Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Cepat Carikan Mama Menantu!


__ADS_3

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Begitulah isi bait dari lagu "Harta Berharga" yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari.


Kehadiran sosok keluarga memang mempunyai arti besar untuk setiap manusia tak terkecuali Dimas. Begitu pula dari keluarga Dimas, kehadiran Dimas merupakan hal terindah bagi mereka di setiap malam saat bisa saling menyapa walaupun hanya lewat telefon atau video call. Bagi Pak Wijaya dan Bu Wijaya itu sudah sangat lebih dari cukup.


Tetapi, malam ini tak seperti biasanya. Pasalnya sudah berkali-kali Pak Wijaya dan Bu Wijaya mencoba melakukan video call dengan putra mereka yaitu Dimas. Namun sayangnya Dimas belum merespons sama sekali.


"Mama sudahlah! Mama yang tenang! Dimas akan baik- baik saja Ma. Mungkin dia masih ada tugas, makanya belum bisa angkat telefon dari Mama." Pak Wijaya sedih melihat istrinya yang mencemaskan Dimas.


"Tapi Pa, enggak biasanya sampai jam segini. Mama khawatir Pa, Mama takut Dimas kenapa-kenapa."


"Mama enggak baik negatif thinking gitu! Harus positif thinking dan optimis Dimas akan baik-baik saja!"


"Benar Ma, kata Papa itu. Lebih baik kita do'akan kak Dimas saja." sahut Uni adik Dimas yang sudah berkeluarga.


Kebanyakan orang tua pasti akan rindu apabila jauh dari anak-anaknya. Apalagi untuk seorang Ibu.


Kelembutan hati seorang wanita bernama Ibu memang tidak dapat dikalahkan dengan apapun. Do'a-do'anya tak pernah terputus baik diwaktu pagi maupun petang. Kasih sayangnya mewarnai kehidupan yang dijalani anak-anaknya. Dikatakannya pula bahwa surga ada di telapak kaki Ibu. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menyebutkan nama Ibu sebanyak 3 kali kemudian untuk yang ke 4 baru Bapak.


Berjauhan dari anak-anaknya sebenarnya bukanlah kemauan seorang Ibu , tetapi seiring berjalan waktu anaknya sudah semakin dewasa dan besar dan sudah saatnya pula untuk hidup mandiri, bekerja dan berkeluarga. Oleh karena itu, melihat anak-anaknya yang telah berhasil melewati fase kehidupannya merupakan kebahagiaan yang tak terhingga untuk orang tua terlebih bagi seorang Ibu.


Dimas masih sibuk dengan tugas lembur yang didapatnya. Sementara sang Mama yang tidak tau akan hal itu, sudah sedari tadi, ia mencoba melakukan panggilan ke Dimas, tapi sayang seribu sayang tak satupun panggilannya terjawab. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Bu Wijaya nampak begitu khawatir.


Ibu Wijaya atau Nyonya Wijaya hanya bisa menarik nafasnya secara pelan, dalam hati Bu Wijaya berdo'a untuk putra kesayangannya agar baik-baik saja.


"Ya Allah lindungi dan jagalah Dimas selalu. Aamiin ..." do'a Bu Wijaya dengan begitu berharap dan sungguh-sungguh.


Jauh dari keluarga memang tak mengenakan. Sekarang siapa yang mau jauh dari keluarganya? Mungkin rata-rata akan menjawab tak ada yang ingin jauh dari keluarga mereka.


Termasuk para penumpang kereta api yang memenuhi kereta api penumpang yang di kondekturi oleh Dimas malam ini. Mereka melakukan perjalanan dengan kereta api semata-mata karena rindu ingin pulang ke rumah dan bertemu kembali bersama keluarga mereka. Namun ada juga yang mempunyai tujuan baik tertentu pastinya.


Mungkin memang berat jauh dari keluarga, tapi akan terasa lebih berat jika para penumpang kereta yang sudah rindu ingin bertemu dengan keluarga mereka, rindu itu tak tersampaikan karena Dimas dan rekan-rekannya yang tak mau menjalankan tugas yang diamanatkan kepada mereka dengan baik dan tulus. Setiap individu tentu sudah punya takdir kehidupan masing-masing yang terpenting jangan bandingkan diri dengan orang lain karena setiap individu mempunyai keberuntungan masing-masing dari kelebihan yang dimilikinya.


Dan tau sendiri kan? Kalau kata Dilan "rindu itu berat". Tapi kalau kata Dimas, " Rindu itu benar-benar cinta dan sayang. Kenapa begitu? Karena begitu besar cinta dan sayangnya Dimas untuk tanah airnya, Indonesia. Dimas bersama kru yang bertugas serta semua rekan-rekannya, rela jauh dari keluarga mereka asal para penumpang kereta nyaman dan bahagia karena bisa bertemu keluarga mereka.


Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat.


Dimas baru saja menyelesaikan tugas kerjanya.


Begitu selesai, ia langsung bergegas pamit pulang dan kembali ke kost yang telah disediakan untuknya.


Dimas masih belum sempat membuka handphone, membersihkan diri adalah hal yang sangat ingin Dimas segera lakukan karena tubuhnya yang terasa lengket dan lelah. Membuat Dimas ingin segera membersihkan diri agar fresh kembali.


Di rumah Pak Wijaya dan Bu Wijaya.


Bu Wijaya belum bisa tidur. Ia keukeuh menunggu balasan dari sang putra. Hingga ada panggilan masuk dari salah satu handphone tapi bukan handphone Bu Wijaya melainkan handphone Pak Wijaya, Bu Wijaya yang begitu camas memikirkan Dimas tanpa melihat ID dari yang menelfon, Bu Wijaya langsung saja menganggat panggilan tersebut.


"Dimas putra Mama, kamu kemana saja, Nak?" tanya Bu Wijaya antusias,"Mama hubungi kamu berkali-kali tapi tidak kamu angkat."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Pak Wijaya, mohon maaf Pak Wijaya ini saya Pak Teguh."


ujar penelfon pak Wijaya yang ternyata bukan Dimas tapi adalah Pak Teguh.


"Siapa Ma?" tanya Pak Wijaya pelan tapi Bu Wijaya diam dan langsung menyerahkan handphone itu kepada Pak Wijaya selaku pemilik handphone.


Pak Wijaya jadi merasa serba salah kalau melihat istrinya sudah bersikap seperti ini. Dengan pelan Pak Wijaya mengambil handphone miliknya dari tangan Bu Wijaya.


"Assalamu'alaikum Pak Wijaya. Ini saya Pak Teguh." ucap Pak Teguh mengulangi pernyataannya.


"Wa'alaikumussalam Pak Teguh. Ada apa Pak?"


"Begini Pak Wijaya, sebelumnya saya mau memberitahukan kalau besok saya tidak bisa mengantarkan kedua guru yang akan mengikuti studi banding di kota S."


"Lho kenapa Pak?" Pak Wijaya sangat kaget.


"Istri saya sedang menjalani proses persalinan Pak, saya harus menemani dan menjaganya."


Pak Wijaya masih diam tak tau harus bagaimana lagi sekarang, persoalan ini begitu mendadak baginya sedangkan studi banding akan dilaksanakan besok.


Karena Pak Wijaya masih tak menjawab, Pak Teguh pun kembali berbicara, "Saya mohon maaf dengan sangat Pak Wijaya! Saya mohon maaf!"


Pak Wijaya tak membalas. Ia langsung menjauhkan handphone itu dari telinganya.


"Pak Wijaya, hallo ... Pak Wijaya?" panggil Pak Teguh merasa gelisah dan tak enak hati, tapi sama sekali tak ada jawaban dari Pak Wijaya.


Akhirnya karena terburu-buru, Pak Teguh pun mengakhiri panggilan terlebih dahulu. Sedangkan Pak Wijaya masih larut dalam fikirannya tentang studi banding besok.


Bu Wijaya jadi ikut cemas dan gelisah begitu menengok raut wajah yang terlihat cemas dan gelisah.


"Pa kenapa mukanya cemas dan gelisah begitu? Apa yang dikatakan Pak Teguh, Pa?"


"Itu Ma, Pak Teguh ..."


"Pak Teguh kenapa Pa? Ada apa dengan pak Teguh?"


"Pak Teguh bilang kalau besok dia tidak bisa mengantarkan guru-guru yang akan mengikuti studi banding di SDN Bumi Pertiwi kota S."


"Terus bagaimana Pa?"


Pak Wijaya hanya menggelengkan kepalanya yang terasa begitu berat menerima kabar itu.


Masih berfikir cara apa yang akan dilakukan untuk memberangkatkan Zalfa dan Ayunda. Setelah beberapa menit berfikir akhirnya pak Wijaya memperoleh ide untuk Zalfa dan Ayunda berangkat.


Ia segera membuka kembali handphonenya dan mencari no Dimas. Begitu menemukan no Dimas tanpa jeda pak Wijaya langsung melakukan panggilan ke nomor tersebut.


Dimas yang baru selesai melaksanakan shalat 4 rakaat dengan melipat kembali sajadah panjangnya, ia langsung mengambil handphone yang tergeletak di atas tempat tidurnya begitu tau ID yang menelfon dirinya

__ADS_1


Panggilan terhubung!


"Assalamu'alaikum Pa."


"Wa'alaikumussalam Dimas. Dimas kamu masih sibuk sayang?"


Bu Wijaya yang masih standby disamping suaminya saat mendengar nama Dimas disebut, ia pun begitu bahagia dan lega, Dimasnya baik-baik saja.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah." lirih Bu Wijaya.


"Tidak Pa, Dimas tidak sibuk."


"Dimas tolong kamu bantu Papa Nak. Papa benar-benar tidak tau lagi harus bagaimana sekarang?"


"Maksud Papa?" Dimas masih bingung dengan Papanya yang tiba-tiba menelfon dan langsung berbicara seperti itu padanya, "Pa, Papa tenang dulu! Apapun itu Pa, kalau Dimas bisa bantu pasti Dimas akan bantu itu dengan senang hati." Dimas menenangkan Papanya.


"Begini Dimas, Pak Teguh ... Pak Teguh sopir di SDN Nusa Bangsa, beliau mendadak tidak bisa mengantar dua guru yang besok akan mengikuti studi banding di SDN 1 Bumi Pertiwi Kota S."


"Emm ... Begini saja Pa, besok Papa ajak guru-guru itu ke stasiun kota M sebelum 3 jam dari jadwal keberangkatan kereta. Papa langsung beli tiket go show untuk kedua guru tersebut. Kalau jam segini loket di stasiun biasanya sudah tidak melayani pemesanan tiket. Loket di stasiun hanya melayani pembelian tiket go show atau tiket untuk keberangkatan langsung."


"Alhamdulillah, terimakasih Dimas kamu sudah membantu Papa dengan memberi informasi tersebut. Setelah ini, Papa akan menginformasikan kepada kedua guru yang Papa delegasikan untuk bersiap lebih awal di stasiun kota M."


"Sama-sama Pa." balas Dimas sopan dan kembali bertanya apa yang membuat orang tuanya mendadak pesan tiket kereta,"tapi kalau Dimas boleh tau, untuk apa Papa pesan tiket kereta mendadak seperti ini?"


Pak Wijaya baru saja mau menjelaskan dan menjawab pertanyaan Dimas, tapi Bu Wijaya menarik baju Pak Wijaya karena sudah tidak tahan ingin bisa berbicara dengan putra kesayangannya itu.


"Dimas, ini Mama kamu sangat merindukan kamu. Kamu bicara dulu nih sama Mama kamu."


Senyum kebahagiaan terukir diwajah Dimas. Dengan cepat Dimas mengubah panggilan mereka menjadi panggilan video.


Panggilan video pun berlangsung antara Dimas dan orang tuanya.


"Dimas, bagaimana kabar kamu sayang? Pekerjaan kamu disana lancarkan?"


"Alhamdulillah Ma semua berjalan lancar di sini. Dimas juga minta agar Papa sama Mama sama Ini juga untuk selalu mendoakan Dimas."


"Pasti sayang! Kami akan selalu mendoakan kamu. Kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan, jangan telat makan, istirahat yang cukup!"


"Siap Ma, siap!" Dimas dengan menyertakan tangan hormat kepada Mama dan Papanya yang masih terlihat dari layar HP Dimas. Dimas baru saja ingin berbicara untuk menutup panggilannya tapi sang Mama kembali meneruskan pesannya untuk Dimas yang jauh darinya.


"Dan satu lagi Dimas,"pesan Bu Wijaya dengan wajah sumringah nan antusias,"cepat carikan Mama menantu!"


Dimas hanya mengiyakannya saja. Dalam hati ia berharap semoga wanita yang sudah menghilangkan konsentrasinya karena rindu pada wanita itu, wanita itulah yang akan menjadi menantu yang baik dan tepat untuk sang Mama.


...(Maafkan Author di episode ini ada beberapa perubahan, yang pasti kalau mau naik kereta ada banyak kelas kereta dari yang harga ekonomis dan juga kelas melayani sampai kelas atas. Yang membedakan lebih ke fasilitas dan durasi perjalanan kereta. Dan lebih utama nya kalau mau pesan kereta bisa H-7 atau beberapa hari (jangan mendadak) sebelum hari kita hendak berpergian.)...


...Dan untuk tiket go show ini bisa langsung di pesan di loket stasiun sebelum 3 atau 2 jam jadwal kereta berangkat. Info lebih lengkap nya kita bisa mendatangi stasiun terdekat dan bertanya langsung dengan petugas disana. Maafkan author yang mungkin masih banyak salah dan kurang pas dalam memberikan informasi.πŸ™)...

__ADS_1


__ADS_2