
~ Stasiun Cemara Kota M ~
Kereta dengan deretan gerbong panjangnya yang saling menghubung, yang dilengkapi pula oleh bunyi deru mesin yang ada pada kendaraan lokomotif tersebut, telah menandakan bahwa keberadaan kereta tersebut memang sudah dekat dengan arah Stasiun Cemara Kota M. Disusul lah pula oleh bunyi klakson kereta yang terdengar begitu jelas dari arah yang sudah mendekati keberadaan dari Stasiun Cemara.
Tak selang berapa lama, kereta itu sampai dan berhenti tepat di Stasiun Cemara. Stasiun yang akan menghubungkan dengan sebuah desa tujuan Dimas dan Zalfa. Sebuah stasiun yang akan menghantarkan mereka ke sebuah desa yang indah nan permai. Desa yang menjadi pilihan dari keluarga Dimas untuk mereka honeymoon.
Ramainya orang turun dan menunggu jemputan ataupun ojek online yang dipesan melengkapi hiruk-pikuk akan suasana dalam Stasiun tersebut.
Dari salah satu sudut arah dua orang pria beda usia terlihat sedang celingak-celinguk mencari dua orang yang sudah begitu dinanti di salah satu kediaman di desa tempat tinggalnya. Dua orang yang dicari itu tak lain dan tak bukan ialah Dimas bersama Zalfa.
Kalau kedua orang itu masih belum mengenal perubahan pada diri Dimas, lain halnya dengan Dimas. Meskipun sudah cukup lama tak berkunjung di desa tersebut, Dimas masih ingat betul dengan kedua pria yang saat ini ia dapati sedang melihat ke sana ke mari untuk menemukan dirinya.
"Fasya, itu mereka!" Tangan kanannya menyentuh dan mengenggam dengan penuh tangan Zalfa yang masih setia merangkul bahu tangannya. Mengajak Zalfa untuk mengikuti langkahnya.
"Paklek Budi!" Dimas menyapa dua pria cukup beda usia tersebut, "Mas Tono!"
Tak langsung menyapa balik, dua pria yang dipanggil Dimas dengan sebutan Pak Lek Budi dan Mas Tono itu malah bengong dengan kedua mata mereka tak berhenti menatap Dimas.
"Pak Lek ini saya, " Dimas mengingatkan, "Dimas Adityama Putra Wijaya!"
"Oalah, ini beneran Mas Adi yang ganteng itu to!" Ucap Tono pria yang masih seumuran dengan Dimas dengan logat bahasa Jawanya yang kental.
"Wah, masyaAllah ... kok makin guanteng aja to Mas?" Tono kagum melihat perubahan Dimas yang ia kenal dengan panggilan Mas Adi.
"Iya, Mas. Sampean makin guanteng sekarang!" Pak Lek Budi, "makin gagah pula" Tambah Pak Lek Budi sambil melihat bagaimana postur tubuh Dimas yang begitu atletis meskipun masih tertutup jaz yang dikenakannya.
"Ah, bisa saja, Pak Lek Budi dan Mas Tono ini!" Dimas bergurau, "Alhamdulillah, sekarang karena sudah ada yang mengingatkan ini dan itu, jadi, sekarang makin ganteng dan gagah deh, saya. Hehehe."
"Oh Iya yaa ...!" Tono menggaruk kepalanya yang meskipun aslinya tidak gatal.
"Wong udah nikah, udah punya istri juga Mas Adi ini sekarang, Tono!" Pak Lek Budi cukup sengaja menyudutkan Tono.
Dimas dan Zalfa sesekali tersenyum melihat tingkah humoris Pak Lek Budi dan Mas Tono itu.
"Makanya Ton, sampean habis ini segera nyusul Mas Adi." Pak Lek Budi mengingatkan.
"Nyusul opo to Pak Lek?" Tono belum paham,"wong Mas Adi udah nyampek sini, gitu loh! "
"Nyusul nikah Maksudku, Mas Tono!" Pak Lek Budi memandang tajam Tono saat ini.
"Oalah, gitu to maksdunya." Tono baru paham.
"Iya Tono ...." Pak Lek Budi mengarahkan suaranya ke telinga Tono kemudian menjauhkannya lagi,"Maksudku ya gitu. Kamu fikir apa?"
Tono pun menarik diri sembari mengelus-elus telinganya dan bergumam pelan karena tidak suka dengan Pak Lek Tono yang sengaja berbicara di dekat telinganya walaupun sebentar.
__ADS_1
"Oh iya, istrinya Mas Adi. Kenalkan, saya ini Pak Lek Budi" Pak Lek Budi memperkenalkan diri serta menunjuk dirinya kemudian berganti menunjuk ke Tono,"dan ini, Tono!"
"Kami ini merupakan orang yang diutus Eyang Putri untuk menjemput Mas Adi dan istri di Stasiun Cemara ini." Lanjut Pak Lek Budi menerangkan akan kepentingannya.
Zalfa yang merasa sudah nyaman sedari awal karena melihat sikap hangat dan keramahan Pak Lek Budi dan Mas Tono, maka ia juga memperkenalkan diri tanpa rasa canggung kepada mereka.
"Salam kenal Pak Lek Budi dan Mas Tono!" Menjabat tangan mereka satu persatu dan memperkenalkan dirinya,"saya Zalfa istrinya Mas Dimas!"
Pak Lek Budi dan Mas Tono menyambut dengan senyum ramah sekali.
Pak Lek Budi juga memberitahu suatu hal pada Zalfa, "Perlu Mbak Zalfa ketahui, Mas Dimas ini kalau di desa kami sering dipanggilnya dengan nama Mas Adi." Memberi tau Zalfa nama panggilan Dimas yang tak sama di desa tersebut.
"Oh, pantesan!" Zalfa sekarang tau alasan kenapa suaminya itu disebut dengan nama Mas Adi sedari tadi.
"Sini Mbak kopernya. Biar saya dan Pak Lek yang bawa." Meraih koper Dimas dan Zalfa.
"Terimakasih, Mas Tono." Zalfa.
"Nggih sami-sami." Jawab Tono dengan bahasa Jawa krama dan senyum manis ramahnya.
"Monggo Mas Adi dan istri, naik motor ini!" Pak Lek Budi menyerahkan kunci dan menunjukkan motornya.
"Terimakasih Pak Lek Budi, maaf merepotkan!" Dimas meneruskan ucapannya.
Motor yang dikendarai Dimas bersama Zalfa perlahan telah pergi meninggalkan Stasiun Cemara, sedangkan Pak Lek Budi dan Mas Tono masih berdebat mendebatkan siapa yang akan menyetir motornya.
"Ton, kamu yang nyetir lah Ton!" Pak Lek Budi, "kamu kan yang masih muda dan masih banyak tenaganya."
Tono yang awalnya sudah naik alias mapan (posisi udah enak) di atas jok motor dengan nyaman akhirnya turun dari jok motor dan menuruti kemauan Pak Lek Budi.
"Nah, anak muda ya emang gini Ton. Gercep!" Pak Lek Budi mengeluarkan jurusnya agar Tono tak menggambek.
Tono menyalakan mesin motornya dan Pak Lek Budi pun naik.
"Gercep juga Pak Lek sampean naiknya!" Puji Tono dapat merasakan kalau Pak Lek Budi sudah naik di atas motornya.
"Apa Tono?" Pak Lek Budi belum begitu mengerti.
"Gercep Pak Lek! Gercep! " Tono mengulanginya.
"Gercep itu sebenarnya apa to, Ton?" Pak Lek Budi bertanya padahal ia sendiri juga yang mengatakannya tadi, "loh, tadi kan sampean sendiri gitu yang bilang gercep?"
"Iya, Pak Lek cuma ikutan bahasa anak jaman sekarang Ton." Merasa cukup malu.
"Oalah Pak Lek ... Pak Lek ...."
__ADS_1
Tono mengegas motornya dan berkata, "Gercep itu gerak cepat, Pak Lek Bud!"
"Oalah, gerak cepat to jadinya!"
Pak Lek Budi yang sudah mengerti.
Kini, motor yang mereka naiki juga sudah pergi meninggalkan Stasiun Cemara.
Motor motor itu pun melaju menyusuri perbukitan serta persawahan dan pemukiman yang akan membawa Dimas bersama Zalfa pada tempat tujuan yang sudah disiapkan oleh keluarga Dimas.
Desa yang begitu asri, sejuk, berpanorama indah dengan hektare an sawah yang membentang, gunung dan bukit yang menjulang tinggi, pepohonan yang tumbuh subur, air terjun yang mengalir dari salah satu tebing yang dapat dilihat dengan jarak jauh dari jalanan saat sedang melintasi jalanan menuju tempat tujuannya.
Terpaan hawa sejuk berhasil menebus kulit serta menelisik ke lubang hidung mancung milik Zalfa. Begitu berusaha menghirup dan menikmati aroma kesejukan itu, cukup reflek ia memeluk Dimas dengan begitu erat.
Jarak tubuh mereka begitu dekat dan entah kenapa rasanya Zalfa masih saja merasa cukup malu dengan itu, sementara Dimas malah menerimanya dengan kesenangan yang hakiki. Apalagi ia tau bagaimana Zalfa yang terkadang masih malu. Mata elangnya beringsut menengok raut wajah malu Zalfa dari spion motornya.
Cukup sengaja Dimas mengerem mendadak motor nya agar mereka tetap berdekatan. Dan tak disangka usaha Dimas pun berhasil. Dari kaca spion mereka saling melihat dan melempar senyuman.
Melihat itu, Zalfa malah menenggelamkan wajahnya ke punggung Dimas seraya tangannya masih berpegangan erat pada pinggang Dimas.
Merasa sesak, wajahnya mulai terangkat kembali. Dagunya ia sandarkan pada pundak Dimas. Tangan cantik yang terhias henai memberanikan diri untuk semakin naik dari pinggang ke dada sang empu yang fokus menyetir motor gede yang di kendarainya.
Mulutnya mungkin hanya diam menyambut perlakuan Zalfa namun tangan Dimas dengan sengaja melajukan motor itu dengan menambah kecepatannya.
"Hati-hati! Pelan-pelan saja!" Kata Zalfa menepuk pelan Dimas.
..........
𝓝𝓪𝓷𝓽𝓲𝓴𝓪𝓷 𝓮𝓹𝓲𝓼𝓸𝓭𝓮 𝓴𝓮𝓵𝓪𝓷𝓳𝓾𝓽𝓪𝓷𝓷𝔂𝓪....
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰....!
𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫.
Jumpa lagi ya sama aku... 😁😊👋
Jangan bosen yaa! 😚🤗
Oh, ya ... meskipun telat, aku tetap pingin mengucapkan, "Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin" 🙏🙏🥰
Semoga kita di pertemukan kembali dengan Ramadhan bersama Idul Fitri tahun depan. آمين. 😊🥰
Tetap semangat dan tersenyum ya... 🥳
𝓦𝓪𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓷𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫.
__ADS_1