Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Cegukan


__ADS_3

Beralih ke salah satu rumah di kota M.


Suara sepatula meramaikan rumah Zalfa di kota M. Pasalnya Zalfa dan Ica sedang berduet untuk membuat makanan dan kue kesukaan mereka.


Mama Zalfa yang sebenarnya juga hobi memasak harus duduk diam dan menjadi penonton di dapur itu. Itu semua karena kedua gadis yang sedang asik memasak di depannya, tidak membolehkan Ibu Ambar untuk turut serta memasak.


Ibu Ambar pun hanya bisa menarik nafasnya dengan sesekali melihat ke arah tangan-tangan gadis yang sangat seru berkutat dengan peralatan dapurnya itu.


"Kak lihat Tante! Pingin banget ikut keseruan kita kelihatannya," tutur Ica pada Zalfa saat ia sempat menengok ke belakang ke arah Tantenya yang sedang duduk manis.


Zalfa yang awalnya masih fokus mengaduk soup yang akan segera masak, ia langsung menyerahkan agar soup itu ditangani oleh Ica. Sedangkan ia berjalan mendekati Mamanya.


"Ma, Mama sayangkan sama Zalfa? Kalau Mama sayang sama Zalfa, Mama harus tau kenapa Zalfa melarang Mama untuk ikut memasak. Itu semua karena Zalfa sayang banget sama Mama Ma, Zalfa enggak mau Mama kenapa-kenapa." memeluk pundak sang Mama dari arah samping.


Ibu Ambar hanya mengangguk tetapi masih cukup kecewa. Zalfa tak mau memaksa Mamanya karena belum waktunya untuk itu. Dibalik itu semua Zalfa dan Ica sudah menyusun sebuah rencana untuk meluluhkan hati Ibu Ambar yang sudah cukup kecewa. Kecewa karena tidak diperbolehkan melakukan hal positif yang disukainya.


Zalfa kembali menemani Ica menyiapkan makanan dan kue yang sudah siap untuk sajikan dan dimakan.


Mereka berdua menata makanan-makanan itu dengan begitu baik dan semenarik mungkin. Membawanya di depan Ibu Ambar.


Zalfa dan Ica saling menatap dan mengedipkan mata mereka, lalu mulai menjalankan misi mereka selanjutnya. Perlahan Zalfa dan Ica berjalan menghampiri Ibu Ambar dari arah kanan dan kiri Ibu Ambar. Ibu Ambar masih cuek tetapi itu tak menyurutkan rencana yang sudah Zalfa dan Ica susun.


Zalfa dan Ica bergelayut manja dipundak Ibu Ambar. Ibu Ambar hanya menatap mereka sekilas dan memasang wajah cueknya kembali.


"Tante ayo donk senyum! Tante gak seru deh ... masa' Ica dicuekin? Makanan yang sudah Ica buat dengan susah payah, masa juga ikut dicuekin?" Ica berusaha membujuk,


"Ayo donk tante! Senyum!" Ica mendekatkan wajahnya dengan Ibu Ambar tapi Ibu Ambar masih tak ingin menanggapinya.


Bagaimana pun untuk Zalfa Mamanya adalah prioritasnya terlebih saat di rumah. Lantas bagaimana dengan makanan yang sudah ia buat untuk sang empu agar memakannya, kalau sang empu tak mau makan dan malah masih merajuk? Maka tak mau kalah dari Ica dalam kelihaian membujuk apalagi membujuk Mamanya, pada akhirnya Zalfa tak banyak mengeluarkan rayuan tetapi Zalfa hanya berkata demikian, "Ma, Mama tau enggak tau kan? Kenapa Zalfa memasak semua ini terus bikin kue cukup banyak pula?"


Ibu Ambar masih saja diam. Zalfa menghembuskan nafasnya, ternyata kata-katanya belum seampuh kata-kata bijak para motivator handal diluaran sana.


Tak mau menyerah begitu saja,


Zalfa pun mencoba kembali.


Tangannya asik memilah kue dan meletakkannya ke dalam tupperware berwarna putih sambil sesekali mengeluarkan kalimat senjata yang bisa membuat Mamanya berbicara, "Ma, Zalfa izin ya sama Mama! Besok kue-kue ini mau Zalfa bawa ke luar kota."

__ADS_1


Mendengar kata "Luar kota" disebut, Mama Zalfa yakni Ibu Ambar langsung secara intens menatap dan mempertanyakan perkataan Zalfa barusan.


"Maksud kamu Zalfa?"


"Oh iya, Zalfa belum bilang ke Mama," Zalfa berlagak lupa kalau belum sempat cerita perihal kepergiannya ke luar kota besok,"begini Ma, Zalfa besok menjadi salah satu guru yang di delegasikan sama Pak Kepsek untuk mengikuti studi banding di SDN 1 Bumi Pertiwi di kota S."


"Serius?" Mama Zalfa masih tak percaya.


Zalfa mengangguk tanpa menyiratkan keraguan sama sekali.


Zalfa duduk di kursi tepat di samping Mamanya.


Dan menjelaskan tugas dari Pak Kepsek secara perlahan kepada sang Mama.


"Maaf ya Ma, Zalfa harus ninggalin Mama sendiri di sini selama kurang lebih 2 hari."


"Hei, Zalfa ... Tatap Mama!" Mama Zalfa menyuruh agar Zalfa tak menghawatirkannya karena ia akan baik-baik saja,"Mama enggak papa, Mama baik-baik saja. Di sini juga ada Ica yang akan menjaga dan mengurus Mama. Jadi, tunaikan tugas kamu tanpa ragu dan jangan menghawatirkan Mama di sini!" tutur Ibu Ambar dengan lembut.


"Bener banget Kak, di sini ada Gracia Adelia Ferdiansyah yang siap menjaga dan mengurus tante dengan sigap dan semangat 45" ucap gadis yang kerap dipanggil Ica tersebut.


"Kamu anak manis bisa saja yaa ngombalnya? Sampai bawa-bawa semangat 45 pula." Zalfa mencubit gemas hidung mancung Ica. Ica gadis yang memiliki nama panjang cukup sulit namun panggilannya cukup mudah.


Ica kembali berulah dengan begitu percaya diri yang dimilikinya.


Zalfa dan Ibu Ambar kompak menggelengkan kepala mereka hingga terdengar rengekan Ica mengaku kalah dan Zalfa yang percaya pada Ica dengan semangat 45 nya selalu Ica miliki.


Malam itu menjadi terasa sangat hangat sama seperti saat mereka menyantap hidangan makan malam yang dibuat oleh Ica sebagai kejutan untuk Zalfa dan Ibu Ambar beberapa pekan yang lalu.


Zalfa, Ibu Ambar dan Ica mulai memakan satu persatu makanan yang telah tersaji di meja makan mereka.


"Gimana Tante? Masakan Ica dan Kak Zalfa enak kan?" tanya Ica ingin mendapat komentar dari Tantenya. Disatu sisi Zalfa terlihat begitu menikmati makanan yang trrsaji di atas piringnya.


Ibu Ambar mengacungkan kedua jempol tangan kanan dan kirinya. Pasti sudah pada tau kan kalau seseorang memberi nilai dengan jempol tangannya itu pertanda baik atau buruk? Jawabannya adalah pertanda kalau seseorang itu puas dengan hasil yang diberikan sangat memuaskan sehingga diberi nilai ibu jari/jempol tangan.


Entah kenapa atau mungkin karena begitu menikmati makanannya tanpa ada sebab Zalfa tiba-tiba cegukan, secepat mungkin Ibu Ambar dan Ica menyodorkan air putih untuk diminum Zalfa agar cegukan yang menyerang Zalfa segera mereda.


Beberapa saat setelah minum, cegukan Zalfa berhenti namun tanpa diduga cegukan itu kembali lagi dan nampaknya semakin parah. Ibu Ambar dan Ica pun sempat khawatir dengan kondisi Zalfa. Tapi Zalfa menengaskan kalau ia akan minum air lagi dan mereka tak perlu khawatir dengan memajukan tangan sebagai pertanda ia tidak kenapa-kenapa dan ia akan baik-baik saja.

__ADS_1


Zalfa masih setia meneguk air putih itu secara perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian ia merasa sudah tak sanggup lagi untuk minum karena perutnya yang rasanya sudah penuh.


Tanpa ada angin ataupun ada hujan Ica tiba-tiba mengait-ngaitkan masalah cegukan Zalfa dengan sebuah mitos yang mengatakan bahwa kalau kamu cegukan berarti ada seseorang yang sedang memikirkan kita dan karena begitu memikirkan bisa sampai menjadi merindukan.


"Kak Zalfa enggak salah lagi, ini pasti karena itu ... karena itu" Ica berucap dengan terputus-putus namun begitu menggebu membuat Zalfa jadi begitu penasaran.


"Apa Ica? Apa?" Zalfa bertanya dengan kondisinya yang masih cegukan.


"Pasti cegukan Kakak ini karena ada seseorang yang memikirkan Kakak atau merindukan Kakak." terang Ica kemudian.


Zalfa melotot kaget mendengar penjelasan Ica yang mengatakan demikian.


Ibu Ambar yang masih setia bersama mereka berdua entah ada gerangan apa setuju kepada ucapan Ica.


"Iya Zalfa sayang bisa jadi itu. Kalau lagi ada seseorang yang memikirkan kamu." sahut Ibu Ambar antusias dan seketika langsung terlintas dihatinya sosok Pak Kondektur tampan di beberapa waktu yang lalu yang hendak mengembalikan cincin Zalfa.


"Kak, siapa?" Ica bertanya dengan berbisik di telinga Zalfa.


"Siapa apanya Ca?" Zalfa merasa diberi pertanyaan aneh oleh adik sepupunya itu.


"Siapa laki-laki yang sedang dekat sama Kak Zalfa?"


Ica geregetan Zalfa yang masih belum faham akan ke arah mana pertanyaannya.


"Belum ada lagi." jawab Zalfa santai karena memang belum ada lagi laki-laki yang ia rasa dekat dengannya setelah dikhianati oleh Edo.


"Ada Zalfa, ada." Ibu Ambar meyakinkan.


Zalfa masih bertanya dalam hatinya siapa yang dimaksud Mamanya.


"Apa Pak kondektur itu?" Zalfa teringat terakhir kali ia bertemu dengan Pak kondektur itu dan Zalfa pu sempat kepikiran juga olehnya, "Masa iya sih?"


"Sudah! Tidak usah diambil pusing! Sekarang kamu minum lagi dan lekas istirahat putri Mama yang cantik jelita." Ibu Ambar alias Mamanya Zalfa mencoba mengalihkan pembahasan mereka karena Ibu Ambar ingin biar takdir saja akan mempertemukan dan menyatukan mereka kalau mereka memang diciptakan untuk satu sama lain. Tidak perlu ada sindiran atau lain sebagainya.


"Iya udah Zalfa istirahat dulu ya Ma." ucap Zalfa kepada Mamanya.


"Dan yang kamu ucapin itu cuma mitos Ica!" Zalfa yang masih menegaskan kembali pernyataan Ica mengenai cegukannya yang datang dengan begitu tiba-tiba.

__ADS_1


Ica pun hanya mengangkat kedua bahunya dengan masih tetep tersenyum santai.


__ADS_2