
Zalfa menyaksikan deru kereta api yang mulai pergi meninggalkan stasiun. Kereta yang panjang dan Dimas ada didalamnya. Kedua netranya tak hentinya memandangi satu per satu kereta itu hingga kereta itu benar-benar pergi dari hadapannya.
"Hati-hati Pak Dimas! Aku akan menunggu kamu kembali!" Ucapnya lirih dalam hati.
Dengan didampingi Rere, Zalfa melangkahkan kakinya beranjak pergi dari stasiun untuk kembali ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian ...
Di ruang terbuka diarea rumah sakit bersama dengan Rere.
Disanalah Zalfa berada.
Meskipun baru kenal, mereka sudah begitu tampak akrab satu sama lain. Banyak hal yang Rere ceritakan kepada Zalfa bagaimana Dimas yang tak hentinya menjaga dan mendotakan Zalfa.
"Bu Zalfa, percayalah kalau Dimas sangat mencintai Bu Zalfa. Saya melihat sendiri bagaimana besarnya cinta Dimas pada Bu Zalfa."
Rere mulai bercerita, "disetiap paginya Dimas tak pernah melewatkan berdoa dan membaca Ayat suci Al-Quran agar Bu Zalfa lekas membaik."
"Pagi-pagi sekali dia berangkat bertugas meskipun berat untuk meninggalkan Bu Zalfa yang masih terbaring lemah di rumah sakit." Rere melanjutkan,
"entah bagaimana dia menguatkan hatinya dan bersikap begitu tegar setelah semua yang terjadi. Tapi Dimas selalu yakin bahwa Bu Zalfa pasti akan kembali sadar."
"Itulah keyakinannya!" Rere kagum dan tak habis fikir akan keyakinan Dimas selama ini. Keyakinan yang ternyata benar adanya. Serta indah pada waktunya.
"Zalfa, Dimas memang lelaki yang baik karena itu pula aku pernah mencintainya." Ucap Rere dalam hatinya.
Tak selang lama Zalfa berpaling ke arah Rere dan Rere pun membalas dengan tersenyum.
Dalam hatinya Rere menegaskan kembali, "Tetapi itu dulu Zalfa. Sekarang aku sudah menemukan sosok yang tak cuma baik tapi juga tepat untukku yaitu Lukman." Tuturnya dalam hati sambil memandangi Zalfa dari arah sampingnya.
Dari arah belakang datang Ica mengejutkan Zalfa dan Rere.
"Kak masuk yuk! Kakak makan, minum obat terus istirahat biar besok saat kita pulang Kakak benar-benar kuat!" Ica mengangkat kedua tangannya menampilkan emoticon kuat dengan tangannya.
Dan Zalfa pun menurut pada arahan adik sepupu kesayangannya tersebut.
~Di dalam kereta dengan rute akhir kota S~
Selama perjalanan bertugasnya, Dimas begitu semangat. Raut kebahagiaan juga begitu terpancar dalam wajahnya.
Seperti biasa, diawal bertugas Dimas akan mengecek kereta dari satu pintu ke pintu yang lainnya. Dan entah di pintu kereta ke berapa suatu pemandangan telah berhasil menyita kefokusannya.
Dilihatnya dua pasang insan suami dan istri yang duduk berdua. Sang wanita mengenakan gamis dengan perutnya yang membuncit karena sedang hamil. Sedangkan sang lelaki yakni suaminya wanita tersebut sesekali menyuapi makanan untuk istrinya yang sebenarnya tidak mau makan. Dan akhirnya suapan itu malah diisi dengan canda tawa kebahagiaan antara keduanya.
Melihat moment kedua pasangan itu, membuat Dimas berimajinasi, kalau pasangan suami istri tersebut adalah Zalfa dan dirinya. Alangkah manis dan penuh warna kehidupan mereka nantinya. Fikir Dimas dalam hati dan fikirannya.
__ADS_1
Tak berselang lama Dimas memfokuskan diri serta melanjutkan tugas pekerjaannya.
...
~ Di Rumah Sakit Kota S~
Zalfa usai diperiksa oleh dokter dan kabar baik diperolehnya saat dokter mengatakan kalau Zalfa sudah boleh pulang siang nanti.
Saat memperoleh kabar baik itu tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi begitu saja di ruangan tersebut.
"Bu Ambar! Bu Ambar! Anda kenapa?" Bu Anis yang merangkul tubuh Bu Ambar yang cukup kesakitan. Dengan segera Pak Wijaya memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan Bu Ambar.
"Mama, Mama kenapa Ma?" Zalfa panik Mamanya yang tak sadarkan diri karena pingsan.
Tak lama kemudian, dokter dan beberapa suster membawa Bu Ambar ke ruangan gawat darurat untuk diberikan penanganan yang lebih efektif.
Beberapa menit setelah dilakukan pemeriksaaan dokter keluar memberikan kabar kondisi kesehatan Bu Ambar.
"Pasien akan segera sadar namun secepatnya pasien harus melakukan transplantasi ginjal agar pasien bisa bertahan. Karena kecil harapan pasien bisa bertahan dengan kondisinya sekarang ini meskipun pasien tampak semakin membaik tetapi sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya."
"Apa dok? transplantasi ginjal?"
Zalfa sempoyongan menanyakan perihal yang digunakan katakan dokter padanya barusan.
Dokter mengangguk dan perlahan pergi.
"Ma, Zalfa enggak bisa kalau enggak ada Mama dalam hidup Zalfa." Zalfa meratap menelungkupkan wajahnya di samping mamanya.
"Kak ..." ucap Ica langsung memeluk Zalfa.
Mereka sama-sama sedih melihat keadaan orang yang paling mereka sayangi.
"Zal ... fa ..." Ucap Bu Ambar begitu lirih saat sudah kembali siuman.
"Mama! Zalfa di sini Ma! Zalfa di sini!" menyentuhkan tangan mamanya diwajahnya.
"Zalfa, Mama baik-baik saja. Kamu jangan khawatir! Zalfa, kamu sayang kan sama Mama?"
Zalfa menjawab mengangguk.
"Mama enggak tau kapan Mama harus pergi tapi Mama ingin bisa melihat kamu dan Pak Dimas secepatnya menikah dalam beberapa hari ke depan."
"Ma, bagaimana Zalfa menikah dengan keadaan Mama yang seperti ini Ma? bagaimana?"
"Zalfa, Mama baik-baik saja! Apalagi ketika melihat kamu sudah mendapatkan seseorang yang bisa menjaga dan melindungi kamu, itu akan membuat Mama semakin membaik."
__ADS_1
"Mama ..." Zalfa tak kuasa mendengar apa yang dikatakan mamanya.
"Bu Ambar, tolong bantu saya menyiapkan pernikahan Pak Dimas dan Zalfa. Saya mohon!"
Bu Ambar sudah bangkit dari brangkarnya dan bersiap untuk pulang menyiapkan pernikahan putrinya.
Tak mau serta merta mengiyakan permintaan Bu Ambar, Bu Anis memilih menatap ke Zalfa dan Ica juga Pak Wijaya meminta pendapat atas permintaan Bu Ambar ditengah keadaannya saat ini.
"Saya mohon Bu Anis! Saya mohon!" Tetap kekeh dengan permintaannya meskipun sakit sedang mendera.
Melihat Mamanya yang merintih menahan sakit membuat Zalfa menyetujui permintaan Mamanya tersebut.
Beberapa kali Pak Wijaya mencoba menghubungi Dimas tapi tidak ada jawaban sama sekali hingga di jam selesai Dimas bertugas, Pak Wijaya baru mendapat panggilan dari Dimas yang cukup penasaran apa yang membuat Papanya berulang-ulang kali menghubunginya. Akhirnya mereka baru kembali ke kota S pada malam harinya.
Suka dan duka itulah yang Dimas rasakan begitu mendengarkan apa yang dikatakan Papanya padanya.
Tapi mau tak mau ia akan melakukannya. Disamping itu Zalfa juga sudah menyetujui permintaan Mamanya tersebut.
Dimas bergegas cepat mengajak Lukman untuk ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Zalfa beserta keluarganya berkemas kembali ke kota S.
Dimas dan Zalfa saling tatap dalam diam. Dapat Dimas rasakan kesedihan yang mendera Zalfa tapi ditutupi oleh Zalfa.
"Pak Dimas, maaf kalau permintaan dari Mama saya begitu memberatkan Pak Dimas. Pak Dimas pasti masih sibuk dihari-hari ke depan, tapi Mama ... Mama mau melihat kita segera menikah. Dan keadaannya ternyata semakin memburuk, meskipun dia terlihat sehat." Menyeka air matanya.
"Zalfa kalau memang ini yang terbaik, saya siap melakukannya kapanpun itu. Asalkan kamu harus kuat dan yakin kalau Mama kamu pasti akan sembuh dan sehat kembali!"
Mendengar pitutur dari Dimas seakan-akan menyirami hati Zalfa yang gersang dengan air hujan menyejukkan.
Zalfa pun merasa lebih tenang dan bisa mengendalikan dirinya. Mereka pun bergegas kembali ke kota S.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰... !
NB:Mohon maaf kalau ada kesalahan, ketidaktepatan sesuatu ataupun semacamnya dalam episode kali ini. Sekali lagi, cerita ini merupakan fiktif belaka dan tidak bermaksud menyinggung ataupun merugikan pihak manapun itu.🙏
.......
.......
.......
.......
.......
Assalamu'alaikum para readers tersayang. 🥰
__ADS_1
Hai semuanya pembaca setia dimanapun kalian berada. 🤗
Alhamdulillah, tidak terasa sudah memasuki bulan November aja. Dan enggak lama lagi dan enggak kerasa, mungkin udah bulan Desember dan tahun pun berganti. 🙂, Jadi pada intinya aku mau bilang sama kalian, untuk selalu jaga kesehatan, juga keuangan 😁🤭, dan jangan lupa bahagia dengan mensyukuri apa yang ada. 😇👋