Cinta Di Stasiun Kereta

Cinta Di Stasiun Kereta
Cincin Pengganti


__ADS_3

1 jam 15 menit kemudian (12.20 waktu setempat)


Zalfa bersama Ayunda telah tiba di stasiun terbesar dikota S. Mereka mengambil barang bawaan mereka dan menunggu jemputan dari SDN 1 Bumi Pertiwi kota S.


Mereka masih menunggu didalam stasiun karena sesuai informasi Pak Wijaya bahwa jemputan dari SDN 1 Bumi Pertiwi kota S akan menjemput mereka di dalam stasiun tanpa mereka harus repot-repot keluar dengan membawa barang-barangnya. Sudah beberapa menit berlalu belum ada kemunculan jemputan itu datang. Ayunda yang ingin ke kamar mandi, ia meminta tolong agar Zalfa bersedia tetap di tempat tersebut menunggu sopir sekolah yang akan menjemput mereka. Dan Zalfa bersedia tanpa keberatan sama sekali.


Beberapa menit telah berlalu, Zalfa merasa lelah menunggu Ayunda dan jemputan dari SDN 1 Bumi Pertiwi yang belum juga sampai, Zalfa akhirnya mencari tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Belum sempat duduk seseorang datang menghampiri Zalfa dan mengagetkan Zalfa.


"Zalfa? Ini kamu Zalfa?" ucapnya dengan langsung meraih tangan Zalfa tanpa rasa sungkan sedikitpun.


Zalfa memudurkan dirinya dan dengan cepat menepis tangan yang tanpa permisi berani memegangnya.


"Zalfa kamu kenapa? Aku kangen kamu Zalfa. Aku, aku juga sangat menyesal karena lebih memilih Sintia daripada kamu. Aku sekarang sadar cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Sintia, dia enggak pernah bisa ngertiin aku sama seperti kamu ngertiin aku, Fa."


Zalfa hanya diam dan enggan menatap ke wajah laki-laki yang pernah mengkhianatinya namun dengan begitu tiba-tiba menyesal dan curhat kepadanya. Bahkan berusaha merayu Zalfa kembali.


Zalfa rasanya muak dan tak mau lagi mendengar dan melihat laki-laki itu. Tapi kenapa siang itu ia harus bertemu dengan laki-laki itu, itulah yang jadi pertanyaan Zalfa.


Zalfa dengan tegas mengacungkan tangannya dan menghadapkan jari telunjuknya ke arah laki-laki itu serta berucap dengan tegas, "Kamu dengar ini baik-baik ya Edo!"


"Aku sudah tidak mau tau apapun mengenai kamu apalagi kehidupan pernikahan kamu. Hubungan kita sudah selesai, jadi enggak ada untungnya kamu menyesali apa yang sudah pernah kamu pilih."


"Sekarang, aku minta tolong sama kamu. Tolong kamu pergi dari hadapan aku, Edo!"


"Tapi, Fa ..." Edo berusaha merayu Zalfa.


"Edo!" tegas Zalfa kepada Edo yang masih saja menyangkal dan tak mau pergi.


"Fa, aku menyesal dan aku ingin memperbaiki kesalahanku sama kamu."


"Kamu ingin memperbaiki kesalahan kamu?" Zalfa menyergap tak percaya dan sinis atas omong kosong Edo tersebut.


"Kamu sadar enggak Edo? Kamu itu udah nikah, udah beristri. Tanggungjawab sebagai suami itu besar dan enggak main-main Edo, jadi stop, stop berfikir kamu ingin memperbaiki kesalahan kamu ke aku!" Zalfa memberi penegasan pada Edo yang sudah tak berstatus lajang.


"Tapi Fa, sekarang aku baru sadar kalau cuma kamu Fa ... cuma kamu yang sangat mengerti aku dengan begitu baik, dan cuma kamu yang aku cinta dan aku sayang."


"Udah Edo! Udah! Aku enggak akan tertipu sama omongan palsu kamu itu."


"Sekali lagi! aku minta tolong sama kamu, tolong kamu pergi dari hadapan aku!" Zalfa dengan menyatukan kedua tangannya.


Dengan begitu sengaja Edo malah memegang tangan Zalfa itu tanpa pemirsi kepada sang pemilik tangan. Edo memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Edo memagang tangan Zalfa saat Zalfa meminta tolong agar ia pergi dengan menyatukan kedua tangannya.


Derap langkah kaki dan sentuhan yang sedikit mencengkeram dari belakang pundak Edo memecahkan situasi genting tersebut.


"Tolong lepaskan tangan kotor kamu itu dari Zalfa!" titah laki-laki berjaz hitam dengan tegas kepada Edo.

__ADS_1


Edo yang tau akan profesi dari laki-laki yang menegurnya, ia beringsut melepaskan tangan Zalfa dan meminta maaf.


Sementara itu laki-laki berjaz hitam itu menegaskan kembali kepada Edo, "Tolong kamu jauhi Zalfa karena Zalfa sekarang adalah milik saya!"


Edo menatap tak percaya.


"Iya, kamu tidak percaya? Apa kamu fikir, Zalfa masih sendiri dan belum bisa move on dari laki-laki seperti kamu begitu?"


Tak mau dikepung massa di stasiun kereta api tersebut, Edo langsung beranjak pergi tanpa merespon perkataan dari laki-laki berjaz hitam lebih dulu.


Sesaat mereka saling senyum dan Zalfa kembali kelimpungan dengan maksud laki-laki berjaz hitam yang pada kesempatan kali ini sudah menolongnya.


"Zalfa ini cincin kamu yang waktu itu. Sekarang saya mengerti kenapa kamu membuang cincin ini. Dan maaf karena saya masih menyimpannya dan mengembalikannya kepada kamu."


Di telapak tangan Zalfa cincin itu kembali berada, Zalfa masih diam tak tau kemana inti dari perkataan laki-laki berjaz hitam didepannya itu.


"Zalfa" sapaan lembut dari laki-laki itu memecahkan keheningan dalam diri Zalfa. Ia pun fokus pada laki-laki berjaz hitam tersebut.


"Buanglah cincin dan kenangan pemberi cincin ini sejauh mungkin disini!"


Zalfa menatap dalam laki-laki tersebut sembari mengangguk, kemudian ia juga melihat situasi dan kondisi disekitarnya. Karena stasiun yang tidak terlalu ramai dengan cepat Zalfa melemparkan cincin kenangannya dengan Edo. Zalfa melempar cincin itu begitu jauh dan tak tau entah kemana.


Kelegaan dan kepuasan itulah yang Zalfa rasakan saat ini. Ia tersenyum puas dan menatap ke laki-laki berjaz hitam tersebut.


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“·*


Dari arah tak jauh Laki-laki berjaz hitam dengan atribut yang melekat sesuai profesinya ia melihat wanita yang dicintainya tengah dihadang/diganggu oleh seorang laki-laki. Ia terus mendekat dan mendekat, ia juga dapat mendengar pembicaraan mereka karena stasiun yang masih sepi. Dari pembicaraan tersebut wanita yang dicintainya sangat tidak suka dan tidak mau lagi berhubungan ataupun bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Dengan cukup buru-buru laki-laki berjaz hitam itu ingin menghampiri wanita yang dicintainya itu. Ia ingin menolongnya. Tapi belum sampai ke tempat mereka berdua, ia menabrak seseorang dan sebuah benda kecil berbentuk lingkaran pun jatuh tepat di bawah kakinya. Ia mengambil dan memberikan kembali kepada sang pemilik.


"Owe ucapkan terimakasih dan maaf owe tadi tidak melihat ada lu orang disini karena owe terburu-buru takut ketinggalan kereta."


"Cincin ini rencananya mau owe jual. Dan untunglah lu orang berbaik hati mengambilkan dan mengembalikan lagi pada owe.


Laki-laki berjaz hitam itu mengangguk, tetapi


mencekal tangan pemilik cincin itu dan seketika itu pemilik cincin beretnis China tersebut takut dan kelagapan.


Pemilik cincin beretnis China tersebut kelagapan dan tampak menelan ludahnya sendiri begitu dicekal kepergiannya oleh laki-laki berjaz hitam di depannya.


"Cincin itu akan saya beli dan untuk uangnya akan saya transfer." ujar laki-laki berjaz hitam itu begitu tertarik dengan cincin yang akan dijual oleh orang beretnis China tersebut.


"Ini kartu nama saya dan no HP saya. Anda bisa menghubungi saya kalau saya tidak menepati janji untuk membayar." Laki-laki itu berjanji akan membayar dengan menyerahkan kartu nama dan nomor HP-nya sebagai bukti yang kuat.


Tak lama kemudian muncul ide dari laki-laki berjaz hitam itu, "Atau begini saja?" mengeluarkan dan memberikan beberapa lembar uang dengan nominal seratus ribu per-lembarnya, "ini DP nya dan untuk kurangannya akan saya transfer nanti."


Pemilik cincin beretnis China itupun menerima dan memberikan cincin yang akan dijualnya kepada laki-laki berjaz hitam tersebut.

__ADS_1


"Owe percayalah sama lu orang. Apalagi dengan profesi lu orang sekarang, mana mungkin lu orang akan berbohong pada owe."


"Terimakasih." Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya dengan cincin berlian cantik dan indah yang sudah ada ditangannya.


*𝓕𝓡π“ͺ𝓼𝓱𝓫π“ͺ𝓬𝓴 π“žπ“―π“―*


Ia mengambil cincin itu dan memberikannya kepada Zalfa.


"Ini dari saya sebagai gantinya!"


memberikan cincin yang tak terbungkus kotak cincin di telapak tangan Zalfa.


"Tidak perlu Pak! Kenapa Anda menggantinya? Itu cincin saya, cincin yang seharusnya sudah lama saya buang sejauh mungkin." Zalfa menjelaskan kalau itu bukanlah cincin yang begitu penting atau berarti yg hilang lalu ditemukan oleh laki-laki berjaz hitam itu, kemudian laki-laki berjaz hitam itu harus menggantinya.


Laki-laki berjaz hitam dengan atribut yang melekat padanya sesuai tuntutan profesi ia tersenyum dengan begitu tampan dan manis.


Dan ... tanpa basa basi lagi ia mengatakan sesuatu yang begitu menggetarkan jiwa seseorang.


"Saya mencintai kamu Zalfa"


kata laki-laki berjaz hitam itu dengan tegas dan sekali nafas.


Zalfa tak percaya dengan apa yang diucapkan laki-laki itu. Terlebih bagaimana laki-laki itu dengan begitu cepat bisa mencintainya. mereka hanya bertemu beberapa kali. Dan laki-laki itu juga belum mengenalnya lebih dalam dan lebih baik tapi bagaimana bisa tiba-tiba ia mengatakan kalau mencintai Zalfa.


"Pak Dimas, Anda jangan bercanda! Saya tau ini cuma trik dari Pak Dimas untuk menghibur saya."


Zalfa memperingatkan laki-laki berjaz hitam yang sebenarnya adalah Dimas agar Dimas tak bercanda mengenai cinta kepadanya.


"Tidak Zalfa! Saya serius! Saya mencintai kamu Zalfa." Dimas mengulang dengan yakin dan tulus.


Zalfa masih diam tak menjawab, dan laki-laki berjaz hitam yang tenyata adalah Dimas, ia mengerti dan tak menyuruh Zalfa agar segera membalas perasaannya.


Ia memberikan kartu nama beserta no HP yang bisa dihubungi kepada Zalfa.


"Itu Kartu nama dan no telepon saya. Kamu bisa memberikan jawaban perasaan mu pada saya melalui itu." Dimas memberitahu kartu nama dan no HP nya kepada Zalfa sama seperti yang ia lakukan kepada penjual perhiasan beretnis China diawal tadi. Dan Dimas memang selalu mempersiapkan beberapa kartu namanya untuk berjaga-jaga saja. Seperti situasi saat seperti ini misalnya. (Hihi ... Prepare yang maximal πŸ˜…πŸ€­)


"Dan saya akan siap dengan apapun jawaban kamu."


Dari arah sangat jauh Ayunda kembali datang, Dimas pamit dengan segera kemudian beranjak pergi dari tempat Zalfa.


"Saya pergi dulu Zalfa! Dan tolong pakailah cincin itu sebagai tanda hadiah dari saya bukan sebagai perasaan saya yang harus terbalaskan!"


Dimas mengatakan dengan senyum tulusnya.


Zalfa pun demikian, ia menatap kepergian Dimas dengan tersenyum tetapi bukan senyum tulus seperti Dimas melainkan senyum kaku sebagai arti kebimbangannya dalam menentukan perasaannya sendiri. Jujur saja Zalfa bimbang karena masih ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya terasa takut atau khawatir dalam hatinya untuk memulai sebuah hubungan baru.

__ADS_1


__ADS_2