Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
The wedding of Dimas dan Zalfa?


__ADS_3

6 hari kemudian ...


Hari demi hari telah terlewati, Zoya seringkali melihat Rere membawakan bekal makanan untuk Lukman.


Hal itu pun membuatnya menemukan ide, dimana dia akan membawakan bekal untuk Dimas juga, "Ah, iya! Kamu brilliant Zoya!"


"Kita akan siapkan menunya malam ini!" Zoya yang sudah terlanjur antusias.


...........


Keesokan harinya ...


Dimas baru saja akan menyalakan motornya untuk ke stasiun dengan tak lupa membawa isi paket yang sudah Mamanya kirim kemarin.


๐“•๐“ต๐“ช๐“ผ๐“ฑ๐“ซ๐“ช๐“ฌ๐“ด ๐“ž๐“ท


"Dimas, paket undangannya sudah datang?"


"Sudah Ma. Sudah!"


"Alhamdulillah, nanti kamu kasihkan ke atasan dan semua rekan kerja kamu, ya?"


"Iya Ma, makasih."


"Maaf Dimas enggak bisa bantu banyak."


"Enggak papa Dimas sayang! Kami sudah handle acara pernikahan kamu di sini!"


"Masalah izin cuti kamu bagaimana?'' Bu Anis cukup cemas kalau Dimas tak dapat izin, " kamu dapat izinkan?"


"Alhamdulillah dapat Ma, ini semua juga enggak lepas karena do'a dari kalian semua. Dimas. dapat izin dengan cukup mudah karena selama kerja, kerja Dimas bagus."


"Syukurlah sayang!" Bu Anis lega.


"Kalau gitu, nanti, jangan lupa kamu harus pulang!"


"Titik!" Tegas Bu Anis berubah ke mode serius.


"Siap komandan!" Jawab Dimas berniat mencairkan suasana antara dirinya dan Mamanya yang tiba-tiba berubah jadi serius


....


๐“•๐“ต๐“ช๐“ผ๐“ฑ๐“ซ๐“ช๐“ฌ๐“ด ๐“ž๐“ฏ๐“ฏ


Dimas tertawa sendiri mengingat bagaimana Mamanya kemarin mengingatkan dirinya agar pulang untuk acara pernikahannya yang akan berlangsung di kediaman Mama dan Papanya.


Mesin motor sudah menyala dan Dimas pun berangkat dengan penuh semangat.


Begitu sampai Stasiun, Dimas langsung bertemu dengan Rere dan Lukman yang baru saja selesai menikmati sarapan bersama di salah satu tempat makan di sekitar stasiun tersebut.


Melihat dua insan itu entah mengapa Dimas selalu ingin menggoda mereka untuk segera menikah saja sepertinya.

__ADS_1


"Jangan keseringan makan berdua melulu, lebih baik segeralah menuju pelaminan!" Dimas dengan menyodorkan undangan pernikahannya di meja tepat di depan Rere dan Lukman.


Lukman mengamati baik-baik nama pasangan mempelai yang tertulis di undangan itu,


"The wedding of Dimas dan Zalfa?"


"Di tempat kediaman Bapak Wijaya dikota M?" Rere melakukan hal yang sama dengan yang Lukman lakukan. Berbicara dengan nada seolah-olah tak percaya dengan acara pernikahan Dimas dan Zalfa.


"Dimas kamu nikah lagi? Bukannya udah nikah ya?" Rere apa adanya tanpa dibuat-buat.


"Iya memang udah nikah, tapi yang ini namanya ngunduh mantu Re, acaranya kali ini di rumah Mama dan Papa saya."


"Ohhh ... " Rere yang sudah paham.


"Kok enggak bilang sih? Kok baru bilang hari ini sih?" Rere.


"Kejutan!"


"Ini disengaja. Biar kalian menyaksikan, terus kepingin, dan enggak tahan!" Dimas semakin gencar menggoda keduanya.


Lukman dan Rere hanya diam dan saling pandang. Sedangkan Dimas memilih untuk pergi dari dua insan yang pasti sedang memikirkan apa yang Dimas katakan.


"Ya udah, kalian lanjutin lagi! Saya duluan!"


.........


Dimas berjalan memasuki area stasiun. Di sana tak sengaja ia bertemu dengan Zoya.


Dimas cukup terpaksa menghentikan langkahnya.


"Kamu Zoya?"


Melihat pemandangan dimana Dimas berhenti dan menyebut namanya, Zoya jadi berbunga bahagia dalam hatinya. Dengan sudah tidak sabar lagi, Zoya memberikan sesuatu pada Dimas, "Pak Dimas ini buat Pak Dimas!" Menyerahkan bekal makanan untuk Dimas sarapan meniru apa yang Rere lakukan pada Lukman.


Dimas tak bisa menerimanya karena untuknya ia hanya menerima jika bekal makanan itu dari Zalfa istrinya.


Secara baik-baik Dimas menolak apa yang Zoya bawa untuknya, "Makasih Zoya, tetapi saya hanya menerima bekal jika itu dari istri saya." Tegas Dimas pada Zoya.


"Dan ini bisa kamu makan sendiri saja" Lanjut Dimas kemudian.


"Kelamaan donk Pak nunggu punya istrinya?" Zoya tanpa sadar dengan ucapannya.


Mendengar apa yang Zoya katakan, Dimas langsung teringat sesuatu untuk ia berikan pada Zoya.


"Oh iya, bentar-bentar ... "


Dimas mengambil kan undangan untuk Zoya dan memberikannya.


"Ini supaya kamu enggak salah paham sama saya!" Menyodorkan undangan ke tangan Zoya, "Saya harap kamu juga bisa datang!"


"Sekali lagi terimakasih atas bekalnya tapi maaf saya tidak bisa menerimanya."

__ADS_1


Dimas memperjelas kembali permintaan maafnya,


"Saya duluan ya, Zoya!"


Zoya belum memperhatikan secara gamblang nama mempelai yang tercetak dalam undangan tersebut.


Namun wajah berbinar bercampur deg-degan saat melihat inisial nama yang tertera di undangan yang Dimas berikan padanya.


"D & Z?"


"Apa diam-diam Pak Dimas ingin segera menikah dengan aku sampai udah kasih contoh undangan pakek inisial nama dia sama namaku lagi?" Zoya yang masih belum tau akan sebenarnya nama yang tercetak dalam undangan tersebut, karena Zoya hanya melihat halaman undangannya saja belum isi pentingnya.


Dengan seksama Zoya membuka, memperhatikan dan membaca beberapa kali nama mempelai yang tercetak begitu jelas dalam isi undangan tersebut.


"The wedding Dimas dan Zalfa?"


"Apa ini maksudnya?"


"Pak Dimas mau nikah?"


"Bukan mau nikah, tapi udah nikah malah!" Rere menyahut secara tiba-tiba.


"Maksud Bu Rere?" Zoya belum seratus persen percaya dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Dimas udah nikah beberapa minggu yang lalu. Jadi, Dimas itu pengantin baru, Zoya."


"Dan besok itu adalah acara pesta pernikahan alias ngunduh mantu di rumah Mama dan Papanya Dimas lebih tepatnya."


Zoya yang paham akan tradisi dimana setelah pasangan menikah di rumah mempelai wanita maka selanjutnya akan dilanjutkan dengan acara pernikahan di rumah mempelai pria, membuat Zoya seketika itu lemas dan layu tak berdaya.


.........


"Zoya duduklah dulu dan minum air ini zoya!" Rere jadi cemas.


"Bu Re, apa yang aku lakukan? Aku tertarik dengan lelaki yang ternyata sudah menjadi milik orang lain?" Zoya berbicara dengan menatap ke arah depan bukan ke arah Rere, "tidak, tidak, Bu Re tidak! Aku tidak bermaksud demikian!" Zoya yang ingin Rere percaya dan tau bahwa dia tidak ada niat sama sekali untuk merenggut Dimas dari istrinya.


"Iya Zoya saya paham itu."


Rere duduk mendamaikan Zoya, merangkulnya dan berkata kepadanya, "Yang berlalu biarlah berlalu. Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi orang baik adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dan mau memperbaikinya."


Nasehat dari Rere benar-benar membuka hati dan fikirannya kembali saat itu, "Makasih Bu Re, saya tau saya salah karena sudah tertarik sama Pak Dimas, tapi saya akan memperbaiki kesalahan saya itu bukan malah sebaliknya."


"Bagus!"


Mereka pun berpelukan.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ...!


...Disini author mohon maaf jika terdapat kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam episode kali ini! Karena saya (author) juga cuma manusia biasa yang masih banyak salah dan khilafnya, dan cerita ini author buat dari sudut pandang author tanpa adanya niat menyinggung salah satu pihak atau pihak manapun sekalipun๐Ÿ™....


...Atas perhatiannya author sampaikan banyak terimakasih! ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™...

__ADS_1


__ADS_2