Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Semakin Membaik


__ADS_3

Dimas mengedarkan pandangannya. Mengamati sekelilingnya berjaga-jaga dari Sintia yang terus saja mendekatinya.


Merasa aman kembali, Dimas hendak memulai tugasnya.


Tangan lembut seseorang memegang lengannya dan membuat Dimas memalingkan tubuhnya ke seseorang itu.


"Maaf Dimas! Maaf!" Rere tak sengaja dan tak enak hati.


Dimas masih terlihat santai tapi kaki-laki di sisi mereka yang tak sengaja melihatnya begitu merasakan hawa sesak yang menjalar di hatinya.


Mengetahui ada keberadaan Lukman, Dimas mengajak Lukman untuk bergabung bersama dengan Rere.


Melihat Lukman berada di stasiun pagi-pagi sekali dengan pakaian dinas kondekturnya, membuat Rere bertanya-tanya sendiri.


"Lukman? Kamu udah rapi aja sih?"


"Kamu enggak tau Re?" Dimas bertanya.


Rere menggelengkan kepalanya.


Faham kalau ternyata Rere belum mengetahui kenapa Lukman sudah rapi pagi-pagi begini padahal yang Rere tau Lukman mendapat shift malam sama dengannya.


"Jadi begini Re, kemarin Pak Restu menginstruksikan kepada Lukman kalau Lukman dipindahkan tugas pada shift pagi." Dimas menjelaskan intruksi dari Pak Restu selaku pimpinan mereka.


Dimas menepuk-nepuk pundak Lukman karena merasa senang akhirnya mereka bisa satu shift walaupun bertugas di kereta yang berbeda.


Kalau Dimas menepuk-nepuk pundak Lukman sebagai tanda senang, lain halnya dengan Rere. Rere mencubit lengan Lukman yang terbalut jaz. Dan akibat cubitan Rere itu Lukman meringis kesakitan dan memohon ampun pada Rere agar tidak memberi cubitan lebih parah padanya.


Terlintas dalam hati Dimas andai dirinya dan Zalfa bisa seperti Rere dan Lukman saat ini, pastinya itu begitu menggemaskan dan membahagiakan.


"Awas saja kamu Lukman!" Rere dengan perpaduan nada sebel dan bercandanya Rere.


Rere mengarahkan rantang makanan yang ia bawa ke Dimas, "Ini Dimas, ini makanan khusus cuma buat kamu. Lukman enggak usah kamu bagi."


Tetapi Lukman malah meraih rantang yang diserahkan Rere ke Dimas. Dan langsung membukanya begitu saja.


"Re, makanan ini banyak sekali! Dimas enggak akan sanggup menghabiskannya sendiri." Cercah Lukman tak setuju dengan ucapan Rere yang menekankan kalau makanan tersebut tak usah dibagi dengan Lukman.


Dengan cepat Lukman menutup makanan itu kembali begitu mengetahui banyaknya isi makanan yang Rere berikan kepada Dimas.


"Iya udah deh, terserah!"


Dengan nada kesal dan bete Rere berlangsung pergi meninggalkan Dimas dan Lukman.


"Parah kamu Luk! Masa Rere enggak kamu kasih tau?" Dimas menyudutkan Lukman.


"Ayolah Dimas, aku belom sempat bilang ke Rere karena kamu tau sendiri lah berita inikan sangat mendadak!" Lukman membela diri.


"Tapi, kenapa Rere sebegitunya ya Dim?"


Lukman bertanya sambil senyum-senyum sendiri. Dalam hati dan fikirannya ia menerka-nerka apa Rere sudah mulai menyukainya?


Tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya sendiri, ia mengajukan pertanyaan kembali kepada Dimas, "Dim, apa mungkin Rere mulai ...?" Raut kebahagiaan sangat mendominasi Lukman


"Bisa jadi!" Jawab Dimas ikut bahagia melihat teman baiknya bahagia pula.


"Semoga! Semoga seperti itu!"


"Ayo Dim kita bertugas! Tunggu apa lagi?" Ajak Lukman begitu semangat. Pagi ini ia serasa mendapat keberuntungan yang tiada tara dan tak terhingga.

__ADS_1


Antara heran dan ikut bahagia itulah yang Dimas rasakan saat mendapati sikap Lukman yang berubah 180ยฐ karena Rere yang sepertinya tak suka kalau Lukman berbeda shift dengan Rere.


Berbeda dengan Dimas dan Lukman yang tujuannya adalah peron-peron kereta.


Rere kini melanjutkan tujuan utamanya. Tujuan utama Rere adalah rumah sakit di mana Zalfa masih dirawat.


Menjaga Zalfa setiap pagi sampai sore menjadi kesibukan baru yang selalu mengasikkan untuknya. Apalagi saat bersama dengan Lukman yang kadang membawakan sarapan pagi untuk mereka makan bersama.


"Kalau Lukman pindah shift pagi, aku akan selalu sarapan sendiri deh!" Sesalnya kemudian yang baru sadar alangkah berharganya moment sarapan pagi bersama Lukman apalagi disaat Lukman yang membawakan makanan tersebut untuk mereka makan bersama.


Rere memandangi kotak makanan yang sebenarnya sengaja ia siapkan untuk dirinya dan Lukman sarapan bersama. Kotak itu diletakkan Rere diatas meja di samping sofa diruangan rumah sakit tersebut.


Perlahan ia membuka kotak makanan itu. Dengan perasaan cukup kecewa ia memakan makanan itu sendiri.


"Lukman kenapa sih kamu enggak ngasih tau, tau gini aku enggak akan siapin makanan khusus ini untuk kita." Celoteh Rere geregetan sambil mengambil suapan nasi dan lauk pauk dengan sendok dan garpu ditangan.


"Lukman tuh yaa ... Enggak tau apa kalau aku ... " Masih asik menyedok nasi dan lauk pauk,


"Aku udah mulai suka sama dia!" Lanjut Rere memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang masih cukup penuh.


Beberapa jam kemudian ...!


Seorang dokter bersama perawat masuk ke ruangan Zalfa dirawat untuk memeriksa kondisi Zalfa.


"Alhamdulillah Bu, keadaan Bu Zalfa semakin membaik." Ujar dokter itu dengan wajah penuh syukur dan bahagia. Apalagi kalau teringat perjuangan ketiga pemuda yang setiap pagi dan malam berganti tugas menjaga dan menemani Zalfa.


"Alhamdulillah dokter!" Rere ikut senang.


"Tetap kuatkan usaha dan do'a ya Bu Rere. InsyaAllah atas izin Allah, Bu Zalfa akan bisa segera sadar."


Rere menjawabnya dengan anggukan. Ia mendekat ke samping tempat Zalfa berbaring.


Kedua tangannya memegang tangan Zalfa dengan erat. Wajahnya pun menatap harap ke wajah Zalfa yang masih terlihat cantik walaupun dalam keadaan seperti itu (koma).


Ucap Rere merengkuh tubuh Zalfa.


Disisi lain dua laki-laki seprofesi itu tengah asik menikmati makanan mereka.


"Dim ini enak banget loh!" Lukman ikut memakan Dimas yang diberikan oleh Rere disela waktu istirahat mereka.


"Ya udah makan yang banyak biar tambah power full habis ini!" Dimas menyodorkan makanan yang masih ada ke arah Lukman. Dalam hati ia sangat terpukau pada Lukman yang ternyata bisa sebegitunya (bucin)karena cintanya pada Rere. (Padahal Pak Dimas juga Bucin ๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚๐Ÿคซ Apalagi nanti pas udah tau kondisi terkini dari sang tambatan dan pujaan hatinya. Siap-siap tambah extra cintanya. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿคญ) Udah aahh... Lari dulu authornya! ๐Ÿƒโ€โ™‚๏ธ๐ŸคญJust kidding!๐Ÿ™.


Siapa sangka pula, kalau dibalik ruangan Zalfa tersebut, ada sosok yang tak suka mendengar pernyataan yang diberikan dokter kepada Rere terkait kondisi terkini dari Zalfa.


"Enggak! Zalfa enggak boleh sadar! Enggak boleh ... Enggak boleh!"


"Aku enggak akan kembali untuk Dimas!" Tukasnya begitu geram.


Ditengah kegeramannya tersebut handphonenya ikut berdering. Dengan rasa cukup tak suka karena merasa terganggu, ia mengangkat panggilan dari nomor kontak bernama "Mbak Meta".


Panggilan terhubung. Rupanya Meta meminta tolong pada Sintia agar ke kota M karena ia begitu membutuhkan bantuan Sintia saat itu juga.


Beberapa saat kemudian setelah panggilan berakhir, Sintia masih menampakkan ekspresi kesalnya. Ia menatap sekilas kepada Zalfa dari jendela ruangan tersebut.


Menatap dengan rasa sebal dan kecewa yang mendominasi seraya menggepalkan tangannya.


Namun disisi lain, Sintia juga terus melangkah meninggalkan rumah sakit karena ia harus segera beranjak menemui Meta.


Beralih ke sebuah tempat...

__ADS_1


Di suatu sudut kota, tepatnya disebuah rumah di kota M. Tepatnya lagi, di rumah masa kecil Zalfa. Rumah penuh kenangan bagi Zalfa dan Bu Ambar.


Hari itu Bu Ambar dan Ica beranjak keluar rumah. Ica menemani Tantenya menghirup udara segar dengan menikmati udara luar yang lebih sehat untuk kesehatan Bu Ambar.


Mereka berjalan menyusuri taman hingga mereka sampai disebuah tempat yang sangat disukai oleh Bu Ambar semenjak Zalfa koma.


Ica menemani Tantenya mengunjungi Sekolah tempat Zalfa mengajar. Setiap satu minggu sekali Bu Ambar rutin mengajak Ica duduk ditaman sekolah tersebut sambil menunggu murid Zalfa berdatangan menghampiri dirinya, dan Ica yang membawakan coklat untuk dibagikan ke murid-murid kesayangan Zalfa tersebut tanpa terkecuali.


Senyum ceria begitu terlihat saat Ica membagikan satu persatu coklat buatannya kepada murid-murid Zalfa.


"Terimakasih Kak Ica!"


"Terimakasih Grandma!"


Ucap mereka serentak secara bergilir.


"Do'akan Bu Zalfa ya adik-adik cantik dan ganteng! Semoga Bu Zalfa segera sembuh dan bisa mengajar kalian lagi!" Tutur Ica.


"Siap Kak Ica! Setiap selesai sholat aku pasti selalu do'ain Miss Zalfa agar lekas sembuh. Karena aku udah kangen banget diajar sama Miss." Jawab salah satu dari murid-murid tersebut.


"Iya aku juga udah kangen sama Miss."


"Aku juga!"


"Aku juga!"


Ucap yang lainnya saling ikut menjawab.


Bu Ambar dan Ica pun begitu terharu mendengar ucapan dari murid-murid Zalfa tersebut.


"Terimakasih ya sayang!" Ica merentangkan kedua tangannya berpelukan dengan anak-anak tersebut. Bu Ambar yang semula duduk pun ditarik oleh salah satu murid Zalfa dan mengajak untuk ikut berpelukan.


Drutt ... Drutt ... Drutt!


Handphone milik Bu Ambar berdering!


"Hallo, assalamu'alaikum Tante!"


"Wa'aalaikumussalam Bu Rere!" Bu Ambar cemas tapi ia tutupi.


"Bu Ambar, saya ingin memberitahu kondisi Bu Zalfa saat ini. Kata dokter, Bu Zalfa sudah semakin membaik, dan insyaAllah, Bu Zalfa akan bisa segera sadar." Hari dan bahagia mendominasi dari nada bicara Rere saat berkomunikasi dengan Bu Ambar via udara, "Dokter juga berpesan agar kita tetap menguatkan do'a dan ikhtiar kita!"


Bu Ambar sangat bahagia mendengar kabar dari Rere. Ia memberitahu Ica dan murid-murid Zalfa yang masih berada di taman itu.


Mereka pun ikut bahagia mendengar kondisi Zalfa yang semakin membaik. Mereka sama-sama berdoa agar Zalfa segera sadar dan pulih kembali.


....


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ...!


Visual untuk Mr. Dimas ๐Ÿคซ



Atau



Silakan dipilih sendiri yaa, yang mana yang cocok menurut kalian ๐Ÿ˜.

__ADS_1


๐ŸคญTerimakasih dan see youn soon the next episode! ๐Ÿ˜š


Kurang dan lebihnya saya mohon maaf๐Ÿ™๐Ÿค—.


__ADS_2