
Dan siapa yang akan mengira begitu bertemu dengan Dimas kembali, Zalfa langsung menyunggingkan sebuah senyuman untuk Dimas.
Lantas dengan suara nyaring dan lembutnya Zalfa memanggil Dimas dengan panggilan yang sangat khas.
"Pak kondektur?" dengan seulas senyum manis khas Zalfa. Senyuman yang sama, sama seperti kali pertama mereka bertemu itulah yang Dimas rasakan saat melihat senyuman itu.
"Seperti mimpi tapi ini bukanlah mimpi! Ini nyata Dimas! Ini nyata!" tegas Dimas menegaskan kepada fikiran dan hatinya yang masih sangat tak percaya apa yang ada dihadapannya saat ini.
Terlebih lagi pemandangan dimana ternyata orang tuanya sudah mengenal wanita yang dirindukannya sejak lama, terutama Pak Wijaya sendiri selaku Papa Dimas. Bisa dikatakan bahwa di sini Dimaslah yang kurang upgrade.Tapi tak masalah setelah ini ia akan sangat update dan upgrade karena sudah ada sumber informasi terpercaya yang akan membantunya.
Sedangkan Zalfa, karena begitu buru-buru dan sungkan pada Pak Wijaya, Zalfa segera beralih menyapa Pak Wijaya dan wanita yang mendampingi Pak Wijaya. Padahal Zalfa belum sempat mendengar balasan sapaan yang ia berikan kepada Dimas atau bagaimana reaksi Dimas saat Zalfa menyebut namanya Dimas dengan panggilan khasnya Zalfa yang begitu formal.
"Selamat siang Pak Wijaya!" sapa Zalfa dengan sopan lalu netranya nyalang ke arah seorang wanita yang berdiri tempat di samping Pak Wijaya mendampingi Pak Wijaya,"Selamat siang juga Bu!"
"Siang Bu Zalfa dan Bu Ayunda!"
sapa hangat Pak Wijaya yang sebenarnya ingin menginterogasi lebih lanjut mengenai Zalfa dan Dimas putranya. Tapi, Zalfa keburu mengalihkan pembiayaannya.
Bu Wijaya yang masih setia mendampingi Pak Wijaya tepat disampingnya, Bu Wijaya pu menerima jabatan tangan dari Zalfa dan Ayunda.
Zalfa masih bertanya-tanya dalam hatinya, "Sebenarnya siapa wanita yang mendampingi Pak Wijaya? Apakah istrinya? Kalau istrinya kenapa Zalfa tak pernah tau itu? Kenapa jarang yang menceritakannya atau memberitahukan kepadanya?" Zalfa begitu menampilkan mimik wajah sangat ingin tau.
Zalfa pun mencoba mengingat sambil dan setelah mencoba dengan keras, akhirnya Zalfa teringat sesuatu.
"Oh iya ... aku pernah melihat Ibu ini, tapi kapan dan dimana ya?"
Dan tanpa Zalfa sadari Bu Wijaya yang memiliki tingkat kepekaan tinggi itu, mengetahui apa yang terlintas dalam hati dan fikiran Zalfa saat ini. Maka dari itu, Bu Wijaya pun memperkenalkan dirinya kepada Zalfa, "Saya Bu Anisa istri Pak Wijaya."
"Oh Bu Anisa yang waktu itu?" Zalfa yang tiba-tiba ingat bahwa mereka pernah bertemu di SDN Nusa Bangsa saat Bu Anisa sedang ada kepentingan mencari Pak Wijaya, namun disitu karena begitu sibuk dengan jadwal mengajar Zalfa belum sempat berkenalan dan tau mengenai Bu Anisa secara lebih dalam.
"Salam kenal dari saya Bu Anisa!" ucap Zalfa dengan sopan dan ramah. Kemudian Zalfa beralih kembali kepada Pak Wijaya.
__ADS_1
"Pak Wijaya kami mohon maaf karena baru bisa sampai di stasiun tepat pada waktu kereta akan berangkat." ujar Zalfa memohon maaf sebab bukannya datang lebih awal tapi malah datang tepat waktu sesuai jadwal kereta sedangkan Pak Wijaya saja rela mencarikan tiket untuk mereka dari 3/2 jam sebelum mereka berangkat.
Pak Wijaya pria yang sangat bertanggung jawab itupun memakluminya namun tak lupa untuk tetap memberi nasehat kepada Zalfa dan Ayunda agar mereka harus disiplin dan disiplin, apalagi saat studi banding di SDN 1 Bumi Pertiwi Kota S.
"Tidak masalah Bu Zalfa dan Bu Ayunda. Tapi untuk nanti dan kedepannya ini dibuat pelajaran agar Bu Zalfa dan Bu Ayunda bisa lebih melatih kedisiplinan."
"Siap Pak Wijaya!"
"Baik Pak Wijaya, terimakasih banyak." Ayunda ikut menjawab dan memberikan alasan kenapa mereka baru datang ke stasiun, "ini semua karena ada kendala di saya Pak, skali lagi terimakasih sudah memaklumi."
Pandangan Zalfa pun tertuju pada laki-laki yang berdiri didepannya saat ini. Laki-laki dengan seragam yang melekat pada tubuh atletisnya, laki-laki yang sama yang ditemui Zalfa beberapa minggu yang lalu.
"Pak Kondektur, apakah Anda menjemput kami?"
Zalfa melontarkan pertanyaan yang cukup tidak wajar.
Dimas kondektur yang begitu pandai dan profesional dalam memposisikan diri, ia menjawab pertanyaan Zalfa dengan jawaban yang begitu fantastik.
"Mari, silakan naik!" Dimas mempersilahkan Zalfa dan Ayunda untuk masuk, tentu dengan tiket yang sudah mereka pegang yang sudah diuruskan oleh Pak Wijaya.
Sebelum menaiki kereta tak lupa Zalfa berpamitan kepada Pak Wijaya selaku kepala sekolah. Begitu juga Ayunda, ia juga berpamitan dengan Pak Wijaya.
Dan mereka pun masuk dan menaiki kereta dengan tujuan stasiun Kota S.
Dimas memberi salam hormat dan berpamitan kepada kedua orang tuanya. Tak lama setelah itu, ia ikut naik dan menjalanakan tugasnya sebagai kondektur dengan sebaik mungkin.
Dimas mulai masuk dari pintu kereta penumpang yang pertama, ia mengecek tiket dan memantau sikon agar tetap nyaman dan tidak terjadi kegaduhan ataupun semacamnya yang tidak diinginkan sama sekali.
Sama seperti pertama kali bertemu dengan Zalfa, Dimas yang mendampati Zalfa pada pintu kereta terakhir, sekarang pun demikian pula. Tapi Dimas tak menyangka kalau Zalfa ternyata harus berdiri. Biasanya ada penumpang yang harus berdiri karena memang semua kursi sudah penuh atau bisa saja tetap ikut kereta dan mendapat tiket tapi dengan berdiri.
Tak mau tergesa-gesa Dimas lebih dulu memilih menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai ia kembali menuju pintu penumpang pertama, namun sebelum sampai ke pintu pertama tentu Dimas akan melewati beberapa pintu sebelum sampai dipintu pertama. Masih dipintu terakhir tepatnya dipintu dimana Zalfa berdiri, Dimas berhenti sejenak, ia sempat berdehem untuk tetap menjaga wibawa sebelum memulai pembicaraan dengan seorang wanita. Apalagi wanita yang membuatnya hilang konsetrasi karena rindu.
__ADS_1
"Ehemm ... ehmm ..." suara deheman yang terdengar sangat cool dari seorang Dimas Adityama Putra Wijaya.
"Bu Zalfa, kenapa Anda berdiri?" Dimas memulai pembicaraan, "Apakah Anda mendapat tiket tanpa kursi?"
"Tidak Pak Kondektur, tidak seperti itu," Zalfa sedikit menyangah dan memperjelas,"Pak Wijaya memberikan tiket lengkap dengan kursi untuk saya dan Bu Ayunda, hanya saja tadi ada wanita hamil yang sedang berdiri karena mendapat tiket tanpa kursi, jadi saya mengalah saja."
"Oh begitu!" jawab Dimas dengan singkatnya namun jujur dalam hati ia begitu kagum pada Zalfa, "Zalfa ... Zalfa kamu selalu membuat saya terkagum-kagum padamu, kemarin sikap berbaktimu pada ibumu dan kini sikap kepedulian mu kepada sesama wanita." Dimas tanpa sadar menatap ke arah Zalfa tanpa kedip.
Sementara itu,
Zalfa yang merasa aneh dipandang seperti itu oleh Dimas, ia melambai-lambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan tepat di wajah Dimas.
Tak sengaja Zalfa melihat ke arah identitas nama yang tersemat di bagian depan jaz Dimas, Zalfa pun mempunyai ide untuk membuat Dimas fokus kembali.
"Oh namanya Dimas? Baiklah aku akan panggil dengan namanya saja kali ini!" Zalfa berfikir,"ah tidak-tidak, panggil dengan kedua-duanya! Itu lebih baik!"
"Pak kondektur Dimas!"
Satu kali panggilan dari Zalfa menyebut Dimas diimbuhi namanya membuat Dimas sadar dan berdehem kembali untuk tetap mempertahankan kewibawaannya. Malu donk, tiba-tiba terdiam sendiri tanpa ada alasan. Eh tapi kan ada alasannya kenapa kamu terdiam Pak Dimas?π€π€«. Belum saatnya yang dikagumi untuk tau yang sebenarnya, iyakan Pak Dimas? π€π.
"Pak Dimas baik-baik saja kan?" Zalfa begitu khawatir melihat perubahan Dimas yang tiba-tiba terdiam dan kemudian bergerak kembali,"maksud saya Pak Kondektur Dimas, tidak sedang sakitkan?"
"Tidak-tidak, saya baik-baik saja!" jawab Dimas mempertahankan kewibawaannya,
"Ya sudah saya pergi dulu!"
Dimas hendak pergi menuju pintu awal kereta.
"Silakan Pak!"
Zalfa mempersilahkan dengan cukup tak mau sebenarnya. Kalau boleh jujur, Zalfa pingin gitu ada teman gobrol sambil berdiri, setidaknya itu lebih mengasyikan untuk Zalfa.
__ADS_1