Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Menceritakan


__ADS_3

"Mas, Mama Mas, Mama!"


"Gimana ini Mas, gimana?"


Pertanyaan beruntun keluar dari Zalfa yang tidak mau kalau terjadi hal yang tidak-tidak pada Mamanya.


Kebahagiaan nuansa pernikahan yang ia rasakan dalam sekejap berubah menjadi nuansa sendu berpadu cemas yang menjadi satu.


Dokter keluar dari ruangan Bu Ambar ditangani.


Semua orang yang menunggu di depan ruangan tersebut menghampiri dokter tersebut dan kembali menanyakan kondisi dari Bu Ambar termasuk Zalfa.


"Dok, bagaimana Mama saya?"


"Pasien secepatnya harus mendapatkan penanganan dan untuk itu pasien harus segera dibawa ke rumah sakit Ibnu Sina Kota M."


"Apa dok?"


"Fa, kamu harus tenang!"


"Mama Mas, Mama?" Menatap Dimas dengan tatapan kalut dan kosong.


Dimas menangkup wajah Zalfa. Seorang Zalfa yang kini sudah sah menjadi istrinya. Kesedihan, kesenangan ataupun apapun itu menjadi tanggungjawab Dimas sekarang.


Dimas mengusap tetesan air mata yang lolos dari pipi Zalfa, meyakinkan Zalfa jika semua akan baik-baik saja. Merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya, menyalurkan energi agar Zalfa kuat dan mampu melewati semua ini.


Ayunda dan Meta baru saja sampai namun mereka masih sempat mendengar apa yang dikatakan dokter pada Dimas dan Zalfa.


"Bu Ayunda, kita harus ke rumah sakit itu untuk ikut memantau kondisi Bu Ambar. " Memegang Ayunda penuh kecemasan.


Melihat reaksi dari Meta membuat Ayunda merasa cukup aneh dalam hatinya. Sebab yang dia tau Meta yang dulu tidak mau memperdulikan Zalfa ataupun dirinya sama sekali.


Ayunda hanya diam saja belum mengiyakan permintaan Meta. Meta pun memohon pada Ayunda agar Ayunda menurutinya kali ini.


"Bu Ayunda saya mohon ya Bu, saya mohon!"


Ayunda masih diam dan Meta pun menjelaskan, kalau dia dulu mengaku salah karena sempat tidak suka dengan Zalfa dan Ayunda. Dan Meta juga meminta maaf untuk itu.


Meta juga menjelaskan dan meyakinkan Ayunda, kalau dia sudah berubah, dulu mungkin dia tidak suka bahkan iri pada Zalfa sampai ia menghasut Sintia, tapi sakitnya kemarin benar-benar membuatnya sadar. Dan apalagi kini, ia diberi kesempatan sehat seutuhnya. Itu merupakan anugrah yang sangat luar biasa baginya. Sehingga Meta ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Saya ingin menebus kesalahan saya pada kamu dan Bu Zalfa, Bu Ayunda!"


Sorot matanya penuh penyesalan.


Ayunda mengangguk demikian juga

__ADS_1


Meta, mengangguk haru dan bersyukur Tuhan telah menunjukinya jalan yang benar saat ini.


Beberapa saat kemudian...


Semua telah siap dan Dimas bersama Zalfa ikut mengantarkan Bu Ambar ke rumah sakit kota M.


Dibelakang Dimas dan Zalfa ikut pula Pak Wijaya, Bu Anis dan Ica. Juga, Ayunda dan Meta tanpa diketahui oleh kedua belah pihak keluarga.


Dalam mobil suasana hening mengiringi keberangkatan Ayunda dan Meta menyusul Dimas dan Zalfa dalam perjalanan ke rumah sakit kota M.


Dalam heningnya suasana tapi tidak untuk jalanan yang mereka lewati di wilayah perkotaan.


Ayunda memegang pundak Meta menenangkan satu sama lain.


Sorot mata penyesalan dan kekecewaan masih tampak begitu jelas dari wajah sendu Meta saat mereka saling bersi tatap.


"Kenapa Bu Meta? Sebenarnya apa yang menganggu Bu Meta?"


"Dan, iyaa ... emm, saya sempat berfikir bagaimana Bu Meta bisa tiba disaat yang tempat di TKP tadi?"


"Emm, maksud saya, Bu Meta kan beberapa jam yang lalu masih di rumah sakit kota M kan?"


Meta sekuat tenaga mencoba menceritakan kronologi kejadian beberapa jam yang lalu yang membuat ia bisa sampai di TKP (Stasiun Anggrek kota M) tepat pada saat peristiwa terjadi.


Pagi-pagi sekali Meta melihat gerak-gerik aneh dari Sintia. Dengan cepat ia mengikuti Sintia. Rencananya untuk kembali ke rumah setelah dinyatakan benar-benar sehat setelah menjalani pengobatan, tertunda karena penasaran akan gerak-gerik Sintia pagi itu.


Sebuah rencana rahasia besar dan berbahaya terdengar begitu jelas ditelinga Rere saat itu juga.


"Hari ini adalah pernikahan Dimas dan Zalfa, bahkan mereka akan melangsungkan pernikahannya beberapa jam lagi." Ucap Sintia terlihat santai.


"Terus, kenapa kita enggak langsung berangkat dan mengagalkan pernikahannya saja?"


Sintia tak menanggapi balik pertanyaan dari rekannya itu. Dia hanya menginstruksikan untuk segera pergi.


"Sudahlah, ayo pergi!"


Tap ... tap ... tap...


Langkah kaki Sintia dan rekannya bersamaan. Rekannya tersebut kembali menanyakan sesuatu yang akan terjadi diluar rencana mereka.


"Tapi, Anda yakin bos? Bukannya Bos mencintai Dimas. Kalau, malah mengenai Dimas bagaimana bos?"


"Itu urusan kamu!" senyum smirk terpampang diwajah Sintia,"di sini, Zalfa yang harus membayar mahal pernikahan yang dia fikir begitu membahagiakan."


"Ayo pergi sekarang juga!"

__ADS_1


Melangkah dengan cepat.


Hati nurani Meta tak mengizinkan Meta untuk tetap diam saja dan membiarkan Sintia melakukan rencana jahat itu.


Dengan susah payah Meta mengikuti Sintia. Meta masuk dalam mobil itu tanpa sepengetahuan Sintia. Sintia pun tidak tau menahu kalau Meta sudah dinyatakan sembuh dan boleh kembali pulang saat itu juga.


Dalam hati Meta bergumam bahwa sakitnya saat ini tidak akan sebanding dengan sakit yang akan Dimas dan Zalfa rasakan kembali kalau ia tak menghentikan rencana jahat Sintia, "Dimas, Bu Zalfa, saya akan datang mengagalkan rencana Sintia."


"Bahkan, jika perlu saya akan berkorban untuk kebahagiaan kalian."


Beberapa jam telah berlalu, sampailah mereka di stasiun Anggrek kota S.


Sintia dan rekannya sudah keluar lebih dulu.


Meta dengan pelan dan hati-hati ikut keluar juga.


Hingga ia melihat sepasang pengantin yang begitu serasi dengan balutan busana yang melekat pada keduanya. Pancaran kebahagiaan pun tersirat begitu jelas dinetra sepasang pengantin baru itu.


Namun, saat berpindah menatap ke arah lain. Meta tak mampu untuk membungkam mulutnya. Rasanya ia ingin memberitahu Dimas dan Zalfa agar pergi dari tempat mereka berdiri saat itu juga. Tetapi mulutnya benar-benar keluh dan kakinya pun serasa kaku tak mau dibuat untuk berjalan.


Saat tangan rekan Sintia memegang kendali senjata api yang berada ditangannya. (WARNING:TIDAK UNTUK DITIRU!)


Saat itu pulalah, Meta dengan susah payah mencegah agar Dimas dan Zalfa tidak menjadi korban lagi dengan menggantikan posisi mereka.


Sementara Sintia, ia tak menyangka akan hal yang dilakukan oleh Meta. Dalam hati ia ingin menemui Meta, tapi buru-buru rekan jahatnya membawanya untuk pergi saat itu juga.


Sementara yang lain panik dan mengecek kondisi serta sekelilingnya.


.....


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓿𝓴 𝓸𝓯𝓯~


Ayunda tak mampu lagi berkata atau menanggapi. Tetapi tak hentinya Ayunda berusaha menenangkan Meta yang cukup emosional saat menceritakan kronologi yang sebenarnya.


"Saya juga tidak tau Bu Ayunda, bagaimana Sintia tau rencana Pak Dimas yang akan menikmati hari bahagianya dengan menaiki kereta."


"Saya juga tidak habis fikir kepada Sintia, ya meskipun saya pernah melakukan kesalahan karena mengarahkan Sintia ke arah yang salah."


"Sudah ya Bu! Sabar! Semua akan ada hikmahnya!"


"Dan untuk masalah pernah melakukan kesalahan, setiap manusia pasti pernah melakukannya, asalkan kita sadar dan mau berubah menjadi manusia yang lebih baik, maka manusia tersebut berhak untuk mendapatkan kesempatannya."


Manusia mana yang tak pernah berbuat salah? Semua manusia pada umumnya pernah berbuat salah. Termasuk Meta, itulah yang dicerna oleh Ayunda untuk memotivasi Meta agar Meta tak larut dalam penyesalannya.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!

__ADS_1


__ADS_2