Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Mandiri dan Dewasa


__ADS_3

Zalfa duduk tepat di samping Ayunda. Seperti Kakak dan adik dan sahabat yang begitu akrab mereka menceritakan pengalaman masing-masing.


Zalfa menceritakan pengalamannya yang sudah begitu sering naik kereta dan tentu itu sangat berlainan dengan Ayunda. Namun meskipun begitu, Ayunda tetap begitu tertarik dengan cerita pengalaman Zalfa apalagi Zalfa yang memiliki skill baik dalam speak up.


Pembicaraan mereka pun terlihat begitu seru dan menarik.


"Dulu Bu Ayunda, saat saya masih kecil, saya begitu sering mengajak Papa saya naik kereta saat beliau mendapat libur."


Zalfa asik menceritakan pengalamannya naik kereta dan mengapa ia begitu tertarik dengan transportasi kereta. Dan Ayunda menjadi pendengar yang baik untuk Zalfa.


"Hari itu ketika saya masih berusia 5 tahun ..." Zalfa mulai flashback ke masa lalunya lebih tepatnya masa kanak-kanaknya.


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“·*


"Pa kereta itu, suaranya unik ya Pa?"


tanya Zalfa kecil kepada Papanya saat masih berusia sekitar 5 tahunan. Zalfa kecil itu begitu kagum pada suara keret api.


"Iya kayak kamu Zalfa unik dan baik!"


Zalfa menampilkan senyum yang begitu manis. Apalagi dengan rambut yang dikuncir kuda dan poni depannya yang menutupi keningnya. Sungguh Zalfa kecil itu begitu cantik dan manis.


Tak hanya cantik dan manis, ternyata Zalfa juga termasuk anak yang kritis dalam banyak hal. Ia pun bertanya lagi pada Papanya, "Pa, terus kenapa ya setiap mau berhenti di stasiun selalu ada bunyi lain dari kereta semacam klakson?"


"Itu sebagai pertanda akan ada kereta melintas sayang, jadi harus siap-siap." tutur sang Mama ikut menjawab.


Mata bulat Zalfa kecil itu pun menatap kagum dan tak percaya kereta begitu menyiapkan perjalanan yang luar biasa untuknya.


"Wah, naik kereta itu sangat asik! Besok kalau Zalfa udah besar. Kita naik lagi bareng-bareng ya Ma, Pa." manik hitam pada mata Zalfa menatap ke manik hitam mama dan papanya secara bergantian.


Papanya pun langsung mencubit gemas hidung mancung Zalfa kecil yang berumur 5 tahun itu dengan gemas dan bangganya.

__ADS_1


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“―π“―*


Setelah mengenang moment masa kecilnya naik kereta bersama Papa dan Mamanya, mata bulat Zalfa pun menatap ke Ayunda kembali dan berkata, "Jadi, karena itu pula saya suka naik kereta kalau hendak berpergian ke luar kota. Apalagi saat kepergian Papa, semenjak saat itu, Mama saya sakit dan harus check up sekaligus cuci darah di rumah sakit kota S. Dan mau tak mau saya harus berjuang untuk Mama saya, menemani, mengurus dan mengantarkannya. Disisi lain, memang ada pihak kerabat tapi mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka, dan akhirnya saya memutuskan perjalanan dengan kereta api saat mengatarkan Mama saya ke rumah sakit di kota S."


"Anda sangat mandiri dan dewasa, Bu Zalfa." puji Ayunda salut pada kisah Zalfa, sejenak Ayunda termenung dan seketika ingat bahwa ada seseorang yang pernah mengatakan padanya kalau kriteria wanita yang akan disukai seseorang itu adalah wanita yang mandiri dan bersikap dewasa.


Ayunda menatap lekat pada Zalfa.


Zalfa yang sadar ditatap dengan mendalam oleh Ayunda merasa tidak nyaman dan bertanya pada Ayunda kenapa dengan dirinya? Apa ada yang salah dari penampilannya? Ayunda pun malah tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya kemudian berkata,


"Sudahlah Bu Zalfa! Jangan terlalu difikirkan apa makna tatapan saya tadi! Tidak terlalu penting!"


Sebenarnya Zalfa masih begitu penasaran dengan makna tatapan Ayunda tapi ya sudahlah yang menatap tak mau memperpanjang jadi yaa sudah tidak usah terlalu difikirkan. Lebih baik kalau ia kembali menikmati perjalanan kereta sebelum sampai di stasiun kota S sembari mengenang moment bersama sang Papa.


"Papa ..." kata Zalfa cukup pelan dan kembali meneruskan perkataannya," Zalfa rindu banget Pa, sama Papa. Semoga Papa bahagia di sana. Aamiin."


"Aamiin ..." Ayunda turut mengaminkan.


"Bu Zalfa kita foto bareng yuk! Backgroundnya di kereta api pasti seru!"


Kamera smartphone milik Ayunda sudah siap untuk memotret dirinya dan Zalfa. Mereka berdua pun bergaya dengan anggun dan elegant. Ayunda diam-diam mengirimkan fotonya dengan Zalfa itu kepada seseorang yang cukup dekat dengannya. Bahkan Ayunda juga menyertakan caption dibawah foto terbaru,"Mandiri dan dewasaπŸ‘Œ" tetapi sepertinya yang dikirim foto masih sibuk dan pada akhirnya masih berakhir pada centang dua abu-abu.


Ayunda mendesus kesal dan Zalfa mengetahuinya.


"Kenapa Bu Ayunda?"


Ditanya seperti itu oleh Zalfa, Ayunda malah dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dan tak sengaja pula Zalfa melihat ke arah layar smartphone Ayunda yang masih menyala, dimana pada layar smartphone itu Ayunda mengirimkan foto mereka tadi ke seseorang yang tak sempat Zalfa ketahui nama kontaknya karena smartphone itu yang keburu dimatikan oleh pemiliknya.


Ayunda dengan gelagapan berusaha mencari alasan agar Zalfa tak curiga atau berfikir macam-macam tentangnya.


"Itu Bu Zalfa, foto kita yang tadi saya kirim ke suami saya soalnya dia pingin tau saya duduk sama siapa dan lagi apa?"

__ADS_1


Zalfa mengangguk paham dan sama sekali tidak curiga kepada Ayunda yang sebenarnya mengirim foto itu kepada seseorang dengan nama kontak "Bu Anis". Bu Anis adalah istri dari Pak Wijaya.


Kalau Zalfa tidak begitu dekat dengan Bu Anis lain halnya dengan Ayunda yang sudah begitu dekat dengan Bu Anis. Kedekatan itu bermula dari Bu Anis yang ngefans berat pada karya tulis Ayunda dan Ayundanya juga. Tak sampai disitu Bu Anis juga pernah curhat pingin segera dapat menantu.


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“·*


Berbulan-bulan yang lalu tepatnya saat Dimas dikhianati oleh kekasihnya.


"Saya itu pingin anak laki-laki saya segera menikah Bu Ayunda."


"Memangnya belum ada calonnya Bu?"


"Pernah ada tapi dia bukan wanita yang baik," Bu Anis mengeluarkan unek-uneknya,


"Bu Ayunda tolong bantu saya mencarikan pasangan yang cocok untuk Dimas anak saya."


"Bu Anis pinginnya dapat menantu yang bagaimana?"


"Saya sih tidak terlalu menentukan standar Bu Ayunda. Saya cuma ingin yang mandiri dan dewasa dalam bersikap."


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“―π“―*


Teringat pesan Bu Anis, Ayunda pun berinisiatif untuk mengusulkan nama Zalfa kepada Bu Anis.


Lain dengan Ayunda, Zalfa sekarang Zalfa berfikir yang tidak-tidak kepada suaminya Ayunda,


"Bu Ayunda sebelumnya maaf kalau saya bertanya seperti ini," Zalfa sungkan untuk mengatakan isi hatinya,"apa suami Bu Ayunda itu posesif?"


"Tidak Bu Zalfa, beliau tidak posesif cuma ingin memastikan apa saya merasa nyaman dan baik-baik saja, begitu!"


Zalfa manggut-manggut mengerti dengan tersenyum. Dalam hati ia berdecak kagum sekaligus bergumam sendiri,

__ADS_1


"Wah perhatian banget suaminya Bu Ayunda!" Zalfa merasa Ayunda begitu beruntung dan ia pun bertanya-tanya dalam hatinya,"bila nanti saatnya telah tiba ... apakah aku juga bisa, dapat suami yang begitu perhatian sama aku?"


Dan tak mau berharap lebih Zalfa pun memilih menikmati deru mesin kereta api yang melaju dengan langkah cepat. Serta menikmati suasana dalam kereta dengan pemandangan alam yang disuguhkan pada setiap jalan lintasan kereta api. Ditambah lagi dengan suasana hujan rintik-rintik yang mengiringi perjalanan kereta kali ini.


__ADS_2