Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Enggak Salah Milihin Menantu


__ADS_3

Waktu bisa saja menandakan kalau telah memasuki siang namun suasana di desa itu tak berubah alias masih saja bagai di pagi hari.


Udara yang segar dengan pepohonan rindang yang tumbuh berjejer mengikuti tanah di pengunungan dan perbukitan menghiasi kanan kiri jalanan dari desa itu.


Jauh di ujung paling utara tampak sebuah bangunan cukup megah dengan tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh di pekarangan dan pagar yang membatasi bangunan yang lebih terlihat seperti sebuah Vila.


Dan tepat di sanalah Dimas memberhentikan motornya. Perlahan Dimas turun begitupun Zalfa.


Zalfa masih asik melihat ke berbagai sudut dari Villa yang ia pijak untuk pertama kalinya dengan Dimas. Asik melihat ke berbagai penjuru dan sudut, secara tak sengaja pandangannya bertemu dengan sosok wanita yang wajahnya ada kemiripan dengan Pak Wijaya.


Wanita itu menyambut Zalfa dengan senyum dan langsung memeluk Zalfa.


Meskipun belum tau pasti siapa wanita itu, tetap Zalfa yakin kalau wanita tersebut pasti keluarga Dimas yang menepati desa yang ia datangi.


Saat melepas pelukannya, Dimas dengan segera mengulurkan tangan dan menjabat tangan wanita tersebut.


Dielusnya kepala Dimas dengan lembut dan kasih sayang yang begitu terlihat dari usapannya.


"Selamat datang keponakan Budhe yang paling ganteng!" Mencubit hidung bangir Dimas.

__ADS_1


Dimas yang sudah dewasa dan berstatus sebagai suami itupun merasa keberatan dengan yang Budhenya lakukan padanya.


"Ayolah Budhe, Dimas ini udah gede," Sejenak melihat ke Zalfa dan berucap, "udah punya istri juga sekarang!"


Wanita yang Dimas panggil Budhe itu juga pernah muda, jadi sedikit banyak mengerti makna ucapan Dimas yang sembari mengarahkan pandangnya ke Zalfa.


"Ehem ... ehem ..." Budhe. sengaja berdehem.


"Sekarang, izinkan Budhe yang memandang menantu Budhe yang cantik ini." Tangannya menyentuh mengelus rahang pipi Zalfa.


"Zalfa, kamu enggak perlu takut ataupun canggung sama Budhe. Budhe adalah Kakak dari mertua kamu, Pak Wijaya."


"Salam kenal Budhe!" Langsung mengulurkan tangan menjabat dan mencium tangannya.


Deru suara motor kembali terdengar saat Pak Lek Budi dan Mas Tono sampai pula di Vila tersebut.


"Ini kopernya, Mas Adi dan Mbak Zalfa." Pak Lek Budi menyerahkan koper.


"Sekali lagi, terimakasih Pak Lek." Dimas tidak tau lagi harus membalas kebaikan dari Pak Lek Budi yang sudah ia repotkan.

__ADS_1


"Siap Mas Adi sama-sama pokoknya," dengan nada yang cukup banyolan, "Budhe, karena tugas saya sama Tono sudah terlaksana dengan baik, saya dan Tono pamit undur diri mau balik ke rumah Eyang sebelum Eyang mencari kami kesana kemari.”


"Iya, iya." Menyetujui perkataan Pak Lek Budi yang benar adanya. Bahwa Eyang putri yaitu nenek Dimas dari jalur Papanya yang sudah berusia tak lagi muda sering sekali meminta Pak Lek Budi dan Mas Tono untuk menemaninya untuk mendengarkan setiap pembicaraannya. Dan, sekarang pasti Eyang Putri sudah tak sabar menanyakan bagaimana istri dari cucu kesayangannya yang sudah sampai di desa.


"Terimakasih banyak ya Mas Bud." Budhe merasa sangat terbantu, "kamu juga, terimakasih banyak ya Tono." Beralih ke Tono.


"Kalian pengantin baru, silakan bersih-bersih dan istirahat terlebih dahulu!"


"Kalian pasti lelah habis dari perjalanan." Budhe melanjutkan penuturannya.


"Nanti sore, ajaklah menantu cantik Budhe ini, ke kediaman Eyang dan Mbah Kung mu."


Membuka pintu Vila yang terbuat dari kayu dengan banyaknya ukiran pada pintu tersebut.


"Ayo masuk!" Ajak Budhe tak segan dengan membawa koper Dimas dan Zalfa.


"Istirahatlah!" Saat sudah sampai di kamar untuk mereka beristirahat, "kalau kalian lapar, Budhe tadi sudah siapkan beberapa makanan di meja makan untuk kalian makan. "


"Jangan lupa nanti sore kalian harus ke kediaman Eyang. Nanti, sekalian kita makan malam bersama di sana." Mengingatkan kembali.

__ADS_1


"Budhe pergi ya!" Meninggalkan Dimas dan Zalfa.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2