
Sebelum membaca, Sedikit informasi bahwa akan ada episode yang menggembirakan di episode ini. Karena itu, mohon untuk bisa menyesuaikan suasana hati!
Dan sedikit informasi pula bahwa akan terdapat adegan berbau (kekerasan) dalam episode ini. Karena itu, mohon untuk bijak dalam membaca! ADEGAN BERBAU KEKERASAN / KEJAHATAN TIDAK UNTUK DITIRU!
Sekali lagi, diharap tidak mencontoh hal yang tidak sepatutnya dicontoh, karena adapun hal tersebut author tulis hanya sebagai pelengkap cerita ini.
Terimakasih atas perhatiannya!🙏
Selamat membaca!
.......
.......
.......
.......
.......
Usai sarapan pagi bersama, Dimas benar-benar mengajak Zalfa jalan-jalan mengelilingi desa dan mengunjungi tempat-tempat eksotik yang tidak jauh dari desa yang mereka kunjungi.
Motor yang dikendarai Dimas terus melaju melewati kiloan meter jalanan yang mengantarkan mereka pada alun-alun kota tetangga dari kota M.
Mereka berhenti di sana. Menikmati suasana ramainya muda-mudi, anak-anak, suami istri yang sedang berkunjung di tempat itu. Yang tak tertinggal pesanan makanan mulai dari makanan tradisional, modern, dan modern tradisional mereka nikmati sama-sama.
"Enak kan?" Dimas menyuapi makanan tradisional yang ada di wadahnya kepada Zalfa.
Zalfa menerima dan mengunyahnya. Netranya dibuat merem melek karena enaknya makanan tradisional yang ia makan.
"Enak banget, Mas!"
"Udah aku duga kamu akan mengatakannya!" Dimas sembari menceritakan hal-hal yang dilakukannya saat di berada di desa Eyang Putrinya.
Zalfa mendengar Dimas yang asik bercerita tentang kesukaannya berkunjung ke alun-alun kota tetangga dari kota M yang kebetulan tak jauh dari desa Eyangnya. Sambil mendengar cerita Dimas, Zalfa dengan tak sabar mencicipi satu persatu makanan yang Dimas pasan, mulai dari tradisional, modern dan modern tradisional.
Dan Zalfa lagi-lagi dibuat merem melek karena kelezatan makanan tersebut. Sampai-sampai Zalfa hampir tersedak karenanya, "Pelan-pelan makannya, sayang!" Buru-buru Dimas menyodorkan air minum pada Zalfa.
Tapi belum sempai minuman itu berpindah tangan dari tangan Dimas, seseorang dengan sengaja menyenggol air itu hingga air itupun tumpah.
"Mas hati-hati donk!" Zalfa yang tak suka dengan pria yang menutupi wajahnya dengan topi merahnya itu.
"Udah Mas, aku udah enggak papa kok!" Zalfa merasa sudah membaik dari tersedaknya.
Dimas Melihat bungkusan kertas yang jatuh tepat di kakinya. Ia lihat kembali Zalfa yang masih asik menikmati makanan. Dan saat itu ia mengambil dan perlahan membuka kertas itu.
"Berbahagialah kalian untuk saat ini sebelum akhirnya kalian harus terpisah kembali!" Tulisan dalam kertas itu.
"Mas, kertas apa itu?" Zalfa tau kertas yang Dimas pegang.
Segera Dimas meremas kertas itu dan mengatakan,"Ini bukan kertas apa-apa sayang! Cuma kertas sobekan aja!" Dimas terpaksa berbohong pada Zalfa karena tak ingin Zalfa khawatir.
"Fa, maaf aku enggak memberitahu kamu ini." Tutur Dimas dalam hatinya,"tapi, percayalah aku akan menjaga kamu sebaik mungkin." Kemudian mengelus-elus kepala Zalfa yang tertutup pasmina yang Zalfa kenakan.
Zalfa menyodorkan minumannya pada Dimas dan Dimas menyuruh Zalfa agar meminumnya saja, "Enggak papa kamu minum duluan, sayang!"
__ADS_1
Mereka berdua pun meneruskan jalan-jalan mereka ke berbagai tujuan di sekitar kota itu.
.....
Hari ke-3 honeymoon...
Dimas dan Zalfa menggunakan waktu ketiganya untuk bersilaturahmi ke beberapa warga desa.
Mereka pun mendapatkan sambutan yang begitu hangat. Zalfa juga lupa sebagai tamu dari jauh membawakan bingkisan untuk warga yang mereka kunjungi.
Waktu pun terus berjalan, Dimas dan Zalfa begitu menikmati suasana dimana bisa saling bercengkrama dan berdoa untuk kebaikan satu sama lain.
Hingga tanpa terasa waktu sudah beranjak siang.
Satu persatu warga yang ingin mereka kunjungi sudah selesai mereka kunjungi.
Mereka merasa cukup penat tapi penat itu hilang saat mereka bisa saling bertukar sapa, cerita dengan warga-warga yang mereka kunjungi. Dan mereka pun memilih untuk istirahat di kediaman Eyang Putri sebelum lanjut ke agenda selanjutnya yang akan mereka lakukan.
~Tepat pukul 16. 00 WIB~
Datanglah anak-anak warga yang akan belajar Bahasa Inggris. Karena sebelumnya Dimas sudah memberitahu maka dengan senang hati anak-anak itu menyambut Zalfa yang akan mengajarkan Bahasa Inggris pada mereka.
Kegiatan belajar itupun dimulai, dari Zalfa memperkenalkan dirinya, mereka menyanyikan lagu-lagu bahasa Inggris dan mengenal banyak vocabulary.
Dimas yang melihat pemandangan dimana jarang ia temui. Ia dibuat kagum dengan cara Zalfa mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak desa itu dengan semangat, antusias, kegigihan dan kesabaran.
Zalfa yang sadar akan Dimas yang sedari tadi memandangnya dengan pandangan tak biasa ia pun menggerakkan alis dan matanya sebagai tanda mempertanyakan kenapa Dimas memandangnya sampai sebegitunya?
Dimas yang mengetahui apa yang Zalfa tanyakan padanya lewat isyarat yang Zalfa berikan. Dimas langsung menjawab pertanyaan itu dengan membuat tanda love dengan kedu tangannya.
Tak mau kehilangan konsentrasi, Zalfa berpura-pura mengalihkan pandangan kepada anak-anak yang sedang menulis.
Suara Tono berhasil membuat keduanya jadi salah tingkah.
Namun dengan segera Dimas menceritakan pada Tono apa yang dialaminya sedari tadi pagi.
mendengar cerita Dimas, Tono bergidik tak percaya. Siapa orang yang berani melakukan itu pada Dimas dan Zalfa.
"Ton, kamu bantu saya! Selama saya bertugas tolong kamu awasi Zalfa dan keluarga saya di kota baik-baik." Pinta Dimas pada Tono yang kebetulan Tono jago dalam ilmu bela diri. Meskipun begitu bukan berarti ilmu bela diri dapat digunakan sesukanya. Karena hendaknya itu digunakan ke ranah yang lebih positif.
"Kamu cukup mengawasi mereka dari kejauhan saja!" Dimas tak ingin Tono menggunakan ilmu bela dirinya jika tidak darurat.
"Baik, Mas Adi. Saya akan melaksanakannya!"
Tono mematuhi Dimas.
"Terimakasih banyak Ton." Dimas danTono menganggukkan kepalanya.
Hari itu pula Dimas dan Zalfa bersiap untuk kembali ke kediaman orang tuanya. Dengan cukup berat melepas kepergian cucu tersayangnya Eyang Putri dan Mbah Kung tak henti-hentinya memeluk dan membanjiri keduanya dengan doa baiknya.
"Semoga kalian selalu seperti ini, bahagia." Eyang Putri.
"Aamiin" Zalfa meng-aamiin-kan doa Eyang,"terimakasih Eyang."
Eyang mengangguk dan membelai wajah Zalfa berganti kepada Dimas juga.
__ADS_1
Satu persatu orang yang turut mengantarkan mereka ke stasiun malam itu dipamiti oleh Zalfa dan Dimas. Mulai dari Budhe Titin beserta suaminya, juga Pak Lek Budi dan Tono yang akan menyusul Dimas dan Zalfa nantinya.
"Hati-hati, Mas Adi dan Mbak Zalfa!" Pak Lek Budi.
"Budhe tunggu kabar baik dari kalian setelah ini." Maksud kabar baik itu adalah kehamilan Zalfa.
Mengerti apa maksud Budhe Titin, Zalfa mengangguk penuh harap agar harapan besar itu segera nyata.
"Hati-hati, Mas Adi dan Mbak Zalfa." Tono.
"Makasih Ton." Merangkul Tono dan menginstruksikan agar Tono besok sudah mulai melaksanakan perintahnya. Karena Dimas juga sudah memberitahu keluarga Eyangnya tentang Tono yang akan mengawasi Zalfa diam-diam nantinya.
Tak lama setelah moment perpisahan, kereta yang akan membawa Dimas dan Zalfa pun telah tiba.
Dari jendela kereta yang membawa mereka. Mereka kembali melambaikan tangan ke Eyang, Mbah Kung yang keukeuh untuk ikut mengantar Dimas sampai stasiun, juga Budhe Titin beserta suaminya. Tak lupa pada Paklek Budi dan Tono juga.
...----------------...
Laju dan deru kereta menembus hangatnya malam itu bersama Dimas dan Zalfa.
"Istirahatlah Fasya!" Dimas melihat Zalfa yang sudah cukup lemas dan mengantuk.
Menurut pada Dimas. Zalfa mulai memejamkan matanya dengan bersandar di pundak ternyaman suaminya.
Masih belum bisa tidur walaupun sudah memejamkan matanya, Zalfa kembali bersuara.
"Mas, makasih ya untuk tiga hari yang sangat indah dan mengesankan." Masih dengan mata terpejam.
"Belum tidur?"
Menggelengkan kepalanya dengan posisi yang masih sama dan dengan mata terpejam.
"Sama-sama, sayang. Aku juga makasih karena kamu selalu ngertiin aku. Gimana kebiasaan aku yang enggak bisa aku tinggal gitu aja saat aku berkunjung ke Desa, Eyang." Maksud Dimas adalah kebiasaan dimana ia tak bisa pulang tanpa bersilaturahmi dengan warga desa di sana.
"Aku malah seneng kok, Mas Dimas." Sudah tidak lagi memejamkan matanya dan malah memandang Dimas dengan penuh perhatian.
Seperti biasa Dimas mengacak-acak pasmina Zalfa karena berhasil mengelus-elus kepala Zalfa yang terlindungi oleh pasmina yang Zalfa kenakan.
"Yah, pasmina ku sedikit berantakan deh!" Racau Zalfa tapi saebenarnya sangat suka dengan yang Dimas lakukan.
Dimas tertawa dan berusaha untuk membantu Zalfa membenarkan kembali pashminanya.
Pasmina sudah tertata dengan baik dan rapi kembali. Dimas memandang Zalfa dengan lekat membuat Zalfa cukup salah tingkah meroba malu.
"Cantik!" Dimas masih sengaja tak berkedip.
"Makasih." Zalfa singkat dan setelah itu kembali memejamkan matanya dengan posisi yang sama sebelumnya.
"Ya udah kamu tidur aja. Aku akan berjaga untuk kamu."
Zalfa mengangguk dengan mata terpejamnya.
"Fa, semoga kita bisa segera kasih kabar baik itu ke Budhe Titin." Dimas tanpa sengaja teringat pesan Budhe.
Zalfa tak bersuara ataupun bereaksi. Dimas pun mencoba menengok ke Zalfa dan ternyata Zalfa sudah benar-benar terlelap.
__ADS_1
Melihat itu, Dimas tersenyum manis dan mengecup pelan kening sang istri.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!