Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Keadaan Bu Ambar


__ADS_3

Begitu selesai menceritakan kejadian sebenarnya yang menyangkut pautkan Sintia perempuan yang Meta anggap seperti adiknya sendiri, dari layar handphonenya ID kontak bernama My little sister Sintia melakukan panggilan padanya.


Meta mengangkatnya.


Dalam panggilan tersebut, Sintia meminta tolong pada Meta agar menyusulnya karena ia di seret ke kantor polisi untuk diadili.


Bagaimanapun Sintia sudah seperti keluarganya sendiri. Hatinya tak tega membiarkan Sintia menghadapi semuanya seorang diri.


Meta menginstruksikan kepada sopir Ayunda untuk berhenti dikiri jalan. Ayunda pun panik dengan apa yang dilakukan Meta.


Meta menjelaskan kalau ia harus menemani Sintia bagaimanapun Sintia sudah seperti keluarganya baginya. Meskipun yang dilakukan Sintia sangatlah salah.


Dimenit entah ke berapa Meta secepat mungkin berusaha sampai di kantor polisi untuk menemui Sintia.


Nampaklah Sintia yang sudah diborgol kedua tangannya serta dijaga oleh polisi disamping kanan dsn kirinya.


"Mbak, aku enggak mau masuk penjara Mbak, aku enggak mau."


Detik berikutnya tak bisa apa-apa lagi, mencegah atau memohon, Meta hanya bisa menyaksikan kepiluan ketika polisi memasukkan Sintia ke dalam sel penjara.


"Mbak, tolong bebasin aku! Aku udah bilang kalau aku menyesal, dan aku akan berubah menebus dosaku, tapi polisi-polisi di sini enggak mau ndegerin aku, Mbak." Sintia hanya bisa merintih, menahan sedih dan sesak meratapi nasibnya dibalik jeruji besi.


Seorang kakak takkan mau ataupun sanggup melihat adiknya mengalami penderitaan apapun itu. Tapi, kebenaran tetaplah kebenaran. Karena sekuat apapun Meta akan berusaha membebaskan Sintia dari apa yang sudah Sintia lakukan.


"Sintia, maafkan Mbak! Mbak enggak bisa bantu kamu keluar dari sini."


"Kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu perbuat." Meta dengan menahan pilu saat menyampaikannya.


"Maafin Mbak Sin! Maaf!"


Sintia mundur beberapa langkah, tatapannya kosong dan hampa.


"Sintia? Kamu baik-baik saja? Sin?"


Di detik berikutnya Sintia meluapkan emosi nya pada Meta yang tidak peduli padanya lagi menurutnya.


Ia kesal pada Meta, segala sesuatu yang terlintas dipikirannya ia luapkan pada Meta yang tidak mau mengerti keinginannya.


"Mbak Meta kamu bukan lagi kakakku dan aku bukan lagi adikmu. Sekarang kamu bisa pergi dari sini!" Sergah Sintia masih emosional.


Meskipun begitu, Meta belum mau beranjak pergi juga, "Sin, jangan bilang gitu Sin! Jangan bilang gitu! Mbak mohon!"


"Pergi Mbak Meta! Pergi! Tinggalin aku sendiri!" Sintia cukup menaikkan oktaf suaranya.


Beberapa polisi menghampiri Meta dan meminta agar Meta pergi saja.


"Sintia, maafin Mbak! Mbak melakukan ini semua karena Mbak peduli dan sayang pada kamu."


"Semoga kamu segera sadar dan berubah."


Lirih Meta dalam hatinya saat beranjak meninggalkan tempat dimana Sintia berada.


.....


Situasi mencekam dan serius dihadapi Dimas dan Zalfa saat dokter mengatakan jika Bu Ambar dalam keadaan kritis dan harus segera melakukan transplantasi ginjal.


"Mama ... "


Lirih Zalfa melihat keadaan Mamanya dari arah jendela ruangan.


Sentuhan hangat dipundaknya dari seseorang, menyadarkan Zalfa saat itu juga.


Mengetahui siapa yang menyentuhnya Zalfa menghamburkan dirinya lagi ke pelukan Dimas.


Setelah cukup tenang Dimas mengajak Zalfa untuk duduk dan meminun air mineral yang sengaja ia bawa.


"Kamu minum dulu!" Menyerahkan dan membuka tutup botol air mineral tersebut agar Zalfa bisa dengan mudah meminumnya.


"Terimakasih ya Mas," Zalfa selesai minum air putih yang Dimas berikan.

__ADS_1


Dimas pun tersenyum seraya mengusap kepala istrinya, dan ... mengecup kening Zalfa juga.


Perlakuan Dimas menyentuh relung hati Zalfa. Selama ini Zalfa belum bisa sepenuhnya membalas cinta dan kasih sayang yang Dimas berikan untuknya. Kini, saat dimana sebenarnya malam ini adalah malam milik mereka, tapi Zalfa belum bisa membuat malam itu menjadi milik mereka sebab situasi yang dialaminya saat ini.


Tangan lembut milik Zalfa perlahan meraih tangan Dimas. Zalfa memegang tangan Dimas dengan kedua tangannya dengan berucap, "Mas maafin aku karena aku udah membuat kamu masuk dalam situasi seperti sekarang ini."


"Maafin aku karena situasi ini, momen bahagia kita harus tertunda dan belum lengkap sepenuhnya." Sebagai pengantin baru kebahagiaan mereka memang belum sepenuhnya lengkap dan Zalfa merasa bersalah dan tak enak hati pada Dimas yang sekarang sudah berstatus menjadi suaminya.


"Hei, kamu ngomong apa sih Fa?" Tangan kanannya menyentuh wajah Zalfa.


"Kenapa kamu minta maaf dan bilang kalau kamu udah membuat aku masuk ke situasi seperti sekarang ini?" Dimas diam sejenak.


"Fa, hidup itu memang ada suka dukanya. Dan tugas kita ialah menjalaninya."


"Situasi seperti apapun itu, akan kita lewati bersama."


"Dan please, kamu jangan ngomong gini lagi!"


"Mas ... Dimas!" dengan nada antara merengek dan kesal.


Dimas bertanya-tanya kenapa lagi dengan Zalfanya saat ini.


"Kenapa kamu sebaik dan setulus ini sih?" Ucap Zalfa menatap Dimas dan langsung memeluk Dimas saat itu juga.


Kini semuanya kembali melihat dan mengkhawatirkan keadaan Bu Ambar.


Ica membersamai Zalfa didepan ruangan. Sementara Pak Wijaya dan Bu Anis mereka bergantian masuk melihat Bu Ambar.


Dan Dimas, Dimas diam-diam menemui dokter Rubi dokter yang menangani Bu Ambar.


Raut wajah yang sulit diartikan saat ini mendominasi pada ekspresi Dimas saat dokter Rubi mengatakan jika ginjalnya tak cocok dengan Bu Ambar.


Dimas keluar dari ruangan dokter Rubi, mengusap kasar wajahnya. Dalam hati ia begitu berharap akan adanya keajaiban dimana Ibu mertuanya bisa sehat kembali.


Panggilan dari seseorang membuyarkan kekecewaan Dimas saat mendapati perkataan Dokter Rubi padanya.


"Dimas!"


Untuk sesaat Dimas seperti tidak asing dengan wanita yang saat ini berada tepat dihadapannya.


Dimas berupaya keras mengingat wanita tersebut dan untuk sesaat ingatannya tentang wanita itu kembali dengan begitu cepat.


"Mbak Meta ...?" Dimas sudah ingat dengan siapa wanita yang berdiri dihadapannya. Wanita itu adalah Meta seseorang yang sudah Sintia anggap sebagai kakaknya sendiri, itulah yang Dimas tau tentang Meta.


"Dimas, bagaimana Bu Ambar?" Dengan rasa gugup yang begitu mendominasi.


Dimas kembali termenung sedih dan hanya diam saja tak berkata satu katapun. Untuk sejenak ia tak tau harus bagaimana lagi karena dirinya tak bisa membantu mertuanya.


"Dimas?" Meta dengan nada cukup mengertak.


Dimas sadar dan perlahan memberitahu Meta kalau mertuanya sedang dalam keadaan kritis dan membutuhkan donor ginjal.


Meta tanpa fikir panjang ia berlari ke ruangan dokter Rubi.


Dokter Rubi cukup kaget dengan apa yang dilakukan Meta. Meta masuk ruangan dengan kasar dan tanpa mengetuk serta meminta izin terlebih dahulu. Karena tau siapa wanita yang menerobos masuk ruangannya, dokter Rubi tak mau terlalu mempersalahkannya.


Dengan isyarat tangannya Meta dipersilahkan duduk oleh dokter Rubi saat itu juga.


Meta masih cukup ngos-ngosan tapi ia sekuat tenaga menyatakan kesiapan dan kesediaannya untuk menjadi pendonor untuk Bu Ambar.


Dokter Rubi hanya diam, sesaat kemudian dia berdiri mengambil sebotol air mineral dan menyuguhkannya untuk Meta.


Sebagai dokter tentu dokter Rubi harus memperhatikan sekelilingnya dengan baik dan teliti, apalagi Meta yang saat itu membutuhkan air minum karena ngos-ngosan.


Meta tak langsung meminum air yang disuguhkan. Dokter Rubi kembali menginstruksikan kepada Meta agar meminum saja air itu. Kemudian barulah Meta meminumnya.


Disaat Meta minum, disaat itu pulalah dokter Rubi menyerahkan beberapa prosedur untuk seorang pendonor.


5 menit setelah mencermati prosedur yang ada.

__ADS_1


Meta masih mantap mengganggukan kepalanya.


Dokter Rubi mengangguk sebagai jawaban menerima keputusan Meta. Detik berikutnya, ia mempersilahkan Meta untuk menuju ruang operasi.


.....


Kembali didepan ruangan dimana Bu Ambar yang kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Ditemani Ayunda, Zalfa berusaha tetap tenang akan kondisi Mamanya saat ini.


"Bu Zalfa, yang tenang dan sabar ya Bu!"


"Bersabarlah karena pertolongan Allah disertai dengan kesabaran hambanya!"


Menyemangati dan menguatkan Zalfa.


Sesaat kemudian, Dokter Rubi datang menginformasikan kalau Bu Ambar sudah mendapatkan pendonor.


Raut wajah kebahagiaan dan syukur mendominasi pada Zalfa dan Ayunda.


Dimas yang baru saja kembali menemui Zalfa setelah dari ruangan dokter Rubi beberapa saat yang lalu ikut senang dan bersyukur mendengarnya.


Tak butuh waktu lama dokter Rubi bersama dengan suster datang ke ruangan Bu Ambar dan menginformasikan kalau ada seseorang yang siap untuk jadi pendonornya Bu Ambar.


Bersamaan dengan itu pula Dimas datang untuk menemui Zalfa kembali.


"Mas, Mama akhirnya akan bisa sembuh dan sehat lagi."


Dengan langkah cepat menemui Dimas yang masih berdiri mematung tak jauh darinya.


Sejenak mereka saling tatap, dan akhirnya


Zalfa langsung memeluk erat Dimas, mencurahkan rasa bahagia dan syukur yang ada dihatinya.


Berbagi kebahagiaan dengan suaminya.


Beberapa jam kemudian...


Saat ini semuanya nampak tegang menunggu jalannya operasi yang Bu Ambar jalani.


Adzan isya' berkumandang. Mereka dengan khidmat dan khusuk menunaikan ibadah shalat isya. Memanjatkan do'a dengan kesungguhan, mengharap kepada Sang Pencipta agar memberi keberhasilan atas operasi yang sedang Bu Ambar jalani.


Mereka kembali ke ruangan dimana Bu Ambar ditangani. Mereka kembali menunggu jalannya operasi.


Tak henti-hentinya semua yang ada disitu saling menguatkan dan meyakinkan satu sama lain.


Dan sampailah pada menit dimana dokter keluar dari ruang operasi.


Dokter membuka maskernya, mengembangkan senyuman diwajahnya dan memberitahu bahwa operasi berjalan lancar dan berhasil.


"Alhamdulillah ..." Semuanya yang berada di ruangan tersebut meluapkan rasa syukurnya.


"Biarkan pasien beristirahat terlebih dahulu. Keluarga bisa menjenguknya beberapa saat lagi!"


"Terimakasih Dokter."


Dokter Rubi pergi. Zalfa berlari mengejar dokter Rubi untuk menanyakan sebenarnya siapa yang telah menjadi pendonor untuk Mamanya.


Dimas pun turut mengikuti Zalfa, karena Dimas juga ingin tau siapa yang telah mendonorkan ginjal untuk ibu mertuanya.


Belum juga dokter Rubi menjawab. Tampak seseorang yang masih terbaring cukup lemah diatas brangkar. Samar-samar Meta pendonor itu, ia mendengar apa yang Zalfa tanyakan pada Dokter Rubi.


Sekuat tenaga ia. bangun berdiri. Menyibakkan tirai dan mengaku sendiri kalau dialah yang telah mendonorkan ginjalnya. Permintaan maaf juga turut keluar dari bibirnya karena dulu ia pernah tidak suka pada Zalfa. Tak lupa, yang paling berat ia ceritakan, tapi harus tetap ia ceritakan dan ia harus meminta yang sebesar-besarnya atas pelaku dalam cerita tersebut.


Perlahan ia menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di stasiun Anggrek kota M.


Meta menceritakannya secara runtut mulai dari A sampai Z sama seperti ia bercerita pada Ayunda.


"Saya minta maaf Bu Zalfa atas nama Sintia dan Edo. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya."


Zalfa memegang tangan Meta seraya menganggukkan kepalanya dan memberikan pelukan persaudaraan untuk Meta.

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!


__ADS_2