Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Zalfa Seorang


__ADS_3

Kereta terus melaju mengantar para penumpang ke tujuannya masing-masing. Tak Dimas sangka dirinya akan bertemu dengan wanita yang setiap pagi selalu mengusiknya di kereta sore itu.


"Hai Dimas!" Sapa Sintia dengan wajah begitu sumringahnya.


Dimas mengatur baik-baik nafasnya. Mengkondisikan dan menstabilkan keadaan didepan Sintia. Karena tidak mungkin Dimas tak menghiraukan Sintia yang kini berstatus sebagai penumpang kereta yang harus mendapat pelayanan sebaik dan senyaman mungkin.


"Selamat siang Bu Sintia! Ada yang bisa saya bantu?" Dimas membalas sapaan Sintia secara formal dan profesional.


Sintia memasang ekspresi mengangguk paham akan sikap manis Dimas padanya. Sejenak ia pun mengamati sekelilingnya dan duduk dengan nyaman kembali.


"Tidak, saya tidak jadi meminta bantuan."


Mendapati jawaban Sintia tersebut, Dimas tak mau ambil pusing. Ia fokus kembali melanjutkan tugasnya.


Satu per satu kereta (gerbong kereta penumpang) telah Dimas masuki. Dimas juga sudah mengecek kondisi dan situasi para penumpang didalamnya.


Sekarang ini ia berbalik arah untuk kembali ke pintu kereta utama.


Diam-diam Sintia mengikuti langkah Dimas. Ia beralasan menuju ke toilet tapi kenyataannya tujuannya adalah Dimas.


Ia kembali menghadang Dimas di pintu penghubung antara kereta satu dengan kereta lainnya (gerbong satu dengan gerbong lainnya). Ia menyudutkan Dimas agar tak ada yang mengetahui pembicaraan mereka. Sintia pun memulai berbicara lebih dulu kepada Dimas dengan beraninya.


"Dimas, kenapa Dimas? Kenapa kamu selalu menghindar dari aku?" Sintia menanyakan sikap Dimas yang selalu menghindarinya apalagi setiap ia membawakan bekal sarapan pagi untuk Dimas.


Dimas bergidik enggan menjawab pertanyaan Sintia tersebut.


Namun Sintia tak henti-hentinya bertanya dan bertanya kepada Dimas. Membuat Dimas akhirnya menjawab pertanyaan tersebut dengan cukup terpaksa.


"Sintia, hubungan kita sudah selesai dan berakhir. Saya sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada kamu. Jadi, tolong jauhi saya!"


Dimas mengedarkan pandangannya ke tangan kanan Sintia dan mengingatkan kembali akan cincin pernikahan yang masih tersemat dijari manis Sintia. Yang menandakan kalau Sintia sudah menjadi milik orang lain.


"Lihat ini! Lihat cincin yang kamu pakai itu baik-baik! Kamu itu sudah menjadi milik orang lain Sintia! Terlepas dari nasib suami kamu sekarang. Bagaimanapun kamu masih menjadi istrinya."


"Oke, kalau begitu aku akan lepas dan buang cincin ini!" Sintia sudah melepaskan cincin tersebut dari jari manisnya. Bahkan berniat untuk membuangnya begitu saja. Namun Dimas segera mencengahnya.


"Sintia, apa yang kamu lakukan? Apa seperti ini definisi istri yang baik?" Dimas heran dengan sikap Sintia, "Tidak Sintia tidak. Kalau hari ini saja Edo yang lagi kesusahan kamu tinggalkan, aku tidak yakin, kalau kamu tidak akan melakukan hal yang sama terhadapku kalau kita sampai bersama."


"Tapi Dimas, ini semua karena aku baru sadar kalau aku tidak benar-benar mencintai Edo." Sintia meratap menelisik netra Dimas.


"Bukankah dulu kamu sendiri yang lebih memilih Edo,"Dimas menegaskan, "lantas mengapa, sekarang saat Edo tidak lagi bisa menjadi laki-laki yang berada di dekatmu, kamu malah lari dari dia dan malah mengusik kehidupan saya?"


"Aku menyesal Dimas! Aku menyesal!"


"Maaf Sintia, saya tegaskan ke kamu, bahwa baik sekarang dan sampai nanti pun perasaan dan cinta Dimas Adityama Putra Wijaya ini hanya untuk Zalfa seorang."


Berlalu pergi dari Sintia yang masih terdiam dan terpaku mendengar pengakuan yang cukup menyesakkan untuknya.

__ADS_1


"Zalfa percayalah pada saya, meskipun masa lalu saya terus mengusik saya tapi itu tidak akan bisa merubah rasa cinta saya padamu Zalfa."


"Sama sekali tidak akan bisa merubahnya!"


Rasa dan pengakuan begitu tulus diucapkannya dengan kesungguhan kala ia sendiri hanya ditemani deru suara kereta yang melintasi setiap rute yang dituju.


Entah karena gerangan apa, tiba-tiba ia sangat kepikiran akan kondisi Zalfa.


Fikiranya jadi tak nyaman seketika itu juga.


Ia pun mencoba melakukan panggilan ke Rere tapi tidak ada jawaban dari Rere. Beberapa kali Dimas mencoba dan mencoba, hingga berkali-kali sudah melakukan panggilan namun sama sekali tidak ada jawaban dari Rere.


Dimas hendak meletakkan handphonenya tapi sebuah panggilan membuat Dimas mengurungkan niatnya tersebut.


"Halo, assalamu'alaikum Bu Ambar!" Dimas menyapa lebih dulu Bu Ambar yang tiba-tiba melakukan panggilan kepadanya.


"Hallo, wa'alaikumussalam Nak Dimas!" Balas Bu Ambar semangat.


"Ini Dimas, Ibu mau menyampaikan tentang kondisi Zalfa."


Pucuk dicinta ulan pun tiba begitulah perumpamaan Dimas kala ditelfon oleh Bu Ambar yang hendak menyampaikan tentang kondisi Zalfa.


Tetapi tak lama setelah itu ...


Tut ... tut ... tut ...!


Belum sempat Bu Ambar menyampaikan maksud dirinya menelfon Dimas, namun mereka sama-sama kehilangan sinyal karena kendala masing-masing yang menghampiri mereka.


"Kenapa dengan Zalfa?" Tanya Dimas dengan nada lesunya saat mengetahui panggilannya sudah terputus.


Dimas cemas dan kembali hendak melakukan panggilan namun ternyata tidak ada sinyal sama sekali ditempat yang dilintasi Dimas saat itu.


"Kenapa? Kenapa tidak ada sinyal?" Dimas berdecak kesal dan diliputi keresahan,


"Bagaimana ini?"


Terpaan angin yang melintas diwajahnya seolah-olah membawanya terbang kembali bersama Zalfa melintas sebuah ruang dan waktu.


"Zalfa?" ucap Dimas menatap Zalfa yang duduk didepannya.


Sekali lagi dan seperti biasanya Zalfa hanya tersenyum tenang menatap Dimas. Dan sepersekian detik setelahnya Zalfa menghilang dari hadapannya.


Dimas kembali sadar bahwa itu hanya ilusi saja.


Dengan menatap langit ditambah pemandangan yang sejuk yang menemani perjalanan, untaian do'a pun terucap kembali, "Semoga kamu baik-baik saja Zalfa, aamiin. "


Di rumah sakit...

__ADS_1


Rere begitu panik saat mengetahui jari-jari Zalfa yang bergerak. Dengan cepat ia memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa kembali keadaan Zalfa.


"Dok, tolong periksa kondisi teman saya. Tadi dia menggerakkan jarinya. Mungkin dia akan segera sadar dok!" Rere penuh harap.


Dokter melakukan pemeriksaan.


Setelah melakukan pemeriksaan kembali, dokter itu langsung menatap teduh Rere seraya mengatakan perihal kondisi Zalfa,


"Pada beberapa pasien yang mengalami koma, kemudian pasien tersebut dapat menggerakkan jari-jarinya, itu sebagai refleks. Dan hal tersebut dapat menjadi faktor penting untuk kesembuhan total pada pasien."


"Jadi, untuk saat ini Zalfa belum bisa langsung sadarkan diri dok?"


"Kita lihat saja perkembangan kondisi Bu Zalfa." tangan dokter itu memegang lengan Rere sebagai bentuk kepeduliannya yang mengerti apa yang begitu Rere harapkan," tetapi ini sudah menjadi pertanda baik akan kesembuhan pasien."


"Baiklah dok, terimakasih."


"Sama-sama."


Dokter dan perawat keluar bersama dari ruangan Zalfa.


Rere kembali berjaga sesekali memeriksa handphonenya. Saat mengaktifkan jaringan internet pada handphonenya ia begitu terkejut karena mendapat berkali-kali panggilan masuk tak terjawab dari Dimas.


Sesegera mungkin ia mencoba melakukan panggilan ke nomor Dimas, namun sayangnya kali ini Dimas tidak menjawab panggilannya tersebut.


Dimas tidak menjawab telfonnya, ia berganti menelfon Lukman dan untungnya Lukman juga sedang memegang handphonenya, jadi panggilan Rere pun diterima oleh Lukman.


"Pasti kamu udah kangen kan Re sama aku? Makanya telfon aku." Lukman mengawali pembicaraan dengan begitu percaya diri.


Di ruangan Zalfa tersebut Rere mondar mandir sambil menggerakkan-gerakkan salah satu tangannya sebagai bentuk reaksinya mendengar Lukman yang begitu percaya diri.


"Lukman kamu tuh pede banget sih?" Rere berbicara dengan menggerakkan tangan dengan sesekali tertawa pula.


"Jadi, dugaanku salah ya Re?" Lukman dengan nada purau karena cukup kecewa.


Rere berdecak bingung sendiri. Kalau ia jawab salah padahal sebenarnya hatinya memang merindukan Lukman yang biasanya menemaninya menjaga Zalfa dipagi sampai sore hari. Tapi kalau ia jawab tidak, ia masih belum siap kalau Lukman tau akan dirinya yang sudah mulai ada perasaan untuknya.


Rere hanya diam, niat awalnya menelfon Lukman untuk menanyakan perihal ada apa dengan Dimas kenapa sampai menelfonnya berkali-kali ia urungkan.


Teringat kalau Lukman pasti belum tau menahu tentang kondisi terkini Zalfa, Rere pun akhirnya menyampaikan kondisi Zalfa yang sudah semakin membaik bahkan sudah bisa menggerakkan jari-jarinya.


...


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


Kurang dan lebihnya saya mohon maaf🙏🤗.


...Dan apabila ada kesalahan dalam penentuan keadaan Zalfa yang mungkin tidak sesuai atau keliru menurut dunia medis saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan sekali lagi cerita ini hanya fiktif belaka tanpa ada maksud merugikan pihak manapun. 🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2