Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Satu Hati Satu Jiwa


__ADS_3

...NOTES : ONLY 18+...


...PERHATIAN: MOHON UNTUK SIAPKAN HATI DAN PERASAAN UNTUK EPISODE INI!😊🙏...


.......


.......


.......


.......


Di kediaman Bu Ambar, Ica yang masih di rumah karena kuliahnya kebetulan menerapkan sistem bleanded learning, malam itu ia berteriak histeris.


Suaranya menggema ke seluruh rumah itu,


"Tante, Tante, Tante!" ucapnya dengan raut wajah gembira yang disertai suara histerisnya.


"Ica!" Bu Ambar menutup telinga sambil geleng-geleng melihat tingkah Ica,"kamu ini kenapa, Ica?"


"Tante, Ica baper banget ..." Ica mendusel ke Tantenya.


"Ica jangan bercanda sama Tante, langsung pada intinya saja!" Bu Ambar tak mau Ica malah bercanda karena itu hanya akan membuatnya semakin penasaran.


"Tante, lihat ini!" Ica menunjukkan foto yang Zalfa upload di instastory nya.


"Moment yang manis sekali!" Ica mengatakannya antara Haru dan bahagia jadi satu,"Kak Dimas orang baik begitupun keluarganya."


Ica yang masih mendusel di pundak Bu Ambar, membuat Bu Ambar secara tak sengaja mengelus wajah Ica dengan netranya masih tertuju pada layar smartphone milik Ica.


"Kamu benar Ica. Dimas ganteng, baik, udah gitu cinta banget lagi sama Zalfa." Bu Ambar mengatakan itu dengan pandangannya masih melihat baik-baik foto yang Ica tunjukkan.


Dapat Bu Ambar rasa, kalau Ica mengangguk mengiyakan ucapannya meskipun tanpa bersuara. Sebuah harapan pun terlintas begitu saja dalam benaknya, "Semoga, Icanya Tante ini besok juga seberuntung Zalfanya Tante."


Tak begitu mendengar secara jelas namun Ica tetap dapat merekam apa yang Tantenya ucapkan. Ica pun langsung beringsut bagun tidak lagi mendusel di pundak Bu Ambar. dan bertanya, "Tante, Tante tadi doain Ica?"


Bu Ambar mengisyaratkan apa yang ditanyakan Ica benar adanya. Dengan cukup mendadak Ica memeluk Bu Ambar seketika itu juga. Bibirnya pun, juga meng-aamiin-kan doa tantenya itu dengan lantang penuh semangat.


...----------------...


Di kediaman Pak Wijaya yang masih ramai karena pesta pernikahan masih berlangsung dengan masih datangnya tamu-tamu dari Pak Wijaya juga Bu Anis, Semakin membuat mereka cukup sibuk.


Di tengah kesibukannya itu, memantu laki-lakinya alias suami dari Uni adiknya Dimas tampak sedang sibuk memasang LCD proyektor.


Beberapa menit kemudian sesudah semuanya siap, sebuah video yang menampilkan Dimas, Zalfa juga keluarga Pak Wijaya yang ada di desa tampak dari LCD proyektor tersebut.


Nampak dari video call tersebut mereka menyapa Pak Wijaya dan Bu Anis yang masih berada di kota M dengan manisnya.


Kebahagiaan pun meliputi raut wajah Pak Wijaya, Bu Anis juga para kerabat yang masih ada di kediaman Pak Wijaya/Dimas malam itu.


...-------------------------------...


Riuh malam gemuruh terpaan angin dan dingin malam yang mencekat menyelimuti desa tempat di mana Dimas dan Zalfa berada.


Malam itu, usai moment melepas rindu secara virtual lewat video call, Dimas sejenak menghabiskan waktu bersama Mbah Kung, Eyang Putri, Pak Lek Budi, Mas Tono, dan beberapa warga di sekitar kediaman Mbah Kungnya. Mereka saling bertukar cerita satu dengan lainnya.


Dalam pertukaran cerita itu, Dimaslah yang begitu asik bercerita, meskipun terkadang juga menjadi pendengar diantara perbincangan hangat tersebut.


Sementara itu, Zalfa bersama Budhe Titin, keduanya sudah kembali ke Vila. Dengan sengaja Budhe Titin mengajak Zalfa kembali lebih dulu karena sudah merencanakan sesuatu.


Setelah satu jam berlalu...

__ADS_1


Pantulan dari sebuah cermin memantulkan wajah seorang wanita yang sudah amat begitu cantik juga memikat.


Pipi yang merah merona, warna kemerahan yang natural pada bibirnya juga sangat pas dan menawan.


Rambutnya sudah terurai panjang, rapi dan dibuat sedikit bergelombang. Seulas senyum tersusun malu menghiasi wajahnya untuk sesaat.


Tanpa terasa malam pun semakin larut dan


Budhe Titin berhasil merias Zalfa dengan lihainya.


Malam itu Zalfa nampak begitu cantik dan Budhe sangat yakin Dimas akan terpukau melihat Zalfa nantinya.


Zalfa masih duduk di meja rias depan cerminnya. Mengamati baik-baik bagaimana Budhe Titin meriasnya hingga begitu cantik hasilnya.


Kriek ...


Suara gagang pintu dari seseorang yang masuk ke kamarnya saat itu.


Sudah cukup deg degan namun ternyata seseorang itu adalah Budhe Titin.


"Budhe?" Sebutnya melihat pantulan Budhe Titin dari cerminnya.


"Sabar, cah ayu!" Budhe sengaja menggoda Zalfa yang saat ini sudah berdandan dengan begitu cantik dan manis untuk Dimas.


"Suamimu masih melepas rindu dengan desa Mbah Kungnya."


Zalfa mengangguk faham akan hal itu. Dimas sudah lama tak berkunjung, jadi pasti dia rindu dengan desa juga masyarakat maupun keluarga nya yang ada di desa ini.


"Dimas itu humble sekali dengan masyarakat sini. Makanya banyak yang nyuruh Dimas untuk berkunjung pula ke rumah mereka."


"Dulu, pas mudanya. Setiap liburan pasti dia ke sini dan enggak pulang-pulang. Kalau di sini ya gitu, bukan banyak jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di sekitar sini tapi malah jalan-jalan ke rumah warga di sekitar sini."


"Kok bisa gitu? Jawabannya adalah, karena Dimas itu anaknya ringan tangan banget. Dia kalau di sini enggak segan sama sekali bantu warga yang membutuhkan bantuannya."


"Pernah suatu hari, karena banyak warga yang dibantu, dia pulang perutnya sampai sakit karena kebanyakan makan makanan yang disuguhkan warga ke dia sebagai bentuk terimakasih mereka."


Keduanya pun tertawa.


Budhe mengamati Zalfa dengan sangat, "Zalfa, kamu dengar Budhe baik-baik ya. Meskipun Budhe jauh dari Dimas, tapi Dimas itu sering sekali menghubungi kami di sini. Sekedar menanyakan kabar juga terkadang."


"Dimas juga tidak segan untuk menceritakan tentang kamu, saat dulu ia bertemu dengan kamu untuk pertama kalinya."


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓷~


Dimalam usai Dimas bertemu dengan Zalfa di pagi hari yang cukup dingin karena hujan yang turut menyertai. (Episode )


Malam itu, Dimas menceritakan kebahagiaan akan perasaannya bisa sedekat itu dengan Zalfa kepada Budhenya.


"Doakan Dimas ya Budhe, semoga kami memang berjodoh." Pinta Dimas kepada wanita yang ia panggil Budhe di telfon.


"Pasti, Adi keponakanku yang paling guanteng, Budhe pasti akan selalu doakan kamu." Berantusias.


"Emm, kalau boleh, namanya siapa?" Budhe penasaran.


"Zalfa Aristya Az Zahira" Sebut Dimas dengan pengucapan penuh rasa cinta.


"Namanya bagus sekali!" Budhe, "insyaallah cocok lah sama nama keponakan Budhe." Budhe sengaja membuat Dimas semakin tidak karuan.


Dimas diam tak membalas ucapan Budhe. Fikirannya berkelana membayangkan namanya juga Zalfa ditulis menjadi satu di atas surat undangan.


"Alangkah indahnya itu. " Dimas senyum senyum sendiri.

__ADS_1


Sementara di lain tempat, wanita yang menjadi lawan bicara Dimas di telfon, sudah berulang-ulang kali memanggil-manggil Dimas yang tidak meresponnya. "Hallo Adi, hallo.. "


....


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓯𝓯~


Budhe Titin tertawa kecil mengingat malam itu. Sesaat kemudian, melanjutkan ceritanya pada Zalfa.


"Waktu itu, Budhe belum tau pasti bagaimana kamu. Tapi entah kenapa Budhe itu yakin dengan pilihan hati Dimas yang ini itu baik dan benar."


"Tapi, ternyata takdir sempat menguji kalian. Waktu itu adalah saat tersulit untuk Dimas, Zalfa. Dia selalu berusaha kuat namun setiap malam ia hampir tak pernah absen dari bercerita tentang kerinduannya sama kamu saat kamu koma."


"Namun, sekali lagi Budhe kembali dibuat salut dengan keyakinan dan do'anya. Hingga semua kembali membaik." Budhe Titin berhenti sejenak dan menghapus air mata yang mengenang di pelupuk mata tanpa bisa ia cegah.


"Dan kalian berhasil menghadapi itu semua." Tersenyum bahagia dengan penuh syukur,"sekarang, kalian adalah satu hati dan satu jiwa. Pesan Budhe, jaga dan bahagiakan Dimas Adityama selalu, ya!"


Dengan memegang tangan Budhe Titin Zalfa berucap, "Zalfa janji, akan jadi istri yang baik yang selalu menjaga, mencintai dan menghargai Mas Dimas."


Air mata pun lolos dari pipi Budhe Titin tanpa bisa ia seka lagi. Zalfa yang pengertian itupun mengusapnya perlahan, kemudian memeluknya.


Tak ada satu menit berlalu, suara gagang pintu pertanda kalau ada orang yang masuk kembali terdengar.


Kriek...


Zalfa dan Budhe masih belum sadar akan kedatangan laki-laki yang saat ini sedang mengenakan pakaian santainya. Dengan mengenakan kaos hitam dan celana hitam panjang dengan mengenakan sandal rumahan.


Sejenak netranya melihat keakraban dari kedua wanita yang ia sayangi. Tak berlangsung lama, netranya melihat ke Zalfa dengan tak berkedip. Apalagi melihat pakaian yang Zalfa kenakan saat ini. Gaun pendek di atas lutut berwarna nude yang membuat Zalfa benar-benar sangat cantik, mempesona dan memikat untuknya malam itu.


Zalfa yang mengetahui lebih dulu akan kedatangan Dimas di kamar itu, dengan pelan-pelan ia merenggangkan pelukannya pada Budhe.


Budhe menengok ke belakang karena ia juga merasa kalau ada orang yang datang di belakangnya. Dengan cepat Budhe bangkit dari kursi dan hendak pergi.


Sebelum benar-benar pergi ia mengusap lembut kepala Zalfa dan berucap, "Bahagiakan suamimu ya cah ayu!" Dengan pelan namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Zalfa.


Berganti kepada Dimas, Budhe menyentuh pundak Dimas yang masih standby berdiri di samping pintu dan mengatakan, "Semoga sukses!" Sambil tersenyum kemudian benar-benar pergi meninggalkan mereka.


Budhe telah beranjak pergi. Tinggallah mereka berdua di kamar itu.


Zalfa tak tau lagi harus apa dan bagaimana. Baju yang ia kenakan cukup membuatnya kedinginan karena cuaca yang memang dingin. Namun saat Dimas mendekat dan mengunci pintu kamar mereka, rasa dingin berubah menjadi sebaliknya dengan detak jantungnya yang berdetak tak karuan.


Zalfa kembali duduk di depan cerminnya. Berpura-pura menata rambutnya kembali.


Dapat Zalfa rasakan kalau Dimas sudah semakin dekat dengannya, bahkan sudah ada tepat di belakangnya. Aroma parfum yang Dimas kenakan begitu menyeruak masuk ke indra penciumannya.


Zalfa cukup kaget saat Dimas tanpa ia sadari memegang kedua pundaknya yang polos karena bajunya yang menampakkan pundaknya secara menyeluruh.


Tangan itu turut merapikan rambutnya dan menyibakkannya menjadi satu ke arah kiri.


"Malam ini, kamu sungguh cantik sekali, Fasya!"


Zalfa tersenyum dan masih diam. Sengaja Dimas memutar kursi rias yang Zalfa duduki.


Mereka berhadapan. Wajah Zalfa mendongak ke Dimas yang masih berdiri. Sementara wajah Dimas menunduk mengamati wajah cantik istrinya malam itu.


Dengan pelan dan penuh kasih sayang, tangannya meraih tubuh Zalfa, membopognya dengan gaya bridal style.


"Malam ini akan menjadi malam terindah yang keindahannya melebihi seribu satu malam, Fasya istriku sayang." Bisik Dimas dengan lembut dan mesranya.


Malam indah yang keindahannya melebihi seribu satu malam, mereka lalui bersama dalam kehalalan ikatan pernikahan yang mendatangkan banyak pahala di dalamnya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!

__ADS_1


__ADS_2