
"Benarkah Re?" Lukman bahagia mengetahui kondisi terkini Zalfa. Besar harapannya Zalfa akan benar-benar sadar kembali. Dan Dimas yang merupakan teman serasa seperti saudara sendiri baginya, akan segera bisa mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya Dimas dapatkan sejak kemarin.
"Dimas, harus tau berita baik ini Re. Harus tau!" Sorot penuh rasa syukur terpancar dalam diri Lukman. Saat sedari awal Rere memberitahukan panjang lebar tentang kondisi Zalfa, Lukman sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi dari Dimas begitu mengetahui hal tersebut.
"Kalau begitu selesai tugas nanti aku akan sampaikan kabar baik ini ke Dimas, Re." Sudah tak sabar untuk membagikan kabar baik yang tak terhingga untuk Dimas nantinya.
........
Beberapa jam kemudian ...!
Dimas baru saja keluar dari kereta dimana ia bertugas.
Dimas masih berada dekat dengan peron kereta, dari suatu arah, Lukman berjalan mendekat ke Dimas dengan bahasa tubuh yang begitu ingin sesegera mungkin mengutarakan sesuatu yang begitu penting.
Dimas yang melihat bahasa tubuh dari Lukman pun merasa aneh dan bertanya-tanya ada gerangan apa yang membuat Lukman seperti sekarang ini.
Lukman sudah berada tepat di hadapan Dimas, wajah mereka saling bertemu karena tinggi badan mereka yang sama-sama tingginya.
"Dimas!" Ucap Lukman memegang kedua pundak (atas) Dimas.
Masih dengan raut wajah yang sulit untuk Dimas artikan namun lebih seperti terharu antara sedih dan senang yang menjadi satu.
"Zalfa Dim, Zalfa!"
Mendengar nama Zalfa Dimas langsung panik dan khawatir dengan kondisi Zalfa.
"Kenapa? Zalfa kenapa?" Dimas khawatir kecemasannya dari tadi itu menandakan kalau Zalfa sedang tidak baik-baik saja.
"Zalfa tadi sudah menggerakan jari-jarinya Dim," Lukman to the point dengan semangat dan antusias yang menjadi satu,"kondisi Zalfa semakin membaik Dim, semakin membaik!"
"Iya Luk? Enggak lagi bercanda kan Luk?" Dimas tak berkedip menyorot netra Lukman. Memastikan apa yang Lukman katakan barusan.
"Enggak Dim! Enggak! Rere sendiri tadi yang ngasih tau."
Dimas langsung merangkul dan memeluk Lukman sebagai ungkapan bahagia dan rasa syukurnya, tetapi tetap dengan pelukan yang gentleman antara sesama saudara.
Tak ada satu menit pelukan mereka terlepaskan. Dimas pun melepas petnya sembari berlari dengan cepat menuju rumah sakit Zalfa dirawat.
Hilir mudik puluhan manusia Dimas lewati tanpa ia hiraukan, karena fokus pada tujuannya saat ini, yaitu Zalfa. Ia ingin melihat kondisi Zalfa yang katanya sudah semakin membaik.
....
Saat ini, Dimas sudah berada tepat di depan pintu ruangan Zalfa dirawat.
Rere yang pada awalnya ketika melihat kedatangan Dimas, ia ingin menjelaskan tentang kondisi Zalfa secara lebih detail namun ia urungkan. Karena Dimas telah menerobos masuk lebih dulu melewati Rere yang masih termenung melihat kedatangan Dimas.
Rere masih berdiri di samping dekat pintu, berjarak cukup jauh dari Dimas yang mendekati tempat Zalfa terbaring. Rere juga sengaja tidak mendekat karena ingin memberi ruang lebih untuk Dimas.
__ADS_1
Tanpa Rere tau begitu menengok ke belakang, ia cukup dikagetkan dengan kemunculan seseorang dibelakangnya, "Lukman?" Rere cukup kaget tapi masih dengan suara yang lirih, "shutt!" Rere menegur Lukman agar tak bersuara dan mendekat.
Mengajak Lukman untuk memberikan ruang untuk Dimas. Sebagai teman serasa saudara Dimas, Lukman pun langsung paham dan setuju dengan Rere.
Saat itu juga dapat Rere dan Lukman amati akan rasa haru bahagia yang nampak pada Dimas.
Untuk sekilas Rere mencuri pandang pada Lukman yang kini tepat disampingnya. Sadar akan apa yang Rere lakukan secara diam-diam, dengan begitu percaya diri Lukman mengarahkan pandangan ke Rere, tepat saat Rere ketauan yang sedang curi-curi pandang padanya.
Lukman yang baik hati itupun berlagak tidak tau dengan apa yang Rere lakukan secara diam-diam padanya. Lukman lebih memilih menatap Rere dari ujung kaki sampai ujung kepalan.
Secara mendadak, Rere terkesiap saat Lukman memegang tangannya. Kejadian itu pun membuat pandangan mereka saling bertemu.
Lukman yang teringat tangan yang dipegangnya, terfokus lagi pada tujuan awalnya memegang tangan Rere, "Ayo Re!" Kata Lukman dengan nada mengajak untuk pergi.
Rere yang mendengar ajakan Lukman hanya diam dan belum mengerti maksud Lukman itu ayo kemana.
Mengetahui kalau ternyata Rere masih belum mengerti, Lukman pun dengan senang hati tetap mengutarakan ajakannya kembali, "Ayo kita ke stasiun, udah masuk jam tugas kamu bentar lagi!"
"Oh iya ..." Rere setuju dengan Lukman.
"Ya udah ayo!"
Lukman terus menggandeng tangan Rere keluar meninggalkan ruangan Zalfa dirawat.
Mereka menyusuri koridor rumah sakit, melewati orang-orang yang menatap mereka dengan pakaian dinas yang mereka kenakan. Asik dibelakang Lukman nyatanya malah membuat Rere begitu menikmatinya, dan itu juga menyadarkan Rere kalau Lukman memang selalu perhatian pada dirinya bahkan melebihi perhatiannya kepada dirinya sendiri.
Sekita itu pula, seulas senyum pun tersungging diwajah manis Rere tanpa Lukman ketahui karena Lukman begitu antusias mengantarkan Rere selamat sampai tujuan.
....
~Di sebuah rumah di kota M~
"Mbak, sakit apa sih Mbak?" Sintia menggerutu kepada Meta yang terbaring lemah dengan tubuh berbalut selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.
"Enggak tau Re, Mbak rasanya sering lemes banget."
"Udah periksa ke dokter?"
"Belum Sin, makanya Mbak minta tolong buat kamu datang ke sini. Kamu tau sendiri Mbak enggak ada siapa2 disini. Mbak cuma punya kamu."
Masih berdecak kesal,
"Mbak harusnya Mbak itu enggak sekarang sakitnya. Mbak tau enggak Zalfa itu kondisi nya sudah semakin membaik sementara aku, aku enggak ada di kota S buat mantau Dimas dan buat merebut kembali Dimas!"
"Dan ini semua karena Mbak!"
"Sin kamu ngomong apa sih? Siapa coba yang mau sakit kayak gini?" Mengatakan dengan cukup terengah-engah, "kalau Mbak bisa memilih, Mbak juga maunya sehat terus Sin."
__ADS_1
"Ya udah, ya udah, Mbak istirahat aja, sekarang aku siapin makanan buat Mbak makan setelah itu minum obat!"
"Makasih ya Sin!"
"Ya sama-sama Mbak." Berlalu pergi dari kamar Meta.
"Mbak Meta, Mbak Meta, ada-ada aja sih? Pakek acara sakit segala? Mana pas kondisi Zalfa yang udah membaik pula?"
"Kalau Zalfa sadar dan bersatu sama Dimas, bagaimana dengan aku?" Memegangi perutnya yang masih rata.
"Enggak ... enggak, Sintia kamu enggak boleh overthinking dulu! Zalfa enggak akan semudah itu sadar dari komanya." Meyakinkan hati dan fikirannya.
Beberapa menit kemudian makanan yang dibuatkan Sintia pun jadi. Sintia kembali ke kamar Meta kemudian menyuapi Meta dengan cukup terpaksa karena masih sebal terhadap Meta yang menyuruhnya hanya untuk merawatnya yang sedang sakit.
Drutt ... Druut ... Druut!
Handphone Sintia berdering.
Sebuah no telepon tak dikenal menghubunginya, karena cukup penasaran Sintia pun mengangkatnya.
Belum sempat Sintia mengucapkan kata "hallo""" penelfon tersebut sudah lebih dulu menyapa Sintia yang seketika itu kaget mendengar suara dari penelfon yang sangat familiar untuknya.
"Sintia!"
"Kamu apa kabar Sintia? Bagaimana dengan perkembangan janin kamu? Kalian sehat-sehat kan?" Menanyai Sintia dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Mas Edo, kenapa menghubungi aku dijam segini? Inikan jam istirahat Maa Edo."
"Maaf Sin, aku begitu merindukan kamu dan anak kita." Jawab Edo dengan nada halus dan lirihnya.
"Kami baik-baik saja Mas Edo."
"Syukurlah kalau begitu." Merasa tenang bahwa Sintia dan janinnya baik-baik saja.
"Kamu tidak ingin tau keadaanku Sintia? Sudah berhari-hari kamu tidak pernah menjenguk aku di sini." Edo ingin diperhatikan.
"Udah ah, Mas Edo aku capek, nih janin yang ada didalam perutku juga udah minta istirahat." Sintia menyela.
"Tapi Sintia, tunggu dulu sin, tunggu dulu!" Berusaha mencegahnya.
Tutt .. Tutt ... Tutt!
Sintia mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung.
"Kamu tau sayang, Ayah kamu tuh aneh, masa Mama kamu disuruh nanya tentang keadaannya? Ya udah pastilah tanpa ditanya pun keadaannya tidak akan berubah." Berbicara dengan perutnya yang masih rata. Kemudian beranjak menuju kamar tamu, "Udalah kita istirahat ya sayang!"
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
__ADS_1