
Waktu telah berganti menjadi petang. Meskipun begitu, transportasi yang selalu setia membuat nyaman para penumpang dengan pelayanan yang tak kalah memuaskan dari transportasi lainnya, saat ini, transportasi itu, transportasi yang terdiri dari beberapa gerbong yang bergandengan panjang sudah dengan siap sedia mengantarkan para penumpang ke tempat tujuannya masing-masing.
Beberapa kereta sudah berjejer rapi di stasiun kota S. Kereta-kereta tersebut dicek dan dipanaskan terlebih dahulu mesinnya sebelum digunakan kembali untuk memberangkatkan para penumpangnya.
Sementara itu, di suatu tempat Dimas dan kawan-kawannya baru saja selesai melaksanakan ibadah shalat 3 rakaat, kini Dimas bersama kru yang bertugas pada ship pagi bersamanya bergegas untuk kembali ke ruang kost yang sudah disediakan untuk mereka.
Karena di tempat itu pula sudah berdatangan kondektur dan kru pegawai kereta yang akan bertugas menggantikan Dimas dan krunya sudah bertugas sedari pagi.
Dimas bangkit dan hendak bergegas pergi setelah dirasa cukup berkumpul dan berbincang dengan teman-teman seprofesinya di perkeretaapian. Namun ternyata ia harus kembali bertugas sampai larut malam seperti kemarin (saat bertemu Zalfa) menggantikan temannya yang belum bisa kembali bertugas sebagai kondektur.
Kalau Dimas boleh memilih dan boleh jujur sebenarnya ia antara mau dan tidak mau melakukannya lagi. Karena disatu sisi ia sudah cukup lelah dan disatu sisi Dimas tak mungkin menolak dan membiarkan kereta itu tanpa ada seorang kondektur di dalamnya.
Dimas mengangkat wajahnya yang terlihat lelah tapi tidak ia hiraukan. Dan kini wajah tampannya itu semakin tampan saja karena kedewasaan, kebijaksanaan, kesediaannya dan kesiapannya kapanpun itu.
"Baik Pak, saya siap menggantikan tugas Pak Lukman kembali sama seperti kemarin." ucap Dimas dengan tersenyum tulus sesekali membuat hatinya juga agar ikut tersenyum namun masih belum berhasil.
Seorang wanita teman seprofesi Dimas sebagai kondektur yang juga akan bertugas di kereta lain, diam-diam ia menatap salut seraya mengembangkan senyuman pada wajahnya tanpa sepengetahuan Dimas.
Mendapat perintah menggantikan Kondektur Lukman, Dimas kembali bersiap. Ia mengenakan jaz kebanggaannya kembali. Namun sesuatu telah terjatuh tanpa ia sadari saat ia tengah merapikan jaznya sebelum dikenakannya.
Dan wanita tadi menemukannya dan mengamati baik-baik benda kecil berbentuk lingkaran itu.
Raut wajahnya tampak kaget dan sendu saat melihat benda itu, tapi sebuah senyuman kembali mengembang pada bibir ranumnya saat mendapati nama yang tercantum pada bagian belakang benda kecil berbentuk lingkaran itu.
Mengetahui Dimas yang sudah siap untuk keluar dari ruangan itu, ia segera membututi Dimas dan hendak memberikan benda itu pada Dimas kembali.
Dengan langkah sangat cepat namun membuahkan hasil yang bagus, wanita tadi berhasil menghentikan langkah Dimas.
"Dimas, cepat banget sih jalannya?" berhenti tepat didepan Dimas dengan nafas lumayan ngos-ngosan.
"Rere?" Dimas bingung dengan yang dilakukan teman seprofesinya itu.
Tanpa basa basi Rere langsung menunjukkan benda kecil berbentuk lingkaran itu tepat di hadapan Dimas.
__ADS_1
Dimas memeriksa saku jaznya dan benar saja kalau itu adalah cincin punya Zalfa yang masih ia simpan.
Dimas mengambil cincin itu dan wajah kagetnya seketika berubah menjadi bahagia.
"Rere, dimana kamu menemukan cincin ini?"
Rere menyatukan kedua tangannya ke atas tubuhnya bagian depan/bersedekap kemudian Rere pun menjawab pertanyaan dari Dimas.
"Tadi enggak sengaja jatuh pas kamu kamu memakai jaz kamu, Dim." Rere menjelaskan.
Dimas masih menatap lekat cincin itu, membuat Rere semakin penasaran akan asal usul cincin itu.
Dimas larut dalam harapannya,
"Semoga aku bisa bertemu dengan tuanmu lagi cincin" harap Dimas dalam hatinya.
"Terimakasih banyak Re."
Dimas langsung memasukkan kembali cincin itu ke dalam sakunya. Dan berharap akan bertemu kembali dengan pemilik cincin itu.
"Tapi, lain kali benda kayak gitu dipakek aja Dim! Atau kalau enggak mau makek ya, disimpan aja di kost! Jangan dibawa!"
"Oke Re! Sekali lagi terimakasih."
Rere masih ingin tau sebenarnya cincin apa itu? Terlebih lagi saat tau ekspresi Dimas yang begitu bahagia cincin itu kembali ke tangannya padahal di belakang cincin itu tidak tertera nama Dimas tapi malah laki-laki bernama Edo. Dengan memberanikan diri Rere menanyakannya kepada Dimas.
"Tapi itu cincin apa, Dim? Tadi enggak sengaja pas lihat dibelakang cincin itu ada nama pasangan lain."
"Maaf Rere, saya buru-buru lain kali saya jelaskan ke kamu." Dimas langsung mengempalkan tangan kanannya kemudian menempelkan ke tangan Rere yang juga sudah menggepal dan siap untuk bertos dengan Dimas. Dimas yang memang buru-buru karena sudah jam keberangkatan kereta untuk berangkat.
Rere dengan wajah kecewa dan lesu melepas kepergian Dimas. Kepingintauannya cincin siapa atau cincin apakah itu sebenarnya belum terjawab.
"Ah, setidaknya itu bukan cincin Dimas dengan kekasihnya" Rere lega tau nama pasangan yang ada dibelakang cincin itu.
__ADS_1
Sama seperti Dimas Rere pun bergegas dan melangkah menuju kereta dimana ia bertugas.
Dimas melangkah dengan cukup terburu-buru tetapi tetap konsentrasi pada arah yang dituju. Perlahan ia melangkah memasuki kereta, tetapi konsentrasinya sejenak hilang melihat sosok dua wanita dari arah depannya. Dua wanita itu nampak seperti Zalfa dan Mamanya bagi Dimas. Apalagi wanita muda disamping wanita satunya lagi, ia telaten membersamai wanita yang tak lagi muda untuk naik kereta.
"Itu Zalfa dan Mamanya?" binaran kebahagiaan tercetak begitu jelas pada netra Dimas.
"Zalfa, Tante tunggu saya. Saya akan membantu kalian kembali." ucap Dimas pelan tapi tetap dengan sigap dan ingin bisa menolong tanpa harus kecolongan seperti kemarin (saat awal bertemu Zalfa).
Dimas pun mempercepat langkahnya, menyamai langkah kakinya dengan dua wanita itu.
Dimas langsung merangkul dari belakang pundak wanita yang tak lagi muda itu seraya membantu untuk naik kereta.
"Mari saya bantu!" ucap Dimas tanpa menoleh ke arah dua wanita itu.
"Terimakasih Pak Kondektur" ucap wanita berkerudung pasmina hitam yang ternyata bukanlah Zalfa.
"Astaghfirullah, ternyata bukan Zalfa dan Mamanya." ucap Dimas pelan.
"Mohon maaf, bagaimana Pak kondektur?" tanya wanita berkerudung pasmina hitam sedikit mendengar Dimas yang berbicara tapi tidak dapat ia tangkap dengan begitu jelas.
"Oh, bukan ... bukan apa-apa. Silakan masuk!" tutur Dimas dengan ramah dan sopan. Dimas juga ingat kalau ia belum membalas rasa terimakasih yaang diucapkan oleh wanita tadi, "Oh ya, sama-sama."
Kedua wanita itu tersenyum bahagia mendengar rasa terimakasih yang diucapkan oleh salah satunya dari mereka berdua dibalas dengan baik dan itu membuat membuat mereka lega dan membuat mereka merasa dihargai.
Kedua wanita beda usia yang Dimas bantu kini tersenyum bahagia, namun tak banyak yang tau kalau di salah satu ruang tepatnya di relung hati yang terdalam, ada hati Pak Kondektur tampan bernama Dimas Adityama Putra Wijaya yang rupanya sedang dilanda rindu sehingga ingin bertemu namun kenyataannya wanita itu bukanlah Zalfa Aristya Az- zahira yang dirindukannya, yang membuatnya hilang konsentrasi karena rindu ingin bertemu.
"Wanita itu bukan Zalfa melainkan salah satu penumpang yang aku sendiri juga tidak terlalu kenal,"
lirih Dimas dalam hatinya.
Dibilang Dimas kecewa? Dimas memang kecewa dan galau juga. Kerinduannya membuat ia salah mengira kalau orang lain yang gaya pakaiannya sama dengan Zalfa memanglah Zalfa.
"Ayolah Dimas! Kembali fokus! Kembali fokus!" Dimas menyemangati dirinya sendiri karena bagaimanapun ia sedang bertugas jadi tetap harus profesional dan memberikan yang terbaik.
__ADS_1
...(untuk dicerita ini Author mohon maaf kalau ada yang kurang tepat. Karena author juga cuma manusia biasa yang masih banyak salah dan khilafnya dan cerita ini Author buat dari sudut pandang author tanpa adanya niat menyinggung salah satu pihak atau pihak manapun sekalipun.π Dan selanjutnya Author akan selalu berusaha untuk mencari berbagai sumber terpercaya untuk menunjang kebaikan cerita ini dan kebaikan bersama.π)...