
Kalau Dimas dan Zalfa sedang fokus pada percakapan ditelfon mereka, lain halnya dengan Bu Anis, karena malam itu juga Bu Anis sedang membuat sedikit kehebohan di kediamannya sendiri.
"Dimas dan Bu Zalfa begitu serasi dan cocok!" dengan begitu bangga dan antusias Bu Anis mensejajarkan foto Dimas dan Zalfa yang masing-masing berukuran 4x6 (tidak dengan background biru).
Pak Wijaya hanya diam begitu juga Uni yang masih berada di satu ruang dengan Pak Wijaya dan Bu Anis. Melihat tingkah Mamanya, Uni sempat tak habis fikir kalau Mamanya akan sampai sebegitunya sangking senangnya dengan wanita yang akan ia pilih untuk Dimas Kakaknya.
"Ma dari mana coba, Mama dapat fotonya Bu Zalfa?" tanya Uni mengingatkan kembali bagaimana Mamanya bisa memperoleh foto Zalfa yang dipegangnya saat ini.
Bu Anis tersenyum begitu manis menatap ke Uni adik Dimas. Bahkan ia juga menghampiri Uni, dan berkata, "Terimakasih Uni sayang, karena kamu sudah mau memenuhi keinginan Mama yang meminta kamu untuk mengafdruk foto Dimas dan Bu Zalfa."
Karena begitu antusias, Bu Anisa jadi punya ide sendiri untuk membuktikan kecocokan dan keserasian Dimas dan Zalfa, maka dari itu begitu ketiga orang dewasa tersebut saling mengangguk setuju, Bu Anis meminta tolong kepada Uni yang tidak sibuk untuk mengafdruk foto Dimas dan Zalfa. Awalnya Bu Anis juga bingung darimana dapat foto Zalfa, tapi Pak Wijaya suami yang sayang istri tersebut akhirnya memberikan foto formal Zalfa pada Uni untuk di afdruk. Karena foto Zalfa formal maka Bu Anis juga memberikan foto Dimas yang formal dengan menggunakan pakaian dinas kebanggaannya.
Sekarang Bu Anis meletakkan kedua foto resmi Dimas dan Zalfa diatas meja kayunya dan langsung memotret foto tersebut. Saat asik memotret panggilan video call tiba-tiba masuk, tadinya Bu Anis merasa begitu terganggu karena panggilan tersebut tetapi begitu tau siapa yang melakukan panggilan tersebut, Bu Anis dengan semangat mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Bu Anis."
"Wa'alaikumussalan Bu Ayunda."
Keduanya saling menyapa dan memberi salam. Lantas Ayunda dengan begitu menggebu-gebu mengatakan kepada Bu Anis perihal tujuannya melakukan video call dengan Bu Anis.
"Bu Anis ada yang ingin saya beritahukan pada Bu Anis."
Mendengar suara Ayunda yang begitu menggebu-gebu semakin membuat Bu Anis tak sabar dilanda rasa sangat ingin tau.
"Apa Bu Ayunda? Apa?"
__ADS_1
Dengan penuh kebahagiaan Ayunda pun bercerita bagaimana Dimas yang begitu gantleman menyatakan cintanya pada Zalfa, bahkan Dimas juga memberikan cincin yang begitu cantik untuk perempuan secantik Zalfa.
"Tak cuma itu Bu Anis," Ayunda yang belum selesai dengan cerita salutnya pada Dimas,"Dimas juga memberikan kartu nama dan no HP nya agar saat Zalfa sudah memikirkan lebih dalam lagi bagaimana perasaannya untuk Dimas, Zalfa akan menghubungi Dimas dan siap menerima apapun jawaban dari Zalfa."
Bu Anis serasa salut pada putranya itu, betapa Dimas sangat dewasa melebihi perkiraannya.
Belum selesai disitu Ayunda memberi informasi terbaru kepada Bu Anis.
"Bu besok selesai studi banding Bu Zalfa rencananya mau memberikan jawabannya kepada Pak Dimas."
"Benarkah?"
"Iya Bu, tadi Bu Zalfa sendiri yang bercerita demikian pada saya. Mereka akan ketemuan di stasiun kota S."
"Baiklah, terimakasih atas informasinya Bu Ayunda, terimakasih banyak."
Bu Anis kembali menyusun rencana. Malam itu ia mencari informasi tentang no telfon Mamanya Zalfa. Dan tak butuh waktu lama ia mendapatkannya dari salah seorang temannya yang kebetulan dekat dengan Ibu Ambar.
Setelah mendapat no telfon Bu Ambar, dengan segera Bu Anis menghubungi Bu Ambar. Tak lupa Bu Anis memperkenalkan lebih dirinya dulu . Sementara itu, Bu Ambar begitu mendengar Bu Anis yang memperkenalkan dirinya dengan menyebut bahwa ia adalah istri dari Pak Wijaya maka Bu Ambar langsung faham siapa ia sebenarnya.
Bu Anis berbicara panjang lebar dari mulai ia memiliki dua anak. Anak yang pertama bernama Dimas Adityama Putra Wijaya dan yang kedua bernama Uni Riaswati.
Beberapa saat setelahnya Bu Anis bercerita tentang profesi dari Dimas.
Bu Ambar cukup berfikir apakah Pak kondektur kemarin lalu itu putra dari Pak Wijaya dan Bu Anis? Lantas dengan begitu Bu Ambar meminta tolong agar Bu Anis mengirimkan foto Dimas padanya. Bu Anis pun mengirimkan foto Dimas dengan semangat dan senang hati. Dan benarlah sudah dugaan Bu Ambar kalau Pak Kondektur kemarin- kemarin lalu adalah putra dari Pak Wijaya dan Bu Anis.
__ADS_1
Panggilan masuk dari Bu Anis membuyarkan lamunannya. Bu Ambar kembali mengangkat panggilan tersebut. Dalam panggilan itu Bu Ambar bercerita kalau putranya adalah Pak kondektur yang pernah ditemuinya beberapa pekan lalu.
"Iya Bu? Jadi Bu Ambar sudah pernah bertemu dengan putra saya sebelumnya?" Bu Anis sangat penasaran.
"Iya Bu, putra Ibu itu sangat baik dan profesional dalam bekerja." puji Bu Ambar.
"Wah terimakasih Bu atas pujiannya." kemudian tanpa jeda Bu Anis langsung bercerita tentang Dimas yang memiliki perasaan pada Zalfa putrinya.
"Bu Anis tidak sedang berkata yang tidak-tidak kan?" Bu Ambar belum sepenuhnya bisa percaya namun ia juga terharu bahagia kalau benar begitu adanya.
"Tidak Bu, tidak! Saya berkata yang sebenarnya. Namun Bu Zalfa tidak langsung memberikan jawaban untuk Dimas dan rencananya Bu Zalfa akan memberikan jawabannya besok di stasiun kota S selesai melakukan studi banding." Bu Anis dengan penuh kelembutan menjelaskan kepada Bu Ambar, "dan karena itu saya menelfon Anda Bu Ambar. Saya ingin, Anda dan saya turut serta disana menyaksikan moment mendebarkan tersebut."
"Walaupun putri saya nantinya tidak menerima cintanya putra Bu Anis?" Bu Ambar takut mengecewakan Bu Anis dan keluarganya.
Bu Anis yang mengerti kekhawatiran Bu Ambar dengan begitu bijaksana ia berkata,
"Seperti putra saya yang sudah siap dengan apapun jawaban dari putri Ibu. Saya pun demikian Bu Ambar. Apapun jawaban dari putri Ibu akan kami terima dan kami hargai itu."
Dan Bu Ambar pun setuju dengan rencana Bu Anis. Karena kebetulan besok adalah hari chek up dan cuci darahnya di RS kota S. Dan besok Bu Ambar akan check up dan cuci darah diantar oleh Ica tanpa ingin menganggu Zalfa, mereka tidak memberitahu Zalfa tentang jadwal check up dan cuci darah Bu Ambar yang diajukan.
"Tante, tante belum istirahat?" Ica was-was mengetahui Tantenya yang masih duduk di kursi ruang tamu.
"Ini juga mau istirahat." Bu Ambar alias Mamanya Zalfa dengan begitu santai.
Ica dengan sigap berdiri dibelakang Bu Ambar yang berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat sampai di kamarnya Bu Ambar mencegah kepergian Ica. Bu Ambar menceritakan kepada Ica tentang rencananya besok bersama Bu Anis.
Ica yang periang itupun sangat histeris sendiri sudah tak sabar melihat momentum langka itu. Tergolong langka karena bagi Ica Zalfa termasuk sosok yang setia.