Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Sadarkan Diri


__ADS_3

Di ruangan yang cukup luas, Dimas masih setia berdiri tepat di samping Zalfa.


Tatapan penuh harap begitu tersirat pada sorot mata Dimas yang berdiri disamping ranjang tempat Zalfa masih terbaring koma.


Bagai pegunungan gersang yang disirami air hujan. Diibaratkan seperti itulah perasaan Dimas, tatkala tepat dihadapannya Zalfa kembali memberikan respon dengan gerakan jari-jemarinya saat itu juga.


Dokter memasuki ruangan Zalfa dan memeriksanya. Sama seperti jawaban yang harus didapat Rere dari dokter begitu mengetahui jari-jemari Zalfa yang bergerak. Maka seperti itu pulalah jawaban yang dokter kembali berikan kepada Dimas.


Manusia memang bisa berencana, tapi Dialah yang menentukan segalanya. Menerima dengan sabar dan ikhlas jawaban dari dokter yang diluar ekspektasinya merupakan hal yang Dimas berusaha untuk menerimanya saat ini.


"Zalfa, saya yakin kamu pasti akan segera sadar!" Tatapannya dengan penuh harap tepat dinetra Zalfa yang masih terpejam.


Dengan lembut pula Dimas merapikan selimut yang menutupi tubuh Zalfa. Memandang dengan sorot cinta yang tulus dan mendalam.


.............


...Mentari terbit dan terbenam sesuai peredarannya. Hingga pagi pun menjadi siang dan siang berganti malam. Beriringan pula bahwa hari- hari yang turut berganti sesuai perhitungannya yang ada....


2 minggu kemudian...


Hari itu, tepatnya dua minggu semenjak kejadian kondisi Zalfa yang sudah semakin membaik. Bu Ambar dan Ica melakukan perjalanan ke rumah sakit ternama kota S untuk check up sekaligus menjenguk Zalfa. Karena memang Bu Ambar yang baru bisa ke kota S setelah dua minggu karena kesehatannya yang perlu dijaga dengan begitu baik.


Perlahan tapi pasti mereka berdua menaiki kereta dengan tujuan stasiun terbesar dan ternama di kota S.


Sepanjang perjalanan menaiki kereta yang mereka berdua naiki, Bu Ambar hanya diam dan tak banyak bicara. Sikap Bu Ambar cukup membuat Ica cemas melihat Tantenya yang tidak bersikap seperti biasanya.


"Tante, Tante baik-baik saja?" Tanya Ica khawatir kalau Tante kesayangannya itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Diluar dugaan Ica, Bu Ambar malah menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal setau Ica, Bu Ambar adalah tipikal orang yang tidak pernah menyembunyikan apapun terhadap orang lain apalagi keluarganya.


Ica pun terus dan terus berusaha merayu Bu Ambar agar jujur padanya, "Tante!"


Mendapati panggilan dari Ica yang terdengar tidak biasa,Bu Ambar mengatakan sesuatu pada Ica,


"Tante baik-baik saja Ica, percayalah!" Memegang kedua pipi cabi Ica.


Bu Ambar menurunkan tangannya dari memegang wajah Ica, dan bergantilah Ica memegang hangat tangan itu dan berkata, "Tante, Ica sangat mengerti bagaimana Tante, jadi kalau ada apa-apa dalam hati Tante ceritain saja ke Ica!"


Entah karena apa, perkataan Ica berhasil meluluhkan benteng pertahanan Bu Ambar yang pada awalnya tak ingin membuat Ica ikut cemas karenanya.


"Ica!" Bu Ambar menitikan air mata dan Ica pun langsung memeluknya.

__ADS_1


"Kenapa Tante? Kenapa?" Tanya Ica dengan nada begitu halus.


"Tante, Tante sudah rindu sama Kakak mu Ica." Ucapnya cukup menahan agar tangisnya tak semakin pecah.


"Tante yang sabar yaa! InsyaAllah setelah kita menjenguk Kak Zalfa nanti, saat itu pula Kak Zalfa akan dikasih kesadaran sama Allah. "


"Semoga ya Ica, semoga Allah akan mengabulkan do'a kita dan semoga rindu kita akan segera terobati dengan kita bisa berkumpul lagi bersama Kak Zalfa di tengah-tengah kita."


"Iya Tante, semoga Allah memudahkan semuanya."


Masih saling berpelukan dan saling meyakinkan hati satu sama lain kalau rasa rindu yang begitu hebat itu akan segera terobati, laju kereta pun seakan-akan turut mendo'akan dan mengaaminkan harapan Bu Ambar dan Ica dalam tangis kerinduannya.


Beberapa jam pun berlalu...


Bu Ambar dan Ica sampai di tempat tujuan mereka. Mereka pun lebih dulu melangkahkan kaki menuju ke tempat untuk check up.


Beberapa jam kemudian,


selesai melakukan check up dan lain sebagainya, kini Bu Ambar dan Ica perlahan menuju ke sebuah ruangan. Lebih tepatnya ke ruangan dimana Zalfa dirawat.


Sesampainya di ruangan Zalfa dirawat,


Rere yang berada di tempat tersebut pun tak diperhatikan keberadaannya oleh Bu Ambar karena Bu Ambar yang kalut akan kerinduannya pada sang putri.


Saat Bu Ambar tak menyadari keberadaan Rere, disisi lain, ada Ica yang mengulurkan tangan menyapa Rere dengan senyum ramahnya.


Rere yang mengerti apa yang ada dihati Bu Ambar saat ini, ia tak mempermasalahkan sikap Bu Ambar padanya. Karena ia tau betul apa yang begitu diharapkan oleh Bu Ambar itu sama seperti dirinya saat ia melihat jari-jemari Zalfa yang bergerak. Saat itu ia berharap Zalfa akan sadar saat itu juga tetapi sekali lagi ketetapanNya adalah yang terbaik.


Dari arah pintu seseorang turut masuk ke dalam ruangan Zalfa dirawat. Dengan cukup terkejut ia bertanya apa yang dilihatnya bukanlah mimpi belaka.


"Bu, Anda disini?"


Suara Dimas menyadarkan Bu Ambar.


Dengan segera, Dimas mendekat dan mengulurkan tangannya.


Bu Ambar mengusap punggung Dimas seraya mengucapkan banyak terimakasih sudah menjaga dan mencintai serta menyayangi Zalfa dengan tulus.


....


Malam pun terus berjalan hingga pagi pun datang...

__ADS_1


Pagi hari itu ...


Dimas pagi-pagi sekali sudah berada di Stasiun sembari duduk manis menanti teman seperjuangannya yang tak lain juga tak bukan adalah Lukman.


Sementara itu, Bu Ambar dan Ica yang semalam tidur ditempat Dimas, mereka pagi-pagi sekali sudah ke rumah sakit untuk menjenguk Zalfa kembali sekaligus membawakan kotak makanan untuk Dimas sarapan pagi. Namun tanpa mereka sangka, mereka berdua kalah cepat dengan Dimas yang lebih dulu sudah pergi ke stasiun pagi itu.


Rere yang baru sampai bebarengan dengan Bu Ambar dan Ica pun tak menyangka kalau Dimas pagi-pagi sekali (mendahului jam tugasnya) sudah ke stasiun.


Rere berniat menyusulkan makanan yang Bu Ambar dan Ica buat kepada Dimas dan Lukman, tetapi hal mengejutkan juga membahagiakan terjadi begitu saja dihadapan mereka bertiga saat itu juga.


Sontak saja ketiga wanita itu kaget ketika seseorang yang mereka tunggu dan jaga seketika itu berucap dengan menyebut,


"Papa ... Papa ... Papa!" Ucap Zalfa terengah-engah kemudian membuka kedua netranya.


Masih tercetak jelas mimpi yang membuat Zalfa seketika itu langsung sadarkan diri dan membuka netranya kembali.


Sebuah mimpi yang terasa berbeda untuk Zalfa...


Dalam mimpi itu,


Zalfa berada pada sebuah tempat yang belum pernah ia pijak tempat tersebut sebelumnya. Tapi tempat itu begitu luas dan terdapat sebuah pintu yang masih tertutup rapat yang membuat Zalfa tidak bisa masuk kedalamnya.


Belum sampai Zalfa didekat pintu itu, seseorang menghentikan langkahnya, dan Zalfa takjub melihat seseorang yang telah menghentikan langkahnya tersebut.


"Papa? Ini Papa? Pa rindu sekali sama Papa!"


Sejenak, usai mengungkapkan perasaan rindunya itu Zalfa menatap balik pintu yang masih tertutup rapat yang tak jauh dari keberadaannya.


"Pa Zalfa ikut Papa ya Pa? Zalfa enggak mau kita berpisah lagi Pa, Zalfa enggak mau!"


Zalfa terus saja berucap seperti itu, namun sosok Papanya tersebut hanya diam dan tersenyum ke arah Zalfa. Tak selang berapa lama melepas genggaman tangannya dengan Zalfa. Dan setelah itu sosok Papanya pergi memasuki pintu yang semula tertutup rapat menjadi terbuka saat itu juga.


Zalfa berusaha mengejar dan mencegah Papanya agar tak pergi lagi darinya dengan terus teriak memanggil-manggil sosok Papanya tersebut dengan sebutan, "Papa ... Papa ... Papa!"


Seketika itu juga, Zalfa sudah sadarkan diri dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Bu Ambar, Ica dan Rere yang masih bahagia sekaligus tak menyangka, mereka cukup terkesiap dan dengan segera Ica memanggil dokter untuk memberitahu kalau Kaka Zalfanya yang sudah sadarkan diri.


Degan sigap Dokter bersama perawat datang ke ruangan Zalfa dirawat dan memeriksa dengan seksama kondisi Zalfa.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!

__ADS_1


__ADS_2