
Dimas melangkah, melangkah dan terus melangkah. Ramai stasiun tak mempengaruhi hatinya yang sebenarnya begitu merindu dan mencinta. Bagaimana tidak? Di tempat yang ramai itu beberapa minggu yang lalu telah menjadi saksi akan sebuah peristiwa tragis mengikis hati kedua insan yang tengah merajut asmara.
Derap sepatu hitam mengkilat itu tak dapat lagi melangkah saat peristiwa tragis itu mengusiknya.
Kaki Dimas berhenti tepat di sisi tempat dimana dirinya menerima jawaban cinta dari Zalfa tambatan hatinya.
Rasa bahagia itulah yang dirasanya saat mengingat moment penerimaan cinta itu. Tak ubahnya seperti bulan yang terhalang oleh mendung, begitulah rasa bahagia Dimas berubah seketika peristiwa tragis itu menghapus moment kebahagiaannya dalam sekejap saja.
Bayangan akan peristiwa tragis itu memenuhi kepala Dimas. Sedih kecewa menghampirinya tanpa mampu ia tepis.
Panggilan dari seorang masinis yang berusia jauh diatasnya berhasil menyadarkan lamunannya seketika itu juga.
"Kamu baik-baik saja, Pak Dimas?" Seraya menyentuh pundak Dimas.
Antara kaget dan masih larut dalam perasaannya Dimas masih belum merespon, tetapi tak butuh waktu lama Dimas mengendalikan keadaan hatinya.
Suara yang terdengar begitu lantang langsung terucap saat itu juga darinya, "Saya baik-baik saja Pak!"
Mengerti dan faham apa yang dirasakan Dimas, laki-laki itupun tak mau menambah duka dan kalut yang harus menerpa Dimas.
"Pak Dimas, mari kita lakukan apa yang harus kita lakukan!" ajaknya kepada Dimas agar mereka segera melakukan apel keberangkatan kereta.
Perlahan ia membelokkan kakinya dan mengikuti langkah masinis rekan kerjanya yang mengajaknya untuk melakukan apel keberangkatan kereta.
Pelan tapi pasti Ia beringsut pergi dari tempat itu namun siapa sangka Dimas kembali menengok ke tempat itu kembali.
Benar saja kenapa Dimas kembali menengok ke arah itu, karena Dimas kembali melihat sosok Zalfa yang tersenyum menyemangatinya.Bagai seorang perindu yang bertemu tambatan hati yang begitu dirindukan, Dimas mekar bahagia menjalankan tugasnya sebagai kondektur kereta.
Beberapa menit setelahnya ...!
Apel keberangkatan selesai Dimas lakukan, Dimas berjalan menuju kereta yang akan ia pimpin. Kereta dengan rute stasiun kota M salah satunya.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya.
Kakinya masih terus melangkah hingga terdengar suara dari suatu arah yang tengah memanggil namanya.
"Pak Dimas! Pak Dimas!"
Suara itu menghentikan langkahnya kembali. Ia sejenak tersenyum kepada gadis yang memanggilnya. Gadis yang cukup mempunyai kemiripan dengan Zalfa sebab gadis itu adalah sepupu Zalfa yang sering dipanggil dengan nama Ica. Ternyata Ica tak hanya sendiri, ada seorang wanita yang lebih begitu mirip dengan Zalfa, yaitu Bu Ambar.
Bu Ambar ikut mendekat ke Dimas. Tak tega membiarkan Ibu dari wanita yang dicintainya kelelahan, dengan sigap Dimas melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai orang yang lebih muda.
"Pak Dimas, bawalah ini!" Bu Ambar menyerahkan makanan kepada Dimas yang mendekat ke arah Bu Ambar tanpa Bu Ambar harus berjalan lebih jauh lagi untuk sampai ke Dimas.
"Harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini, Bu." Merasa tak enak hati.
"Tidak Pak Dimas, itu sama sekali tidak merepotkan untuk kami. Malah di sini kamilah yang merepotkan Pak Dimas." Ica yang manyahut.
Dimas masih menatap baik-baik makanan yang diserahkan Bu Ambar ke tangannya.
__ADS_1
"Nak Dimas, mohon diterima saja!" Bu Ambar dengan raut wajah memohon.
Melihat manik hitam Bu Ambar yang begitu mirip dengan Zalfa, menjadikan Dimas enggan untuk mengatakan tidak. Maka ia menerima makanan itu dengan senang hati.
Kereta sudah siap untuk memberangkatkan penumpang, Dimas dengan cekatan mengantarkan Bu Ambar dan Ica ke dalam kereta.
"Terimakasih Nak Dimas"
Bu Ambar sudah di dalam kereta.
"Jaga kesehatan kamu baik-baik ya Nak. Dan sekali saya titip Zalfa di sini." Bu Ambar menyembunyikan kesedihannya tatakala menyebutkan nama Zalfa, namun Dimas tau akan hal itu meskipun Bu Ambar menutupinya. Tak mau membuat Bu Ambar kembali sedih, Dimas menjawab dengan mengangguk yakin dan tenang.
Bu Ambar menampakkan senyumnya kembali. Namun tak dapat diketahui apa makna senyuman itu. Senyuman asli atau hanya senyuman yang ditujukan agar tidak ada yang tau akan kepiluannya.
Menit ke menit telah berlalu. Sebentar lagi kereta dengan salah satu rutenya stasiun kota M yang dipimpin oleh Dimas, perlahan pasti melaju membawa para penumpang termasuk Bu Ambar dan Ica.
Dan disitu pula nantinya, Dimas akan kembali menyaksikan kepergian orang-orang yang Zalfa sayangi.
Andai Bu Ambar dan Ica dapat di kota S lebih lama itu pasti akan lebih membahagiakan untuk Zalfa. Tapi Bu Ambar dan Ica mau tak mau dengan sangat berat hati, harus kembali meninggalkan Zalfa setelah kemarin hadir dipersidangan pelaku penembakan Zalfa. Itu semua karena hawa rumah sakit yang kurang baik untuk kesehatan Bu Ambar. Sehingga membuat Bu Ambar dan Ica tinggal di tempat Dimas, sedangkan Bu Anis dan Pak Wijaya sudah pulang lebih dulu setelah peristiwa permintaan maaf Sintia kemarin.
Malam hari kemudian ...!
Seperti biasa selesai tugas Dimas langsung menuju rumah sakit menemui Zalfa.
Baru saja Dimas selesai menjalankan tugasnya sebagai kondektur. Meskipun lelah tubuhnya tapi untuk menjaga dan menemani Zalfa lelah itu sirna seketika. Ya bagaimana tidak? Bukankah melihat orang yang kita cintai itu mampu menyingkirkan kegundahan/kepenatan setelah dalam merasakan hiruk-pikuknya kehidupan.
Berdiri di samping tempat Zalfa berbaring, Dimas melepas rindunya walaupun saat ini orang terkasihnya tak dapat membalas rasa rindunya namun melihat Zalfa yang masih ada harapan sembuh itu sudah lebih dari cukup untuk dirinya.
"Kamu selalu terlihat cantik Zalfa meskipun dalam keadaan seperti ini." Memegang kerudung Zalfa dengan tersenyum bangga.
"Warna hitam kerudung ini, mengingatkan saya pada saat awal kita bertemu Zalfa." Menjeda ucapannya sebentar.
"Saat kamu menolak bantuan saya yang hendak membantu kamu menaiki kereta yang perlahan melaju." Mengingat kembali moment di awal mereka bertemu (lihat episode 1).
"Waktu itu kamu juga memakai kerudung berwarna hitam yang membalut wajah cantik kamu ini."
"Cepatlah bangun Zalfa! Saya akan selalu mencintai kamu!"
Mengusap pelan kepala Zalfa yang terbalut kerudung dengan tatapan penuh cinta tulus di dalamnya.
................
Suara merdu nan syahdu tarhim subuh menyadarkan Dimas dari tidurnya. Sadar kalau sudah mendekati waktu subuh secepatnya Dimas membersihkan diri, berwudhu dan menggelar sajadah.
Dalam diam namun penuh harap Dimas memajatkan harapannya.
"Ya Allah seperti Firman-Mu dalam surat Asy-Syu'ara : 80, bahwa " Engkaulah Dzat Yang menyembuhkan segala penyakit" Karena itu Ya Allah, hamba mohon padamu tolong berikanlah kesembuhan kepada wanita yang hamba cinta dan ingin segera hamba halalkan."
Lanjutnya dengan penuh harap dan keyakinan serta kepasrahan.
__ADS_1
"Aamiin."
Seperti biasa, selesai melakukan ritual paginya tersebut Dimas akan berganti mengenakan pakaian dinasnya. Namun tak seperti biasanya pagi itu Dimas sebelum beranjak pergi, ia melakukan sesuatu yang begitu menenangkan jiwa.
Bacaan ayat-ayat Al-qur'an terucap dan terlantunkan dengan fashih dan tartil oleh Dimas. Ia berharap dengan bacaan Al-Quran ini tubuh Zalfa akan bisa bereaksi. Meskipun Dimas sendiri tak tau kapan itu terjadi tapi ia percaya bahwa bacaan Al-qur'an adalah obat yang luar biasa dari berbagai penyakit ataupun permasalahan. Karena dengan membaca Al-Qur'an hati akan tenang dan hidup akan lebih terarah.
~Stasiun Terbesar Kota S~
Deretan kereta panjang sudah menanti Dimas. Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang sangat Dimas kenal sedang berdiri menunggu Dimas dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Dimas. Dengan tujuan agar Dimas tau bahwa keberadaannya adalah untuk Dimas.
Tak habis fikir itulah yang tersirat dalam hati Dimas begitu tau siapa wanita itu.
Sudah berkali-kali Dimas menolak dan menyuruh agar wanita itu tak kembali mengusik dan mendekati nya tapi wanita itu sama sekali tak berhenti menganggu Dimas. Parahnya wanita itu semakin terpacu dan tertantang.
Hembusan kasar nafas Dimas nampak begitu jelas tatakala melihat wanita tersebut mendekatinya.
"Dimas!" Ucapnya langsung ingin memeluk Dimas.
Dengan cepat Dimas menghindar dan berhasil menghindar.
Tak masalah itulah yang ada dibenak wanita itu walaupun tau Dimas menghindar darinya.
"Oke ... Oke Dim! aku ngerti kok, kamu enggak mau aku peluk karena kita bukan mahrom." ujarnya mengerti dengan nada cukup membanggakan diri.
Tak cukup disitu, wanita itu masih saja menlanjutkan rayuannya,
"Tapi enggak papa mungkin hari ini kita bukan siapa-siapa, tapi esok hari nanti aku akan buat kita jadi siapa-siapa kayak dulu." lanjutannya begitu percaya diri.
Tak menghiraukan dan memilih pergi adalah hal yang Dimas pilih. Daripada ia harus emosi karena wanita seperti Sintia yang takkan menyerah dan mengalah begitu saja.
Sama seperti kemarin, wanita yang bernama Sintia itu kembali berusaha mengejar Dimas dan hendak memberikan makanan yang sudah ia siapkan untuk Dimas. Namun sama seperti kemarin juga, langkah Sintia itu kembali terhenti oleh Rere yang mencekal tangannya.
"Bawa makanan kamu itu kembali karena Dimas enggak butuh makanan dari kamu!"
"Dan kamu tenang saja, karena---"
Rere memperlihatkan makanan yang ia bawa,
"Lihat ini!"
"Saya sudah membawakan makanan untuk Dimas. Jadi silakan kamu pergi dari sini! Atau kalau kamu tidak mau pergi, kamu akan Terima akibatnya." tukas Rere kepada Sintia yang tak kapok.
Sintia pun menuruti kata Rere tapi ia juga menegaskan sesuatu pada Rere,
"Aku akan pergi, tapi aku enggak akan menyerah begitu saja karena masih ada hari esok dan esok. " Sintia tak mau kalah dengan kecaman Rere.
Rere menengok dan menatap kepergian Sintia. Memikirkan baik-baik ucapan Sintia tadi dengan tak habis fikir dengan tingkah dan ulah Sintia yang akan tetap kekeuh berusaha menaklukkan Dimas.
Tak mau kelewatan dengan kereta Dimas yang akan segera berangkat, Rere akhirnya memilih mengejar Dimas dan menyerahkan makanan untuk Dimas.
__ADS_1
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!