
Ada sesak dalam dada saat mereka benar-benar akan berjauhan. Rindu dan cinta akan tetap selalu bersemi dalam ikatan hati yang terpatri dalam hati keduanya.
Cukup berat tapi Zalfa mencoba kuat, mungkin karena pertama kalinya ia harus berjauhan dari Dimas sebagai pasangan suami istri.
Kereta sudah berhenti tepat di stasiun dimana Zalfa, Bu Ambar dan Ica akan turun. Beberapa penumpang pun turun dengan teratur dan bergantian.
Bu Ambar turun dengan didampingi Ica.
Sementara Zalfa mengambil barang-barang bawaannya ditangan kanan dan kirinya.
Secara perlahan Zalfa hendak turun dari kereta, begitu akan turun tanpa sengaja ia terpeleset tapi tidak kesakitan karena seseorang telah lebih dulu dengan sigap menopang tubuhnya.
"Hati-hati!" ucap seseorang itu.
Zalfa membenarkan posisinya seraya mengangguk mengiyakan apa yang seseorang itu katakan padanya.
Dengan sigap pula seseorang itu membawakan barang yang Zalfa bawa dan mengantarkan Zalfa sampai di mobil yang rumahnya yang telah menjemput Zalfa, Bu Ambar dan Ica.
"Nak Dimas, kamu jaga kesehatan dan diri baik-baik ya!" tutur Bu Ambar pada seseorang yang telah membantu Zalfa sedari tadi.
__ADS_1
"Sering-sering hubungi Zalfa, kamu juga ya Zalfa!" Bu Ambar berganti menasehati Zalfa,"sering-sering hubungi suami kamu!"
"Meskipun kalian berjauhan tetapi ingat cincin suci yang melingkar dijari manis kalian! Meskipun kalian berjauhan do'a dan cinta akan membuat kalian selalu dekat! Meskipun kalian berjauhan saling menghubungi membuat kalian akan selalu rekat."
Zalfa merangkul dan memeluk Mamanya saat itu juga.
Tak mampu menutupi rasa sedihnya Zalfa menitikan air matanya didepan Dimas.
Dimas menyekanya, tetapi Zalfa semakin kuat dalam tangisnya. Dimas meraih tubuh Zalfa dan memeluknya.
Tak cuma Zalfa Dimas pun merasakan apa yang Zalfa rasakan.
Menyemangati dan menghibur istrinya itu agar tak sedih lagi. Semuanya yang hadir disitu juga menguatkan Zalfa. Termasuk Bu Anis yang ikut menjemput bersama dengan pak sopir keluarga yang Dimas mintai tolong untuk menjemput Zalfa dan keluarganya di stasiun terbesar kota S.
Kereta akan segera kembali ke stasiun tujuan awal. Walaupun masih enggan berpisah mau tak mau Dimas menjauh dari Zalfa dan Mamanya.
Dimas telah melakukan kewajibannya sebagai anak yaitu menghormati yang lebih tua dengan bersalaman kepada Mamanya dan Mama mertuanya. Kini, Dimas melangkah menjauh dari mereka semua.
Tangan kanan Zalfa melambai menyoroti kepergian Dimas. Tangan itu juga dengan reflek merentang ke depan seolah-olah ingin mencegah.
__ADS_1
Dengan cepat Zalfa mengempalkan tangan itu dan berlari menyusul Dimas.
Puluhan bahkan ratusan orang, Zalfa lewati dengan hanya terfokus untuk melihat Dimas dari kereta yang akan membawa Dimas kembali.
Setelah berlarian sampailah Zalfa didekat peron yang menampakkan Dimas tepat dihadapannya. Lebih tepatnya Dimas tengah berdiri tepat di pintu kereta yang masih terbuka.
Seulas senyum dan tangis menjadi satu saat ini.
Zalfa tersenyum begitu pun Dimas.
Sesaat Zalfa ingin melambaikan tangannya kembali ke Dimas tapi ia urungkan. Kemudian berganti mengangkat tangan kanannya seraya menempelkan keempat jarinya dengan ibu jari sedikit ditekuk masuk tepat di atas alisnya.
Dengan berdiri tegak, tersenyum serta penuh semangat Dimas pun mengangkat tangannya dan hormat pula seperti yang Zalfa lakukan.
Kereta perlahan keluar meninggalkan stasiun dan Zalfa pun menurunkan tangannya.
Berbalik arah mengikuti Ica yang sudah menjemput dan menyusulnya untuk mengajaknya masuk ke mobil.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
__ADS_1