
Mobil yang membawa Zalfa perlahan meninggalkan stasiun.
Dalam mobil itu Zalfa masih cukup termenung apalagi saat mobil yang tiba-tiba berhenti karena ada kereta melintas.
Melihat kereta yang melintas tepat dihadapannya penglihatannya terus menyoroti dengan tajamnya.
Mulutnya seolah ingin teriak menghentikan kereta dan memanggil kembali nama Dimas saat itu juga.
Namun itu semua hanya bayangan yang tersirat begitu saja dalam alam bawah sadarnya. Dari sini bukan maksud Zalfa untuk mempermasalahkan jarak yang memisahkannya dengan Dimas. Hanya saja sebagai pengantin baru dan masih dilanda api kasmaran membuatnya berat berjauhan dengan Dimas untuk pertama kalinya setelah menikah. Tetap bagi Zalfa seberapapun jarak yang memisahkan mereka takkan pernah merubah besarnya cintanya untuk Dimas suaminya.
Kenyataan dimana kereta itu telah selesai melintas pun membuat Zalfa kembali menutup mulutnya dengan rapat dan terucap dalam hatinya,
"Aku akan selalu mencintaimu apapun dan bagaimana itu. Sejauh apapun jarak yang memisahkan kita, ketahuilah itu semua takkan mampu mengubah rasa cintaku untukmu suamiku."
"Terimakasih karena telah mencintaiku lebih dulu dan membuat aku pun mencintaimu dengan segala ketulusanmu." Lanjut Zalfa dalam hatinya terdalam kemudian menyatakan ungkapan demi ungkapan tersebut ke dalam pesan suara dengan tujuan Dimaslah penerima pesan suara itu.
Beberapa orang di mobil itu tak terlalu mendengar apa yang Zalfa ucapkan karena mereka asik dengan kesibukan masing-masing. Zalfa pun semakin lega dan menikmati suasana perjalanan menuju rumah masa kecilnya.
Suasana malam dilengkapi gemerlap hiasan lampu yang menyorot jalanan dimalam hari mengingatkan Zalfa akan moment manisnya dengan Dimas beberapa hari yang lalu.
Momen hujan deras cokelat hangat pun tak terlupa begitu saja dalam ingatan dan hatinya. Ya, bagaimana Zalfa lupa, moment itu adalah moment dimana dia dan Dimas menjalankan kewajiban masing-masing sebagai suami dan istri untuk ibadah pernikahan mereka.
Perlahan Zalfa mengusap perutnya yang masih rata. Pandangannya menatap arah bulan dan bintang yang sama-sama bersinar malam itu. Hatinya turut berharap akan kehadiran malaikat kecil yang melengkapi kebahagiaan pernikahan mereka walaupun pernikahan mereka masih terbilang cukup baru dan muda.
Mobil yang membawa Zalfa terus melaju menembus jalanan malam kota M.
Ditempat lain, tak tertinggal dengan kereta yang membawa Dimas pun terus menembus rute perjalanan dengan cepatnya.
__ADS_1
Berat menerima keadaan saat ini, juga dirasakan Dimas. Perasaannya tak dapat menepis akan hal itu. Tanggungjawab yang tidak bisa ia pilih salah satu. Kedua tanggungjawab itu sama pentingnya. Tanggungjawab pekerjaan dan tanggungjawab sebagai suami. Dan sekarang inilah yang bisa Dimas lakukan, tetapi meskipun begitu dalam hatinya telah terpatri nama Zalfa seorang dan tak ada yang lain.
Dimas memperhatikan baik-baik cincin yang melingkar dijari manis tangan kanannya. Cincin yang kini menjadi penanda akan ikatan cinta suci antara dirinya dan Zalfa.
Perlahan Dimas mengangkat tangannya seraya agak mengepal dengan masih mengamati cincin itu sepenuh hati.
Seberkas kenangan di masa lalu muncul dalam ingatannya, dimana karena sebuah cincin pula ia mengenal dan ingin tau lebih dalam tentang Zalfa. Dan sampailah dimana ia melabuhkan hatinya untuk Zalfa. Mencintai Zalfa dengan terus terang dan menyatakan cinta dengan memberikan sebuah cincin pula, atau lebih tepatnya cincin pengganti sebagai gerbang ke masa depan yang lebih baik.
Hembusan angin, udara dan dinginnya malam dari dalam kereta yang membawa Dimas, membuat Dimas terkenang akan peristiwa yang cukup menyedihkan dan berakhir membahagiakan dengan begitu apik dihari ini. Peristiwa suka duka yang mewarnai perjalanan cintanya dengan Zalfa lebih tepatnya.
"Pak Dimas!" Sapa salah seorang kru kereta yang melihat Dimas mengamati cincin pernikahan yang melingkar dijari Dimas.
"Kamu Satya?" Dimas menyadari kedatangan Satya.
"Kenapa Pak?" Satya yang sebenarnya dapat mengerti bagaimana perasaan hati Dimas saat ini.
"Bukan, bukan apa-apa!" Dimas tak memperlihatkan keadaan hatinya.
"Dan, tetaplah senantiasa bersyukur Pak! Sebab setiap orang bisa jatuh cinta tapi tidak semua orang bisa hidup bersama dalam sebuah pernikahan dengan orang yang dicintainya."
Satya berangsur pergi dari hadapan Dimas dengan wajah yang sulit untuk Dimas artikan.
Dimas membenarkan apa yang diucapkan Satya. Dalam hati ia bersyukur dan bersyukur atas takdir indah untuk akhir perjalanan cintanya. Kini, ia telah menemukan pendamping yang baik dan tepat dalam hidupnya. Dan luar biasanya Allah menjatuh cintakan hatinya pada wanita yang ternyata adalah takdir hidupnya. Meskipun sebelumnya ia pernah dikhianati oleh Sintia tapi Allah memberikan hal yang luar biasa baiknya dibandingkan dengan rencananya.
...----------------...
~ Kediaman Zalfa di kota M ~
__ADS_1
Zalfa telah sampai di kediamannya.
Dengan penuh kasih Bu Anis sang mertua memberi perhatian yang lebih pada Zalfa.
Bu Anis berpamitan dengan Bu Ambar, Ica dan Zalfa menantunya. Begitu berpamitan dengan Zalfa, Bu Anis memeluk hangat Zalfa dan memperlakukan Zalfa dengan begitu baik. Diperlakukan begitu baik oleh Ibu mertuanya membuat Zalfa bagai diperlakukan oleh Dimas saat itu.
Bu Anis menangkup wajah Zalfa kemudian mengecup kening menantunya itu dengan tulus dan penuh kasih,"Jaga diri baik-baik ya sayang!"
Binaran mata Bu Anis menyiratkan memberi semangat dan curahan kasih sayang pada menantunya itu.
"Iya Ma, pasti! Mama juga ya Ma!"
Dalam hitungan menit Bu Anis pun pergi.
Bu Anis pergi tetapi putra Bu Anis yang sekarang sudah menjadi suami Zalfa itu berkali-kali mengganggu Zalfa dengan usahanya menelfon Zalfa.
Begitu Satya pergi dari hadapan Dimas, Dimas pun membuka handphonenya dengan niat mencoba menghubungi Zalfa. Begitu mendapat notifikasi pesan suara dari Zalfa, Dimas dengan begitu bahagia mendengar ungkapan demi ungkapan hati istrinya itu. Tak mau menunggu lebih lama, Dimas pun memilih untuk menghubungi Zalfa begitu selesai mendengar pesan suara tersebut.
Dan usahanya pun berhasil, Zalfa langsung mengangkat panggilan darinya.
Dalam perbincangannya di telfon mereka berpesan untuk satu sama lain. Pesan yang cukup manis untuk didengar menjadi penutup perbincangan mereka dimalam itu.
"I love you so much!"
"I love you more!"
Panggilan pun berakhir....
__ADS_1
Berakhir dengan senyum kepuasan, kebahagiaan, kerelaan, kecintaan satu sama lain.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!