"dah .. selesai....." Rea dan Delina berpelukan senang.
" hai.. kalian lagi ngapain.." sapa Raditya dengan senyum manisnya.
" baru selesai masang tenda, kalian sudah selesai juga..." tanya Delina.
" eh kok gue laper ya..." ucap Aldo.
" yah lo mah bukanya laper pengen makan ,lo laper kasih sayang..makanya yang serius sama cewek .." ucap Hendra.
" dasar lo, emang gue gak pernah serius apa, gue itu dah serius tapi mereka saja yang gak mau.." bantah Aldo.
" ya , mereka itu pintar do, lo playboy masak ada cewek yang mau serius sama Playboy.." ucap Delina.
" yah...tampang pas pasan aja pake playboy do...bakalan susah Lo dapat cewek..lihat tu si Hendra biarpun tampang pas pasan tapi setia dan gak pernah mainin cewek...tuh kan dapat bening juga kan .." ucap Raditya.
" nah kalau semua tampangnya pas pasan yang ganteng siapa..'' ucap Rea.
"sialan lo..." dan semua menimpuk Raditya.. mereka pun bercanda ,tertawa dan menikmati masa masa kebersamaan.
Kelima mahasiswa itu duduk melingkari api unggun yang mereka buat sendiri.
tepian hutan yang biasanya sepi sekarang jadi ramai dan terang karena api unggun, dan bulan yang kebetulan tepat bulan purnama.
Hari senakin larut tapi mereka seakan tak mau berhenti bersenda gurau, dan melewatkan malam bulan purnama yang bersinar sangat terang.
"guys..." ucap Raditya.
"ehm.." semua menoleh ke arahnya.
" sebentar lagi kita lulus , trus rencana kalian apa, kita mau menjadi apa ..."
" gue mau meneruskan usaha keluarga guys , meengelola rumah makan bokap di Jogja.." ucap aldo.
" gue mau membuka usaha Poto stodio, editing dan percetakan.." ucap Hendra.
'' gue mau lanjutin kuliah spesialis jantung , yah..kalau masih dapat beasiswa, kalau pun nggak gue mau buka klinik di desa gue.." ucap Rea.
__ADS_1
"ya ntar kalau kita dah merrid kita buka kliniknya di beberapa tempat, di desa kamu dan di dekat kantorku biar kita tetap bisa bersama sama.." ucap hendra..membuat semua melongo menatapnya..
"ada apa emang, kalau dah merrid masa dia di desa aku di sini gak mungkin kan.." ucap Hendra.
" dasar..." ucap Aldo mendengus.
" gue gak tau ..yang pasti gue seorang dokter, gue gak bisa menjadikan profesi dokter sebagai pekerjaan,...yang terpenting buat gue , gue bantu seseorang, gue obatin lukanya, dan gue berusaha yang terbaik sesuai ilmu gue dan gue bisa membatu mereka yang tidak beruntung mendapatkan pengobatan mahal dari Dokter...banyak lo mereka yang tak punya biaya untuk berobat karena mahal nya biaya ke dokter, akhirnya mereka menyerah dan tak bisa diselamatkan..sungguh miris.." ucap Delina.
" hebat kamu sayang.." ucap Raditya sambil tersenyum menatap gadisnya yang manis dengan terpaan sinar rembulan yang menambah aura kecantikannya.
" lalu kamu dit..." ucap Delina kembali bertanya..
" aku ...aku..aku diminta ibuku untuk mengurus perusahaan di Singapura.." ucap Raditya tertunduk lemas.
deg...
"berarti kamu akan ninggalin aku dong..." ucap Delina... dan ke tiga temannya pun terdiam.
" makanya sebelum aku berangkat ke Singapura aku akan nikahi kamu Del.."
" whatttt....... secepat itu..." ucap Delina.
" terus gimana , kamu mau kita LDRan .." ucap Raditya.
" tapi dit, kamu tau kan mimpi terbesar ku, aku gak mungkin meninggalkan cita citaku sejak kecil..aku akan menolong mereka yang membutuhkan ilmu kedokteranku..aku akan terjun ke masyarakat miskin dan menengah, aku gak mungkin membatalkan niatku dit...tidak ...tidak mungkin..." jawab Delina sambil menundukkan kepalanya, dengan buliran air mata yang mengalir deras.
Rea, aldo, dan hendra hanya terdiam menyaksikan momen haru tersebut.
" hei, kamu manangis sayang.." ucap Raditya sambil mengelus rambut indah Delina.
Delina semakin tersedu sedu, dan Raditya pun membenamkan kepala Delina di dada bidangnya.
" aku ngerti kok sayang, kita hanya manusia yang hanya bisa merancang dan Tuhan lah yang menentukan semuanya..." ucap Raditya.
momen indah yang seharusnya mereka habiskan dengan canda tawa berubah menjadi momen haru yang menyedihkan.
" kita janji nanti setelah 10 tahun kita harus berkumpul lagi , kita berkumpul di taman air mancur seperti biasanya kita ngumpul.." ucap Aldo dengan mengepalkan tangannya ke depan, kemudia Rea juga mengulurkan tangannya, Hendra, Raditya dan terakhir Delina..
"momen kali ini gak boleh menjadi menyedihkan, hari ini kita harus happy.." teriak Rea.
" yeah.....hhh" mereka pun berseru bersama..begitu juga dengan Delina yang kemudian tersenyum.
__ADS_1