Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Dimana Pak Dimas?


__ADS_3

Begitu mengetahui pasien atas nama Zalfa yang telah sadar dari komanya selama kurang lebih satu bulan lamanya, maka dengan begitu seksama pula dokter memeriksa keadaan Zalfa.


Keadaan Zalfa dimana Zalfa yang masih diam dengan kondisi nafasnya yang cukup terengah-engah karena masih terbawa mimpinya. Dan untuk sesaat pula, sebuah peristiwa memasuki hati dan fikirannya. Sebuah peristiwa dimana ia menerima cinta Dimas di stasiun selesai ia melaksanakan study banding di salah satu SDN dikota S bersama Ayunda saat itu. Tanpa terduga ternyata moment penerimaan cinta tersebut juga disaksikan oleh orang yang ia dan Dimas sayangi.


Selain moment penerimaan cinta tersebut, masih teringat jelas dalam memori Zalfa akan peristiwa yang mengenainya. Peristiwa dimana disaat itu ia dan Dimas berpelukan karena larut dalam keharuan dan kebahagiaan satu sama lain, namun dengan begitu tiba-tiba satu peluru berhasil mengenai dirinya. Membuat ia meringis menahan sakit kala itu, tetapi setidaknya peluru tersebut tidak mengenai Dimas. Karena itu ia tetap merasa lega meskipun sakit ditubuhnya tak terelakkan saat itu.


Setelah teringat akan itu semua, Zalfa melihat kepada tiga wanita yang berdiri dengan wajah tegang dan bahagia menjadi satu disampingnya.


Zalfa menatap baik-baik wanita yang sudah tidak lagi muda namun juga tidak terlalu tua dan langsung memanggilnya, "Mama!" Panggil Zalfa kepada Bu Ambar Mamanya.


Kemudian beralih memanggil adik sepupu kesayangannya, "Ica!"


Memanggil satu persatu anggota keluarganya tersebut dengan penuh rasa syukur yang tiada terkira.


Rasa syukur dirasakan Bu Ambar dan Ica saat mengetahui Zalfa sudah kembali siuman dengan kondisi baik-baik saja. Hal yang dikhawatirkan mereka, kalau Zalfa akan tidak mengenali keluarganya lagi alhamdulillah tidak terjadi.


"Alhamdulillah, Bu Zalfa masih ingat semuanya!" Ucap Rere secara spontan ikut bahagia dan bersyukur.


Dokter membaringkan Zalfa kembali. Hendak memeriksa secara seksama dan menyeluruh kesehatan tubuh Zalfa.


"Alhamdulillah Kesehatannya stabil dan baik-baik saja. Hari ini kalau pasien tidak mengalami hal-hal yang mengkhawatirkan maka besok siang sudah diperbolehkan pulang."


"Zalfa sayang!" Bu Ambar langsung mendekat dan memeluk Zalfa yang sudah berganti posisi setelah diperiksa dokter.


Zalfa dan Bu Ambar pun saling memeluk dan melepas rindu satu sama lain.


"Mama bersyukur sekali kamu sadar dan baik-baik saja." Mengusap-usap punggung Zalfa.


"Iya Ma, alhamdulillah, Allah Maha Baik." Zalfa membalas ucapan Mamanya. Setelah dirasa cukup mereka pun melepas pelukan mereka.


Bergantilah Ica yang memeluk Zalfa dengan cukup tidak bisa sabar.


"Kak, Ica senang sekali Allah mengabulkan do'a Ica, Tante, do'a Pak Dimas, dan do'a semua orang yang sayang Kakak."


"Ica juga seneng banget Kak Zalfa sadar dengan kondisi baik-baik saja dan dan tidak lupa dengan Ica." Sembari menangis haru. Zalfa pun memeluk Ica dengan erat. Mereka saling melepas rindu dan rasa syukurnya satu sama lain.


Setelah puas berpelukan dengan Ica.


Zalfa melihat kepada Rere. Rere merupakan wanita yang masih asing untuk dirinya karena mereka yang belum saling mengenal.


Ica pun memperkenalkan Rere kepada Zalfa yang tentu belum mengenal Rere. Meskipun selama Zalfa koma Rerelah yang dengan senang hati dan suka rela sudah menjaganya.


"Kak Zalfa, ini adalah Bu Rere. Bu Rere ini teman satu profesinya Pak Dimas. Selain itu, Bu Rere ini baik sekali karena sudah menjaga Kakak selama Pak Dimas bertugas."


Zalfa nampak belum paham sepenuhnya, Bu Ambar kembali memberi penjelajah.


"Iya Zalfa, selama kamu koma di rumah sakit ini Dimas dan teman-temannya yang berhati baik inilah yang sudah menjaga dan merawat kamu. Mereka bergantian menjaga kamu karena mereka mendapat shift tugas yang berbeda."


Jawaban dari Mamanya menyadarkan Zalfa tentang kesehatan Mamanya, "Oh iya, bagaimana kondisi Mama selama ini?" Zalfa memegang kedua tangan Mamanya dan dengan cemas mengamati anggota tubuh Mamanya.


"Alhamdulillah Mama baik-baik saja, sayang. Ica yang merawat dan menjaga Mama selama ini. Dan Bu Rere inilah yang juga turut berperan membuat Mama tenang. Karena Bu Rere, Pak Dimas dan Pak Lukman bersedia menjaga dan merawat kamu di sini."


"Terimakasih banyak Bu Rere." Tutur Zalfa dalam binaran matanya.


"Sama-sama Bu Zalfa." Rere mendekati Zalfa dan memeluknya, dengan senang hati pula Zalfa membalas pelukan persaudaraan dari Rere.


"Lalu, Dimana Pak Dimas?"


Zalfa risau tidak melihat keberadaan Dimas saat ia sudah sadarkan diri.


"Dimas masih bertugas. Nanti siang saat jam istirahat aku akan memberitahukan dia kalau kamu mencarinya," Ucap Rere membuat Zalfa agar tenang, "Dimas pasti sangat senang begitu mengetahui kamu sadar." Imbuh Rere.


Zalfa pun dibuat tertunduk tersipu malu dan bahagia.


Dari ambang pintu seseorang menyalang langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan Zalfa dirawat.

__ADS_1


Untuk sekejap ia benar-benar tak percaya dengan pemandangan didepannya saat ini.


"Bu Zalfa sudah sadar?" Rasa tak percaya dan senang tiada terkira menjadi satu dalam hatinya saat tidak akan mengira kalau Zalfa sudah sadarkan diri.


"Lukman?" Rere terkaget dengan keberadaan Lukman yang masih belum berada di stasiun.


"Kamu masih di sini? Berarti Dimas masih di stasiun menunggu kamu?" Rere menerka-nerka karena jam tugas mereka sama. Karena kalau Lukman belum berangkat maka Dimas juga belum berangkat untuk tugas.


"Iyaa ..." Lukman masih begitu tak percaya sekaligus senang hingga ia menatap wajah Zalfa yang sudah sadarkan diri tanpa berkedip.


"Lukman?" Tanya Zalfa yang belum mengenal siapa itu Lukman.


"Lukman adalah teman seprofesi aku dan Dimas." Rere menjawab kebingungan Zalfa.


Zalfa pun manggut-manggut mengerti. Dengan sigap dan cepat Zalfa bangkit dari ranjang melepas infusnya dan bersikeras untuk ikut Lukman ke stasiun karena ia ingin bertemu Dimas saat itu juga.


"Zalfa, kamu harus istirahat dulu yang cukup sayang!" Bu Ambar memberi arahan.


"Ma, Zalfa baik-baik saja. Please biarkan Zalfa pergi menemui Pak Dimas. Zalfa rasa, ini tidak sebanding dengan cinta dan rasa sayangnya pada Zalfa selama ini, Ma." Memohon dan langsung pergi begitu saja.


Dengan cepat Lukman dan Rere menyusul kepergian Zalfa. Tak tertinggal Bu Ambar dan Ica dibelakang mereka berdua mengikuti Zalfa yang keluar dari rumah sakit dan mencari taksi untuk ke stasiun dimana ia bisa bertemu dengan Dimas.


.........


Sementara itu,


~ Di Stasiun Terbesar di Kota S~


Disinilah Dimas berada.


Di stasiun kereta yang masih dalam suasana sepi dan hanya ada beberapa penumpang saja yang hilir mudik di stasiun pagi itu.


Suasana stasiun yang masih teramat pagi saat itu, membuat sesuatu menyeruak masuk begitu saja di hati Dimas. Sesuatu yang cukup lama ia tahan namun begitu lama juga ingin ia obati. Sesuatu yang menjadi pertanda untuk setiap insan yang merasakan cinta dan sesuatu itu adalah rindu.


Rindu, Dimas memang begitu merindukan Zalfa dengan senyum manisnya Zalfa, dengan sifat penuh kasihnya Zalfa kepada Mamanya. Belum sempat ia merasakan dan mendapatkan cinta dan kasih sayang yang lebih dari Zalfa namun semuanya berubah begitu saja saat peristiwa penembakan itu diterjadi begitu saja.


Seseorang yang cukup akrab dengan Dimas. Seseorang yang pernah memergokinya Dimas berbicara dengan sebuah cincin dan seseorang itu adalah Satya. Satya yang merupakan salah satu kru kereta yang bertugas dengan Dimas.(Lihat episode 3 dan 4๐Ÿ™).


Dan lagi-lagi Satya telah berhasil membuyarkan lamunannya.


"Satya?" Dimas cukup kaget dengan keberadaan Satya yang tiba-tiba.


"Kenapa sepertinya sedih sekali Pak Dimas?" Tanya Satya mengetahui bagaimana raut wajah Pak Kondektur tampan itu meskipun sedang berusaha untuk menutupi sesuatu yang membuatnya sedih.


"Bukan apa-apa Satya, hanya masalah kecil saja." Jawab Dimas dengan mudah dan santainya.


Namun, Satya yang pengertian tersebut tak langsung percaya begitu saja. Alhasil Satya malah mempersilahkan Dimas untuk menceritakan masalah padanya, "Pak Dimas, kalau memang ada masalah cerita saja! Saya siap mendengarkannya Pak Dimas!"


Dimas hanya menanggapi dengan senyum tipis diwajah tampannya. Sekilas ia terfokus pada sesuatu yang dibawa oleh Satya. Sebuah alat musik yang akan mengeluarkan bunyi yang khas saat dipetik apalagi alat musik tesebut begitu klasik.


"Kebetulan sekali Pak Dimas, Pak Dimas lihat gitar saya ini. Pak Dimas tau kenapa saya bawa gitar ini?"


Dimas menggeleng cepat dan bergidik penasaran akan alasan Satya tersebut.


"Karena saya ingin menyuruh adik saya untuk mengambilnya. Kebetulan dia ada rencana naik kereta ke stasiun ini."


Dimas mengangguk faham dan diam tak menanggapi lagi. Untuk sesaat keheningan pun terjadi.


"Pak Dimas, titip gitar saya dulu ya Pak Dimas. Saya mau ke toilet dulu."


"Kalau Pak Dimas mau coba gitar klasik ini dengan senang hati Pak Dimas bisa mencobanya!"


"Bernyanyilah Pak Dimas agar suasana hati Pak Dimas kembali membaik!"


Beberapa menit sudah berlalu hingga Satya pun kembali ke tempat ia bertemu Dimas.

__ADS_1


"Bagaimana? Pak Dimas sudah mencobanya?"


Dimas menggelengkan kepalanya, seraya hendak bangkit dan pergi, namun langkahnya dicekal oleh pemilik gitar tersebut.


"Ayolah Pak Dimas! Mainkan gitar ini!"


Tak mau semakin memanjang Dimas menuruti kemauan Satya tersebut. Dimas mulai memainkan jari-jemarinya dan memetik senar pada gitar klasik tersebut.


Suaranya pun memenuhi setiap pendengaran yang mendengar Dimas menyanyikan sebuah lagu "Hati-hati Di Jalan" Lagu milik Tulus.


Alunan bait-bait lirik lagu tersebut Dimas nyanyikan dengan begitu mendalaminya. Seolah-olah ia merasakan isi lagu tersebut. Cerita cintanya memang tak sama persis dengan alur cerita cinta pada lagu tersebut, tapi sama-sama berasumsi akan bisa hidup bersama Dimas rasa itu adalah hal yang sama apalagi saat ternyata kenyataan mengatakan mereka belum bisa bersama untuk sekarang. Dan tidak tau dirinya harus bersabar seberapa lama lagi.


"Hati-hati di jalan ... ๐ŸŽผ"


Bait terakhir pada lirik lagu itupun dinyanyikan Dimas dengan penuh penghayatan ditambah suara nya yang merdu dari sananya.


"Suara Anda merdu sekali Pak Dimas!" Satya memuji Dimas.


"Dimas!" Lukman mengangetkan Dimas dari belakang dan bertepuk tangan memuji Dimas yang bernyanyi dengan begitu baik.


Lukman ikut duduk bersama Dimas dan Satya dengan santainya.


"Ini gitar kamu Satya?" Tanya Lukman yang sudah pasti juga mengenal Satya.


Satya pun menjawab pertanyaan dari Lukman dengan mengangguk.


"Biarkan Dimas menyanyikan satu lagu lagi ya Sat dengan gitar ini!"


Satya kembali mengangguk mengiyakan ucapan Lukman.


"Ayo Dimas satu lagu lagi Dimas!"


Menatap tak suka dengan apa yang Lukman sarankan untuknya.


"Ayolah Dimas! Biar semangat aku kerjanya!"


"Itu, Itu, aku request lagu itu ... lagu yang liriknya itu gini," Lukman berdehem untuk mengecek kualitas suaranya, "ehm ... ehm"


Kemudian menyanyikan lirik yang dia ingat pada lagu tersebut, "Tuhan, kucinta dia, ku ingin bersamanya, ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya,"


Kemudian pada lanjutan lirik selanjutnya Dimas ikut bersenandung bernyanyi bersama Lukman,


"Jangan rubah takdirku. Satukanlah hatiku dengan hatinya bersama sampai akhir." Dimas dan Lukman bersama-sama bernyanyi.


Kemudian lagi.


Dimas pun mulai menyanyikan kembali dari awal dengan gitar klasik yang dipegangnya. Ia menyanyikan lagu milik Andmesh dengan judul lagunya adalah "Jangan Rubah Takdirku" sama seperti diawal Dimas pun menyanyikan lagu tersebut dengan baik dan penghayatan yang bagus.


Hingga seseorang dengan langkah kakinya yang pelan dan lembut datang namun cukup tak mempengaruhi Dimas untuk berhenti bernyanyi saat itu juga.


Tetapi, saat seseorang itu datang dari samping tepatnya dekat dengan Dimas dan turut ikut bernyanyi, Dimas pun langsung berpaling ke suara tersebut.


Dan berjuta-juta rasa syukur dan bahagia menghampiri jiwa dan raganya saat itu juga.


Ditatapnya sosok yang duduk tepat disamping nya. Sorot mata penuh cinta dan rindu terpancar sudah pada keduanya. Hingga satu kata yang terucap dari bibir seseorang tersebut membuat Dimas terbang dan menggenangkan bulir mata di pelupuk matanya.


"Pak Dimas!" Satu kata terucap dari bibir seseorang tersebut seraya menggenggam tangan Dimas yang terasa dingin.


Tanpa bisa Dimas cegah tangannya memegang wajah Zalfa dan memastikan kalau yang disampingnya tersebut benar Zalfa wanita yang ia cinta dan rindukan selama satu bulan terakhir semenjak kejadian peristiwa yang tak ingin terulang lagi.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ...!


Mohon maaf kalau ada kesalahan, ketidaktepatan sesuatu ataupun semacamnya dalam episode kali ini. Sekali lagi, cerita ini merupakan fiktif belaka dan tidak bermaksud menyinggung ataupun merugikan pihak manapun itu.


Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih๐Ÿ™.

__ADS_1


Salam termanis+tersayang+tersemangat dari saya.๐Ÿค—


__ADS_2