Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Siapa Orang itu?


__ADS_3

Sebelum membaca, Sedikit informasi bahwa akan ada episode yang menggembirakan di episode ini. Karena itu, mohon untuk bisa menyesuaikan suasana hati!


Dan sedikit informasi pula bahwa akan terdapat adegan berbau (kekerasan) dalam episode ini. Karena itu, mohon untuk bijak dalam membaca! ADEGAN BERBAU KEKERASAN / KEJAHATAN TIDAK UNTUK DITIRU!


Sekali lagi, diharap tidak mencontoh hal yang tidak sepatutnya dicontoh, karena adapun hal tersebut author tulis hanya sebagai pelengkap cerita ini.


Terimakasih atas perhatiannya!🙏


Selamat membaca!


.......


.......


.......


.......


.......


Tak ada yang lebih indah selain bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kita cinta. Saat itu tiba, dunia begitu serasa milik berdua, begitulah kata para insan yang pernah merasakannya.


Tirai jendela tersingkap dengan tangan lembut seorang wanita disertai senyum sumringah yang begitu memamcar padanya pagi itu.


Embun pagi, udara yang segar, pepohonan hijau yang memamerkan aromatiknya menggelitik ke rongga hidung bangirnya. Benar-benar suasana alam yang sangat bersahabat.


Sinar matahari pun berhasil menembus jendela ruangan dimana Dimas masih asik dengan mushaf, dan bukunya.


Buku yang dibacanya sesudah mushaf yang ia baca pun terkena kilauan cahaya mentari pagi itu. Cukup menyilaukan netranya tetapi tidak dengan wanita yang perlahan mendekat kepadanya.


"Mas, ayo kita sarapan di rumah Eyang Putri!" Ajaknya dengan lembut, "aku udah masak makanan kesukaan kamu di sana." Zalfa menyelesaikan ucapannya.


Mendengar kesukaan Dimas langsung menutup bukunya dan bangkit dari tempat duduknya sambil sesekali menghabiskan kopi hitam seleranya yang telah dibuatkan Zalfa, "Ayo Fasya!"


Menggenggam erat dan langsung memancal pada pedal sepeda yang telah bertengger di halaman Villa mereka. Melihat tingkah suaminya itu, Zalfa jadi geleng-geleng sendiri karenanya.


Dalam perjalanan yang mereka tempuh meskipun hanya beberapa menit, Dimas dan Zalfa kembali menerima sapaan hangat dari penduduk desa setempat yang hendak pergi ke kebun ataupun bekerja di suatu tempat, "Pagi Mas Adi, Mbak Zalfa!"


"Pagi Pak, Buk!" Dimas dan Zalfa bergantian.

__ADS_1


"Fasya, siapakan tenaga kamu!" Dimas memberitahukan agenda hari kedua yang akan mereka lakukan,"karena hari ini kita akan sehari full jalan-jalan."


Zalfa serasa tak percaya kalau honeymoonnya bersama Dimas akan seseru ini jadinya,


"Hari ini full jalan-jalan? Terus besoknya, Mas?" Zalfa semakin ingin tau agenda kegiatan yang telah Dimas buat untuk menjadikan honeymoon mereka penuh warna dan keseruan.


"Besoknya kita tetap di desa ini, silaturahmi ke beberapa warga. Dan kalau kamu mau kita bisa menghabiskan waktu sore kita sebelum balik ke kota M untuk mengajar Bahasa Inggris ke anak-anak warga sini yang selalu rutin belajar Bahasa Inggris seminggu sekali di rumah Eyang Putri."


"Emang bisa Mas?" Zalfa senang tapi cukup tidak enak dengan guru yang biasanya sudah mengajar anak-anak itu nantinya, "maksudnya gimana dengan guru yang biasanya sudah mengajar mereka?"


"Kebetulan gurunya lagi izin untuk minggu ini." Terang Dimas pada Zalfa.


"Ya udah kalau gitu aku mau pakek banget." Dengan seantusias mungkin.


"Dan, malamnya kita persiapan untuk balik ke kota M. Karena paginya aku harus udah kerja sayang."


Begitu mendengar perkataan Dimas yang barusan wajah Zalfa yang antusias berubah jadi sendu seketika itu juga.


"Ah, iya Mas." Zalfa dengan nada cukup tak semangat karena tanpa terasa waktu yang mereka lalui akan berlalu secepat itu.


"Kamu enggak perlu cemas Fasya! Pokoknya hari ini akan jadi hari paling manis dan panjang untuk kita berdua."


"Fasya bagaimanapun aku berkewajiban untuk selalu membuat kamu bahagia."


Zalfa semakin mengeratkan pegangannya sangking bahagianya dengan sikap Dimas yang begitu mengerti dirinya.


.....


"Wes Ton, wes. Ayo kita tata bersama makanannya!"


Pak Lek Budi dengan penuh semangat.


Bagai hitungan 1,2 dan 3 makanan dengan berbagai jenisnya sudah tertata rapi dan begitu menggugah selera.


Budhe Titin bersama suaminya juga Mbah Kung, dan Eyang Putri dibuat terkesiap kaget melihat bagaimana cepatnya Tono dan Pak Lek Budi menata semuanya.


Kini, semua telah berkumpul di halaman dan siap untuk menyantap berbagai makanan untuk sarapan pagi bersama. Termasuk makanan yang paling menggugah selera adalah ikan gurame pedas manis kesukaan Dimas.


Riuh perbincangan serta keriweuhan karena berebutan gurame pedas manis ala Zalfa membelah kehangatan suasana sarapan pagi itu menjadi ramai.

__ADS_1


"Pakde, ini bagian Dimas." Dimas memperingatkan Pakde nya agar mengalah padanya yang tentunya lebih muda.


"Enggak bisa, Adi! Ini sangat lezat, kamu bisa meminta istrimu memasaknya lagi nanti. " Pakde bersikeras tak mau mengalah karena masakan Zalfa sangat lezat.


"Sedangkan, Pakde, Pakde hanya bisa memakannya disaat-saat seperti ini." Masih berusaha mencari pembelaan.


"Tetep enggak bisa begitu Pakde! Pakde itu tadi udah kebagian banyak banget." Dimas masih tidak terima.


"Jadi, ini milik Dimas!" Dimas menegaskan sementara tangan ke-dua pria itu masih berebut memakan ikan gurame pedas manis buatan Zalfa.


Zalfa bangkit sebentar. Tak selang begitu lama, sepiring ikan gurame pedas manis tersaji di depan Pakde dan Dimas.


Kali ini, mereka saling menatap tajam untuk beberapa saat.


Dan tak butuh waktu lama keduanya berlomba-lomba lebih dulu mengambil dan melahap hidangan itu secepatnya.


"Zalfa sayang, maklumin ya! Pakde sama Adi ya gini ini kalau ada masakan yang mereka suka, apalagi masakan itu sangat lezat." Budhe Titin yang faham betul bagaimana kebiasaan Dimas dan suaminya itu saat di meja makan.


Tikar yang membentang di pekarangan rumah itu melengkapi moment sarapan pagi Dimas, Zalfa bersama keluarga Dimas di desa itu. Dengan semilir angin pagi, segarnya udara dan aroma embun pagi berkabut kehangatan yang tampak di halaman kediaman Eyang Putri pagi itu.


Ditengah kehangatan itu, tanpa diketahui oleh siapapun rupanya ada seseorang yang tengah mengawasi mereka.


"Awasi terus mereka berdua!" Ucap suara seorang laki-laki dari telfon kepada anak buahnya yang mengawasi dan mengintai Dimas juga Zalfa dibalik semak-semak.


Merasa ada seseorang dibalik semak-semak yang ada di dekat pekarangan rumah Eyangnya, Dimas bangkit dan mencoba memeriksanya.


Disisi lain orang yang tengah mengintai itu karena mengetahui akan kecurigaan Dimas, ia pun buru-buru lari. Alhasil ia berhasil lolos tanpa sepengetahuan Dimas.


"Mas Dimas, ayo lanjutkan sarapannya!" Zalfa meraih tangan Dimas dan mengajak Dimas untuk kembali.


"Tapi, Fa bentar ...!" Dimas yang yakin kalau tadi ada orang yang mengawasi ia dan keluarganya dibalik semak-semak itu.


"Ayo ah, Mas!" Zalfa tak sabar, "aku udah lapar dan enggak sabar jalan-jalan sama kamu."


Akhirnya Dimas pun menurut pada kemauan Zalfa walaupun hatinya masih penasaran dengan orang yang tengah mengawasinya.


"Siapa orang itu?" Berkata dalam hati dengan masih menerima makanan yang Zalfa berikan, "enggak akan aku biarkan dia menganggu ataupun menyakiti keluargaku!"


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!

__ADS_1


__ADS_2