
Zalfa yang memiliki postur tubuh mungil namun bak gitar spanyol itu, membuat Dimas begitu leluasa sebab tidak terlalu keberatan saat mengangkat tubuh Zalfa dengan gaya bridal stylenya. Namun perlu diketahui bersama bahwa seberat-beratnya badan Zalfa tetap lebih berat cinta Dimas untuk Zalfa. ๐๐ฅฐ
Perlahan tapi pasti. Mereka telah memasuki salah satu gerbong kereta. Dengan segera, Zalfa meminta untuk diturunkan. Karena ia merasa jika gaunnya tidak terlalu ribet untuk ia berjalan sendiri tanpa harus Dimas bopong terus menerus oleh Dimas.
Dimas pun menuruti apa yang Zalfa inginkan. Tapi, tetaplah Dimas, yang tidak ingin melewatkan moment istimewanya saat bisa bersama Zalfa. Karena itu, Dimas kembali berulah. Dimas mengulurkan tangannya, menuntun Zalfa menuju kursi dimana mereka akan duduk.
Bak FTV di film-film. Dimas, tangannya terulur ke depan mengarah pada Zalfa, agar Zalfa berpegangan pada tangannya. Dengan senang hati uluran tangan itu diterima oleh Zalfa. Tidak lagi seperti pertama kali bertemu (lihat episode 1) ๐.
Begitu menyusuri dan mencari keberadaan kursi yang akan mereka tempati, Zalfa dibuat takjub sendiri saat ia disambut dengan bunga mawar oleh para kru yang menyebar dalam kereta tersebut.
Samar-samar Dimas mengucapkan terimakasih untuk kerja samanya pada kru kereta itu.
"Terimakasih." Dimas dengan ramah dan penuh simpati menurut Zalfa saat Zalfa mendengar walaupun terdengar cukup samar di telinganya.
Dari arah depan mereka, tampak pula seorang kondektur dalam kereta yang membawanya, menyambut hangat mereka berdua. Sapaan ramah juga Dimas berikan pada kondektur kereta yang membawa mereka.
Tak lama setelahnya, kondektur tersebut melanjutkan tugasnya kembali dan meninggalkan Dimas dan Zalfa tepat di kursi yang akan mereka tempati.
"Silakan duduk Bidadariku!" Dimas sedikit mundur ke belakang agar Zalfa bisa duduk lebih dulu dengan leluasa.
Zalfa pun duduk dan meletakkan bunga yang diperolehnya ke meja yang ada di hadapannya.
Zalfa duduk, Dimas pun demikian. Kini, mereka duduk berdampingan.
Ekspresi Zalfa yang menanyakan seolah-olah apa maksud dari semuanya tadi begitu ketara dan Dimas dapat melihat itu dengan sangat jelas.
"Mereka partner kerja aku Fasya, jadi aku minta tolong ke mereka untuk menyiapkan bunga mawar ini untuk kamu." Dimas memberi penjelasan,"untuk sambutan dan keramahan yang mereka berikan itu sudah menjadi kewajiban kami saat kami bertugas." Menjelaskan sambil mengelus kepala Zalfa yang masih terbalut hijab dengan make up pengantin yang cukup flawless masih menghiasi wajahnya.
Mereka telah menempati kursi sesuai yang tertera pada tiket kereta mereka, tetapi ada sesuatu yang membuat Zalfa begitu mengganjal dalam hati dan fikirannya. Tanpa basa basi dia mengungkapkannya pada Dimas,
"Mas, kamu ngerasa enggak sih, kalau orang-orang itu dari tadi pada ngeliatin kita?" Zalfa dengan jujur sebab merasa tak enak hati melihat bagaimana orang-orang melihatnya dengan Dimas sedari tadi. Saat mereka memasuki gerbong kereta.
Dimas tersenyum menanggapi apa yang Zalfa tanyakan padanya dan berkata,
"Fasya istriku, kebahagiaan, kenyamanan itu ada pada diri kita sendiri," tak cukup sampai di situ, Dimas juga masih meneruskan perkataannya agar Zalfa tak lagi risau, "dan yang paling penting, kita enggak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain."
"Kita sama sekali enggak ngebuat kebisingan ataupun keributan kan di sini?Jadi, santai aja ya!" Menyentuh tangan Zalfa seraya menenangkannya.
........ ...
Kereta api melaju membawa Dimas dan Zalfa menuju sebuah tempat yang mungkin akan cukup asing bagi Zalfa tapi tidak untuk Dimas. Karena tempat itu sebenarnya sudah sering Dimas kunjungi bersama keluarganya di waktu tertentu.
Perjalanan masih panjang, masih diperlukan bermenit-menit lagi untuk sampai di tempat tersebut. Dalam perjalanan tersebut, mereka begitu menikmati saat-saat yang bisa mereka lalui bersama seperti saat ini.
~ Masih di dalam Kereta ~
__ADS_1
Kereta melintasi berbagai rute perjalanan dan stasiun dengan cepatnya. Menyuguhkan pemandangan yang sangat menyegarkan indra penglihatan. Deretan pepohonan, perkebunan, persawahan bahkan juga pemukiman tampak begitu eksotik memanjakan para penumpang kereta yang didalamnya juga ada Dimas dan Zalfa.
Desas-desus perbincangan mereka lagi-lagi terdengar samar-samar di telinga.
"Bekerja itu kalau diniatkan hanya untuk dunia akan capek sayang." Dimas menatap Zalfa yang mendengarkan baik-baik jawaban Dimas, "lain lagi kalau diniatkan diorientasikan untuk akhirat, untuk meraih Ridho-Nya Allah maka semua akan terasa lapang."
"Jadi, itu jawaban aku untuk pertanyaan kamu, apa aku pernah ngerasa capek selama menjadi seorang kondektur kereta?" Dimas menjawab pertanyaan yang sempat Zalfa ajukan.
Jujur saja jawaban Dimas malah menghanyutkan hati Zalfa. Betapa seringkali manusia bahkan dirinya sendiri juga terlalu memikirkan dunia hingga segala sesuatu diniatkan diorientasikan untuk dunia sahaja.
"Itulah kenapa niat itu sangat penting!" Jelas Dimas meluruskan penjelasannya, "Innamal a'malu binniyat!"
Zalfa mengangguk faham karena ia juga pernah mendengar hadis tersebut.
"Segala sesuatu itu tergantung pada niatnya."
Dimas mengamati wajah Zalfa yang tampak serius mencerna baik-baik ucapannya.
Dimas pun melanjutkannya kembali,
"Termasuk menikah, untuk itu menikah harus ditata betul niatnya. Niatkan untuk ibadah meraih Ridho dan Cinta-Nya Allah."
Keseriusan Zalfa membuat Dimas tersenyum begitu manis dan bahagia karenanya.
"Yes, I see. Thanks so much, Suamiku. Perkataan kamu tadi, benar-benar membuka hati dan fikiran ku." Zalfa merasa terenyuh.
Kemudian, ia juga masih mengeluarkan apa yang hatinya rasakan ke Dimas, "Aku juga merasa bahwa jika aku mengajar dan mendidik anak-anak harus senantiasa aku niatkan untuk meraih Ridho-Nya Allah."
"Agar apa? Agar saat aku mengajar mereka, aku senantiasa bisa membawa emosi positif. Dengan begitu, suasana belajar pasti akan jadi lebih nyaman, bahkan insyaallah bisa lebih tersampaikan dalam benak mereka." Zalfa menyimpulkan dan memotivasi dirinya sendiri.
Dimas masih setia menjadi pendengar yang baik, Zalfa serasa bahagia dengan sikap Dimas padanya. Sikap Dimas membuatnya nyaman untuk mengutarakan isi hatinya yang satu ini,
"Dan aku juga akan selalu meniatkan pernikahan yang sudah kita jalani ini untuk beribadah meraih Ridho dan Cinta-Nya Allah."
Seketika itu Dimas bergetar dan bersyukur sekali atas niat baik istrinya tersebut.
"Is very good, dear!" Memegang hidung Zalfa yang mancung dengan gemasnya.
"Sakit Mas ...!" Zalfa merengek.
"Mana? Mana yang sakit?" Cukup panik.
Diberi pertanyaan serius Zalfa malah menggelengkan Kepala dengan senyum cukup kikuk karena sebenarnya hidungnya sama sekali tidak sakit.
"Oh, gitu ya?"
__ADS_1
Zalfa mengangguk sesekali dengan senyuman begitu manis ditambah dengan menyatukan tangannya untuk minta maaf.
Dan apa yang dilakukan Dimas? Dimas kembali menyentuh dan mengelus lembut kepala Zalfa yang berbalut hijab. Sesaat kemudian mencium keningnya.
........
Dimas dan Zalfa menikmati perjalanan yang mereka lalui dengan sesekali melihat ke arah kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
Keindahan alam selalu menyiratkan pesan dan makna tersendiri dimana terdapat tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di dalamnya.
Sejenak Zalfa berpaling ke tas yang dibawakan Ica yang sudah dimasukkan ke dalam kereta bersama dengan koper yang berisi pakaiannya dengan Dimas.
Zalfa membuka tas selempangnya. Perlahan ia mengambil Mushaf yang ia bawa dalam tas tersebut. Karena yang Zalfa tau, Dimas suka membaca Al-Qur'an dan fashih juga dalam melafalkan. Karena itu, mulai saat itu ia tak lupa membawa Mushaf atau Al - Qur'an terjemah ke manapun dan di manapun.
"Mas, perjalanan kita masih panjang, kita isi dengan baca Al-quran yuk!"
"MasyaAllah ...!" Dimas tergegun bergetar serta bersyukur akan ajakan Zalfa.
"Baiklah, ayo Fasya!" Sangat setuju dengan rencana Zalfa, maka Dimas juga bergegas mengambil wudhu, "kamu tunggu dulu di sini, aku ambil wudhu dulu!"
Selesai berwudhu. Dimas membuka Mushaf Al - Qur'an, dan membaca dengan fashih nya.
Dan itu semua didengarkan oleh Zalfa dengan penuh ketenangan dan kekhidmahan serta kekhusyukan.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...!
๐๐ผ๐ผ๐ช๐ต๐ช๐ถ๐พ'๐ช๐ต๐ช๐ฒ๐ด๐พ๐ถ ๐ฆ๐ป. ๐ฆ๐ซ.
Berjumpa lagi sama aku๐โบ๐
Sekedar info : Karena ini hanya fiktif, harap maklum yaa sama episode kali ini. Hehehe... Karena mungkin enggak ada yang kayak Dimas sama Zalfa yang honeymoon naik kereta masih pakek atribut pengantin๐คญโบ๏ธ. Maklumin aja ya.. Ini sebagai keseruan dan keunikan ceritanya. Namanya juga cinta di stasiun kereta, jadi ya maklumin aja yaa...kalau kemana-mana seringnya naik kereta.๐โบ Soalnya mau author buat naik mobil jadi kayak kurang seru dan menjurus dengan judul "Cinta di Stasiun Kereta"nya. Ini sedikit curhat yaa ๐ญ๐.
Jadi, selamat membaca dan menikmati episode kali ini untuk kamu-kamu semua readers tersayang aku๐ซถ๐ป๐ฅฐ๐
Oh iya ... Sekedar Info lagi ya buat kamu-kamu readers aku tersayang ... ternyata tadi, setelah aku searching di goggle ternyata, bahkan ada pengantin yang melangsungkan pernikahan di gerbong kereta. Wihh seru dan unik gitu yaa๐คฉ๐ฅฐ๐ซถ๐ป. Tertarik? Yang jelas, pokoknya semoga pernikahannya jadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warohmah di manapun tempat baik yang dipilih, yaps. ๐
Terakhir, aku mau mengucapkan selamat menyambut hari raya idul fitri yang insyaallah tinggal menghitung hari. Mohon maaf lahir dan batin yaa๐โบ.
Untuk yang mudik, hati-hati di jalan, jangan lupa jaga kesehatan dan semoga selamat sampai tujuan! ๐ค๐ฅฐ
Untuk yang tidak mudik, yuk siapin moment lebaran yang mengesankan untuk keluarga dan lingkungan sekitar! ๐ค๐ฅฐ
Semangat selalu & bahagia selalu! ๐ฅณ
๐ฆ๐ช๐ผ๐ผ๐ช๐ต๐ช๐ถ๐พ'๐ช๐ต๐ช๐ฒ๐ด๐พ๐ถ ๐ฆ๐ป. ๐ฆ๐ซ.
__ADS_1