Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Penyesalan Meta


__ADS_3

Beberapa menit sebelum Zalfa bergegas pergi ke kota M bersama keluarganya juga keluarga Dimas.


Tepatnya saat Dimas dan Zalfa masih asik berbincang, yang ditengah perbincangan itu Dimas berhasil meyakinkan dan menenangkan perasaan Zalfa yang diliputi rasa kekhawatiran terhadap kondisi Mamanya.


Seorang wanita dengan didorong kursi roda oleh suster melihat Zalfa yang sudah tersadar dari komanya. Senyuman pun mengembang dibibirnya yang nampak semakin pucat saja.


Sayup-sayup dia mendengar perbincangan antara laki-laki yang juga ia kenal. Laki-laki yang pada awalnya sudah dikhianati oleh Sintia dan kini malah dikejar lagi oleh Sintia. Dan itu semua tak lepas atas pengaruh dari dirinya. Rasa bersalah pun menyiksa dan menyesakkan dadanya kembali. Apalagi saat melihat kedua insan yang ada tak jauh dari hadapannya yang dengan tulusnya saling mencinta.


Bagaimana ia akan tega membuat Dimas sedih kembali karena ulah Sintia yang egois menginginkan Dimas kembali padanya?


Dan bagaimana ia tega merebut kebahagiaan Zalfa? Zalfa yang notabenenya adalah teman seprofesinya? Selain itu, telah banyak derita yang Zalfa terima karena ulah Edo maupun Sintia.


Ya pada intinya Dimas dan Zalfa tidak bersalah justru merekalah korbannya. Lalu bagaimana bisa korban tak boleh memperoleh kemenangannya? Korban layak mendapat kemenangannya! Itulah yang terbesit dalam hati nurani Meta yang saat ini harus menjalani perawatan karena penyakit cukup serius yang dideritanya yang sayangnya baru ia ketahui setelah sekian lama.


"Bu Zalfa dan Pak Dimas kalian berhak untuk bahagia bersama." Ucapnya tersadar.


"Ya ... aku akan menebus kesalahanku! Aku akan menasehati Sintia kembali agar tak mengusik kebahagiaan yang layak kalian dapatkan selama ini." Ucapnya dengan begitu menyesal. sakit yang dideritanya benar-benar telah membuka mata hatinya yang pernah tertutup karena rasa irinya pada Zalfa.


Saat suster akan membawanya kembali ke ruang pemeriksaan, dia menginstruksikan agar jangan membawanya pergi dulu.


"Ada apa Bu Meta?" Suster mengkhawatirkan keadaan pasien yang akan dibawanya kembali ke ruang pemeriksaan itu malah menolaknya.


Meta hanya diam dan masih mendengarkan baik-baik apa yang diucapkan Zalfa kepada Dimas, perihal kondisi dari Bu Ambar yang sedang tidak baik-baik saja.


Rasa sedih pun kini menghampirinya kembali. Ia tau betul bagaimana rasanya hidup sendiri dan bagaimana sedihnya kehilangan.


Ia sudah pernah mengalami itu semua sedari dulu.


Rasa bersalahnya pun semakin menjadi-jadi. Merasakan bagaimana kehidupan Zalfa sebenarnya. Kehidupan yang tak pernah ia ketahui sepenuhnya dengan menyeluruh.


Dari suatu arah, datang Ica dengan Bu Ambar. Tampak pula Bu Anis dan Pak Wijaya disamping keduanya. Nampak mereka siap untuk pergi dari rumah sakit saat itu juga.


"Sebenernya Bu Ambar sakit apa?" Meta bertanya-tanya dalam hatinya. Untuk sesaat ia berinisiatif untuk menanyakan kepada suster yang membantu mendorongnya dengan kursi roda.


"Sus, apa kamu kenal dengan mereka?" Meta menunjuk ke arah Bu Ambar, Ica, Bu Anis dan Pak Wijaya.


"Iya mereka keluarga pasien dari wanita muda itu Bu," Menunjuk ke arah Zalfa, "Sekarang gadis itu sudah sadar setelah koma selama satu bulan, tetapi ..." Suster tampak memberi jeda pada ucapannya.


"Baru saja kebahagiaan didapat keluarga itu, tetapi kini keluarga itu harus mendapat berita sedih tentang penyakit Ibu dari wanita muda itu yang harus segera melakukan transplantasi ginjal dalam waktu dekat."


"Donor ginjal?" Meta tak menyangka apa yang didengarnya barusan.


"Iya, Ibu wanita muda itu sudah sering datang pergi ke rumah sakit ini untuk melakukan cuci darah."

__ADS_1


"Saya sempat salut pada Ibu itu betapa kuatnya dia saat harus mendapati/mengetahui putrinya terbaring koma."


"Mungkin karena menahan kesedihannya juga, makanya kondisinya Ibu itu ternyata memburuk walaupun tampak baik."


Meta diam dan mendengarkan setiap informasi yang diberikan oleh suster itu.


Sementara itu, Zalfa beserta keluarganya dan keluarga Dimas sudah memasuki mobil. Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit saat itu juga.


Meta pun meminta suster untuk membawanya ke ruang pemeriksaan untuk melakukan beberapa prosedur pemeriksaan yang sudah ditentukan.


....


Dimas masih berada di rumah sakit. Dia tidak ikut kembali pulang karena ia perlu izin terlebih dahulu untuk bisa pulang.


Saat Dimas akan menaiki motornya. Seseorang dengan beraninya menyentuh tangannya.


"Dimas!" Sapa perempuan.


"Sintia? Kenapa kamu ada di sini lagi? Saya sudah merasa tenang ketika kamu tidak pernah menganggu saya lagi, lalu kenapa hari ini kamu berdiri lagi dihadapan saya?" Dimas merasa risih dengan rengekan dan rayuan Sintia kepadanya.


"Aku itu habis menebus obat untuk Mbakku. Dia sedang menjalani masa pengobatan di rumah sakit ini."


"Nih obatnya!" Menunjukkan obat yang ditebusnya kepada Dimas.


"Dim, tunggu!" Berdiri menghadang jalan yang akan dilewati Dimas.


"Mau kamu apa sih, Sin?" Dimas geram.


"Kamu tanya apa mau aku Dim? Aku itu mau kamu Dimas! Mau kamu!" Ucap Sintia tanpa rasa bersalah setelah apa yang pernah ia buat kepada Dimas dimasalalu.


"Saya sudah pernah menjelaskan sama kamu tentang ini semua, kalau cinta saya cuma untuk Zalfa seorang. Tidak untuk yang lainnya."


"Apa itu kurang jelas?Hah?" Dimas geleng-geleng sendiri melihat tingkah Sintia.


"Tapi Dimas cintaku buat kamu itu lebih besar daripada cinta Zalfa buat kamu."


Dimas menampakkan raut wajah tak percaya pada ucapan Sintia itu.


"Kamu enggak percaya?" Sintia yang cukup sebal dengan Dimas tak mau percaya padanya.


"Oke, kalau gitu aku akan berdiri disini walaupun kamu tabrak aku sekalipun."


Dimas masih bersikap santai. Tanpa aba-aba Dimas berucap dengan begitu histeris, "ular ... ular ... awas ada ular!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Dimas tanpa memikirkan ucapannya yang tadi, Sintia langsung beranjak pergi ke samping jalan.


Dan Dimas melajukan motornya. Sesaat berhenti tepat didepan Sintia.


"Apa ini yang kamu bilang kalau cinta kamu lebih besar daripada cintanya Zalfa?"


Sintia hanya bisa menampilkan wajah sebal dan cemberutnya, sedangkan Dimas sudah melajukan motornya lagi.


Sintia memasuki dan menyusuri kembali rumah sakit ternama dikota S itu. Rumah sakit dimana Zalfa pernah dirawat, dan sekarang Metalah yang dirawat disana.


Dua minggu yang lalu...


Tutt .. Tutt ... Tutt!


Sintia mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung dengan Edo (lihat episode 34).


"Kamu tau sayang, Ayah kamu tuh aneh, masa Mama kamu disuruh nanya tentang keadaannya? Ya udah pastilah tanpa ditanya pun keadaannya tidak akan berubah." Berbicara dengan perutnya yang masih rata. Kemudian beranjak menuju kamar tamu, "Udalah kita istirahat ya sayang!"


Tiba-tiba terdengar suara histeris dari Meta yang membuat Sintia tidak jadi merebahkan tubuhnya.


"Sin, Mbak enggak kuat. Dada Mbak sakit sekali" Rintihnya tak kuat menahan rasa sakit yang menerpa dadanya.


Sintia yang awalnya meggerutu dan bersikap tak begitu perduli langsung panik. Ia juga Menggoyang-ngoyangkan tubuh Meta agar sadar kembali tapi usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Akhirnya dengan langkah cepat ia meminta pertolongan kepada tetangga sekitar serta satpam untuk membawa Meta ke rumah sakit.


Beberapa hari setelah dirawat di salah satu rumah sakit dikota M, pihak rumah sakit menyatakan kalau Meta harus menjalani pengobatan dan perawatan di rumah sakit ternama dikota S.


Mendengar hal itu, Sintia semakin tak mengerti sebenarnya apa penyakit yang diderita oleh Mbak Metanya itu.


Dokter memberikan hasil lab terkait penyakit yang diderita oleh Meta.


Mata dan nuraninya langsung terkesiap melihat hasil lab yang menyatakan Meta terkena penyakit yang serius dan membahayakan nyawanya kalau tidak segera mendapatkan penanganan yang cepat dan teratur.


Sesuai arahan dokter, Sintia membawa Meta menjalani pengobatan dan perawatan di rumah sakit kota S. Karena kembali lagi, baginya Meta adalah keluarganya sendiri meskipun ia sempat jengkel beberapa hari kemarin saat Meta dengan tiba-tiba menyuruhnya untuk datang ke rumahnya dikota M. Padahal saat itu ia sedang asik-asiknya berjuang untuk mendapatkan Dimas kembali.


Namun siapa sangka, karena Meta yang selalu membutuhkan dirinya untuk menjaga dan merawatnya setiap saat, Sintia jadi tidak bisa mencari celah untuk menganggu dan mengusik Dimas kembali.


Hari-harinya ia habiskan untuk menemani Mbak Metanya yang juga tak mau ditinggal kalau tidak begitu penting, seperti menebus obat misalnya.


Masa sekarang...


"Sin, kamu dari mana aja kok baru balik?"


Sintia hanya diam dan tak menjawab. Ia memilih mengambil alih tangan suster yang mendorong kursi roda Meta.

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2