Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Tujuh Bulanan


__ADS_3

Sebelum membaca, Sedikit informasi bahwa akan ada episode yang menggembirakan di episode ini. Karena itu, mohon untuk bisa menyesuaikan suasana hati!


Dan sedikit informasi pula bahwa akan terdapat adegan berbau (kekerasan) dalam episode ini. Karena itu, mohon untuk bijak dalam membaca! ADEGAN BERBAU KEKERASAN / KEJAHATAN TIDAK UNTUK DITIRU!


Sekali lagi, diharap tidak mencontoh hal yang tidak sepatutnya dicontoh, karena adapun hal tersebut author tulis hanya sebagai pelengkap cerita ini.


Terimakasih atas perhatiannya!🙏


Selamat membaca!


.......


.......


.......


.......


.......


Moment yang begitu manis. Itulah yang Dimas rasa saat mendapatkan hadiah yang begitu hebat baginya. Ya, ua akan menjadi seorang ayah, itu adalah sungguh hal hebat untuknya.


Dan itu semua tak lepas dari wajah yang menyiratkan kebahagiaan yang begitu ketara bagi yang melihat Dimas saat itu. Hatinya menari-nari seperti diiringi salah satu lagu Bollywood paling romantis.


Dalam bayangannya dirinya berdansa dan menari begitu indah dan mesra dengan Zalfa di stasiun yang sepi di mana hanya ada mereka berdua dengan kebahagiaan yang sedang melengkapi kehidupan pernikahannya, dengan stasiun yang dibasahi rintik hujan yang terus menetes.


Bayangan itupun seketika hilang saat Zalfa dengan lembut menyebut namanya sambil mengangkat bahunya, "Mas Dimas?" Seakan-akan menanyakan apa yang terjadi pada Dimas.


Seperti biasa Dimas hanya tersenyum dan mengusap kepala Zalfa yang berakibat pada pasmina Zalfa yang jadi cukup berantakan. Mengetahui itu, Zalfa yang sudah terbiasa dengan sikap Dimas pun tak lagi marah ataupun berbicara panjang lebar pada Dimas.


Kini, ia lebih memilih mengerti perlakuan Dimas padanya itu semua merupakan cara Dimas menunjukkan rasa sayang Dimas padanya seorang.


Tidak lagi menggerutu Zalfa kali ini lebih menampilkan senyum termanisnya. Tangannya pun turut merangkul pinggang Dimas yang akan mengantarkannya ke tempat wisata edukatif yang berjarak cukup dekat dengan stasiun.


...----------------...


Waktu terus berjalan. Tanpa terasa Zalfa beserta siswa-siswinya telah selesai dengan acara wisata Edukatif tersebut.


Dalam suasana yang sudah tidak terlalu terik, Zalfa beserta siswa-siswinya bergegas untuk ke stasiun terbesar kota M. Dan Zalfa pun mengintruksikan siswa-siswinya agar tertib kembali seperti saat awal mereka berangkat. Namun usaha Zalfa sepertinya belum berhasil.


Dari suatu arah, muncul sosok yang membuat siswa-siswi Zalfa gembira, semangat serta antusias untuk tertib saat naik kereta.


"Wow, Mr. Kondektur?" Redo tak percaya dengan seseorang yang ada di depannya.


"Wah keren! Kita akan ditertibkan sama Mr. Kondektur." Rasya sangat senang juga semangat.


"Selamat siang adik-adik!" Dimas menyapa mereka.


"Selamat siang Mr!"


"Selamat siang Mr!"


"Selamat siang Mr!"


Bergantian dengan penuh semangat.


"Sudah siap naik kereta?"


"Siap!"


"Sudah!"


"Siap!" Sebagian anak-anak yang menjawab siap menegaskan kalau yang benar jawabannya adalah siap bukan sudah.


Begitu pula dengan yang menjawab sudah. Mereka tak mau kalah, "Sudah!"


Akhirnya, Dimas mengeluarkan jurus untuk menenangkan mereka.


"Pritt!"


Dimas meniup peluit yang akhirnya berhasil membuat mereka kembali tenang,"Pritt!"


Semua anak-anak itu diam dan fokus. Dimas tersenyum seraya berkata pada mereka, "Yang menjawab sudah itu benar. Begitu pula yang menjawab siap, itu juga benar." Menjelaskan dengan penuh kesan.


"Jadi, semuanya sudah benar. Berarti semua memang sudah siap untuk naik kereta, kalau begitu izinkan Mr. Kondektur yang mengambil alih menertibkan kalian untuk masuk ke kereta."


"Are you ready?"

__ADS_1


"Yes"


"Yes"


"Yes"


Begitu selesai mereka menjawab Dimas, Dimas pun membariskan mereka dengan semangat.


Satu persatu dari mereka pun masuk dengan tertib.


Dari sisi belakang Zalfa yang melihat pemandangan itupun hanya bisa tersenyum bangga melihat keakraban suaminya dengan anak didiknya.


....


Hari-hari pun terus berlanjut dan berjalan sebagaimana mestinya. Zalfa mungkin jauh dari Dimas namun tidak sekalipun keluarga Dimas membiarkannya kesepian ataupun merasa sedih dan kekurangan apapun.


Hampir setiap hari Bu Anis memantau Zalfa dengan membawakan berbagai makanan bergizi, buah-buahan, juga susu hamil untuk Zalfa. Bahkan Bu Anis juga sering tidur menemani Zalfa dan Bu Ambar di kediaman Bu Ambar sebagaimana maunya Zalfa karena Dimas tidak bisa menemaninya. Untuk itu, sebagai gantinya Bu Anis yang menemaninya.


Saat masa hamil begini, entah mengapa bagi Zalfa bau Bu Anis itu sama dengan baunya Dimas sehingga tak jarang Bu Anis bela-belain menginap di sana sesuai kemauan bayi yang dikandung menantunya.


Seperti moment saat ini, saat dimana Zalfa mengeluarkan unek-unek dihatinya kepada Mama mertuanya, "Ma, makasih ya, Mama udah sering nginep di sini. Dan, maaf Zalfa jadi sering ngerepotin Mama. " Zalfa memiringkan tubuhnya menghadap ke Bu Anis yang berbaring di sampingnya.


Bu Anis menggelengkan kepala sambil tersenyum mengarah pada Zalfa. "Enggak papa, Zalfa. Inikan juga untuk kebaikan cucu Mama, anaknya Dimas yang sedang kamu kandung." Bu Anis menegaskan arti geleng-gelengnya pada Zalfa yang tak lain dan tak bukan adalah untuk menenangkan Zalfa.


"Udah, sekarang penjamin mata dan ayo tidur!" Bu Anis membelai rambut Zalfa. Bahkan mencium kepala Zalfa juga.


"Sehat sehat dan semoga semua dilancarkan terus kedepannya." Ucap Bu Anis setelah mengecup kening Zalfa.


"Bobok yang pinter ya cucu Grandma!" Mengelus lembut perut Zalfa yang sudah semakin membucit.


...----------------...


Keesokan harinya ....


Hari itu, sanak keluarga guyub rukun berdatangan ke kediaman Bu Ambar untuk menghadiri acara 7 bulanan bayi yang dikandung Zalfa.


"Assalamualaikum!" Kerabat dari pihak Mama dan Papanya.


"Wa'alaikumussalam. Silakan masuk dulu Tante!" Zalfa mempersilahkan satu persatu dari mereka masuk.


Hari itu pula sanak keluarga Zalfa dan Dimas turut hadir menghadiri dan membantu sedikit banyak persiapan acara walimatul hamli yang akan dilaksanakan malam harinya setelah waktu Isya' sesuai adat yang ada di sana.


"Sayang, Mas mu jadi pulang?" Bu Ambar cukup cemas karena ia mendapat kabar bahwa Dimas akan pulang tapi hingga hari acara akan dilaksanakan Dimas belum terlihat juga.


"Iya Ma. Ini Mas Dimas baru aja kasih informasi kalau dia sedang perjalanan pulang."


"Ya sudah kalau begitu, Mama senang dengarnya." Bu Ambar sudah lebih tenang.


"Iya Ma." Zalfa turut membuat Mamanya tenang dan yakin pada Dimas bahwa Dimas akan segera pulang dengan keadaan selamat.


................


Beberapa jam kemudian ...


Sebuah mobil Pajero berwarna putih berhenti tepat di halaman kediaman Zalfa dan Bu Ambar.


Zalfa yang kebetulan sedang berada di luar karena ikut memantau persiapan acara yang akan berlangsung malam nanti, ia pun dapat mengetahui akan kedatangan seseorang dengan mobil tersebut.


Pelan tapi pasti pintu mobil itu terbuka dan tampaklah lelaki yang sudah begitu Zalfa rindu.


Apalagi ditengah hamil tuanya. Berada jauh dari Dimas memang tidak mudah tapi karena cinta tak pernah mengenal jarak maupun waktu ia pun kuat untuk menjalani dan melewatinya.


Mereka berjalan mendekat satu sama lain. Hingga hanya berkisar satu senti saja sejenak mereka berdiam dan saling tatap.


Dimas dalam hati, ia begitu merasa bersalah karena tidak bisa mengawasi perkembangan bayinya di perut Zalfa yang sudah membuncit. Tapi di satu sisi dia juga bahagia meskipun ia tak bisa ikut mengawasi tapi Zalfa sudah sangat luar biasa dalam menjaga buah hati mereka.


Dimas mulai akan menitikan air mata namun segera dihapus oleh Zalfa.


Zalfa menggelengkan kepalanya. Sebagai pertanda bahwa Dimas tak boleh merasa bersalah seperti itu.


Detik berikutnya, Zalfa membawa dirinya ke pelukan Dimas dan nereka pun saling melepas rindu.


................


Malam harinya ...


Semua persiapan sudah selesai. Dimas dan Zalfa sudah begitu serasi dengan pakaian dengan warna senada yang mereka kenakan.

__ADS_1


Para tamu undangan pun juga turut berdatangan. Acara dimulai dan diakhiri dengan serangkaian acara adat sebagaimana di wilayah tersebut.


Dan malam itu semua berjalan dengan lancar dan penuh hikmat tanpa halangan apapun.


Sementara itu, di sebuah tempat yang jarang diinjak oleh seseorang.


"Biarkan! Biarkan saja mereka berbahagia semaunya. Karena tidak lama lagi mereka akan merasakan apa yang harus aku dan Sintia rasakan." ucap seorang laki-laki yang ternyata dia adalah Edo.


Sementara anak buahnya hanya menurut saja padanya.


*𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓿𝓴 (Setelah keputusan hakim mengambil hukuman untuk Sintia)* Lihat Episode : 44.


"Apa? Sintia kamu berada di sini juga?" Edo yang kaget akan keberadaan Sintia hari itu di tempat yang sama dengannya.


"Terus, bagaimana dengan bayi kita, Sintia?" Edo teringat akan anaknya yang dikandung Sintia.


Edo bertanya dengan serius, tapi Sintia malah menjawab dengan mengada-ada.


"Ini semua karena mereka Mas Edo. Aku harus berada di sini dan bayi kita tidak bisa diselamatkan."


"Maksud kamu?"


"Iya Mas Edo, ini semua karena Dimas dan Zalfa. Karena mereka juga kan yang sebenarnya udah membuat kamu mendekam di sini. Padahal sebenarnya kamu enggak sepenuhnya salah."


"Dan itu juga yang berusaha aku lakuin tapi malah aku yang kena imbasnya dan parahnya anak kita yang enggak tau apa-apa juga kena imbasnya. " Sintia dengan tangisannya.


Sejenak Edo hanya diam dan ia bangkit. Ia pun berusaha untuk bisa melarikan diri dari jeruji besi itu setelah mendengar ucapan Sintia yang berada di sel yang sama dengannya.


Dan entah bagaimana cara pastinya Edo pun berhasil melarikan diri. Dan tinggallah Sintia sendiri di dalam sana.


*𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓯𝓯*


Sementara itu, disuatu tempat. Meta sedang bersama seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Sintia.


Dalam hati Meta sedih karena ulah yang dilakukan Sintia. Karena ulahnya tersebut Edo melarikan diri dari penjara. Dan kini tengah mengincar Dimas dan Zalfa.


Ingatannya pun menerawang kembali pada hari dimana ia menemui Sintia setelah Edo berhasil kabur.


*𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 "


Hari itu, Meta menemui Sintia.


menginterogasi Sintia, menanyakan bagaimana Edo bisa kabur. Dan Sintia pun menjelaskan perihal apa saja yang sudah ia katakan pada Edo.


Dan dilihat oleh Meta senyum smirknya Sintia bahagia karena ia telah berhasil membohongi Edo.


"Sintia? Katakan pada Mbak, Edo ada dimana?"


"Dan bagaimana Edo bisa kabur dari sini?"


"Apa yang membuat Edo senekad itu padahal dulu dia sudah mengakui kesalahannya."


"Apa sih Mbak Meta? Kenapa Mbak sekarang lebih membela Dimas dan Zalfa dibadingkan aku, Mbak?" Sintia berdalih


"Hentikan Sintia!"


"Asal kamu tau kenapa Mbak membela mereka karena Dimas dan Zalfa mereka tidak bersalah mereka orang baik." Tegas Meta yang membuat Sintia semakin cukup tak suka.


Namun ketidaksukaan nya berubah jadi tawa dengan sesekali berkata, "Mereka orang baik, tidak bersalah, kata Mbak?" Sintia dengan tertawa menyeringai pada Meta.


"Dengar ya Mbak Meta! orang yang Mbak Meta bilang baik dan enggak bersalah itu enggak lama lagi akan di renggut kebahagiaan nya sama Edo."


"Kamu jangan macam-macam Sintia"


"Sintia tidak macam-macam, karena Mas Edo lah yang macam-macam." Sintia mengatakan itu dengan tertawa terbahak-bahak.


"Sudahlah Mbak, kamu enggak usah bingung kenapa aku bisa berkata gini." Sintia berucap pada Meta yang penasaran.


"Jadi, asal Mbak Meta tau yaa... Mas Edo udah percaya sama perkataan ku. Mas Edo kira anaknya itu enggak bisa diselamatkan karena Dimas dan Zalfa. Padahal Dimas dan Zalfa bukan penyebab nya karena sebenarnya anaknya dia masih selamat. " Sintia mengusap perutnya sendiri.


"Mas Edo ... Edo ... sebegitunya kamu sayang sama anakmu ini." Sintia merasa senang dan telah menang.


Mendengar yang dikatakan Sintia, Meta tak lagi berkata banyak. Dalam hati ia berucap akan melindungi Dimas dan Zalfa bagaimana pun caranya.


*𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓯𝓯*


Meta pun diam-diam menyuruh orang untuk mengawasi Dimas dan Zalfa. Karena jangan sampai Edo berhasil dengan rencananya itu.

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2